Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Pernikahan Ashila dan Defri


__ADS_3

Suasana kediaman Ashila sudah ramai, esok hari pernikahannya akan dilangsungkan. Malam ini, bersama Aisyah dan Nabila dia menjalani perawatan. Sebenarnya Aisyah dan Nabila sudah menolak, namun Ashila tetap kekeh ingin melakukan perawatan bersama-sama seperti saat pernikahan Aisyah dulu.


"Heiii kok ngelamun?!" Suara Ashila mengagetkan Nabila.


"Apaan sih, ini namanya menikmati! Bukan ngelamun!"


Ashila tau, Nabila masih bersedih karena Riki belum kembali dari Afrika. Tapi untungnya sudah ada kabar yang lebih baik, karena Riki sudah mengabari Nabila.


"Insya Allah, Bang Riki pasti cepet balik kesini. Kita do'ain sama-sama ya!" Aisyah memeluk Nabila yang duduk disampingnya.


"Aamiiin, jangan sedih dong! Ini kan hari bahagia gue!" Ashila pun ikut memeluk keduanya.


"Hueekkkk.. Hueeekkkk.."


Aisyah berlari le toilet saat menghirup parfum Ashila, tiba-tiba saja perutnya terasa sangat mual. Nabila dan Ashila pun mengikutinya karena khawatir.


"Ais! Lu gak apa-apa kan?" teriak Ashila.


"Gak apa-apa pala lu! Pake parfum apaan sih lu, Cil! Bau nyongnyong begitu!" omel Aisyah dari dalam kamar mandi.


"Enak aja! Bau ketek lu! Ini tuh wangi, Ais.. Lu jangan aneh-aneh deh!"


Nabila hanya bisa menggelengkan kepalanya, Bu Halimah masuk kedalam kamar Ashila karena mendengar keributan dari luar.


"Kalian udah gede, kenapa pada teriak-teriak kaya di hutan sih?" omel Bu Halimah.


"Itu tuh si Ais! Masa parfum Acil dikata bau nyongnyong! Ini kan parfum dari luar negeri lho Mak Haji!"


"Hah? Bau? Wangii kok! Jangan-jangan...."


* * *


Riki terus melakukan therapi pada kakinya, untung tidak ada luka hingga Riki pulih cukup cepat. Kakinya terasa lemah karena koma selama dua bulan lamanya. Kini dia bisa berjalan walaupun masih perlahan, luka di dada nya pun sudah mulai membaik.


"Abang! Minum dulu nih, biar Abang cepet pulih.."


Bu Maryam akhirnya mengetahui kondisi putranya, itupun karena mulut dokter Andra yang tidak amanah. Saat Bu Maryam kontrol kesehatan jantungnya, disitulah dokter Andra mengatakan kondisi Riki. Akhirnya Riki diminta untuk tinggal sementara dirumahnya.


"Makasih ya, Bu. Maafin Abang.. Abang ngerepotin Ibu terus.."


"Kamu itu! Udah jangan banyak pikiran, cepet sehat. Besok kan kita mau ke acara nikahan Ashila sama Defri. Bukannya kamu mau kasih kejutan buat calon mantu Ibu?"


Membayangkannya saja sudah membuat jantung Riki berdegup kencang. Sungguh dia sudah sangat merindukan calon istrinya itu.


"Iya Bu, besok dandan yang cantik ya! Kita jemput calon menantu Ibu.."


Rasanya hati Riki sudah tidak sabar, begitupun dengan Defri. Semalaman ini dia sudah bertekad untuk menghafal ijab kabulnya. Karena Defri memiliki kebiasaan buruk, jika panik maka pikirannya akan buyar.


"Saya terima nikahnya Ashila Cecilia Damayanti binti Solihin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas putih 25gram dibayar..."


"Hutang!"


"Astaghfirullah! Enak aja, dibayar tunai lah!" omel Defri karena Kakaknya itu sering kali meledeknya.


"Hahahaha! Jangan tegang-tegang lah, sekarang waktunya kamu istirahat. Besok itu kamu harus punya tenaga dan pikiran yang fresh! Biar semuanya lancar!"

__ADS_1


"Malah aku ini lagi latian, malah diledekin!"


"Udah gak perlu latihan, wes besok langsung gaskeuunn!"


Akhirnya malam itu Defri memilih untuk menghafal hingga tertidur pulas. Sedangkan Ashila tidak bisa tidur karena memikirkan hari esok.


"Yaa Allah.. Semoga semuanya dilancarkan esok hari.."


* * *


Suara kecapi khas Sunda sudah terdengar, sebentar lagi akad nikah akan dimulai. Nabila dan Aisyah yang bertugas sebagai pendamping pengantin. Mereka kini tengah menikmati sarapan pagi, karena dipaksa oleh Bu Halimah. Rangkaian acara pernikahan Ashila akan panjang, karena upacara pedang pora akan dilaksanakan sehabis dzuhur. Karena setelah akad nikah, akan ada acara adat Sunda.


"Bu! Ais gak mau makan lagi deh.. Katanya mual!" omel Nabila.


"Paksain, Nak! Kalo gak diisi nanti malah sakit perut kamu. Ayo paksain! Atau Ibu minta Nak Bagas suapin kamu ya?" tanya Bu Halimah.


Aisyah menganggukkan kepalanya dengan pipi bersemu merah, sedangkan Nabila memutar bola matanya malas. Tidak lama kemudian, Bagaskara menghampiri mereka. Padahal dia tengah menemani dokter Andra yang akan menyambut kedatangan Riki.


"Kenapa sayang? Mual lagi? Nanti sore kita ke dokter ya!" Bagaskara sangat khawatir dengan kondisi istrinya itu.


