Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Itulah Perempuan


__ADS_3

Setiap matahari terbit, memberikan kita awal yang baru dan juga akhir yang baru. Biarkanlah pagi ini menjadi awal yang baru untuk dirimu yang lebih baik dan akhir dari semua kenangan buruk yang menghampirimu.


Tak seperti hari kemarin, pagi ini Ashila sudah terbangun dan menyiapkan sarapan untuk seluruh penghuni Alunara Kost. Bahkan, Bu Halimah pun belum keluar dari kamarnya. Di pagi yang cerah ini, Ashila membuatkan kotak bekal untuk semua orang.


"Masya Allah tabarakallah! Acil lagi ngapain?" tanya Bu Halimah dan membuat Ashila tersentak kaget.


"Astagfirullah! Mak haji pagi-pagi bikin jantung orang snewen aja deh!" omel Ashila.


"Yeee! Lagian Ibu seneng deh Cil liat kamu pagi-pagi dah menclok di dapur. Bikin apaan sih?" Bu Halimah menghampiri Ashila yang masih berkutat dengan kotak bekal yang dibuatnya.


"Menclok katanya! Dikata Acil burung kaka tua kali ah! Lagian nih ya, Acil kesiangan salah. Acil jam segini di dapur salah. Dahlah, Acil mah emang selalu salah. Padahal kan Acil bikinin bekel buat bocil-bocil plus kacil-kacil! Tapi malah... Mmmmmmm"


Bu Halimah yang gemas mencomot mulut Ashila dan hal itu membuat Ashila memberengut kesal.


"Mak haji! Malah dicomot ini mulut! Dikata gorengan kali ah maen di comot aja!" kesal Ashila.


"Lagian kamu sih! Ibu nanya satu kalimat, kamu jawab lima paragraf! mending kalo pake titik koma, ini mah los dol aja gitu. Dah ah minggir, Ibu mau bikin healthy jus! Biar kalian semua sehat selalu!"


Ashila dan Bu Halimah berkutat di dapur cukup lama, mereka merasa heran sebab Ashila dan Nabila belum juga keluar dari kamarnya. Namun saat Ashila akan menyusul, Nabila dan Aisyah turun dengan terburu-buru.


"Kalian kesiangan?" tanya Ashila.


Nabila dan Aisyah menganggukkan kepalanya serempak, hal itu membuat Ashila terbahak-bahak.


"Rasain lu bedua! Makanya jangan ngeledekin gue mulu!" ejek Ashila.


"Udah awas minggir! Gue harus ke Rumah Sakit lebih pagi, soalnya hari ini mau ada penilaian Akreditasi!" Nabila menggeserkan tubuh Ashila dan menuju dapur untuk berpamitan pada Bu Halimah. Bagaimanapun, mereka tak pernah lupa berpamitan pada sosok pengganti kedua orangtua mereka.


"Bu, Bibil berangkat ya! Kesiangan ini, Bibil minta jus nya sedikit ya!" belum mendapat persetujuan, segelas jus sudah tandas diminum olehnya. Bu Halimah hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum!" Nabila berteriak dan berlari menuju garasi motor.


"Bibiiiiiilll....! Gue bikinin kotak bekal buat lu!" teriak Ashila, namun percuma saja karena Nabila sudah melaju kencang dengan motornya.


Sepanjang perjalanan, Nabila berharap tidak akan ada kemacetan. Walaupun jaraknya tak begitu jauh, terkadang di persimpangan jalan selalu saja macet. Sesampainya di Rumah Sakit tempatnya bekerja, dia langsung menuju ke ruang administrasi, tempatnya bekerja selama 5 tahun terakhir.


"Alhamdulillah, aman!" gumam Nabila. Dia menarik nafas sedalam-dalamnya, karena lelah berlari.


"Kenapa kamu, Bila?" tanya Dokter Andra dan mengagetkan Nabila.


"Astagfirullah dok! Dokter Andra mah kebiasaan bikin orang jantungan! Mentang-mentang spesialis jantung dah!" omel Nabila, karena dia memang sudah sangat dekat dengan sang Dokter. Jika tidak, mana berani Nabila untuk berucap seperti itu.


