Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Liburan dan..


__ADS_3

Sebuah kisah, tak akan pernah bisa dimulai jika tidak ada ungkapan perasaan satu sama lain. Seperti dokter Andra dan Bu Halimah, tak ada status apapun namun keduanya saling memberikan perhatian dan kasih sayang. Bagi mereka yang pernah mengalami kegagalan dalam membangun biduk rumah tangga, bukan hal mudah saat memutuskan untuk memulai sebuah hubungan baru.


"Jiaaakkhh..! Malah ngelamun disini, dok!" sapa Ashila membuat dokter Andra terlonjak kaget.


"Cil! Mama kamu, waktu hamil ngidam apaan sih?! Kok anaknya tengil amat!" omel dokter Andra.


"Hehehehe.. Yang penting cantik kan dok?" tanya Ashila sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Haish! Kelilipan kamu? Yang lain pada kemana? Kok kamu nongol sendirian?" dokter Andra mencari keberadaan kekasih hatinya.


"Lagi siapin cemilan-cemilan bocil! Acil kan abis masukin barang-barang ke bagasi mobil, dok!"


Dokter Andra hanya menganggukkan kepalanya. Hari ini dia akan mengajak Bu Halimah beserta seluruh anak-anaknya untuk pergi berlibur ke Pantai Pangandaran. Tak hanya untuk berlibur, tapi dokter Andra memiliki tujuan lain disana.


Ketiga anak dokter Andra langsung berbaur bersama anak-anak Bu Halimah. Hingga akhirnya diputuskan bahwa mereka akan menggunakan mobil alphard milik dokter Andra. Sedangkan ketiga gadis Alunara kost akan memakai mobil Bu Halimah.


"Kang! Pak Rachmat kayaknya gak bisa anter anak-anak, soalnya dari semalam diare. Dan gak mungkin juga kayaknya kalo mereka gantian nyetir!" Bu Halimah merasa sangat cemas.


"Wadoh!" dokter Andra memijat kepalanya yang mendadak pening.


Saat mereka semua larut dalam pikirannya masing-masing, Riki datang membawa titipan dari sang Ibu untuk Nabila.


"Assalamu'alaikum!" sapa Riki membuat mereka menoleh.


"Alhamdulillah!" ucap Bu Halimah dan dokter Andra bersamaan.


"Ceilah, kompak bener! Tapi mohon maaf nih ye, dimana-mana yang ngucap samlekum itu jawabannya walaikumsalam! Mana ada ucap salam jawab alhamdulillah!" protes Ashila membuat Riki terkekeh.


"Mau pada kemana ini? Udah rame begini.." tanya Riki.


Dokter Andra menghampiri Riki dan berbisik, "Kamu pake baju bebas begini lagi cuti, kan?". Dan dengan polosnya, Riki menganggukkan kepalanya.


"Nice!" sorak dokter Andra kegirangan. "Kita liburan ke Pangandaran, yuk! Syarat nya cukup satu! Jadi sopir buat gadis-gadis itu!"


Karena tak enak hati menolak, Riki pun menyetujuinya. Dia meminta izin untuk mampir ke Rumah Dinas untuk mengambil pakaiannya. Pada akhirnya, Riki yang akan mengantar ketiga gadis itu. Dan disepanjang perjalanan, semuanya terasa canggung.


"Ekhem! Ngobrol napa, sepi amat kek di kuburan.." celetuk Ashila.


Krik.. Krik.. Krik...


Sepi. Ashila hanya bisa menghela nafasnya panjang. Dia tak suka suasana itu. Sedangkan Aisyah hanya melamun menatap jalanan dan hal itu kembali membuatnya terkenang sosok Arya. Laki-laki pertama yang singgah dalam hidupnya. Apalagi saat bertepatan mereka memasuki kawasan militer itu.


"Tunggu sebentar, ya! Abang gak lama, cuman ambil baju!" pamit Riki.