"Ke bidan aja, Nak! Insya Allah.. Kalian tau hasilnya nanti!" pinta Bu Halimah dan keduanya terkejut.


"Bi-bidan? Maksud Ibu, istri aku ha-hamil?" tanya Bagaskara terbata.


"Insya Allah.. Makanya Ais, jangan kecapean ya!"


Mereka pun menganggukkan kepalanya, Nabila turut berbahagia namun hatinya sedikit sakit mengingat tidak ada Riki disana yang menemaninya.


Rombongan pengantin telah tiba, Defri disambut oleh Lengser yang merupakan bagian dari Pernikahan dengan Adat Sunda. Dengan langkah yang gagah, walaupun sedikit gugup Defri melangkahkan kakinya menuju meja akad.


Kini dia sudah berhadapan dengan Pak Solihin, Ayah dari Ashila. Sungguh bagi Defri, lebih baik menghadapi musuh dibandingkan hari ini. Gugup dan takutnya sangat luar biasa. Dengan tangan yang gemetar, Defri menjabat tangan calon mertuanya itu.


"Saya terima nikahnya Ashila Cecilia Damayanti binti seperangkat alat solat.."


"Astagfirullah.." Defri mengusap keningnya yang sudah dibanjiri oleh keringat. Sedangkan para tamu undangan sedikit terkejut dan berusaha menahan tawa mereka.


"Tenanglah, jangan gugup!" Pak Solihin menggenggam kembali tangan calon menantunya itu. "Tarik nafas perlahan dan fokus!"


Defri menganggukkan kepalanya, dia bertekad kali ini harus berhasil. "Saudara Muhammad Defri Rizky, saya nikahkan engkau dengan Ashila Cecilia Damayanti binti Solihin dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas putih sebesar 25gram dibayar tunai!"


"Saya terima nikahnya Ashila Cecilia Damayanti binti Solihin dengan mas kawin tersebut dibayar TUNAI!"


"SAAAAAHHHHH.."


"Alhamdulillah.."


Semua orang menghembuskan nafasnya lega, kali ini Ashila didampingi oleh Aisyah dan Nabila berjalan menuju meja akad. Sungguh Defri terpana dengan penampilan calon istrinya itu. Ralat! Istrinya.


"Masya Allah.. Cantiknya istriku.."


Ashila mencium punggung tangan Defri dengan takzim, sedangkan Defri membacakan do'a di ubun-ubun istrinya itu. Berharap pernikahan mereka akan dilimpahkan kebahagiaan. Acara pun berlangsung meriah, hanya satu yang merasa murung yaitu Nabila. Dia merasa kesepian walau berada ditengah keramaian.


Sudah memasuki waktu dzuhur, namun tidak ada kejutan seperti pada pernikahan Aisyah dulu. Nabila hanya bisa menghela nafasnya dan menahan segala sesak yang bergemuruh dalam dada. Dia pun beranjak, karena sebentar lagi akan diadakan upacara pedang pora.


Jadilah pasangan hidupku..

__ADS_1


Jadilah Ibu dari anak-anakku..


Membuka mata dan tertidur di sampingku..


Aku tak main-main..


Seperti lelaki yang lain..


Satu yang kutahu..


Kuingin melamarmu..


Suara itu.. Nabila menoleh, dia mendapati Riki disana dengan seragam batik serupa yang dia gunakan. Mata Nabila berkaca-kaca, Riki menghampirinya dan menatapnya penuh rindu.


"Hai calon istriku! Lama gak ketemu, ya. Makin cantik aja!"


Nabila menghampiri Riki dan berhambur memeluknya, bahkan tanpa sadar Nabila memukul dada Riki yang terluka.


"Aww.. Sakit sayang, ini lukanya belum sembuh.." Riki meringis, sedangkan Nabila langsung panik.


"Yaa Allah, Bang! Maafin aku.. Aku salah.." Dia menangis melebihi Riki yang menahan sakit.


"Abang gak apa-apa, sayang! Sekarang jawab dong.. Mau gak nikah sama Abang, sekarang?"


"Sekarang? Disiniii?" tanya Nabila dengan panik, jantungnya sudah berdebar tak karuan.


"Enggak sekarang juga sayang, ini nikahan orang! Masa Abang gak modal," Riki terkekeh sedangkan Nabila menunduk malu.


"Abang udah yakin kamu jawab 'IYA'," dia memasangkan cincin dijari manis Nabila dan lantas Nabila memeluknya dengan erat.


"Heiiiii.. Belom muhrim! Gak boleh peluk-peluk begitu!" Bu Halimah memisahkan keduanya hingga membuat para tamu tertawa.


Tak lama kemudian, acara pedang pora Ashila dan Defri pun dimulai. Tidak henti-hentinya mereka mengucapkan syukur karena bisa bersama orang yang mereka cintai. Cinta yang tidak pernah tau sejak kapan tumbuh dan entah kapan mulai bersemayam didalam dada.


"I love you, Ashila.."


"Love you too, Mas swami!"


Kebahagiaan tidak didefinisikan dengan sebuah nilai, tapi dengan sebuah ketulusan dalam menjalaninya. Bagi Nabila, kini kebahagiaannya adalah kehadiran Riki disampingnya.


"Minggu depan, mulai siapkan berkas-berkas ya! Abang udah siap untuk pengajuan, tapi kamu pun harus siap. Karena Abang belum sekuat dulu!"


"Insya Allah.. Kita melangkah bersama ya!"


* * * * *


MAAF BARU UPDATE..


TAB AUTHOR BARU KEMBALI SETELAH DUA MINGGU LAMANYA MATI..


DO'AKAN JUGA AGAR AUTHOR SEHAT SELALU YA!


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2