Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Kembali Pulang


__ADS_3

Darah mengucur dari tubuh kedua insan yang saling mencintai, namun terhalang benteng tertinggi, yaitu Tuhan. Bu Halimah berlari sebisa mungkin, saat mendapatkan kabar jika Aisyah dan Arya mengalami kecelakaan dia tengah berada di toko kue miliknya.


"Aciilll! Bibilll! Gimana Ais?!" tanya Bu Halimah dengan nafas memburu.


Keduanya terdiam membisu, hanya isak tangis yang keluar dari mulut keduanya. Bu Halimah menatap Audry, dia belum mengetahui jika Audry merupakan adik dari Arya.


"Jawab! Kalian jangan diem aja dong! Gimana kondisi Aisyah?!" bentak Bu Halimah. Perasannya kini sudah tak karuan.


"Semuanya gara-gara kalian! Kalo kalian gak muncul dihadapan kami, Kak Arya gak akan seperti ini!" Audry kembali menangis histeris. Begitu pun dengan Nabila dan Ashila.


"Tunggu! Kamu siapa?" tanya Bu Halimah dengan nada tegas.


"Aku adik kandung Kak Arya! Aku sama Kak Arya mau makan siang, tiba-tiba mereka muncul dan Kak Arya kejar perempuan itu! Sampaii.. Sampaii..." ucapannya menggantung karena Audry langsung tak sadarkan diri. Dia langsung dibaringkan di rajang perawatan IGD.


Bukan hanya Audry, tapi Ashila dan Nabila pun shock. Hingga mereka tidak bisa berkata apa-apa. Riki dan Defri pun datang setelah mendapat kabar kecelakaan Arya. Defri membawa Ashila kedalam pelukannya, karena memang tubuh Ashila lemah tak berdaya.


"Yang kuat, sayang! Aisyah akan baik-baik aja. Arya juga, mereka pasti baik-baik aja!" Defri mencoba menenangkan kekasihnya itu.


Riki menghampiri Nabila yang kini tertunduk lesu di lantai. Namun dia tak berani untuk memeluk Nabila, walaupun hatinya merasa sakit. Tubuh Nabila bergetar hebat dengan tangan dan pakaian penuh darah Aisyah.


"Ilaa..! Minum dulu, kamu harus tenang!" titah Riki sambil memberikan sebotol air mineral.


Nabila mencoba meraihnya, namun tangannya bergetar hebat. Hingga akhirnya Riki memberikan air mineral itu dengan perlahan. Karena Nabila tak fokus, dia akhirnya tersedak.


"Tenang! Abang bilang tenang! Lihat Abang, Ilaaa!!" Riki memegang dagu Nabila dan menatap matanya.


"Aisyah.. Dia.. Arya.. Dia.." Nabila seperti terlihat linglung.


Pada akhirnya Riki mendekapnya dengan erat, "Istighfar, Ilaa.. Insya Allah mereka akan baik-baik aja! Tenang..! Abang bilang tenang.. Atur nafas kamu dengan baik!"


Dokter Andra berlari tergopoh menuju IGD, dilihatnya kondisi yang membuat hatinya tersayat. Wanita yang dicintainya bersama anak-anak asuhnya tengah terduduk lemas di lantai. Bu Halimah bangkit dan menghampiri dokter Andra.


"Kang! Saya mohon.. Selamatkan Aisyah dan Arya, Kang! Tolong mereka, Kang.. Neng mohon!" lirih Bu Halimah sambil memohon.


"Neng.. Akang akan berusaha sebaik mungkin.. Tenanglah.. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja!" Dokter Andra mencoba menguatkan Bu Halimah.


"Dok.. Tolong mereka.. Selamatkan mereka.." lirih Nabila bersujud di kaki dokter Andra.


"Astagfirullah.. Bila! Saya akan usahakan yang terbaik, tenangkan diri kamu! Saya gak mau kamu kenapa-kenapa! Kalian harus baik-baik saja!" tegas dokter Andra.


Setelah mengatakan itu, dia pun bergegas menuju ruang operasi. Ternyata Aisyah mengalami benturan hebat dikepalanya. Yang mengharuskan dilakukan operasi pada saat itu juga. Begitu pun dengan Arya, selain kepalanya, 3 tulang rusuk kiri nya patah dan hampir mengenai jantungnya.


