
"Semuanya kan demi cinta.."
Deg!
Ashila dan Nabila saling menatap, sedangkan Farhan hanya diam membisu. Dia sedang mencerna semua ucapan yang keluar dari mulut Defri.
"Demi cinta.. Karena sebagai senior, Bang Riki gak akan biarin cintanya aku terluka. Dan kalian juga tau, gimana besarnya rasa cintaku buat Cila.."
Bruk!
Tiba-tiba saja Ashila tak sadarkan diri, Defri sangat panik. Begitu pun Nabila dan Farhan. "Cill.. Bangun dong! Ah elah gak lucu kalo lu pingsan dengerin si Mas Defri ngomong begitu!" omel Nabila dengan panik.
"Sayang.. Tenang ya! Kita bawa Acil ke Rumah Sakit aja.. Takutnya emang ada efek dari kecelakaan tadi," ujar Farhan dan Nabila pun mengangguk.
Defri menggendong Ashila menuju mobil milik Farhan, sedangkan Nabila mengambil kartu identitas dan beberapa hal yang dibutuhkan. Tidak lupa pula dia memberitahu Bu Halimah mengenai kondisi Ashila.
"Cila sayang.. Bangun ya! Maafin Mas, semua itu cuman ungkapan hati Mas aja.." lirih Defri.
Sesampainya di Rumah Sakit, Ashila segera diperiksa oleh dokter. Benar saja, kepala Ashila memang sempat terbentur pohon. Namun beruntung, dia memakai helm. Hingga tak ada luka yang terlalu serius. Farhan dan Nabila pun menunggu di luar, karena memang di area Gawat Darurat tak di izinkan terlalu banyak orang.
"Kamu periksa sekalian ya, sayang? Aa takut ada apa-apa sama kamu juga.. Aa mohon ya.." pinta Farhan sambil menggenggan erat tangan Nabila.
"Insya Allah, aku gak apa-apa Aa. Sekarang yang aku pikirin kondisi Acil aja," lirih Nabila.
"Acil udah ditangani dokter, Yang.. Tolonglah.. Biar Aa tenang, setelah ini Aa harus ke Jakarta. Kalo sayang gak mau periksa, Aa pasti kepikiran.."
Akhirnya Nabila pun mengalah, dia lebih memilih untuk mengikuti saran dari calon suaminya. Nabila pun mendapatkan pemeriksaan yang sama dengan Ashila. Dan benar saja, terdapat luka lebam di area pinggang dan lecet di area kaki.
"Nah kan.. Untung Aa minta kamu diperiksa, Yang.. Kalo enggak nanti pasti kamu pendem sendiri semua rasa sakit itu. Sekarang ada Aa, sayang. Aa calon suami kamu, bilang semua yang kamu rasain ke Aa ya.. Bagi semuanya ke Aa.." pinta Farhan dan Nabila hanya menganggukkan kepalanya.
Tak lama kemudian, Riki dan Arya tiba di Rumah Sakit. Karena Defri mengabarkan jika Ashila dan Nabila harus mendapatkan perawatan. Sangat terlihat raut wajah khawatir yang ditunjukkan oleh Riki. Namun semuanya lenyap, saat melihat kehadiran Farhan di sisi Nabila.
"Bang! Kepalanya kena benturan, saya khawatir. Maaf merepotkan Abang dan juga kamu, Arya," ucap Defri sambil merangkul bahu sahabatnya itu.
"Gak apalah.. Kita ini keluarga, wajar kan kalo kita saling mengkhawatirkan," ujar Arya, namun matanya melihat ke seluruh penjuru. Dia tak melihat Aisyah disana.
"Maaf.. Tadi bukannya kalian yang menolong Acil? Kenalin saya Farhan, calon suami Nabila. Saya mau mengucapkan terimakasih banyak, karena tadi sudah menolong calon istri saya juga Ashila," ujar Farhan sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Arya menyambut uluran tangan itu, begitu juga Riki. "Tak apa.. Itu sudah kewajiban kami juga sebagai abdi Negara.."
Deg!
Nabila menatap sendu pada Riki yang mengatakan hal itu. Namun segera dia berpaling, karena tak ingin Farhan curiga.
"Baiklah.. Apapun alasannya, saya sangat mengucapkan terimakasih banyak." Farhan pamit kedepan sebentar, karena mendapatkan telepon dari rekan bisnisnya.
"Sayang.. Aa angkat telpon dulu sebentar ya!"
Usai kepergian Farhan, Riki mendekati brankar Nabila dan menyentuh kening gadis yang sangat amat dicintainya itu. "Apa yang sakit?" tanya Riki dengan wajah sedatar mungkin.
"Aku baik-baik aja kok, Bang.." jawab Nabila sambil menatap laki-laki itu dengan dalam. Lalu memalingkan pandangan, karena takut Farhan tiba-tiba datang.
"Abang hanya mencintai kamu, tanpa ada niat merebut kami dari dia. Abang memang mencintaimu, tapi ada satu hal yang membuat kita tak mungkin bisa bersama. Dan sedalam apapun Abang mencintai kamu, Abang sadar kamu sudah akan menjadi milik orang lain. Kadang rasanya Abang ingin memilih mundur dalam menyayangimu, tapi rasa sayang Abang yang gak mengizinkan Abang pergi dari rasa itu."
Nabila terdiam, "Abang.. Maaf.."
