Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Saat Terkabulnya do'a


__ADS_3

Nabila saat ini masih terdiam, dia enggan berbicara dengan siapapun. Termasuk dengan dua sahabatnya begitupun Bu Halimah. Namun mereka tetap menemani Nabila disana, walaupun tak ada satupun kata yang keluar dari mulut Nabila.


"Bil.." panggil Aisyah. Namun Nabila tetap bergeming. "Gue balik dulu ya! Mas Bagas udah jemput gue. Maaf dia gak masuk dulu, soalnya kita buru-buru!"


"Hati-hati dijalan Ais," bukan Nabila yang menjawab. Tapi Bu Halimah yang menjawab.


Lama-lama Ashila merasa kesal, dia bangun dari duduknya dan membuat semua orang tersentak. Termasuk Aisyah yang menahan langkahnya.


"Lo mau terus gini sama kita? Lo pikir kita seneng nyembunyiin semuanya dari lo?!" bentak Ashila membuat Nabila terkejut.


"Gue sama Mas Defri dan yang lainnya gak maksud bohongin lo atau menutupi semuanya! Kita cuman nunggu waktu yang pas dan kabar baik dari tanah Afrika! Paham lo sampe sini?" kesal Ashila.


"Lo hargain gak perjuangan kita semua yang ngejaga perasaan lo! Lo pikir cuman lo yang sedih?! Gue sama Mak Haji juga sedih!" kini Ashila mulai menahan tangisnya. "Mas Defri sama dokter Andra sekarang nyusul Bang Riki ke Afrika!! Ke AFRIKA!! Lo pikir cuman lo yang khawatir dan bersedih hati?!"


"Gue juga Bil! Gue juga!" isak tangis Ashila mulai terdengar. "Pernikahan gue sama Mas Defri 3 bulan lagi, tapi dia pergi melaksanakan tugas nya termasuk ngeliat kondisi calon suami lo!"


Nabila pun ikut terisak, dia tak bisa mengontrol emosi yang ada dalam hatinya. Aisyah mengurungkan niatnya untuk pulang. Dia memeluk Ashila dan membawanya keluar. Sedangkan Bu Halimah menemani Nabila disana.


"Ibu pergi aja.. Ashila butuh Ibu.." lirih Nabila dalam tangisannya.


"Nak! Jangan egois. Ibu tetep disini nemenin kamu! Kita semua sedang dalam kondisi tak baik-baik saja. Tolong.. Kita saling menguatkan! Bukan hanya kamu yang terluka, tapi kami juga. Insya Allah Nak Riki akan baik-baik saja. Mohonlah pada Sang Pencipta, bukan saling menyalahkan.."


Tangis Nabila pun perlahan semakin mereda, hatinya berkecamuk. Entah apa yang Nabila rasakan saat ini. Yang pasti, hatinya tengah rapuh.


* * *


Di Afrika, konflik masih terjadi dan suasana pun mencekam. Dokter Andra bersyukur karena Defri baik-baik saja. Kondisi Riki pun sudah mulai semakin membaik. Tak terasa sudah hampir tiga bulan lamanya mereka berada di tanah Afrika. Ya! Dokter Andra melanggar janjinya pada sang istri. Karena dia masih harus memantau kondisi Riki dan juga beberapa prajurit yang terluka parah.


"Huft! Istriku masih ngambek.." keluh dokter Andra.


"Sabar dok! Dua hari lagi kita kembali.." ucap Defri sambil menahan tawa. Karena setiap Bu Halimah menghubungi, maka calon istrinya pun ada disana.


"Lalu kenapa aku gak boleh menghubungi calon istriku?" lirih Riki yang masih dalam kondisi lemah.


"Pulihkan saja dulu dirimu! Lagi pula.. Bibil sudah rela kalaupun kamu tak kembali.." canda dokter Andra namun membuat Riki kesal.


PLUK!


"ADUH!" ringis dokter Andra saat sebuah kunci mendarat di punggungnya.


"Gila! Udah sembuh deh kayaknya! Nih buktinya dia bisa nimpuk!" omel dokter Andra membuat keduanya terkekeh.

__ADS_1


"Alhamdulillah.. Akhirnya kita bisa lega! Dua bulan bukan waktu yang sebentar kamu koma Bang, sekarang waktunya memulihkan diri. Komandan bilang, kamu bisa kembali ke Tanah Air! Do'amu terkabul.." ucap Defri sambil menepuk pundak Riki.


"Do'a calon istri dan do'a Ibuku yang terkabul, karena mereka pasti khawatir.."


"Ibu aman, beliau gak tau kamu dalam kondisi seperti ini. Tapi Bibil.. Dia sempat down! Tapi.. Alhamdulillah sepertinya sudah kembali normal.."


"Alhamdulillah.. Saat kembali nanti, aku mau langsung pengajuan saja. Supaya ada yang mengurus dan menemaniku nanti.."


