
'Antara ingin memiliki atau pun pergi, pada akhirnya kisah kita dipisahkan oleh maut. Aku mencintaimu hingga titik d*rah penghabisanku. Tidak ada hal yang paling membahagiakan bagiku, selain melihat senyum indahmu terus terukir. Maaf jika kepergianku membuat luka hatimu semakin dalam. Jika suatu saat nanti, kau menemukan laki-laki yang cintanya melebihi cintaku padamu. Tetap simpanlah aku dalam memori indahmu...' (Rest in Peace for Josephine Arya Wicaksana)
Rasanya seperti hidup tapi mati, itulah yang Aisyah rasakan. Kepergian Arya menjadi luka tersendiri baginya. Luka yang ia alami tak seberapa, bahkan Aisyah menyesali kejadian itu.
"Harusnya aku yang pergi, Mas.. Bukan kamu.. Allah.. Kenapa rasanya tak adil? Harusnya kau ambil juga nyawaku!!" Aisyah selalu menangis histeris.
Bu Fatimah dan Bu Halimah terus menemani Aisyah, karena Aisyah selalu seperti ini. Mengamuk, menangis dan menyesali semua yang telah terjadi.
"Istighfar sayang.. Jangan pernah menyalahkan takdir Allah, keluarga Arya sudah menerima dengan ikhlas.. Semua sudah suratan takdir, Nak.." Bu Fatimah memeluk erat putri sulungnya itu.
"Andai aja aku gak lari, andai aja aku gak pergi.. Andai aja.."
"Stop, Nak! Gak baik terus berandai-andai.. Jalani semuanya, sesuai permintaan terakhir Arya.. Kamu harus hidup bahagia!" Bu Halimah pun ikut memeluk anak asuhnya itu.
"Ais gak tau lagi, Bu.. Ais gak tau!! Ais cuman mau Mas Arya kembali, gak apa-apa kita gak punya hubungan apapun lagi.. Asal Ais bisa terus liat Mas Arya, Bu.." Aisyah menangis dengan tersedu-sedu.
Nabila dan Ashila yang baru datang hanya mampu terdiam, mereka pun merasakan penyesalan yang sama. Setelah mendengar berpulangnya Arya, Nabila dan Ashila tak bisa tenang. Namun mereka pun tidak bisa memberikan penghormatan terakhir, karena jenazah Arya sudah dibawa oleh keluarganya.
"Ilaa.." Nabila dan Ashila menoleh, mendapati Riki masih berada disana.
"Dimana Mas Defri, Bang?" tanya Ashila, karena ia tak melihat keberadaan Defri.
"Defri sedang membantu keluarga Arya mengurus segala sesuatunya. Abang gak bisa pergi, sebelum melihat kamu baik-baik aja," ucap Riki membuat Nabila kembali menangis tersedu.
"Kalian gak salah.. Jangan pernah menyalahkan diri kalian atas takdir yang sudah Allah kehendaki. Cukup do'akan saja, semoga dia diterima disisi Tuhan. Saling kuatkanlah.. Kita semua memang kehilangan, tapi kita tidak bisa terus berlarut. Jika sudah waktunya, Abang akan bawa kalian ke tempat peristirahatan terakhirnya," Riki mengucapkan itu sambil memberikan sapu tangan kesayangannya pada Nabila.
"Tolong hapus airmatamu, Ila.. Karena Abang gak bisa melakukannya lagi.."
Nabila menangis tersedu, dia mencoba menghentikan airmatanya namun ternyata sulit. Begitu pun dengan Ashila.
"Sampaikan permintaan maaf kami pada keluarga Mas Arya ya, Bang.." lirih Ashila.
"Abang harus pergi, Ila.. Jaga diri kamu baik-baik.. Abang titipkan kamu sama Allah, semoga Allah akan selalu melindungi kamu.."
Riki pun berbalik pergi, tak ingin merasakan penyesalan lagi, Nabila bangkit dan mengejar Riki. Dia memeluk erat laki-laki itu dari belakang, seolah takut kehilangan.
"Jaga diri Abang juga.. Berhati-hatilah dalam bertugas, aku pun akan selalu mendo'akan yang sama untuk Abang.. Tetaplah hidup untuk Bunda dan juga untuk aku, Bang.."
Deg!
