Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Permintaan Sulit


__ADS_3

"Lamar Ila untuk Ibu sekarang.. Ibu gak ridho, kalo Ila bersanding dengan laki-laki lain! Ibu mau Ila jadi menantu Ibu..!"


Riki dan Nabila saling tatap tak percaya dengan permintaan Bu Maryam.


"Kenapa kalian diem? Bukannya kalian saling mencintai? Ibu sudah tua, Bang.. Ibu cuman mau lihat kamu menikah dan kasih Ibu cucu," lirih Bu Maryam membuat Nabila dan Riki terkesiap.


"Bu.." Riki menggenggam erat tangan Bu Maryam. "Berikan Abang waktu, Abang akan menikah pada waktunya. Kita gak bisa memaksakan kehendak, Bu.."


Bu Maryam baru menyadari, saat melihat jari manis lengan kiri Nabila melingkar sebuah cincin yang indah. "Astaghfirullah.. Jadi.. Neng Ila.." Bu Maryam kehilangan kata-kata.


"Buu.. Maafin Ilaa.." lirih Nabila memeluk erat Bu Maryam.


"Astaghfirullah.. Maafin Ibu, Neng.. Ibu gak tau.. Ibu.."


"Gak apa-apa, Bu.. Ila yang minta maaf, Ila yang gak nunggu Abang.. Karena Ila gak tau kalo Abang berangkat pendidikan. Bapak gak kasih tau Ila.. Maafin Ila ya, Bu.." lirih Nabila.


Hening..


Bu Maryam mencoba menguatkan dirinya, karena harapannya sudah hancur lebur. Riki pun hanya bisa terdiam saat melihat keduanya memeluk erat sambil menangis.


Begitu pun dengan Defri dan Ashila, perempuan itu memeluk Defri dengan erat seolah tak ingin terpisahkan. "Tunggu Mas pulang, ya! Mas janji setelah pulang satgas..."


"Mas!" Ashila memotong ucapan Defri. "Aku gak akan pernah mau denger janji-janji lagi, Mas.. Semua itu udah gak mempan buat aku.. Cukup laksanakan tugas kamu dengan baik, jaga diri kamu dengan baik dan kembali dengan baik.. Itu cukup buat aku.."


Defri menyeka airmata yang menetes di pipi Ashila, "Kalo gitu.. Tunggu Mas.. Mas akan kembali dengan sehat untukmu.. Tapi jika dalam 3 bulan masa tugas Mas ada yang melamar kamu, Mas pasrahkan semuanya sama Allah.. Mas terima semua keputusanmu.."


"Mas.." lirih Ashila.


"Bukan kah kamu gak mau Mas janjikan? Mas hanya takut, Cila.. Mas takut kehilanganmu.." Defri menggenggam erat tangan kekasihnya itu.


"Aku akan jaga diri aku buat kamu, Mas.. Dan aku harap kamu pun akan melakukan hal yang sama. Andai pun kamu menemukan belahan jiwa kamu disana, aku akan selalu mendo'akan yang terbaik buat kamu, Mas.."


Sudah waktunya keberangkatan, Defri pun memeluk Ashila untuk terakhir kalinya. "Ingat baik-baik, ya! Mas akan melamarmu usai Mas bertugas, jangan anggap ini sebuah janji. Tapi jika sebelum Mas kembali ada yang melamarmu, maka semua keputusan ada ditanganmu, Cila.. Menunggu atau menerima.."


"Mas pamit, i love you.. Mas titipkan kamu pada Sang Pencipta.."


Usai berpamitan pada Ashila, tak lupa dia pun berpamitan pada Bu Maryam, Riki dan juga Nabila. "Jaga diri kamu baik-baik!" ucap Riki sambil memeluk junior nya itu.


