
Sebaik-baik rencana manusia, tetap saja Allah yang menentukan. Riki sudah menyiapkan segala hal untuk akad nikahnya nanti, namun sepertinya semesta belum mengizinkan hal itu terjadi. Kondisi Nabila menurun drastis, hingga dia harus dilarikan ke ICU.
"Kuatlah sayang, kamu janji akan bertahan untuk kami semua. Abang mohon sayang," Riki mengecup pucuk kepala istrinya.
Sudah dua hari berlalu, namun kondisi Nabila belum membaik. Setiap pulang dinas, Riki akan selalu datang ke Rumah Sakit. Dia tidak peduli dengan apapun lagi, dia hanya ingin memfokuskan diri pada keadaan Nabila.
"Nak.. Makan dulu, jangan sampai kamu ikut sakit!" Pak Arifin tentu saja tidak membiarkan calon menantunya menyiksa diri sendiri.
"Iya, Pak! Nanti Abang makan, Abang masih mau nunggu Ila disini. Bapak sama Ibu duluan aja," Riki menolak secara halus. Karena memang dia tidak berselera makan sama sekali.
"Ila pasti sedih kalo liat calon suaminya seperti ini. Makanlah sedikit ya, Ibu udah masakin ini buat kamu. Kata Ila kamu seneng banget sama sambel tempe. Ibu mohon ya, makan dikit aja!"
Tak ingin mengcewakan sang calon mertua, akhirnya Riki pun makan walaupun rasanya sulit untuk menelan. Beruntung dokter Andra meminta Nabila ditempatkan di Ruang ICU VVIP, jadi keluarga masih bisa melihat Nabila darii dekat. Hanya disekat oleh dinding kaca. Bu Halimah, Aisyah beserta Ashila pun tidak pernah absen untuk mengunjungi Nabila.
"Bang, nanti Mas Bagas katanya mau ngobrol! Mereka ada di lobby."
Riki hanya menganggukkan kepalanya saat mendengar Aisyah mengatakan hal itu. Dia kembali menatap gadis yang sangat ia cintai, gadis yang kini terbaring lemah dan belum sadarkan diri. Usai makan, Riki pun menghampiri Bagaskara dan Defri yang tengah mengobrol bersama dokter Andra.
"Ada apa, Bagas? Kata Aisyah kamu cari saya?"
Bagaskara menganggukkan kepalanya, "Semua tersangka yang memukul kepala Nabila waktu itu sudah tertangkap. Mereka akan dihukum walaupun usia mereka belum genap 17 tahun. Tapi tetap akan ada pendampingan dari Komnas Perlindungan Anak."
"Oke. Saya serahkan semuanya sama pihak kepolisian. Saya yakin kalian akan bisa menangani kasus itu dengan baik." Riki menghela nafasnya berat. "Saya balik lagi ke dalam, ya!"
Mereka hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Riki kembali masuk ke ruang rawat Nabila. Sungguh, Riki yang sekarang benar-benar kacau. Namun senyuman Riki mengembang, saat masuk kedalam ruangan ternyata Nabila sudah sadarkan diri. Dia ditemani oleh kedua orang tuanya dan juga dokter yang tengah memeriksa kondisi Nabila.
"Bagaimana keadaan calon istri saya, dok?" tanya Riki tak sabar.
Dokter itu tersenyum, "Alhamdulillah Nabila sudah sadar. Kita observasi hingga besok pagi, jika kondisi Nabila sudah mulai stabil kita harus segera melakukan kemotherapi. Jangan khawatir, dia perempuan yang tangguh."
Perasaan Riki jauh sedikit lebih baik, dia masuk dan mendekati ranjang calon istrinya itu. Hati Riki terkecai saat melihat pipi Nabila yang kini mulai terlihat bahwa berat badannya benar-benar menurun.
"Abang.."
"Iya sayang, Abang disini.."
"Jangan tinggalin aku ya, Bang. Aku takut.."
"Gak akan pernah, sayang! Abang gak akan pernah tinggalin kamu. Abang akan selalu ada disamping kamu, kita akan menua bersama.."
Riki mengecup pucuk kepala Nabila dengan lembut, dia bisa melihat berbagai ketakutan dari raut wajah calon istrinya itu.
__ADS_1
'Apakah bisa kita menua bersama? Aku takut, tak akan selama itu hidup..'
* * *
Kondisi kesehatan umum Nabila berangsur membaik, kini total sudah sepuluh hari Nabila mendapatkan perawatan. Hari ini rencananya dia akan mulai melakukan kemotherapi. Walaupun sangat menakutkan, tapi Nabila terus menyemangati dirinya sendiri. Apalagi kini dia ditemani oleh kedua orang tuanya, calon mertuanya, calon suaminya, juga keluarga besar Alunara.
"Semangat! Bibil pasti bisa!" kedua Ibu hamil itu bersorak menyemangati. Sedangkan Ashila sibuk dengan ponselnya, untuk mengabadikan semua perjuangan Nabila dalam menghadapi tumor otaknya.
"Bismillah sayang.."
Semua orang menunggu diluar bilik kaca, sedangkan Nabila hanya meminta Riki untuk menemaninya. Saat melihat dokter dan suster masuk, tubuh Nabila kembali menegang. Memang dokter Andra meminta jika proses kemotherapi Nabila dilakukan di ruangan itu, demi kenyamanan putri angkatnya. Dokter yang menangani Nabila mulai menyuntikkan obat-obat itu melalui pembuluh darah.