Suasana sangat tegang, bahkan cukup banyak rekan-rekan Arya yang hadir. Termasuk komandan mereka. Karena sebagai penanggung jawab. Satu jam kemudian, orang tua Aisyah tiba disana. Pak Saepudin dan Bu Fatimah meminta penjelasan pada Nabila dan juga Ashila.


"Jelaskan! Tolong jelaskan! Kenapa bisa seperti ini, Nak?" histeris Bu Fatimah.


"Mah! Tenang dulu, Mah! Ini rumah sakit," tegur Pak Saepudin.

__ADS_1


"Tapi, Pa! Aisyah.. Allah.. Selamatkan anakku," lirih Bu Fatimah.


Nabila dan Ashila sampai saat ini pun belum mau mengatakan apapun, mereka benar-benar sangat terguncang dengan kejadian itu. Hingga akhirnya Bu Halimah menceritakan segalanya tentang hubungan Aisyah dan Arya.


"Allah.. Inikah teguran untuk putriku.. Karena mencintai yang bukan ummat-Mu," lirih Bu Fatimah.


Satu jam..


Dua jam..


Tiga jam..


Operasi belum selesai juga, kedua orang tua Arya pun sudah hadir disana. Mereka langsung menghampiri Audry dan meminta penjelasan. Sedangkan gadis itu terus menerus memojokkan Ashila dan juga Nabila.


"Semua karena mereka! Andai aja mereka gak dateng, Kak Arya akan baik-baik aja!" histeris Audry.


Ayah dari Arya menghampiri Pak Saepudin, karena dia sama sekali tidak mengetahui hubungan putranya dengan Aisyah.


"Saya pun sama seperti Bapak, tidak mengetahui hubungan yang mereka jalin! Apakah sekarang waktunya mencari yang salah dan siapa yang benar? Tidak, Pak! Bukan hanya putra Anda, tapi putri kami pun belum kami ketahui kondisinya," lirih Pak Saepudin.


"Saya tidak menyalahkan siapapun, anggaplah memang ini sudah rencana Tuhan. Hanya saja, saya masih belum bisa menerima keadaan ini. Kami baru bersuka cita merayakan pernikahan anak pertama kami. Dan sekarang.. " Ayah Arya tak bisa melanjutkan kata-katanya.


Pak Saepudin merangkulnya, "Serahkanlah semuanya pada Tuhan.. Kita saling mendo'akan yang terbaik.."


Setelah hampir 6 jam lamanya, dokter Andra keluar dari ruang operasi dengan wajah pucat pasi. Bu Halimah serta Bu Fatimah menghampiri dokter Andra, sedangkan Nabila dan Ashila masih terpaku ditempatnya.


"Saya tidak menangani operasi Aisyah.. Tapi alhamdulillah kondisinya cukup stabil.. Sedangkan Arya.. Saya berhasil melakukan operasi, tapi.. Dia masih dalam keadaan kritis.. Kita sama-sama berdo'a untuk kesembuhan keduanya," ucap dokter Andra.


Nabila menggelengkan kepalanya, "Aku gak apa-apa, Bang.. Aku mau disini, sampe Ais dipastikan baik-baik aja.."


"Ilaa.." tegur Riki.


"Aku mohon, Bang.. Semua ini salah aku, harusnya gak menyarankan buat ngikutin Mas Arya.. Aku yang salah, Bang.." lirih Nabila.


"Ini semua takdir Tuhan, Nak.. Jangan salahin diri kamu sendiri," ucap Bu Halimah sambil mendekati Nabila.


"Semuanya juga salah Acil, Mak.. Kalo aja Acil gak ngelabrak Mas Arya.. Kalo aja Acil.."


"Stop! Semuanya bukan salah kalian!" bentak Bu Halimah frustasi. "Ini semua sudah takdir Tuhan. Kita gak pernah tau, apa yang akan terjadi kedepannya! Sekarang kalian pulang dan istirahat! Ibu yang dirumah sakit!"


Riki pun membantu Nabila untuk bangkit, begitu pun Defri membantu Ashila. Riki memakaikan jaket miliknya ke tubuh perempuan yang amat dia cintai. Sepanjang jalan, Nabila menangis sambil memeluk Riki dengan erat. Karena mereka pulang menggunakan motor. Riki pun menggenggam erat tangan Nabila, dia bisa merasakan kepedihan itu terasa nyata.