__ADS_1
Dia membalikkan badannya dan menatap Nabila dengan dalam. "Rasa itu belum berubah sampai saat ini, Bang.. Aku masih mencintai dan masih menanti Abang kembali.. Hanya saja, sekarang kita gak bisa sama-sama Bang.. Ada hati yang harus aku jaga.. Jadi aku mohon.. Hiduplah dengan baik.. Tetaplah hidup.."
Keduanya berpelukan dengan penuh rasa, sayangnya keadaan tak memungkinkan keduanya untuk bersama. "Berbahagialah.. Jangan biarkan semua pengorbanan Abang sia-sia.. Jika dia melukaimu, kamu tau kemana harus pergi.. Abang pamit.."
Untuk yang terakhir kalinya, Riki mencium kening Nabila. Kehilangan tak hanya terpisah raga, tapi juga karena meninggalkan hati yang sesungguhnya tak bisa memiliki.
Nabila kembali kedalam ruangan Aisyah, dia terkejut karena Farhan sudah berada disana. Bahkan dia sama sekali tidak melihat kedatangan Farhan didepan tadi.
"Sayang.. Kamu baik-baik aja?" tanya Farhan yang memang terlihat sangat khawatir.
"Alhamdulillah aku baik, Aa.. Yang terluka Aisyah dan Mas Aryaa..."
"Sssttt.. Udah sayang, Aa udah tau kok.. Semua ini sudah takdir yang Allah tetapkan, jangan pernah menyalahkan diri ya atas semua yang udah terjadi," Farhan memeluk erat Nabila.
Bu Halimah keluar ruangan saat Aisyah sudah terlelap tidur. "Kalian pulanglah.. Istirahat dirumah, sekalian temenin Mak Anih dan dan anak-anak.."
"Bu Halimah juga lebih baik pulang, biar saya dan istri yang jaga Aisyah," ucap Pak Saepudin yang baru saja tiba.
"Papa.." lirih Nabila dan Ashila. Pak Saepudin pun mengelus kepala keduanya bergantian, dia sudah menganggap mereka seperti anaknya sendiri.
"Sudah.. Jangan dipikirkan lagi, ya.. Insya Allah Aisyah akan membaik.. Jangan pernah menyalahkan diri kalian dan menyesali yang sudah terjadi. Jadikan pelajaran supaya hidup kalian kedepannya akan lebih baik," nasihat Pak Saepudin.
Nabila dan Ashila hanya menangis tersedu, akhirnya Pak Saepudin memeluk dua anak perempuan itu. "Sudah.. Sudah.. Papa juga sudah melayat ke Rumah Duka. Insya Allah mereka sudah menerima dengan ikhlas. Hanya adiknya Arya saja yang masih belum terima. Tapi pihak keluarga Arya pun terus menerus menasehati."
"Aku yang kasih tau Bapak, sayang.. Tadi pas liat story dokter Andra, aku langsung hubungin Bapak," sontak ucapan Farhan membuat Nabila sedikit kecewa.
"Dan Bapak pasti telpon Papa juga.. Akhirnya Papa juga pasti kesini," Ashila menghela nafasnya.
Benar saja, Pak Solihin dan Pak Arifin datang hampir bersamaan. Mendengar kabar itu sebagai orang tua yang jauh dari anak perempuannya otomatis membuat mereka khawatir.
"Bapak.." Nabila memeluk erat sang Ayah dan menumpahkan tangisnya. Begitu pun Ashila yang langsung memeluk Pak Solihin.
"Alhamdulillah kalian baik-baik aja! Allahh.. Papa hampir bawa pasukan kesini, Papa kira anak Papa kenapa-kenapa!" Pak Solihin menatap putrinya penuh cinta.
"Papaa.." rengek Ashila. "Maaf ya, Acil bikin Papa khawatir.."
"Nak.. Kalian denger ya! Kami sebagai orangtua pasti khawatir, apalagi kalian ini anak perempuan yang harus jauh dari keluarga. Dan kalian adalah tipe anak-anak nakal ya! Resign kerja tanpa bilang orang tua, sakit tanpa bilang orang tua! Kami tau, Nak.. Kalian ingin menjadi perempuan-perempuan mandiri. Tapi bagilah semua rasa itu pada kami, jangan dipendam sendirian.." ucap Pak Arifin menatap kedua anak perempuan yang kini menunduk sedih itu.