"Haha! Lagian kamu ini, anak gadis malah ngos-ngosan pagi-pagi, kaya dikejar setan aja!" Dokter spesialis jantung itu tertawa.


"Takut kena omel lagi sama Bu Farida, dok!" bisik Nabila membuat sang dokter terkekeh.

__ADS_1


"Maka dari itu, jangan kesiangan melulu dong! Udah tau punya atasan galaknya kaya singa bukan kaya harimau!" bisik dokter Andra.


"Emang apa bedanya singa sama harimau dok?" tanya Nabila masih sambil berbisik.


"Karena singa itu lion daripada yang lion!" keduanya terkekeh sambil saling berbisik. Hingga....


"Ekhmz!" Bu Farida berdehem membuat keduanya segera bersiap untuk bekerja keras.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi, cacing-cacing diperut Nabila mulai berbunyi. Bahkan dia mulai merasa jika lambungnya terasa perih. Sebagai seorang yang memiliki penyakit GERD, Nabila cukup ceroboh pagi ini dengan tidak sarapan pagi. Hingga matanya mulai berkunang-kunang dan Nabila jatuh pingsan. Dia dilarikan ke Unit Gawat Darurat oleh security yang berjaga.


Bu Halimah yang tau jika Nabila belum sarapan, memutuskan untuk mengantarkan bekal makanan yang di siapkan Ashila tadi pagi. Selesai beberes rumah, Bu Halimah melajukan motor maticnya menuju Rumah Sakit. Belum dia sampai di ruangan Nabila, dia melihat jika Nabila tengah dibopong oleh security.


"Astagfirullahaladzim! Anak saya kenapa ini, Pak?" panik Bu Halimah.


"Itu anu, Bu. Tadi anu.. Neng Bila anu.." sang security bernama Ujang itu sepertinya panik hingga sulit berkata-kata.


"Lho, Bila?! Dia kenapa?" tanya dokter Andra yang kebetulan akan visite ke UGD.


"Malah pada diem disini! Tolong dong anak saya dibawa ke UGD secepatnya!" omel Bu Halimah.


Dokter Andra menatap Bu Halimah tak berkedip. Penampilan Bu Halimah yang sederhana membuatnya terpesona, namun dia masih sangat penasaran kenapa perempuan ini menyebut Nabila sebagai anaknya. Sedangkan dia mengenal kedua orang tua Nabila.


"Mohon maaf, Ibu siapanya Bila ya?" tanya dokter Andra.


"Ya ampun dok! Itu gak penting sekarang, yang penting sekarang periksa Bibil dulu!" jawab Bu Halimah dengan kesal.


"Emmhh.." Nabila mulai sadar, dia mengerang saat merasakan perutnya cukup perih.


"Ibuuu.." rintih Nabila.


"Kan kan kan! Ibu bilang apa, Bibil? Jangan ngeyel! Kamu tuh ya, lupa sarapan akhirnya kaya gini! Untung Ibu kesini, kalo enggak gimana coba? Kamu gak akan bilang ke siapapun kan?" omel Bu Halimah.


"Sudah.. Sudah.. Bu! Bila baru sadar, jangan dulu di omeli! Bukannya kenyang, malah pening!" ucap dokter Andra membuat Bu Halimah memutar bola matanya malas.


"Maafin Bibil ya, Bu. Bibil janji enggak lupa sarapan lagi," lirih Nabila.


"Dia siapa kamu sih, Bila? Galak bener!" bisik dokter Andra pada Nabila.


"Dia Ibu aku, dok! Bu ini namanya dokter Andra, beliau dokter spesialis jantung disini," ucap Nabila memperkenalkan dokter Andra.


"Halimah!" jawab Bu Halimah ketus, tanpa membalas jabatan tangan dokter Andra dan menggantinya dengan menangkupkan kedua tangannya didepan dada.


'Masya Allah ukhti!' batin dokter Andra terpesona.


"Cepet makan dulu! Ibu bawain bekal makan yang tadi pagi dibikin Acil, kalo sampe Mama sama Papa kamu tau. Abis lah Ibu! Tar disangkanya Ibu gak kasih kamu makan lagi!" omel Bu Halimah sambil menyuapi anak kost yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.

