
Dari kisah Adam dan Hawa, kita belajar bahwa ujian cinta adalah jarak dan rindu..
Dari kisah Ibrahim dan Hajar, kita belajar bahwa keikhlasan hati akan mengantarkan kita pada cinta sejati..
Dari kisah Ayyub dan Rahmah, kita belajar bahwa modal terbesar dalam menyatukan dua insan adalah kesetiaan..
Dari kisah Yusuf dan Zulaikha, kita belajar bahwa mencintai Sang Pencipta akan menanggalkan nafsu terhadap rupa..
Dari kisah Muhammad dan Khadijah, kita belajar bahwa cinta adalah kesediaan berkorban, kesediaan mempercayai disaat tak ada seorang pun yang sudi percaya..
Dan dari kisah Ali dan Fatimah, kita belajar bahwa tak ada balasan yang lebih menyenangkan selain kabar baik dan letihnya menunggu..
Hari pernikahan tentu saja menjadi hari yang paling dinanti bagi setiap pria dan wanita lajang. Dimana hari itu mereka akan disatukan dalam ikatan suci pernikahan. Hari itu pula lah yang dinantikan oleh Aisyah dan Ashila.
Rencananya, hari ini Aisyah akan melakukan sidang BP4R di Polda Jabar bersama Bagaskara, sedangkan Ashila akan melakukan pengajuan pernikahan bersama Defri ke Kodam Siliwangi. Nabila menatap keduanya penuh haru, ia berharap suatu saat nanti kisahnya akan sama seperti kedua sahabatnya itu.
"Semua surat-surat kalian sudah lengkap kan?" tanya Nabila dengan suara bergetar.
"Insya Allah sudah!" jawab Aisyah dan Ashila serempak.
Keduanya menghampiri Nabila dan memeluknya erat, "Insya Allah lu bakalan segera menyusul kami, Bil! Jangan sedih ya!"
"Ishh.. Siapa yang sedih? Gue bahagia Ais.. Gue terharu, kalian akhirnya bakalan melangkah ke jenjang Pernikahan.." lirih Nabila. "Gue nanti sama siapa?"
"Ckck! Gue masih lama kali, proses gue sama Ais kan beda Bil! Gue masih bakalan nemenin elu disini kok. Gue sama Mas Defri masih proses pengurusan surat-surat dan prosesnya itu cukup lumayan menguras waktu! Tenang ya!" Ashila mencubit gemas pipi Nabila.
Dengan langkah gontai, Nabila mengantarkan keduanya ke halaman. Dimana Bagaskara dan Defri sudah menunggu calon istri mereka. Dengan penuh haru, dia melambaikan tangan dan berharap semua yang akan dilalui kedua sahabatnya dilancarkan oleh Allah.
"Nabila!"
Suara itu.. Nabila menoleh, dia mendapati Farhan berdiri disana dengan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Tubuhnya kurus kering, matanya terlihat sayu. Bisa dipastikan jika kondisi mantan tunangannya itu tidak baik-baik saja.
"A Farhan!" kaget Nabila.
Farhan sempoyongan berjalan menghampiri Nabila, sungguh dia sangat merindukan gadis ini. Gadis yang mampu menaklukan hatinya sejak pertama kali bertemu.
"Aa kenapa? Aa sakit?" tanya Nabila dengan cemas.
"Hati Aa yang sakit, Aa rindu kamu.."
Kini keduanya berhadapan, Farhan menatap Nabila dengan tatapan kerinduan. Dia mengelus pipi Nabila, hingga membuat gadis itu terhenyak dan refleks mundur dua langkah.
"Apa kamu bahagia sama dia, Nabila?"
Nabila pun mendongak, dia kembali menatap Farhan yang sangat jauh berbeda dengan Farhan yang dulu.
__ADS_1
"Aa rasa kamu bahagia dengan dia. Gak ada hal yang harus Aa cemaskan lagi. Terimakasih, Nabila. Aa pun bahagia sempat miliki kamu. Kamu cinta terakhir Aa.." ucap Farhan dengan lirih.
"A Farhan! Hidung Aa berdarah!" panik Nabila.
Bruk!
Farhan jatuh pingsan tepat dihadapannya, darah jelas mengucur dari hidungnya. Nabila pun panik, karena saat ini dia hanya sendiri disana. Karena Bu Halimah tengah membantu dokter Andra mengambil barang-barang kebutuhannya.
"A Farhan, bangun A!" isak tangis Nabila mulai terdengar.
Para tetangga yang melihat hal itu, lantas membantu Nabila untuk membawa Farhan ke Rumah Sakit. Saking paniknya, Nabila lupa membawa ponselnya. Padahal hari itu dia sudah berjanji akan menemani Riki usai laki-laki itu apel pagi.
Riki pun sampai di Alunara kost, disana banyak mengumpul warga sekitar. Tidak lupa mereka pun melaporkan kejadian itu pada RT setempat.
"Ada apa ya, Pak?" tanya Riki pada ketua RT.
"Ini Kang, tadi Neng Bila ke Rumah Sakit! Ada yang tiba-tiba pingsan disini sampe berdarah-darah!" jawab Pak RT.