"Buset! Gercep amat!" ledek dokter Andra. "Sembuh dulu! Enak aja anak gue mau lu suruh jadi baby sitter!"


"Hahahaha.. Iya Ayahanda.. Maksudnya setelah pulih, mana bisa pengajuan pake kursi roda begini.."


* * *


Indonesia..


Hari ini kepulangan Riki, Defri dan dokter Andra ke Tanah Air. Bu Halimah serta tiga putri asuhnya sudah menanti di Bandara. Mereka tak sabar jika harus menunggu di Bandung. Untung saja Bagaskara dengan senang hati mau mengantar mereka.


"Alhamdulillah.. Mas!" Ashila berhambur memeluk Defri.


"Akangggg.." Bu Halimah pun memeluk suaminya dengan mata berkaca-kaca.


Sedangkan Nabila masih celingak-celinguk mencari keberadaan calon suaminya. Dia harus menelan kekecewaan saat tak melihat Riki disana.


"Gue gak apa, Ais! Gue tunggu di mobil ya!" Nabila pun berjalan dengan setengah berlari.


"Kenapa kamu gak kembali, Bang?" lirih Nabila yang tak mampu menahan airmatanya.


Sedangkan dari jauh Riki menatap punggung calon istrinya itu. Dia terpaksa menyembunyikan diri, karena dia tak ingin melihat Nabila bersedih dengan kondisinya saat ini.


"Bang Riki dimana Mas?" tanya Ashila yang baru menyadari.


"Dia belum bisa kembali karena kondisi kesehatannya. Kita do'akan supaya dia bisa cepat kembali.." jawab Defri yang terpaksa harus berbohong.


Aisyah dan Ashila percaya, berbeda dengan Bagaskara dan Bu Halimah yang memandang keduanya penuh tanya. Defri pun memberikan kode pada Bagaskara hingga laki-laki itu menganggukkan kepalanya.


"Sayang.. Mas ke toilet dulu ya! Kamu duluan ke mobil sama yang lain.." pinta Bagaskara dan Aisyah mengangguk.


"Mas juga mau ke toilet dulu ya, sayang! Kebelet dari tadi di Pesawat!" ucap Defri sambil terkekeh.


"Issshhh.. Kebiasaan! Emang di pesawat kaga ada toilet apa!" omel Ashila lalu berjalan menyusul Aisyah.

__ADS_1


Bagaskara dan Defri bertemu di depan toilet, Riki pun ada disana sambil didorong oleh sang junior.


"Alhamdulillah.. Kamu baik-baik aja, bro!" Bagaskara memeluk Riki.


"Alhamdulillah.. Tapi tolong.. Sembunyikan dari calon istriku dan semuanya. Aku akan menunjukan diri saat sudah siap! Tak mungkin aku menghampiri mereka dengan kondisi seperti ini.." ucap Riki dan diangguki oleh Bagaskara.


"Insya Allah.. Segera pulihkan dirimu! Dua minggu lagi pernikahan Defri dan Ashila, kamu harus hadir!"


"Heiii.. Harusnya aku yang ngomong begitu!" omel Defri membuat mereka terkekeh.


Kehadiran Bu Halimah dan dokter Andra membuat ketiganya terkejut, Bu Halimah langsung menjewer telinga Defri dan juga Bagaskara.


"Anak-anak nakal! Bisa-bisanya bohongin orang tua! Mau kualat kelen?!" kesal Bu Halimah.


"Aww.. Awwww.. Sakit Bu!" lirih keduanya sedangkan dokter Andra dan Riki menahan tawanya.


"Balik ke mobil sana! Seneng amat liat cewek-cewek ngomel!"


Bagaskara dan Defri pun mengangguk lalu berlari, sedangkan Riki terlihat serba salah saat ditatap Bu Halimah.


"Alhamdulillah.. Terimakasih Nak sudah kembali dengan selamat! Cepet pulih ya!" Bu Halimah mengelus kepala Riki dengan lembut.


"Insya Allah.. Semoga do'a Ibu dikabulkan sama Allah. Titip Ila ya, Bu! Maaf.. Saya buat dia bersedih lagi.."


"Tak apa.. Kamu kembali kesini dengan selamat pun berkat do'anya. Insya Allah ibu akan selalu menguatkan dam menemani dia.."


Kekuatan sebuah do'a hanyalah itu yang Riki butuhkan saat ini. Dan.. Dia harus pulih sebelum pernikahan sahabat sekaligus juniornya berlangsung. Karena dia akan memberikan kejutan terbaik untuk calon istrinya.


'Tunggu Abang sebentaaarrr lagi ya sayang! Abang akan menjemputmu dengan kebahagiaan yang tak akan kamu lupakan seumur hidup..'


* * * * *


Lagi Hectic didunia nyata..


Tolong mengerti ya.. Hehehehe..


Terimakasih sudah menunggu dan mendukung author ♥︎


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2