Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Kenyataan Menyakitkan


__ADS_3

'Aku tau, kehilangan itu akan tetap menyapa, sekeras apapun aku berusaha untuk menghindarinya. Aku berusaha untuk membuat hati ini tabah, tapi tetap saja rasa takut kehilangannya sangat menusuk hatiku..'


Riki terus menggenggam tangan calon istrinya itu, usai pemeriksaan selesai kini mereka dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Santosa. Karena Nabila harus mendapatkan perawatan intensif.


"Abang.."


Guncangan dalam ambulance membuat Nabila membuka matanya perlahan. Dia menatap sekitar, ada Riki dan Bu Halimah disampingnya.


"Iya sayang.. Ini Abang.. Pusing, hm?"


Nabila menganggukkan kepalanya, "Ini dimana? Kenapa pake ambulance?"


"Istirahat dulu sayang, jangan banyak tanya dulu ya!" Riki mencolek hidung calon istrinya itu. "Belajar nurut sama suami, nanti kalo udah sampe Abang bangunin!"


Perempuan itu menatap Bu Halimah yang menganggukkan kepalanya, rasa sakit itu semakin terasa saat dia membuka mata. Maka Nabila lebih memilih untuk memejamkan matanya. Sesampainya di Rumah Sakit Santosa, dokter Andra yang sudah tiba lebih dulu langsung mengurus seluruh administrasi Rawat Inap.


"Sudah disediakan ruangan VVIP, supaya lebih leluasa!"


Tentu saja dokter Andra ingin yang terbaik untuk Nabila, gadis yang telah ia anggap seperti putrinya sendiri. Tidak lupa dia pun memberikan kabar pada Aisyah juga Ashila yang saat ini sudah tinggal terpisah bersama suaminya masing-masing.


"Abang.. Haus.."


Riki memberikan segelas air putih pada Nabila, dia meneguknya hingga tandas. Lalu Nabila menatap Bu Halimah yang masih terlihat cemas. Bu Halimah tengah berkirim pesan dengan kedua orang tua Nabila.


"Istirahat lagi ya, sayang!" Riki mengelus kepala Nabila yang masih tertutupi hijab hijau khas Persit. Bahkan pakaiannya pun masih memakai baju Persit.


"Bang.. Kenapa aku harus di rawat?"


"Sudah Abang bilang jangan banyak pikiran sayang, kamu hanya butuh istirahat yang cukup. Supaya pernikahan kita bisa segera dilangsungkan. Paham kan, hm?"


Akhirnya Nabila menurut, kepalanya masih terasa sangat sakit. Bahkan sekarang penglihatannya sedikit terasa kabur. Setelah Nabila terlelap, Riki izin keluar sebentar pada Bu Halimah. Dia harus menenangkan hatinya, juga mengabari Ibunya.


"Bang! Gimana keadaan Bibil?" tanya Ashila yang baru saja datang bersama Defri. Mereka bertemu saat Ashila baru saja keluar dari lift.


Defri menggenggam lengan istrinya dan menatap seolah mengatakan jika Riki membutuhkan waktu untuk menenangkan hatinya. Keduanya memilih untuk mengikuti Riki yang berjalan menuju rooftop yang ada dilantai rawat inap VVIP. Tak lama kemudian, Aisyah pun datang bersama Bagaskara yang terlihat masih memakai pakaian dinasnya.


"Bang! Bibil gimana?" sama seperti Ashila, Aisyah pun langsung bertanya hal yang sama.


"Sayang! Ingat dedek bayi!" tegur Bagaskara, karena saat ini usia kandungan Aisyah masih sangat dalam usia rawan.


Riki menundukan kepalanya, dia menangis tersedu membuat keempat orang disana menatap penuh rasa cemas. Dokter Andra pun datang dan menjelaskan apa yang terjadi pada Nabila.


"Kita harus saling menguatkan, saat ini Bibil butuh semangat dari kita semua supaya bisa melewati masa-masa sulitnya. Insya Allah, kita akan lakukan pengobatan terbaik buat Bibil. Kalian jangan khawatir, ya!"


Aisyah dan Ashila menangis tersedu dipelukan suaminya masing-masing. Tak terbayangkan bagaimana satu persatu ujian yang dilewati Nabila.


"Bibil perempuan kuat, Ais! Gue yakin dia pasti bakalan berjuang buat sembuh!" Ashila memeluk Aisyah kali ini.