"Astagfirullah!"
Riki pun bergegas menuju Rumah Sakit, dia sangat khawatir dengan calon istrinya itu. Sesampainya di IGD, dia melihat Nabila tengah menangis terisak didampingi Bu Halimah yang baru saja tiba.
"Ila.." panggil Riki.
"Sstttt.. Jangan nangis! Ceritain pelan-pelan sama Abang, ya!" pinta Riki sambil menghapus airmata di pipi calon istrinya itu.
"A Farhan kena Leukimia stadium akhir!" isak tangis Nabila kembali pecah, Riki langsung memeluknya kembali dengan erat.
"Innalilahi.." lirih Riki. "Kamu udah hubungin keluarganya?"
Nabila menggelengkan kepalanya, "Ila gak bawa ponsel, Abang. Tapi tadi Ibu udah telpon orang tua A Farhan."
Tak lama kedua orang tua Farhan pun tiba, ada seorang perempuan yang pernah Nabila lihat ditempat terakhir mereka bertemu.
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Nabila, "Semua karena kamu! Farhan seperti ini karena kamu tinggalkan! Dia berjuang mati-matian, bekerja keras itu hanya untuk kamu! Kenapa kamu tega sama anak saya!" teriak Mama Farhan dengan histeris.
"Cukup, Bu! Ini bukan salah Nabila! Kalo mereka emang gak berjodoh terima dong! Jangan pernah menyalahkan dia atas kondisi putra Ibu yang tidak bisa menjaga dirinya sendiri!" bentak Bu Halimah.
"Sudah! Ini Rumah Sakit!" lerai Papa Farhan. "Semua karena kuasa Allah, Ma! Bukan salah siapapun! Lebih baik, sekarang kita lihat kondisi Farhan! Jangan sampai dia pergi, sebelum mempertanggung jawabkan janin yang ada dalam kandungan Nina!"
Riki dan Nabila, juga Bu Halimah semakin terhenyak. Riki memeluk Nabila dan membawanya pergi dari sana. Dia tidak mau Nabila semakin terluka saat mendengar semua kenyataan pahit itu.
"Jangan dipikirkan, semua itu bukan salah kamu.." Riki mengelus pipi Nabila yang terkena tamparan.
__ADS_1
"Abang.. Jangan pernah tinggalin Ila.."
Sakit. Perih. Riki tidak bisa melihat Nabila menangis. Ingin rasanya dia selalu ada disamping Nabila. Tapi keadaan tidak mengizinkannya. Dia harus berjuang untuk Negara Indonesia. Karena dia akan melaksanakan satgas ke Afrika.
Kita tinggalkan kesedihan Nabila sejenak. Aisyah kini tengah merasakan ketegangan disela-sela sidang BP4R nya. Padahal ada beberapa pasang calon pengantin yang mengikutinya.
"Rileks ya! Insya Allah semuanya dilancarkan oleh Allah.." bisik Bagaskara.
Semua calon pendamping para Polisi tangguh itu ditanya satu persatu mengenai kesiapan mereka. Dan Aisyah dengan lantang menyatakan bahwa..
"Insya Allah saya siap mendampingi Iptu Bagaskara Arjuna!"
Lega. Aisyah bisa nernafas lega. Akhirnya sidang itu dia lewati dengan lancar tanpa satu hambatan apapun. Hanya saja kecanggungan memang belum menghilang dari sisi keduanya.
"Mas.. Terimakasih.." lirih Aisyah membuat Bagaskara menoleh, kini mata keduanya saling bertemu.
"Tidak usah berterimakasih, Aisyah. Kamu mau mendampingi saya pun, saya sudah bahagia. Semoga kelak, cinta akan tumbuh dihatimu untuk saya, Bagaskara."
"Mas.."
"Saya mengerti, Aisyah.. Saya hanya minta, lihat saya sebagai Bagaskara, bukan Arya. Insya Allah kamu akan menjadi cinta pertama dan terakhir bagi saya. Walaupun saya bukan yang pertama, tapi saya berharap akan menjadi cinta terakhir kamu.."
Hal yang sama dirasakan oleh Ashila, dia tengah menghadap Koramil untuk meminta surat pengajuan pernikahan. Ini baru awal, tapi Ashila sudah merasa jantungnya berdegup jauh lebih kencang.
"Ternyata kamu sudah tau seluk beluk pengajuan ya, sayang!" ucap Defri membuat Ashila menoleh.
"Mas tau sayang.. Semoga kamu gak terbayang dia yang telah tiada, juga gak terbayang dia yang mengkhianati kamu.. Walaupun ini pengajuan ketiga bagi kamu, tapi bagi Mas ini yang pertama dan terakhir.."
"Makasih ya, Mas! Makasih sudah mau menerima semua hal yang ada di diri aku, termasuk.. Masa laluku.." lirih Ashila.
"Pasti sayang! Yang penting, kini cinta kamu dan Mas bersatu. Insya Allah Samara!"
"Samara? Gak mau ah Mas! Maunya samawa till jannah.."
Ugh! So sweeet.. Semoga dilancarkan semuanya yak para gadis!
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1