Ketiga gadis itu menganggukkan kepalanya. Usai kepergian Riki, Nabila menoleh ke belakang.


"Cil! Tukeran tempat duduk dong! Gue canggung sebelahan sama Abang!" rengek Nabila, karena dia duduk disamping kemudi.

__ADS_1


"No! No! No! Gue kalo didepan lebih canggung! Udah deh, terima nasib aja. Lagian kan cuman duduk sebelahan di mobil, bukan di pelaminan!" jawab Ashila dengan asal.


Nabila pun menoleh pada Aisyah, namun sahabatnya itu hanya melamun dan menatap arah Rumah Dinas yang dulu pun ditempati oleh Arya.


"Cil.. Bil.. Dulu Mas Arya juga tinggal disana kan? Gue bisa ngebayangin, gimana seru nya mereka ngobrol di teras itu!" ucap Aisyah yang tanpa sadar membuatnya meneteskan airmata.


"Ais.."


"Hehehe! Gue gak apa-apa kok, gue cuman rindu aja!" Aisyah menghapus airmata di pipinya. "Mau tukeran, Bil? Tapi apa nantinya Bang Riki gak akan tersinggung?"


Nabila terdiam. Akhirnya dia memutuskan untuk duduk manis ditempatnya. Hingga akhirnya Riki datang dengan ransel loreng miliknya.


"Maaf lama, ya!" ucap Riki tak enak hati. "Bil.. Abang tadi kesana, niatnya mau kasih titipan dari Ibu. Tapi nanti aja ya, Abang kasih nya pas kita udah sampe di Pangandaran."


"Iya gak apa, Bang. Nanti aja!" jawab Nabila.


Riki pun mulai melajukan mobilnya, mereka ditunggu oleh dokter Andra dan Bu Halimah di pom bensin yang tak jauh dari Alunara kost. Sepanjang jalan, Aisyah dan Ashila tertidur. Sedangkan Nabila tak bisa memejamkan matanya.


"Tidur aja, Ila.. Abang tau, Ila pasti lelah.."


"Gak apa-apa, Bang. Ila temenin Abang aja! Abang juga pasti lelah.." jawab Nabila.


Kruyukk..


Suara perut Riki terdengar, sejak tadi pagi dia belum memakan apapun. Nabila terkekeh, dia lalu mengeluarkan kotak bekal makanan yang diberikan Bu Halimah sebelum mereka berangkat.


"Hmm.. Nanti aja, Ila.. Abang harus fokus nyetir, kan bahaya kalo nyetir sambil makan!" tolak Riki.


Nabila pun berpikir keras. "Suapin aja kali, Bil! Kan aman!" celetuk Ashila, namun saat Nabila menoleh matanya terpejam.


Akhirnya, Nabila pun membuka kotak bekal makan itu dan menyuapi Riki dengan canggung. Ada perasaan yang teramat bahagia di hati Riki, sudah sejak lama dia sangat menantikan moment bersama Nabila.


Tak hanya Riki, dokter Andra pun merasa sangat bahagia. Walaupun terlihat sedikit kecanggungan diwajah Bu Halimah. Pasalnya ini pertemuan pertamanya dengan anak pertama dan kedua dari dokter Andra. Namun mereka begitu sopan dan sangat menyambut baik Bu Halimah, dan hal itu lah yang membuat dokter Andra semakin bahagia.


"Neng.. Semoga kita akan seperti ini terus kedepannya, ya!" ucap dokter Andra.


"Hmm.. Masya Allah.. Anak-anak ini gemesin banget, udah kenyang makan mereka pada tidur. Padahal masih perjalanan.."


"Kok gak di aaminkan, Neng?" tanya dokter Andra, karena Bu Halimah langsung mengalihkan pembicaraan.


"Kita jalani saja, Kang.. Karena kita gak tau kedepannya akan seperti apa. Sekarang cukup saling menyayangi, apalagi ada anak-anak." jawab Bu Halimah.


