Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Wanita yang kau pilih


__ADS_3

Wanita bijak seperti angsa di atas air. Anggun meski tetap bekerja dan tetap tegar meskipun terluka. Wanita itu seperti kantong teh. Kita tidak tahu kekuatan sejatinya sampai kita berada di air panas. Wanita yang kuat akan selalu bangkit, walau sekeras apa pun badai pernah menerjang mereka. Wanita yang cantik dalam kesederhanaannya yaitu wanita cantik yang sebenarnya. Dan dimata Defri, wanita itu adalah Ashila.


"Mm.. Jujur, aku gak nyaman kita pergi saat sahabat kita lagi gak baik-baik aja," ucap Defri memecah keheningan selama di perjalanan.


"Aku juga, Mas. Apa kita batalin aja ya? Kita kan bisa nonton lain kali," Ashila memberikan saran, namun hatinya juga menjadi tak nyaman.


Keduanya terdiam, berperang dengan isi kepala masing-masing. Mereka sudah mulai dekat, selama sebulan ini keduanya memang menjadi perantara antara Arya dan Aisyah dalam menyampaikan segala hal. Dan semenjak itu, mereka semakin dekat.


"Mas.. Kita nonton aja, deh! Lagian kan kamu bakalan sibuk minggu depan, insya Allah Ais sama Mas Arya baik-baik aja. Ada Bang Riki sama Bibil juga kan," keputusan final dari Ashila membuat hati Defri sangat berbunga-bunga.


"Terimakasih, Cila.."


Kings Shopping Center Bandung, pukul 8.30 malam mereka tiba disana. Miracle in Cell No. 7, menjadi film pilihan keduanya. Film yang memperlihatkan bagaimana kasih sayang seorang Ayah kepada putrinya yang tidak terbatas. Meskipun memiliki keterbatasan mental, seorang Ayah akan tetap memberikan semua yang terbaik untuk putrinya.


"Kok sedih gini sih filmnya," lirih Ashila menghapus airmatanya.


"Cila, kamu nangis?" tanya Defri yang langsung menoleh kearah Ashila.


Ashila menganggukkan kepalanya, "Sedih banget, jadi kangen Papah. Udah tiga bulan ini aku gak pulang kerumah."


"Ssstttt.. Udah jangan nangis, ya! Nanti minggu depan Mas ada waktu luang, Mas antar kamu pulang. Sekalian kenalan sama keluarga kamu," ucap Defri sambil menggenggam erat tangan Ashila.


DEG!


Jantung Ashila berdegup kencang, dia belum siap dengan sebuah hubungan baru. Terlalu banyak ketakutan dalam dirinya, hal itu membuat Ashila sulit membuka hati untuk orang baru. Terlebih, luka karena kehilangan dan luka karena pengkhianatan masih tercetak jelas dalam hatinya. Walaupun luka itu mulai mengering, Ashila takut jika Defri akan membuat luka baru dalam hidupnya yang mulai baik-baik saja.


Pukul 11.30 malam, film pun usai. Ashila masih terdiam dengan beribu pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya.


"Cilaa.. Kok ngelamun?" tanya Defri membuyarkan lamunan Ashila.


"Eh, gak ngelamun kok Mas! Ada apa?" Ashila memaksakan senyumannya.


"Kita makan dulu, ya? Mas lapar, hehehe.."

__ADS_1


Ashila tersenyum dan menganggukkan kepalanya, warung pecel lele pinggir jalan menjadi pilihan mereka. Ashila sama sekali tidak keberatan, karena memang dia bukan tipe orang yang pilih-pilih tempat makan.


"Mas perhatikan sejak tadi kamu seperti memikirkan sesuatu. Apa ucapan Mas ada yang salah? Coba bilang..."


Gadis itu terhenyak, namun Ashila memang bukan tipe gadis yang akan menyembunyikan beragam hal dalam pikirannya. Selama masih bisa ia utarakan, maka ia akan memaksakan dirinya untuk bertanya.


"Mas, aku bukan wanita yang pandai menjaga ucapanku, saat perasaanku gak baik-baik aja. Kadang nada bicara aku aja masih sering nyakitin hati orang lain. Aku kepikiran dengan ucapan Mas yang mau ketemu sama keluargaku," ucap Ashila membuat Defri menatap wanita itu dengan dalam.


"Cila.. Apa kamu masih gak paham sama maksud Mas?" tanya Defri dan Ashila hanya terdiam. "Mas sayang kamu, Ashila. Kamu adalah wanita yang Mas pilih, untuk mendampingi hidup Mas. Menemani Mas hingga masa tua kita bersama."


Defri menggenggam erat tangan Ashila, "Maaf, Mas.. Jujur, waktu kamu dateng.. Aku gak bisa bohong kalo aku seneng. Aku gak bisa bohong, kalo aku kaya punya harapan untuk pindah ke buku baru, untuk mulai cerita baru sama kamu. Tapi, aku gak bisa Mas.. Terlalu banyak ketakutan dalam diri aku. Aku takut kamu tiba-tiba pergi, dan..."


