Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Memupuk Rindu


__ADS_3

Euphoria kebahagiaan Aisyah dan Bagaskara masih sangat terasa. Acara resepsi mereka dihadiri oleh kerabat dan teman-teman dekat. Namun, esok harinya akan diadakan acara resepsi khusus untuk relasi-relasi yang berada di Kota Bandung. Karena bagaimana pun Bagaskara seorang Polisi yang memiliki banyak relasi.


"Bil! Gue besok pake sepatu heels yang lebih tinggi deh kayaknya, jomplang banget gue sama Mas Defri yang tingginya kek tiang listrik!" Ashila menghela nafasnya.


"Ya tinggal pake aja Cil! Apa syulitnya.." Nabila mulai membersihkan make up di wajahnya.


"Ishh.. Masalahnya adalah.. Gue gak biasa pake heels yang tinggi banget! Kalo gue nyusruk kan gak lucu!" Ashila memberengut kesal sedangkan Nabila tertawa terbahak-bahak.


"Emang lu pake heels yang berapa centi tadi?" tanya Nabila tanpa menoleh pada sahabat baiknya itu.


"5 centi doang! Tapi masih gak nyusul tinggi nya Mas Defri!" kesal Ashila. "Lagian dia makan apaan sih, ampe tingginya 180!"


"Makan taraje!" Nabila terbahak. "Yaudah pake punya gue aja tuh, 10 centi. Mayan lah buat menyeimbangkan elu sama Mas Def!"


*taraje merupakan bahasa sunda dari tangga yang terbuat dari kayu


Akhirnya Ashila setuju, dia akan memakai heels milik Nabila. Untung saja ukuran kaki Ashila dan Nabila sama. Walaupun Ashila sedikit lebih mungil, karena Ashila berkaki..besar.


Aisyah sendiri kini berada di kamar pengantin yang telah susah payah di dekorasi oleh Bu Halimah. Karena seorang Ibu ingin anaknya dapat melaksanakan ibadah pertama sebagai seorang istri dengan suasana yang romantis. Karena bagi Bu Halimah, kesan pertama sangatlah tidak mudah dilupakan.


"Belum mau ganti baju, istriku?" tanya Bagaskara yang baru saja masuk kedalam kamar.


"Mmm.. Nabila sama Ashila belum dateng, Mas! Ais.. Susah buka resleting belakang," jawab Aisyah dengan rasa gugup yang luar biasa.


"Biar Mas saja yang bantu, kasian mungkin mereka sedang beristirahat!" Bagaskara mendekati istrinya itu, walaupun sama-sama gugup.


Aisyah hanya menganggukkan kepalanya tanda menyetujui. Dengan tangan yang gemetar, Bagaskara membuka riasan kepala dan jilbab yang digunakan Aisyah. Tangannya terulur untuk menguraikan rambut Aisyah. Lalu perlahan Bagaskara mengenyampingkan tubuh istrinya itu.


Sreeekkkk..


Resleting gaun pengantin Aisyah sudah terbuka dan menampilkan punggung Aisyah yang putih mulus. Hingga Bagaskara harus menelan saliva nya dengan susah payah. Jantung keduanya berdegup kencang.


"Su-sudah Mas?" tanya Aisyah terbata.


"Su-sudah.. Biar Mas bantu ke kamar mandi!" Bagaskara menuntun istrinya itu.


"Sampai sini aja, Mas!" Aisyah sedikit berlari dan segera mengunci pintu. Dia harus menyelamatkan degup jantungnya yang semakin tak karuan. Sedangkan Bagaskara sendiri terlihat salah tingkah.

__ADS_1


'Gimana ini.. Apa yang harus saya lakukan!' batin Bagaskara.


Dia pun melepaskan pakaian dinasnya, hanya menyisakan kaus coklat ciri khas Polisi. Dia duduk disofa dekat ranjang sambil membaca artikel-artikel mengenai malam pertama. Karena jujur saja, selama ini Bagaskara sama sekali tidak terpikirkan untuk memulai biduk rumah tangga.


Ceklek


Aisyah keluar dengan tubuh yang segar, aroma shampoo menguar dari rambutnya. Hal itu menyebabkan gaiirah jiwa Bagaskara bangkit. Dia menatap istrinya tanpa berkedip. Apalagi Aisyah mengenakan pakaian tidur yang bisa dibilang cukup mencetak lekuk tubuhnya.


"Mandi dulu, Mas!" titah Aisyah. "Kita shalat isya berjama'ah ya!"


"I-iya sayang!"


Bagaskara pun berlari secepat kilat, dia membersihkan tubuh sebersih-bersihnya. Sama seperti Bagaskara, kini pun Aisyah menunggu dengan gelisah. Dia bingung harus melakukan apa. Karena Aisyah belum paham mengenai kewajiban di malam pertama.