"Justru karena anak-anak.. Akang berharap, akan menjalani hari bersama Neng sampai tua nanti.."


Hening.. Bu Halimah tidak menjawab, namun tak dipungkiri ada perasaan hangat yang menjalari hatinya.


Setelah kurang lebih 5 jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di Pantai Pangandaran. Anak-anak begitu antusias saat melihat Pantai. Mereka langsung berlarian menuju Pantai. Dokter Andra sengaja tak langsung ke Rumah tempat mereka menginap, tapi menuju Pantai karena berburu sunset.

__ADS_1


"Masya Allah.. Indahnya.."


Ketiga gadis itu pun sama antusiasnya, karena memang sudah lama mereka tidak bermain di pantai. Saat Nabila akan menyusul dua sahabatnya yang sudah berlari menuju Pantai, tangannya ditahan oleh Riki.


"Pakai topi dulu, mataharinya masih terasa panas. Abang gak mau kamu sakit!" ucap Riki sambil memakaikan topi miliknya pada Nabila.


Dokter Andra pun melakukan hal yang sama, "Pakai topi Akang ya, Neng.. Biar wajah cantik Neng tak gosong diterpa terik matahari.."


"Isssss..! Sudah Ashar, jadi aman! Lagian dimana-mana matahari itu panas, Kang! Kalo yang dingin mah salju!" omel Bu Halimah. "Lagian bisanya niru-niru anak muda! Gak kreatif!"


Nabila dan Riki hanya terkekeh, mereka lalu berjalan beriringan menuju Pantai. Cukup lama mereka bermain air, hingga waktu sunset pun tiba. Mereka menatap indahnya matahari terbenam, mengagumi ciptaan Allah yang luar biasa indah.


"Neng.." panggil dokter Andra, Bu Halimah pun menoleh dan terkejut.


Anak-anak mereka membentuk simbol love, sedangkan ketiga gadis itu memegang kertas dengan tulisan 'WILL YOU MARRY ME'. Sementara Riki sudah siap dengan kamera yang disiapkan oleh dokter Andra.


"Kita sudah pernah melewati badai terbesar dalam hidup. Kita sudah pernah mengalami kegagalan, kepedihan dan kepahitan. Mulai saat ini.. Bagilah semua itu dengan Akang.. Akang mau mendampingi kamu, merawat dan membesarkan anak-anak kita bersama-sama.. Hingga tua nanti.. Maukah Neng menikah dengan Akang?"


Speechless.. Mata Bu Halimah berkaca-kaca, ia pun tak bisa berkata-kata.


"Mama adalah kata yang paling aku benci. Karena Mama pergi meninggalkan aku waktu masih kecil. Tapi, kata Kekey.. Ibu sangat lembut dan menyayanginya. Aku juga mau merasakan itu.. Ibu.. Mau kan jadi Ibu kami?" tanya anak tengah dokter Andra.


"Papa adalah segalanya bagi kami, Bu. Kebahagiaan Papa paling utama bagi kami, dan kebahagiaan Papa adalah Ibu.. Kami butuh sosokmu, Ibu.." ucap anak sulung dokter Andra.


"Ibu.. Kekey sayang Ibu, Kekey mau Ibu jadi istri Papa.. Kekey mau punya adik lagi.."


Jedarrr!! Bu Halimah terkekeh mendengar ucapan Keisya. Dia pun akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Insya Allah.. Ibu akan berusaha jadi orang tua terbaik untuk kalian semua, Nak.."


Kelima anak-anak itu berhambur memeluk Bu Halimah, rasa bahagia tak bisa dihindari lagi. Dokter Andra bersorak senang hingga mereka jadi pusat perhatian. Ketiga gadis itu pun saling berpelukan dan merasakan kebahagiaan yang sama.


* * * * *


MAAF OTHOR BARU UP 🙏🙏


MARHABAN YAA RAMADHAN..


SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2