"Sayang.. Kamu resign? Kok gak bilang aku?" tanya Farhan membuat Pak Arifin menatap laki-laki itu keheranan.
__ADS_1
"Nak Farhan gak tau?" kaget Pak Arifin dan Farhan menggelengkan kepalanya.
"Maaf Pak, akhir-akhir ini Farhan banyak ambil proyek luar Kota. Jadi kadang memang susah buat kasih kabar ke Nabila. Farhan mau secepatnya pernikahan kami di langsungkan, Pak.. Makanya Farhan benar-benar memaksimalkan diri untuk mewujudkan itu semua.."
Hening.. Pak Arifin hanya menatap putrinya penuh kecewa. Bahkan Nabila pun tidak menceritakan perihal hubungannya dengam Farhan. Dia hanya selalu mengatakan jika semuanya baik-baik saja.
"Kita pulang, Bapak sudah izin sama Bu Halimah.. Kamu harus pulang dulu, tenangkan diri kamu. Baru nanti Bapak pikirkan lagi, kamu harus kembali kesini apa tidak.." tegas Pak Arifin.
"Bapak! Ila masih mau disini, Pak.. Ila harus temenin Aisyah.. Dia sedang berduka, Pak.. Ila mohon.. Ila janji, kedepannya Ila akan terbuka sama Bapak sama Mama.." pinta Nabila.
Pak Arifin menghela nafasnya, rasa kecewa memenuhi rongga dadanya. Anak yang ia besarkan penuh kasih sayang harus melewati masa-masa sulitnya sendirian. "Arifin.. Anak kita sudah besar ternyata. Jalan ini yang mereka tempuh, jadi biarkan mereka bertanggung jawab atas pilihannya.."
"Solihin.. Anakmu bisa kuat, karena dia dibesarkan dilingkungan militer. Tapi anakku? Sakit sekali rasanya.." lirih Pak Arifin.
"Bapak.. Maafin Ila.." Nabila memeluk Pak Arifin dengan erat.
"Emm.. Pak, saya minta maaf kalo saya gak bisa jaga anak-anak dengan baik. Tapi saya mohon, jangan paksa mereka ya.. Biarkan mereka menjalani apa yang sudah mereka pilih.. Biarkan mereka menjadi anak-anak yang bertanggung jawab atas pilihannya. Kalo boleh saya menyarankan, lebih baik sekarang semuanya menginap di kost saja.. Sekarang pikiran kita sedang lelah, besok kita bicarakan lagi baik-baik," ucap Bu Halimah membuat kedua orang tua itu mengangguk.
Sebelum pulang, Ashila dan Nabila masuk kedalam ruangan Aisyah. Mereka menggenggam erat tangan Aisyah untuk menguatkan. Bahkan dalam tidurnya pun, Aisyah menangis.
"Mas Arya.. Aku sayang kamu, Mas.. Jangan pergi.." Aisyah mengigau.
Dalam mimpinya, ia melihat Arya dengan gagahnya memakai seragam loreng kebanggaannya. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya pada Aisyah.
'Aku pamit ya, sayang.. Berbahagialah.. Dia akan datang padamu, dia akan menggenggam tanganmu dan dia akan mencintaimu melebihi cintaku padamu.. Aku disini pun bahagia, Aisyah.. Terimakasih atas cintamu.. Selamat tinggal..'
"Mas Aryaaa...!!!!" pekik Aisyah membuat Nabila dan Ashila tersentak.
"Tenang, Aiss.." Nabila dan Ashila memeluk Aisyah dengan erat.
"Acil.. Bibil.. Pada akhirnya gue sama Mas Arya emang gak bisa bersatu. Bahkan Tuhan ngambil Mas Arya dari sisi gue! Kehilangan ini teramat menyakitkan.. Gue gak sanggup.. Kenapa harus Mas Arya? Kenapa gak gue aja?!" Aisyah kembali menangis tersedu-sedu.
Kehilangan yang paling menyakitkan adalah kematian. Tak peduli seberapa besar kamu merindukannya, ia tak akan pernah kembali. Maka hargai mereka yang kau anggap berharga, karena mereka disampingmu tidak untuk selamanya.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