Ashila melambaikan tangannya saat Defri sudah masuk kedalam truk Militer yang mengangkut seluruh prajurit menuju satuan tugasnya. Begitulah beratnya memiliki kekasih seorang abdi Negara. Walaupun cintanya untukmu, tapi waktu dan raganya hanya untuk Negaranya.

__ADS_1


Riki dan Nabila kini tinggal berdua didepan Mesjid, karena Bu Maryam meminta diantarkan menuju Mesjid. Ashila pun menghampiri keduanya dan menghela nafas panjang.


"Huft.. Kesepian lagi deh gue!" keluh Ashila sambil menyandarkan kepalanya di pundak Nabila.


"Begitulah resikonya, Acil.." ucap Riki, sedangkan Nabila hanya terdiam.


"Bang! Lu apain sahabat gue? Kok dia jadi diem aja kek kesambet gitu!" celetuk Ashila. "Oh iya, Ibu dimana? Kok ngilang?"


Hening..


Ashila merasakan ada sesuatu yang terjadi, dia pun izin untuk pergi ke toilet disamping Mesjid. Padahal dia ingin bertemu Bu Maryam dan mencari tahu sesuatu. Namun saat akan menghampiri Bu Maryam, dia melihat perempuan paruh baya itu tengah menangis.


"Ibu.. Ibu kenapa?" Ashila menghampiri Bu Maryam karena tak tega.


"Eh.. Nak Ashila.. Ibu gak apa-apa," jawab Bu Maryam sambil menghela nafasnya.


"Ibu sangat kecewa.. Ibu berharap Neng Ila akan menjadi pendamping Abang.. Karena sejak dulu, Ibu sangat tau bagaimana Abang mencintai Neng Ila.."


Ashila memeluk Bu Maryam yang menangis tersedu, "Bu.. Jodoh gak akan ada yang tau.. Yang menikah aja sampe cere, apalagi yang cuman tunangan.. Bukankah do'a seorang Ibu itu mujarab? Ibu bisa minta sama Allah, supaya diberikan menantu terbaik.. Termasuk Nabila.." ucap Ashila spontanitas.


Tangisan Bu Maryam mulai mereda, "Kamu bener Nak Cila.. Ibu harusnya gak putus asa, Ibu masih bisa ikhtiar sebelum janur kuning melengkung.."


Ashila menganggukkan kepalanya, "Tapi.. Apapun keputusan Nabila nantinya dan takdir yang Allah berikan nantinya.. Ibu gak boleh marah apalagi benci. Karena kita gak bisa melawan garis takdir yang Allah berikan. Tapi Ibu tetep harus positif thingking.. Insya Allah kalo Bang Riki sama Bibil berjodoh, mereka akan semakin di dekatkan.."


'MATI GUE! LAGIAN SOK BIJAK AMAT SIH CIL! GIMANA DONG INI, BISA DI CERAMAHIN TUJUH HARI TUJUH MALAM SAMA BU HALIMAH KALO SAMPE GUE DEKETIN BANG RIKI SAMA SI BIBIL!' jerit Ashila dalam hati.


Tak menjawab, Ashila hanya tersenyum kaku. Nabila dan Riki pun dilanda keheningan, keduanya merasa dalam posisi yang serba salah.


"Maafin Ibu ya, Ila.. Jangan ambil hati ucapan Ibu.. Cukup perbaiki hubungan kamu dan Farhan, Abang selalu mendo'akan yang terbaik.."


Nabila menoleh, "Apa Abang gak akan memperjuangkan aku lagi?"


Pertanyaan Nabila membuat Riki terkesiap, namun dia harus menahan segala ego dalam dirinya. "Abang akan memperjuangkan jika kamu tidak terikat dengan siapapun. Tapi untuk saat ini, Abang tidak akan melakukannya. Abang gak mau jadi duri dalam hubungan kamu dan Farhan. Abang gak mau memalu tembok yang kini telah retak, Abang gak mau menghancurkan semua itu.. Walau dalam hati Abang ingin memilikimu.."


