Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Permintaan seorang Ayah


__ADS_3

Bagi setiap orang, Ayah adalah cinta pertama bagi anak perempuannya. Tapi bagi Ayah sendiri, anak perempuan adalah cinta kedua setelah Ibunya. Ayah tidak akan pernah mengajari anak perempuannya bagaimana cara mencintai, karena yang Ayah inginkan hanyalah kebahagiaan melihat anaknya dicintai.


"Sudah jauh lebih baik?" tanya Pak Arifin pada putri kesayangannya itu.


Nabila menggelengkan kepalanya, hatinya memang masih terasa menyesakkan hingga air mata tak kunjung berhenti mengalir. "Maafin Ila ya, Pak.." lirih Nabila.


"Apa yang harus dimaafkan, Nak?" Pak Arifin mengusap pipi sang anak dengan lembut. "Bapak yang harus minta maaf, karena selama ini Bapak gak peka terhadap perasaan putri Bapak sendiri. Sampai kamu harus memendam semuanya sendiri. Tidak ada hal yang paling menyakitkan bagi seorang Ayah, selain melihat airmata kepedihan putri kesayangannya.."


"Menangislah.. Apa yang ada dalam hatimu, tumpahkanlah pada Bapak. Bagilah semua rasa sakitmu sama Bapak.." Pak Arifin membawa Nabila dalam pelukannya. Ayah dan anak itu saling memeluk dengan erat.


Pak Arifin sengaja membawa Nabila ke salah satu danau buatan di tepi Kota Bandung. Dia tau bahwa putrinya saat ini sedang membutuhkan ketenangan. Pak Arifin terus menenangkan Nabila, hingga tanpa sadar Nabila tertidur dipelukan sang Ayah.


Seseorang menepuk pundak Pak Arifin, "Kursi mobil udah saya benahi, Pak.. Takut Bapak pegal, lebih baik Ila di tidurkan disana."


Pak Arifin pun mengangguk, perlahan dia menggendong Nabila dengan tangannya sendiri. Walau usianya tak lagi muda, tapi Pak Arifin masih sanggup untuk menggendong putrinya sendiri. Usai Nabila tertidur dengan nyaman, Pak Arifin menghampiri orang itu.


"Nak Riki.. Terimakasih banyak.."


Yap! Laki-laki itu adalah Riki. Pak Arifin menghubungi Riki, saat Nabila memintanya untuk mendampingi saat bertemu dengan Farhan. Bukan tanpa alasan, Pak Arifin hanya ingin tau seberapa besar cinta yang diberikan dua laki-laki ini untuk putrinya.


"Terimakasih banyak atas cinta tulus yang sudah Nak Riki berikan untuk Ila.. Saya sudah merasa menjadi orang tua yang gagal. Saya salah menilai.. Dan saya.. Salah memilih.." lirih Pak Arifin.


Riki diam menunduk, "Pak.. Bagi saya, Nabila adalah seseorang yang berharga dalam hidup saya. Sekalipun saya tidak berjodoh dengannya, saya akan tetap melindungi dia dengan segenap hati saya."


"Bapak tidak salah memilih, Farhan adalah orang yang tepat untuk Ila. Hanya saja.. Caranya mencintai, berbeda dengan cara saya mencintai Nabila. Farhan mengupayakan untuk mencukupi segala kebutuhan materinya, sedangkan saya? Saya hanya ingin senyum Nabila tetap terjaga. Dan bagi saya itu adalah kebahagiaan yang abadi."


Pak Arifin pun menangis terisak, karena hatinya pun merasa nyeri saat melihat air mata putrinya yang tak kunjung berhenti, bahkan hingga ia tertidur lelap karena lelah.


"Andai usia Bapak tak panjang, tolong.. Tetap jagalah putri Bapak, seperti saat ini kamu menjaganya.. Tetaplah mencintainya, seperti Bapak mencintainya.. Andai kelak kamu memiliki wanita pilihan lain dan akan menjadikannya istri, biarkanlah ia menyayangi Nabila layaknya seorang Kakak mencintai adiknya.."


"Nabila.. Putri kami satu-satunya.. Hartaku paling berharga di dunia ini.. Bapak hanya berharap bisa melihatnya hidup bahagia.." lirih Pak Arifin.


Riki pun memberanikan diri untuk memeluk Pak Arifin, "Insya Allah Bapak akan panjang usia. Saya dan Bapak akan menyaksikan kebahagiaan Nabila dengan siapapun ia akan bersanding nantinya. Sejak saat saya melamar Nabila dulu, saya sudah bertekad untuk mencintai dan melindunginya apapun yang terjadi."


"Saat saya tau, jika Nabila sudah bertunangan dengan Farhan. Saya tak pernah berniat sedikitpun untuk merebutnya. Karena saya yakin, laki-laki pilihannya adalah yang terbaik baginya. Cukup saya melindungi dia dari jauh, itulah cara saya mencintainya, Pak.."

__ADS_1


Hening.. Pembicaraan Riki dan Pak Arifin terhenti. Mereka memutuskan untuk kembali pulang, karena cuaca sudah mulai mendung. Riki pun kembali ke Kodam dengan motor kesayangannya. Sedangkan Pak Arifin mengantarkan Nabila kembali ke Alunara kost.