"Abang.." Nabila meringis saat obat-obat itu masuk.
"Tenang ya sayang, Abang disini.." Riki tak beranjak sedikitpun, dia menggenggam tangan Nabila yang lain sambil berdo'a dalam hatinya.
Airmata tak dapat Nabila tahan lagi, obat-obat itu mulai mengalir ditubuhnya hingga rasa sakitnya semakin terasa. Dokter memegang lengan Nabila agar lurus sampai obat itu mengalir dengan lancar.
"Abang sakit.."
"Sabar ya cantikku, nanti juga sakitnya hilang perlahan.."
Riki mengusap airmata yang keluar dari pelupuk mata calon istrinya itu. Sungguh Riki pun tidak sanggup menyaksikan perempuan yang ia cintai kesakitan seperti ini. Walapun wajahnya tegas, tetap saja hati Riki begitu lembut. Dokter menjeda agar obat yang pertama mengalir. Sungguh Nabila terlihat sangat gelisah, Riki mengelap keringat didahi Nabila dengan lembut. Kemudian dokter memberikan kode pada Riki untuk melanjutkan menyuntik obat berikutnya.
"Gak apa-apa sayang, nangis aja! Abang yakin sayang kuat, bagi semua rasa sakit sayang sama Abang.."
Sakit sekali rasanya melihat Nabila seperti itu. Hingga rangkaian kemotherapy selesai, Riki tetap berada disamping calon istrinya itu. Nabila bahkan belum berhenti menangis, karena rasa perih dan sakitnya masih begitu terasa.
"Abang.. Ila mual, pengen muntah.."
Riki mengkode pada Pak Arifin agar membawakan ember kecil khusus untuk Nabila, agar dia tidak perlu bolak balik ke kamar mandi. Karena dokter mengatakan jika mual-mual memang efek dari kemotherapi dan akan terus menerus.
Nabila kesusahan untuk memuntahkan isi perutnya, hingga dia terus menangis. Hal itu membuat mereka semua yang melihat menahan airmata. Ingin rasanya mereka ikut menangis dan memeluk Nabila. Tapi urung mereka lakukan, karena mereka tidak ingin membuat Nabila terbebani.
"Masih sakit sayang?"
"Enggak, Pak! Cuman mual aja sedikit.."
Pak Arifin mengelus punggung putri kesayangannya dengan lembut. Sedangkan Riki masih setia memegangi ember kecil dan tisu basah, dia takut Nabila akan kembali mual dan muntah. Tanpa rasa jijik, Riki mengelap sisa-sisa muntahan dibibir Nabila.
"Pak.. Ila mau tiduran, badan Ila rasanya lemes.."
__ADS_1
"Iya sayang..."
Riki pun bergegas membantu calon mertuanya, dia pun menyelimuti tubuh calon istrinya itu. Sejak tadi dia menahan agar air matanya tak keluar, tapi kini rasanya Riki tidak sanggup menahannya.
'Yaa Allah.. Disaat sakit pun dia mengatakan tidak sakit. Sembuhkanlah dia, Yaa Allah.. Agar aku bisa membuat senyumnya tetap terjaga..'
Belum lama Nabila memejamkan mata, dia kembali terbangun dan dengan sigap Riki pun beranjak dari duduknya.
"Kenapa sayang?"
"Abang.. Tolong panggilin Ibu, ya! Ila mau ke toilet.."
Riki pun bergegas memanggil Bu Halimah, karena kini calon Ibu mertuanya tengah pergi ke kantin untuk makan siang bergantian. Riki pun memaklumi itu, karena sejak Nabila di rawat mereka jarang memikirkan isi perut mereka sendiri. Rasanya Riki ingin berteriak kencang saat menggendong Nabila ke kamar mandi. Tubuh Nabila begitu ringan, dia mendudukkan Nabila di toilet dan bergegas keluar karena Bu Halimah yang menemaninya.
"Maaf ya, Bu. Bibil ngerepotin kalian semua.." lirih Nabila.
"Enggak apa-apa, Nak. Yang penting Bibil harus semangat ya! Biar cepet sehat dan bisa gendong adik bayi Bibil nantinya!"
Nabila menganggukkan kepalanya perlahan, sedangkan Bu Halimah sekuat hati menahan diri agar tak mual. Karena bau pipis Nabila yang menyengat karena obat kemotherapinya. Riki pun bergegas menggendong kembali Nabila saat pintu kamar mandi dibukakan oleh Bu Halimah.
"Ibu keluar dulu ya, sayang! Nanti Ibu bawain kamu bubur.."
Bu Halimah bergegas keluar karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa mual, tapi dia tidak mau melukai hati Nabila. Riki pun membuka jilbab yang Nabila kenakan karena basah. Hatinya semakin teriris saat melihat rambut Nabila yang mulai rontok.
"Abang.. Laperr.."
"Sebentar sayang ya, Abang ambilin dulu bubur!"
Saat membuka pintu, bertepatan dengan calon Ibu mertuanya yang membawakan bubur. "Bu.. Titip Ila sebentar ya, Abang mau ngurus sesuatu dulu.."
Laki-laki itu tidak sanggup lagi menahan airmatanya, dia berpapasan dengan Pak Arifin saat akan masuk. Riki langsung berhambur memeluk calon mertuanya itu.
"Pak.. Izinkan Riki melaksanakan akad nikah malam ini..!"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