Sesampainya di Alunara, sudah ada Mak Anih, orang tua Bu Halimah yang menjaga Aluna dan Inara. "Istirahat.. Mandi, ganti baju terus makan.. Setelah itu tidur!" titah Mak Anih yang memang sudah diberitahu kondisi kedua anak itu oleh Bu Halimah.


Riki dan Defri pun berpamitan, mereka kembali ke Rumah Sakit untuk mendampingi keluarga Arya.


Pagi hari, Aisyah sudah mulai siuman. Kondisinya sudah cukup stabil, hanya saja kepalanya masih terasa sangat sakit.

__ADS_1


"Mas Arya.." lirih Aisyah. Suster yang berjaga di ICU menghampiri Aisyah dan menanyakan kondisinya. Namun bukannya menjawab, Aisyah langsung mencoba bangkit dan memanggil-manggil nama Arya.


"Mas Aryaa.. Kamu dimana, Mas?! Mas Aryaaa..!" histeris Aisyah.


Keluarga mereka yang menunggu di luar ruangan pun terhenyak, Aisyah pada akhirnya tenang setelah melihat ranjang disampingnya. Arya sudah melewati masa kritisnya, hanya saja kondisinya belum stabil.


"Mas Arya.. Bangun, Mas.. Ais disini," teriak Aisyah histeris.


"Tenang, Ais.. Ini dokter Andra! Tenang ya.." dokter Andra yang baru saja datang pun langsung menenangkan Aisyah.


"Dok.. Mas Arya, dok!" isak tangis Aisyah terdengar sangat memilukan.


"Kalo kamu mau samperin Arya, jawab pertanyaan saya dulu! Apa yang kamu rasakan sekarang?" tanya dokter Andra.


"Kepala aku sakit, sakit banget.. Tapi aku mau ketemu Mas Arya, dok.." lirih Aisyah.


Akhirnya dokter Andra mendekatkan ranjang Aisyah ke ranjang Arya. Dia menggenggam tangan laki-laki yang sangat amat dicintainya itu.


"Mas Arya.. Ais disini, Mas.. Bangun ya, Mas.. Maafin Aisyah, Mas.. Ais salah, Ais minta maaf.." lirih Aisyah. Dia tetap menahan walaupun kepalanya terasa sakit.


Terlihat tangan Arya bergerak, dokter Andra pun memeriksa kondisi Arya yang mulai mengerjapkan matanya. "Arya.. Kamu bisa dengar saya?!" tanya dokter Andra.


Keluarga Arya dan Aisyah menyaksikan itu diluar ruang ICU yang memang full kaca. Mereka saling menggenggam dan sudah menerima takdir yang terjadi diantara anak-anak mereka.


"Aisyah..." lirih Arya terbata-bata.


"Mas.. Ais disini, Mas!" Aisyah memaksakan dirinya untuk bangun, dokter Andra melarangnya. Namun keras kepalanya Aisyah tak bisa di lawan.


"Ais-syah.. Ma-maafkan Mas.. Ja-jangan pernah lu-pakan semua kenangan kita.. Mas ikhlas, carilah pe-pengganti yang seiman denganmu.. Ka-kamu cinta pe-pertama dan te-terakhir buat Mas.. Be-berbahagialah, Aisyah.. Love you.."


Tiiinnnnn.........


Genggaman tangan Arya melemah, dokter Andra segera memisahkan Aisyah dan juga Arya. Dokter Andra tak peduli walaupun Aisyah menangis meronta-ronta. Keluarga Arya pun menangis histeris saat melihat monitor sang anak yang bergaris lurus.


"Aryaaa..!!!"


"Kak Arya...!!!"


Riki dan Defri pun tak kuasa menahan tangis, saat melihat dokter Andra melakukan RPJ pada tubuh Arya. Usai sudah perjuangan Arya untuk Aisyah, kini dia telah kembali ke pangkuan Tuhannya.


"Selamat jalan, Josephine Arya Wicaksana.. Terimakasih sudah mengisi kisah indah ini.. Berbahagialah disisi Tuhan.. Maafin Author ya.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2