Hueeekkk..


"Cil maaf, tapi gue bau sama parfum lu!" Aisyah melerai pelukan Ashila dan berhambur memeluk Bagaskara kembali.

__ADS_1


"Ckck! Bumil nyebelin!" Ashila tertawa sambil menangis.


Setelah dirasa tenang, mereka pun berjalan bersama menuju ruang rawat Nabila. Sedangkan Riki masih membutuhkan waktu untuk menenangkan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya.


"Cil.. Gue takut gak bisa nahan nangis!" Aisyah terus mengatur nafasnya, saat ini mereka sudah berada didepan ruang rawat Nabila.


"Bismillah.. Gue juga, Ais! Tapi kita harus masuk. Inget, kita harus menguatkan dia!"


Akhirnya Ashila mendorong pintu, ternyata Bu Halimah tengah memijit tengkuk Nabila yang sedang muntah-muntah. Mereka pun bergegas menghampiri Nabila, Aisyah segera menyiapkan segelas air hangat.


"Minum dulu, Bil!" Aisyah menyerahkan segelas airputih itu. Sedang Ashila mengelap sekitar wajah Nabila yang terlihat sangat pucat.


"Kalian disini?" tanya Nabila dengan suara lirih bahkan nyaris tidak terdengar.


"Iya dong! Lagian lu ngapa malah tidur disini sih. Enak-enak kaya gue sama Mas Defri di hotel gitu loh!" canda Ashila membuat Aisyah dan Bu Halimah mencebik.


"Kalian berdua jahara sekali ninggalin Ibu! Untung ada Bibil yang selalu nemenin Ibu di Alunara Kost!"


Ketiga orang dihadapannya ini saling melempar candaan, tapi dari raut wajah mereka tak seceria biasanya. Nabila bisa menyimpulkan sendiri jika ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya.


"Aku sakit apa, Bu?" tanya Nabila membuat Bu Halimah tersentak.


"Cil.. Gue sakit apa?"


Hening..


"Aisyah.. Gue sakit apa?!" Nabila mulai kesal karena tak ada yang menjawab pertanyaannya.


"Kalian gak ada yang mau jawab pertanyaan gue?!" sentak Nabila yang mulai tak sabar. "Kalo gitu biar gue cari tau sendiri!"


"Jawab Bibil, Bu.. Bibil sakit apa?"


Diluar ruangan, para laki-laki mengurungkam niatnya untuk masuk. Mereka tau, butuh waktu bagi Bu Halimah untuk menjelaskan semuanya. Sedangkan Riki sendiri tidak sanggup jika harus mengatakan semua kenyataan pahit itu.


"Sabar sayang.. Allah sedang menguji kamu, karena Allah tau kamu mampu melewati semuanya. Inget ya, kita semua akan selalu ada buat kamu. Jangan pernah takut untuk menghadapi apapun. Ngerti kan, Bil?"


Nabila mengangguk dalam pelukan Bu Halimah, dia pun harus menyiapkan dirinya untuk mendengar segala kenyataan yang menyakitkan sekalipun.


"Kamu harus operasi.. Kamu.. Mengidap.." Bu Halimah menjeda kalimatnya. "Tumor otak."


Perih. Sakit. Kenyataan yang harus Nabila jalani sangatlah menyakitkan. Pernikahan impiannya dengan Riki sudah didepan mata. Tapi kali ini dia harus kembali menelan pil pahit mengenai kondisi tubuhnya sendiri.


"Tu-tomor otak?" Nabila terbata. Bahkan pelukannya di tubuh Bu Halimah mulai melemas. Namun Bu Halimah segera mendekap Nabila dengan erat.


"Insya Allah anak Ibu pasti kuat. Kita sedang mengupayakan segala yang terbaik buat kamu. Semoga setelah segala pemeriksaan selesai, kamu bisa langsung di operasi ya sayang.."


Nabila hanya diam, kepalanya berusaha mencerna semua yang terjadi hari ini. Tadi pagi dia begitu bahagia, karena berhasil menyelesaikan pengajuan pernikahannya. Tapi sekarang? Kabahagiaan itu seolah sirna. Nabila diam seribu bahasa.


Aisyah pun meminta Riki dan yang lainnya untuk masuk kedalam ruangan. Nabila menatap Riki dengan tatapan sendu, hal itu berhasil membuat hati Riki.. Porak poranda.


