Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Hari Bahagia Aisyah


__ADS_3

Detak jantung Aisyah sudah tidak beraturan saat pembawa acara mengatakan bahwa ijab kabul akan segera dimulai. Airmata selalu tak bisa Aisyah tahan, hingga Nabila dan Ashila berkali-kali meminta MUA untuk merapikan riasan di wajahnya.


"Udah dong Ais, nangis mulu ah elah! Kasian Mbak nya capek dempul muka lu berkali-kali," keluh Ashila sambil memberikan tisu pada Aisyah.


"Gue deg-degan! Gue juga tiba-tiba inget Mas Arya.." lirih Aisyah membuat Ashila membulatkan matanya. Sedangkan Nabila langsung memberikan tatapan tajam pada Ashila agar diam.


Nabila mengusap lengan Aisyah dengan lembut, "Ais.. Ini hari bahagia lu! Mas Arya juga pasti bahagia disana. Bukannya ini keinginan terakhir Mas Arya? Dia mau lu nikah dan melanjutkan hidup dengan laki-laki yang seiman sama lu. Dan yang paling penting.. Mas Arya mau lu bahagia.."


"Tarik nafas.. Sekarang dengerin ijab kabul itu! Mas Bagaskara Arjuna, dialah laki-laki yang akan menjadi imam dalam hidup lu, Aisyah.."


Aisyah pun terdiam, dia bisa mendengar dengan jelas bagaimana sang Ayah menitipkannya pada Bagaskara. Lagi-lagi air mata itu tidak dapat Aisyah tahan. Kini Bagaskara berhadapan dengan Pak Saepudin yang kini menahan tangisnya. Keduanya berjabat tangan dan saling memandang dengan penuh keyakinan.


"Saudara Iptu Bagaskara Arjuna, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya. Putri kesayangan saya, putri yang selalu saya banggakan. Putri saya yang bernama Aisyah Kareinina Nurkahla dengan mas kawin sebuah rumah dan emas sebeesar 30 gram dibayar tunai!"


Bagaskara pun mengucapkan ijab kabulnya dengan lantang, "Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Kareinina Nurkahla binti Bapak Kombes Saepudin dengan mas kawin sebuah rumah dan emas sebesar 30 gram dibayar tunai!"


"SAHHHH.... "


Suara riuh terdengar, kini Aisyah dan Bagaskara pun telah resmi menjadi pasangan suami istri yang sah di mata hukum dan agama. Usai ijab kabul selesai, pembawa acara meminta Aisyah untuk ke meja akad untuk menandatangani surat-surat.


"Bismillah.. Jangan gemeteran! Kaya orang salatri aja lu! Tadi kan udah makan, jadi rileks oke baby!" bisik Ashila dan Aisyah hanya menganggukkan kepalanya dengan tegang.


"Bismillah Ais.. Kita melangkah sama-sama ya!" pinta Nabila. "Jangan pecicilan lu, Cil!"


"Iyaaa iyaaa dah!"


Perlahan tapi pasti, Ashila dan Nabila mengapit Aisyah. Ketiganya berjalan perlahan dengan iringan lagu yang membuat semua mata terpana pada mereka. Aura ketiga perempuan itu benar-benar terpancar.


"Masya Allah.. Calon istriku.." lirih Defri menatap Ashila yang berjalan dengan anggunnya.


"Perlihatkan juga calon istriku, Defriiiiii!!" umpat Riki yang sudah tergabung dalam panggilan video.


Jika di Indonesia kini pukul 8 pagi maka di Afrika kurang lebih pukul 3 pagi, karena perbedaan zona waktu antara Indonesia dan Afrika. Namun Riki tidak mau melewatkan hari bahagia sahabat baik kekasihnya itu. Pun dia kini sudah berteman baik dengan Bagaskara.


"Sabar napa Bang! Ni juga kamera nyorot kesana!" umpat Defri karena fokusnya terbagi dua. Antara menatap calon istrinya dan mengambil gambar calon istri seniornya.


"Masya Allah.. Calon istriku.." Riki menatap kagum pada Nabila yang berjalan dengan anggun.


"Itu kata-kata saya, Bang! Jangan copy paste napa!" omel Defri membuat Riki mendengkus kesal.


"Sudah! Arahkan saja kameramu pada calon istri saya dengan benar!"


Kini Aisyah sudah sampai di hadapan Bagaskara. Keduanya saling menatap dengan mata berkaca-kaca. Tidak disangka, dalam waktu singkat mereka sudah berubah status. Dari yang bukan siapa-siapa bahkan tak saling mengenal dengan baik. Namun kini mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Begitulah definisi jodoh, entah bagaimana cara Tuhan mempertemukann mereka.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum istriku.." sapa Bagaskara.


"Walaikumusalam suamiku.." lirih Aisyah lalu menunduk malu dan penuh haru.


Aisyah mencium punggung tangan Bagaskara dan laki-laki itu membacakan do'a di ubun-ubun istrinya. Berharap keluarga kecil mereka akan selalu dilimpahkan keberkahan dan kebahagiaan. Bagaskara pun mencium kening Aisyah dengan lembut. Namun Aisyah mendengar bisikan ditelinganya.


'Aku bahagia, Aisyah.. Sangat bahagia.. Dia.. Adalah pilihan terbaik.. Berbahagialah..'


'Mas Arya..' batin Aisyah.


Dia membuka matanya dan Bagaskara tersenyum bahkan menatapnya penuh dengan ketulusan. Tanpa Aisyah sadari, dia memeluk Bagaskara dan membuat semua orang bersorak bahagia.