"Bibil kenapa, Pak?" tanya Bu Halimah, saat melihat Pak Arifin menggendong Nabila dibantu oleh Pak Rachmat.


"Kelelahan.. Capek menangis.." jawab Pak Arifin sambil membaringkan putrinya di sofa.


Aisyah pun datang bersama Ashila membawakan segelas air putih untuk Pak Arifin. "Apa yang terjadi sama Bibil, Pak? Tadi perasaan dia baik-baik aja.." lirih Ashila.


"Gitulah.. Nanti kalian juga tau.. Bapak capek, tunggu Andra dulu ya!" ucap Pak Arifin sambil memegangi dadanya yang terasa nyeri.


Lima belas menit kemudian, dokter Andra datang dengan nafas terengah-engah. "Astagfirulloh, Bapak! Pasti kan.. Gak di minum lagi kan obatnya?! Haishhh.. Heran Bapak sama anak sama-sama kepala batu!" omel dokter Andra.


"Kang.. Salam dulu atuh.. Baru ngomel," protes Bu Halimah.


"Maaf Neng.. Soalnya Bapak yang satu ini bandel! Sama noh kayak anaknya. Akang periksa dulu ya! Tolong siapkan air hangat segelas.."


Dokter Andra pun memeriksa kondisi Pak Arifin yang sepertinya kelelahan, sakit jantung yang ia derita sama sekali tak diketahui oleh Nabila pun istrinya.


"Jangan banyak ngomel! Nanti Ila tau.." bisik Pak Arifin dengan nada tegasnya.


Pak Arifin menghela nafasnya dengan berat, "Andra.. Andaipun saya harus kembali ke pangkuan Allah.. Saya tidak apa-apa.. Karena saya tau, Ila dikelilingi orang-orang baik seperti kalian.. Yang pasti akan menjaga dan melindunginya!"


"Bapakkk...!" rengek Ashila dan Aisyah yang memang sudah akrab seperti pada orang tua mereka sendiri.


"Jangan pernah ngomong kaya gitu lah, Pak! Bapak gak apa-apa, tapi kami? Kami gak mau kehilangan lagi.. Bapak harus sehat.." lirih Aisyah.


"Sstttt.. Jangan nangis! Nanti anak Bapak bangun.. Biarkan dia beristirahat dari lelahnya menangis.." Pak Arifin mengusap lembut kepala dua anak gadis itu.


Usai diberikan obat, Pak Arifin diminta untuk beristirahat di ruang tengah bersama Nabila yang masih terlelap dalam tidurnya. Dokter Andra pun memeriksa kondisi Nabila yang memang kelelahan.


"Heran.. Perempuan kok seneng amat nangis!" omel dokter Andra.


"Ya makanya dong, Kang.. Laki-laki jangan suka bikin perempuan nangis!" celetuk Bu Halimah membuat dokter Andra menggaruk kepalanya yang tak gatal.


'Waduh.. Salah ngomong, alamat peringatan bahaya' batin dokter Andra.

__ADS_1


"Hehehe.. Iya Neng.. Dasar laki-laki ya! Huh.."


"Diminum dulu atuh, Kang.. Pasti capek abis ngomel.." Bu Halimah memberikan segelas air putih pada dokter Andra.


"Masya Allah.. Segernya.. Apalagi sambil liat yang manis begini.. Anak-anak belum pulang, Neng?" tanya dokter Andra.


"Belum, Kang.. Lagi dijemput Pak Rachmat.. Mungkin bentar lagi juga sampe!"


Dokter Andra memperhatikan Aisyah, Ashila dan juga Nabila yang memang kini tengah dilanda kesedihan. Dia pun berniat untuk mengajak Bu Halimah beserta anak-anaknya untuk berlibur bersama.


"Neng.. Kayaknya anak-anak kita dan anak-anak angkat kita butuh hiburan deh! Gimana kalo minggu depan kita ke Pangandaran?" tanya dokter Andra sambil menatap Ashila dna Aisyah yang tengah melamun.


"Beneran Kang?!" tanya Bu Halimah dengan antusias. "Eh tapi.. Di toko lagi banyak orderan.. Kayaknya susah waktunya.."


"Neng.. Neng.. Jangan khawatir! Akang nanti kasih lemburan deh buat Teh Iwin sama Mak Iting, terus perbantukan aja Pak Heri, Pak Adri sama Pak Adnan!" antusias dokter Andra.


"Akaaaaanggg..! Mereka kan specialis keamanan, bukan specialis dapur!" omel Bu Halimah.


"Aman atuh Neng sayang.. Mereka mah multitalenta!" ucap dokter Andra sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ishhh.." Bu Halimah tersipu malu.


"Sebagai seorang Ayah yang baik, Akang wajib untuk memberikan liburan terbaik buat anak-anak kita.. Akang harus membahagiakan mereka, terutama.. Kamu.."


Isss.. Issss... Isssss... Dokter Andra bisa aja modus!


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2