"Bu.. Bibil mau bicara sama Abang.. Empat mata!"

__ADS_1


Setelah melihat Riki menganggukkan kepalanya, mereka meninggalkan Riki berdua dengan Nabila. Laki-laki itu masih berdiri mematung, dia belum menghampiri Nabila yang masih menatapnya dengan tatapan menyakitkan.


"Kenapa? Kenapa harus aku, Bang?"


Airmata itu luruh juga dipipi laki-laki berseragam loreng itu.


"Karena kamu mampu, sayang. Allah sangat mencintai kamu, ini adalah bentuk kasih sayang yang Allah kasih buat kamu. Karena kamu perempuan kuat.."


"Aku butuh waktu sendiri, Bang.."


"Sayang.." Riki menghampir Nabila, namun Nabila mencegahnya.


"Biarin aku mencerna semua ini, Bang. Semua ini terlalu menyakitkan buat aku, kenyataan ini menyakitkan Bang!"


"Sayang! Dengerin Abang!" Riki menghampiri Nabila dan menangkup kedua pipinya. "Abang sayang sama kamu, Abang cinta sama kamu dalam kondisi apapun! Jangan pernah berpikir kalo Abang bakalan ninggalin kamu. Abang akan selalu dampingi kamu, dalam hal apapun itu. Kita akan menikah, Abang akan menjaga kamu dan keluarga kecil kita! Abang akan selalu mendampingi kamu, sampai kita tua. Kita akan menua bersama sayang.."


Nabila menangis tersedu dalam pelukan calon suaminya, bukan dia tidak percaya pada semua ucapan Riki. Dia hanya tidak percaya pada dirinya sendiri. Nabila tidak yakin jika dia akan mampu bertahan, bahkan sampai hari pernikahan mereka.


'Tumor otak. Apa aku bisa melewati semuanya?' batin Nabila.


"Bang.. Tinggalin aku sendirian ya! Aku mau istirahat.."


"Abang gak akan beralih sejengkal pun dari sini. Abang akan selalu disamping kamu!" tegas Riki.


"Aku mohon Bang.. Aku butuh waktu.."


Akhirnya Riki mengalah, dia pun keluar ruangan. Mereka semua tersentak saat mendengar suara tangis Nabila yang terdengar lirih. Dan mereka mengizinkan Nabila untuk mengeluarkan segala hal yang menyakitkan dalam hatinya.


Nabila sendiri kembali mengingat bagaimana perjuangan cintanya bersama Riki untuk berada di tahap ini. Rasa sakit dikepalanya ia abaikan, bahkan perutnya pun terasa mual kembali.


Bruk!


Semua orang berhambur masuk, mereka mendengar Nabila terjatuh dari ranjang. Benar saja, kini Nabila tidak sadarkan diri. Para perempuan itu menjerit, sedangkan Riki langsung menggendong Nabila dan ia tidurkan di ranjang.


"Sayang! Nabilaaa! Bangun sayang! Abang mohon sayang.. Abang mohoooonnn.."


Bagaskara dan Defri menarik paksa tubuh Riki saat dokter dan perawat datang membawa segala peralatan. Saat ini kondisi Nabila begitu lemah, dokter pun memberitahu jika kondisi Nabila belum stabil.


"Tolong dijaga agar pasien tidak terlalu banyak beban pikiran. Saat ini kondisinya belum cukup stabil.."


Mereka menganggukkan kepalanya, Bu Halimah meminta semuanya untuk pulang. Namun Aisyah dan Ashila menolak, mereka ingin menemani Nabila disana. Akhirnya terpaksa Bagaskara dan Defri mengalah. Karena mereka harus bertanggung jawab melaksanakan tugasnya sebagai abdi Negara. Sedangkan Riki, dia tertidur lelap sambil menggenggam jemari Nabila.


Tak terasa malam pun tiba, mereka semua terlelap karena lelah. Sedangkan Nabila baru saja membuka matanya kembali. Dia merasakan rasa hangat yang mengalir ditangannya karena genggaman calon suaminya. Dia juga menatal Bu Halimah dan juga Aisyah yang tengah mengandung tertidur diatas sofa. Sedangkan Ashila tidur diatas matras.


'Aku harus kuat! Aku harus kuat untuk mereka semua..'


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2