"Aku sayang dan cinta sama kamu, Mas Bagaskara Arjuna.."


CIEEEEE... CIEEEEEE... UHUUUYYYYY...


Sorak bahagia para tamu undangan yang hadir, sedangkan Ashila dan Nabila saling memeluk dengan rasa bahagia yang membuncah dalam dada. Bagaskara pun balik memeluk istrinya dengan erat. Lalu keduanya melanjutkan dengan acara sesi foto memperlihatkan buku nikah.


Usai acara sesi foto bersama keluarga, Aisyah dan Bagaskara berganti pakaian. Karena mereka akan melaksanakan pernikahan adat militer yaitu Pedang Pora. Karena bukan hanya TNI AD, namun Perwira Kepolisian pun dapat melaksanakannya.


"Mas sangat bahagia.." bisik Bagaskara sambil menggenggam lengan sang istri.


"Ais juga bahagia, Mas.."


"Udah dong, Neng.. Anaknya bahagia itu, kok Neng nangis sih sayang!" dokter Andra menghapus airmata istrinya perlahan. Takut make up nya luntur!


"Ini tuh tangis bahagia tau, Akang mah!" rengek Bu Halimah dan dokter Andra hanya tertawa saja.


"Iya Akang tau, sayang! Udah ah.. Nanti Ais sedih liat kamu malah bombay begitu!"


Nabila dan Ashila pun memeluk Bu Halimah. Lalu ketiganya berpelukan dengan erat. Bahkan dokter Andra pun hampir terjungkal karena Ashila menyerobot.


"Astagfirulloh.. Dasar perempuan!" umpat dokter Andra, untung saja Defri menahannya.


"Sabar dok.. Calon istri saya itu!" Defri menatap dokter Andra dengan sengit.


"Aishhh.. Bucin!"


Upacara pedang pora pun selesai. Kini semua orang memberi ucapan selamat pada kedua mempelai. Namun Ashila dan Nabila tidak. Mereka takut malah menangis bersama-sama dan menjadi pusat perhatian semua orang.


Acara pun berjalan dengan lancar, Nabila lebih banyak membantu Bu Halimah mengisi kue-kue yang kosong. Sedangkan Ashila dan Defri tengah menikmati hidangan prasmanan sepiring berdua. Biar so sweet ceunah!


Kini sampai pada puncak acara, yaitu pelemparan bunga pengantin. Nabila geleng-geleng kepala saat melihat Ashila dan Defri dengan semangat ingin mendapatkan bunga itu. Padahal mereka memang akan segera menikah.

__ADS_1


Satuuu.. Duaaaa... Tiga...


Mereka bersorak, namun bukan karena bunga nya terlempar. Tapi karena Aisyah berjalan menghampiri Nabila dengan mata yang berkaca-kaca.


"Bunga ini aku persembahkan buat Nabila, insya Allah kamu dan Bang Riki akan segera menyusul ya!" Aisyah memeluk Nabila dengan erat. Ashila pun ikut memeluk keduanya hingga para tamu undangan pun bersorak bahagia.


"Nabila Shafiya Putri.."


Suara itu..


Ketiganya melerai pelukan, terlihat dalam layar besar yang berada disamping panggung. Sosok Riki begitu gagah memakai seragam batik yang diberikan oleh Aisyah dan Bagaskara.


"Jangan sedih ya! Walaupun Abang tak ada disana, tapi Abang selalu dihatimu.."


Sorak-sorak para tamu dan keluarga terdengar, Nabila hanya diam mematung dan tersenyum menatap calon suaminya yang jauh di Afrika sana.


"Jangan iri dan jangan sedih karena jarak yang memisahkan kita. Insya Allah, kita pun akan segera melangsungkan pernikahan. Menjadi istri seorang abdi Negara tidaklah mudah. Banyak sekali rintangan, termasuk jarak dan kerinduan. Pupuklah rasa sabarmu, agar kelak saat mendampingi Abang hatimu tak lagi terluka karena jarak dan kerinduan.."


Pembawa acara memberikan mikrofon pada Nabila, dengan tangan gemetar menahan tangis dia pun menerimanya. "Insya Allah.. Ila akan tunggu Abang.. Jaga diri baik-baik ya, Bang! Kembalilah dengan selamat.. Do'a Ila akan selalu menyertai Abang.."


Tak ada yang tidak menitikan air mata haru, perjuangan menjalin hubungan dengan Abdi Negara memanglah berat. Jika tak sanggup, lebih baik menyerah sejak awal. Panggilan video pun diputuskan dari layar. Defri memberikan ponselnya pada Nabila agar keduanya bisa leluasa melepaskan kerinduan.


"Maafkan Abang tidak bisa menghubungi kamu sayang. Ini pun Abang menggunakan telepon kantor secara rahasia. Maafkan Abang.."


"Gak apa, Bang.. Ila yang minta maaf, terkadang rindu ini sungguh menyiksa. Ila cuman mau tau aja kondisi Abang disana."


"Abang ngerti sayang. Cukup do'akan Abang dan jangan banyak berpikiran macam-macam. Insya Allah Abang akan sehat dan selamat karena do'a dari orang-orang yang Abang cintai."


Obrolan pun bergulir karena kedua orang tua Nabila ingin menyapa Riki, begitu pun sang Ibu yang turut hadir di pernikahan Aisyah. Ternyata hari bukan hanya hari kebahagiaan bagi Aisyah, tapi bagi semua orang.


"Aku bahagia bisa mendampingi kamu, Mas Bagas.."


"Aku jauh lebih bahagia Aisyah.. Karena.. Aku dipilih olehmu.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2