"Ayo sholat.. Malah melamun!" ucap Bagaskara membuyarkan segala lamunan istrinya.


Usai shalat isya berjama'ah, Bagaskara dan Aisyah melaksanakan shalat sunah. Mereka berdo'a dengan khusyuk. Aisyah mencium tangan Bagaskara dan sang suami mencium keningnya dengan lembut. Perlahan tapi pasti.. Bagaskara mampu membuat Aisyah hanyut dalam suasana. Hingga tanpa disadari.. Insting kedua insan manusia itu membawa mereka kedalam sebuah kenikmatan yang hakiki.. (Hayoloh traveling 🤪)


"Love you, Aisyah.."


"Love you too Mas.."


"Angin.. Sampaikan segala rinduku padanya.. Dia yang sedang berjuang menjaga perdamaian dunia.. Lindungilah dirinya dan hatinya.."


"Akan aku pupuk seluruh rindu ini, agar kelak saat dia kembali.. Aku mampu bertahan melewati hari-hari yang sulit ini.."


Ting!


Ponsel Nabila berbunyi, satu pesan masuk. Pesan yang sangat amat dia tunggu-tunggu.


'Ingatlah Abang sebagai sepasang bola mata yang tak bisa berhenti memandangimu. Ingatlah Abang sebagai jemari yang selalu siap menyeka air mata kerinduanmu. Ingatlah Abang.. Sebagai sepasang kaki yang tak akan pernah berhenti menemanimu melangkah untuk mengejar semua mimpi kita. Ada rindu dihatiku yang selalu ada untukmu.. Nabila Shafiya Putri..'


Benar saja, Nabila tak mampu menahan airmata yang menetes begitu saja. Rindu ini begitu menyiksa, dia mengingat kembali saat dulu Riki pergi tanpa kabar. Saat itu saja dia mampu, apalagi saat ini. Riki selalu akan menyempatkan untuk sekedar memberi kabar. Nabila pun mulai membalas pesan dari calon suaminya itu.


'Dari sekian juta pasang mata, hanya pada matamu aku jatuh cinta sedalam ini. Aku menemukanmu kembali, tepat saat hatiku hampir hancur seutuhnya. Kerinduan sudah banyak menyebabkan serpihan-serpihan hati berhamburan. Semakin lama rindu berdiam, semakin terus ia menikam. Semakin lama rinduku bersemayam, semakin banyak do'a yang kupinta diam-diam. Kelak semoga Allah segera mempertemukan kita pada satu titik yanh kita harapkan. Yaitu.. Pernikahan..'


Centang dua biru.. Nabila sungguh bahagia, saat pesan yang ia sampaikan langsung berbalas.

__ADS_1


'Insya Allah.. Sekarang tidurlah.. Disana sudah malam.. Abang akan selalu mencintaimu, hingga akhir nafasku..'


Mendapatkan balasan seperti itu, detak jantung Nabila berdegup kencang. Hatinya tak enak, rasanya tak nyaman. Nabila hanya bisa berdo'a, semoga Riki dalam keadaan baik-baik saja.


'Terimakasih atas cinta tulusmu, Abang. Ila tidur ya! Jaga diri Abang.. Tetaplah hidup.. Tetaplah bernafas.. Ila akan selalu menunggu Abang.. I love you more..'


Riki membaca pesan itu dengan air mata berlinang, ia bersikeras menahan luka tembak yang bersemayam dalam perutnya. Setelah memutuskan sambungan telepon saat subuh di waktu Afrika, Riki baru saja akan memejamkan matanya. Namun rupanya ada beberapa penyusup yang menyerang barak mereka. Sehingga aksi tembak menembak pun tak terelakkan.


"Sudah Bang.. Calon istri Abang sudah membalas dan membaca semua pesan Abang! Sekarang kita harus mengobati luka Abang!" pinta Andreas salah satu junior nya disana.


"B-baik! Tapi utamakan yang lain, yang terluka lebih parah. Karena tenaga kesehatan dan obat-obatan disini terbatas!" Riki terus menahan sakit itu hingga keringat bercucuran.


"Ijin! Danki, kita harus melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru! Bertahanlah Danki!"


Mereka membawa Riki yang mulai tak sadarkan diri. Satu tetes airmata dipipinya dan hanya satu nama yang dia sebut sebelum memejamkan mata.


"Nabila.."


Rindu itu bukan jarak, ketika dekat ia tak sirna tapi saat jauh.. perasaan itu semakin tumbuh. Airmata berisi ribuan kata ketika raga tak mampu lagi menahan luka.


'Ijinkanlah aku untuk berjuang sekali lagi.. Agar tak ada airmata yang kulihat dari wajah indahnya..'


"Bang..!!!"


"Danki..!!!"


"Buka matamu..!!!"


"Saturasi menurun, hubungi pusat!!"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2