"Hubungan kamu dan Farhan bukan sesimple pacaran, kalian sudah terikat oleh dua keluarga yang menaruh harapan baik pada hubungan kalian. Jadi sebelum kamu mengambil keputusan, libatkanlah Allah.."


Suasana kembali hening, Bu Maryam keluar bersama Ashila. Tanpa basa basi, dia pun meminta Riki untuk mengantarnya pulang. Bahkan Bu Maryam tak memeluk Nabila sehangat tadi. Nabila dan Ashila pun kembali ke Aluna kost tepat pukul 5 sore. Ternyata disana sedang ada ketegangan pula.


"Duh! Gak dimana-mana, godaan mantan emang luar biasa!" bisik Ashila pada Nabila.

__ADS_1


"Kasian Bu Halimah, dia pasti tertekan.." lirih Nabila.


Jeremy benar-benar melakukan apa yang dia katakan sebelumnya, bahwa dia akan merebut hak asuh anak-anaknya.


"Kamu gila ya, Jer! Kamu gak tau diri! Cukup kamu lukai aku dimasa lalu.. Untuk sekarang, biarkan aku bahagia bersama anak-anak!" tegas Bu Halimah.


"Iya! Aku gila karena kamu, Halimah.. Aku masih mencintaimu, tidak adakah cintamu yang tersisa untukku walaupun sedikit?" tanya Jeremy yang mulai melunak.


"Kamu pikir?! Setelah semuanya yang kamu lakukan sama aku, kamu pikir rasa itu masih ada?! Enggak Jeremy! Rasa itu udah hilang!" bentak Bu Halimah.


"Apakah harus aku ingatkan?! Siapa yang menjadi tulang punggung di keluarga lita dulu?! Siapa yang berjuang untuk kehidupan anak-anak?!" tanya Bu Halimah membuat Jeremy mengepalkan tangannya.


"AKUU JEREMY!! AKUUUU!!! BAHKAN AKU MENAFKAHI KAMU DENGAN SELINGKUHANMU ITU!! AKU HANYA KAMU JADIKAN SAPI PERAH UNTUK MEMUASKAN DIRIMU BERSAMA PEREMPUAN ITU!!" bentak Bu Halimah dengan air mata yang tak bisa lagi tertahan.


Deg!


Hati Jeremy rasanya nyeri, karena kini penyesalan sudah menyeruak kedalam dada. Namun emosi mengalahkan semuanya, tangannya sudah melayang hampir mengenai Bu Halimah. Ashila menahan lengan itu dengan tenaganya yang tak sedikit.


"Jangan pernah berani-beraninya menyentuh seujung kuku pun, apalagi menamparnya!" bentak Ashila.


"Jangan ikut campur kalian!" hardik Jeremy, dia pun melayangkan tamparan ke arah Ashila. Namun Nabila menghentikannya dengan menendang tulang rusuk laki-laki itu hingga dia terjungkal.


"Semuanya sudah ada dalam rekaman CCTV, silahkan jika Bapak Jeremy sudah tidak ada urusan harap tinggalkan tempat ini!" usir Nabila.


Bu Halimah dan Ashila melongo melihat aksi Nabila, sedangkan Jeremy merintih kesakitan. "Halimah.. Aku mohon! Kembali padaku, atau anak-anak akan ada dalam bahaya!" ancam Jeremy.


"Aku akan kembali padamu, dengan satu syarat!" ucap Bu Halimah membuat Jeremy menatapnya dengan binar mata bahagia.


"Bertemulah dengan Allah, maka saat itu aku akan kembali padamu bersama anak-anak!"


Ashila dan Nabila menahan tawanya, "Sungguh permintaan yang sulit.. Mereka akan kembali untuk mendo'akan Bapak, semoga masuk Surga!"


* * * * *


UPDATE 2 BAB, MENEBUS KESALAHAN AUTHOR YG BOLOS TERUS 😁


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2