"Ashila! Mas gak akan memaksa kamu untuk menerima secepat itu. Mas akan buktikan sama kamu, kalo Mas gak sama seperti orang dimasalalu kamu. Tolong, biarkan Mas membuktikan dan memperjuangkan kamu. Izinkan Mas mengetuk sedikit pintu hatimu, tolong jangan kunci. Agar Mas mudah untuk memasuki hatimu secara perlahan. Mas akan berusaha untuk membahagiakan kamu," Defri terus berusaha membujuk Ashila.


Pada akhirnya Ashila menyerah, "Baiklah Mas.. Jika memang aku wanita yang kamu pilih. Tapi, wanitamu ini pernah mengalami trauma. Jadi tolong mengerti kenapa aku kadang bersikap acuh seolah gak peduli. Wanitamu ini pernah terluka parah. Luka yang berhasil aku sembuhkan sendiri, tapi tetap saja masih berbekas. Jadi mohon pahami aku, jika aku bersikap seolah gak percaya sama kamu, Mas. Karena.. "


"Sstt.. Mas paham, Ashila sayang. Mas akan berusaha untuk meyakinkan kamu, bahwa Mas akan menjaga hatimu yang sangat berharga. Mas akan berusaha untuk gak melukai hati itu, bahkan hanya sekedar goresan," Defri mengecup punggung tangan Ashila.


"Sekarang makan! Udah tengah malam ini, nanti Bu Halimah bisa ceramahi Mas," ucap Defri terkekeh.


"Kemana sih anak-anak ini, udah tengah malem juga!" omel Bu Halimah.


"Sudah jangan ngomel, bukannya tadi kamu yang minta dia untuk pergi juga," ucap dokter Andra.


"Ckck! Dokter juga ngapain masih disini, bukannya pulang! Ini kan udah tengah malam," sinis Bu Halimah membuat dokter Andra terkekeh.


"Saya masih harus jaga pasien disini," jawab dokter Andra sambil melirik kearah Arya dengan tangan yang di infus.


Memang dokter Andra tiba disana saat diminta Nabila untuk memeriksa kondisi Arya, itu pun atas permintaan Aisyah. Walau bagaimanapun tak mudah menghilangkan rasa yang sudah terlanjur dalam.


"Ila.. Kamu tidur aja, biar Abang yang tunggu mereka pulang!" titah Riki, namun Nabila menggelengkan kepalanya.


"Abang aja yang istirahat, pasti cape kan? Biar mereka aku yang tunggu."

__ADS_1


Hening.. Mereka terdiam, begitu pun Bu Halimah dan dokter Andra yang mulai menguap.


"Ila.. Nanti kalo kamu udah bener-bener bahagia, tolong ingat selalu Abang, ya!" ucap Riki membuat Nabila menoleh, mata keduanya saling bertatap. Namun Riki segera berpaling.


"Ingat Abang sebagai seseorang yang pernah dengan rela melepas tanganmu, untuk membiarkanmu menggenggam tangan orang lain. Seseorang yang pernah berkata baik-baik saja, padahal nyatanya hatinya erluka. Seseorang yang pernah begitu sanggup mematahkan hatinua sendiri, hanya agar kamu bahagia."


"Abang mencintai kamu, seikhlas awan mencintai hujan, yang tak pernah berhenti memahami, sekuat apapun menahan pergi, hujan pasti akan tetap jatuh ke peluk Bumi."


Nabila diam seribu bahasa, namun dia kemudian menoleh pada Riki yang terlihat menatap langit malam. Karena memang keduanya kini duduk di halaman. "Mas.. Kalo nanti aku denger kamu jatuh cinta sama orang baru. Kamu udah menemukan apa itu kebahagiaanmu, aku akan selalu berdo'a itu akan jadi cinta yang baik buat kamu, Mas. Aku bakalan berdo'a, semoga itu jadi kebahagiaan yang kekal dalam hidup kamu, Mas."


"Tapi percayalah, gak ada kata 'aamiin' yang gak bikin aku menitikan airmata," ucap Nabila dengan mata berkaca-kaca. Keduanya saling menatap, menahan cinta dan luka dalam dada.


Dokter Andra dan Bu Halimah hanya bisa saling menatap dan menjadi saksi, dimana keikhlasam hati dua anak manusia yang tidak diizinkan semesta untuk bersama. Cukup lama mereka menunggu, Ashila dan Defri sampai. Keduanya tersentak kaget, saat melihat Nabila dan Riki yang ketiduran dan saling menyandar di teras rumah. Juga dokter Andra yang tertidur sambil duduk di ruang tamu.


"Mereka nungguin kita?" bisik Defri pada Ashila.


"Gak usah bisik-bisik, Mas. Udah pada melek itu," ucap Ashila sambil memaksakan senyumnya.


Bu Halimah datang membawa tiga gelas kopi, "Ni anak emang bener-bener ya! Disuruh jangan ampe tengah malem juga!" omel Bu Halimah.


"Makkk.. Sabar dong Mak Haji! Udah tengah malem ini, ngomelnya besok-besok aja deh! Cila ke kamar dulu, capek dan ngantuk! Babaaaayyyy..."


Ashila langsung ngacir ke kamarnya, karena tak ingin di omeli oleh Bu Halimah. Sedangkan Defri hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Bisa liat kan? Itu wanita yang kau pilih! Gak selalu anggun, tapi ya begitu!"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2