"Lebih baik Abang tak memilikimu, daripada kamu kehilangan kebahagiaanmu. Seikhlas itu Abang sekarang.. Jadi jangan biarkan semua pengorbanan Abang ini sia-sia, Ila.."
"Kita gak bisa terus berada dalam posisi siapa yang salah dan siapa yang benar. Kita berdua gak salah, kita hanya mangsa dari sebuah keadaan. Kamu boleh pergi dan Abang akan merelakan. Kamu boleh bahagia dengan pilihanmu dan Abang akan mengikhlaskan.."
Semuanya terdiam, bahkan Ashila pun meneteskan airmata melihat kedua insan yang saling mencintai dipuncak titik tertinggi, yaitu saling mengikhlaskan. Saat melihat Farhan datang, Riki pun refleks berbalik ke arah Ashila dan Defri berada.
"Sayang.. Maafin Aa.. Tapi sekarang Aa harus pergi. Ada rapat pemegang saham yang harus Aa hadiri. Nanti Aa minta Pak Komat buat stay disini aja ya?" ucap Farhan sambil mengelus kepala Nabila dengan lembut.
"Gak usah, A Farhan. Nanti Bu Halimah kesini sama Pak Rachmat. Aa pergi aja, jangan khawatirkan aku.." lirih Nabila.
"Maafin Aa sayang.. Aa usahakan semua ini buat masa depan kita. Setelah urusan Aa selesai, Aa janji bakalan luangin banyak waktu buat kamu. Aa pamit ya!" Farhan mengecup tangan Nabila dam berpamitan pada yang lain juga.
Setelah kepergian Farhan, Riki kembali berbalik kearah Nabila dan duduk di kursi kosong yang ada disamping brankar.
"Istirahatlah.. Abang disini.. Sebagai seorang teman," ucap Riki dengan datar.
"Terimakasih.. Abang.."
Karena merasakan tubuhnya sakit semua, Nabila pun terlelap. Riki menggenggam erat tangannya, lalu mengelus lembut pucuk kepalanya.
__ADS_1
'Yaa Allah.. Bantu aku untuk memelihata ikhlas dan sabarku. Sehingga aku bisa mengizinkan takdir memainkan perannya, tanpa aku merasa khawatir tentang keadaannya,' batin Riki menatap Nabila dengan penuh cinta.
"Dimana Aisyah? Dari tadi saya gak lihat dia," tanya Arya pada Ashila.
"Dia pergi.. Katanya buat menenangkan diri. Mas Arya, kalian tau bukan? Jika sampai kapanpun, kalian gak akan pernah bisa bersatu. Siapa yang akan mengalah? Ais atau Mas Arya?" tanya Ashila membuat Arya terdiam.
"Cila.. Sudah.. Kita kan gak bisa mengontrol perasaan orang lain.." lerai Defri.
"Aku tau, Mas.. Tapi setidaknya, setelah ini Mas Arya bisa berpikir kembali jika meminta Aisyah untuk bersamanya. Karena sampai kapanpun, Assalamu'alaikum tak akan bisa dijawab Shalom.. Ikhlaskanlah, Mas Arya.. Kalian harus mampu untuk bangkit dari semua kisah lalu. Mulailah kembali menata hidup kalian masing-masing..Walaupun aku tau, pada kenyataannya akan sulit melupakan cinta pertama dalam hidup.."
Arya menganggukkan kepalanya dan tersenyum, "Saya sedang belajar mengikhlaskan.. Jika memang ini jalan terbaik bagi kami. Saya hanya ingin seperti Bang Riki, yang tetap menjaga agar senyum dan tawanya bisa selalu saya lihat. Walaupun hati saya hancur.."
Setelah mengucapkan itu, Arya pamit untuk membelikan makanan. Sedangkan Bu Halimah pun baru tiba di Rumah Sakit. Dia langsung menuju Instalasi Gawat Darurat. Melihat dua anak kost nya terlelap, Bu Halimah bernafas lega.
"Mereka gak apa-apa kan? Apa harus rawat inap?" tanya Bu Halimah pada Defri.
"Insya Allah tidak usah, Bu. Hanya tinggal menunggu hasil cek darah saja, tadi mereka diberikan obat pereda nyeri saja. Mungkin mengandung efek mengantuk," jawab Defri menjelaskan.
"Syukurlah.. Anak-anak ini selalu aja bikin Ibu panik. Hampir aja Ibu telpon kedua orang tua mereka. Tapi kalo kondisi mereka baik, Ibu kayaknya gak usah hubungin deh.. Takutnya kedua orangtua mereka panik dan langsung kesini kan kasian.." ujar Bu Halimah membuat Defri dan Riki menganggukkan kepalanya.
Dokter Andra pun tiba di Rumah Sakit, tadi dia dikabari oleh Riki yang panik saat mendengar Nabila pun menjalani perawatan.
"Hosh.. Hosh.. Gimana keadaan anak ini?!" tanya dokter Andra dengan nafas yang memburu.
"Aman dok! Lebam doang," jawab suster yang menangani.
"Aishhh.. Lagian ada-ada aja sih ni anak, pake nabrak pohon segala!" omel dokter Andra, tanpa menyadari kehadiran Bu Halimah disana.
"Namanya juga celaka, yang ikhlas dong Kang.. Ngapain jauh-jauh kesini kalo gak ikhlas.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