__ADS_1


Nabila hanya diam dan membuka mulutnya saat Bu Halimah menyuapinya dengan telaten. Berbeda dengan dokter Andra yang sejak tadi terpesona pada sosok Bu Halimah. Dia bahkan lupa jika saat ini harus memeriksa pasien di UGD.


"Permisi dok! Bisa periksa Ibu saya dulu?" tanya seorang laki-laki berseragam loreng.


Suara itu... Nabila masih ingat dengan suara yang amat sangat dirindukannya. Bu Halimah menyinngkir saat dokter Andra akan lewat hingga Nabila bisa melihat dengan jelas sosok itu. Dia adalah Riki Andriansyah, laki-laki yang pergi begitu saja dari hidupnya.


"Ila?!" Riki tersentak saat melihat Nabila terbaring disana.


"Kamu kenapa, Ila?! Bentar.. Abang harus pastikan Ibu baik-baik aja, nanti Abang balik lagi!" ucap Riki dengan panik.


"Ibu kenapa, Bang?" tanya Nabila, dia tak kalah kagetnya. Karena sejak dulu, dia sangatlah dekat dengan Ibunya Riki.


"Ibu tadi keserempet motor, mungkin kaget. Abang takut penyakit jantungnya Ibu kambuh. Makanya Abang bawa kesini! Tunggu Abang, nanti Abang balik lagi kesini!" Riki segera menghampiri dokter Andra yang tengah memeriksa Ibunya.


Bu Halimah menoleh pada Nabila yang terlihat bersedih. "Siapa dia, Bil?" tanya Bu Halimah.


"Dia... Laki-laki yang pergi begitu aja dari hidup aku, Bu. Tanpa kepastian, tanpa memulai.. Tapi meninggalkan luka yang begitu dalam," lirih Nabila. Bu Halimah hanya memeluk Nabila dengan erat, karena Nabila tidak kuasa lagi untuk menahan airmatanya.


Karena kondisinya mulai membaik, Nabila diizinkan untuk pulang dan diberi cuti sakit selama 2 hari kedepan. Ingin rasanya dia menunggu Riki dan mempertanyakan kepergiannya dulu. Hanya saja, bagi Nabila semuanya percuma. Kini sudah ada Farhan disisinya. Ada atau tidak sebuah penjelasan, tidak akan pernah merubah apapun. Nabila izin mengambil tas nya, sedangkan Bu Halimah menunggu Nabila di depan UGD.


"Maaf Bu, saya mau bertanya. Dimana Nabila?" tanya Riki mengagetkan Bu Halimah.


"Astagfirullah!" kaget Bu Halimah. "Bibil lagi ngambil tas kedalam, ada apa ya?" tanya Bu Halimah.


"Maaf Ibu ini....." pertanyaan Riki menggantung dan Bu Halimah memahami itu.


"Saya Ibu kost tempat Bibil tinggal sekarang, saya penanggung jawabnya selama Bibil tinggal di rumah saya," ucap Bu Halimah membuat Riki menganggukkan kepalanya.


"Saya mohon izin, Bu. Saya Riki, saya harus bicara dengan Nabila, saya harus meluruskan sesuatu," izin Riki pada Bu Halimah.


"Nak.. Maaf, bukannya Ibu melarang. Tapi saat ini Nabila sedang dalam posisi sakit dan Ibu rasa kurang tepat kalo kamu ngajak dia bicara sekarang. Perempuan itu seperti cermin, Nak Riki. Ketika kamu pecahkan, kamu bisa menyatukannya kembali. Tapi pantulannya gak akan pernah sama seperti sedia kala. Kalau memang Nak Riki mau berbicara, besok siang datanglah ke Alunara Kost. Ibu akan nasehati Bibil dulu, karena sepertinya dia pun enggan untuk bertemu Nak Riki sekarang. Itulah perempuan, saat hatinya tersakiti dia akan mudah memaafkan tapi tidak melupakan," ucap Bu Halimah menasehati.


Riki terdiam, dia mencerna dengan baik semua ucapan Bu Halimah. "Baik, Bu. Besok siang, saya akan datang ke tempat Ibu. Kalau boleh, saya minta nomor ponsel Ibu untuk menanyakan alamat," pinta Riki.


Usai memberikan nomor ponselnya, Bu Halimah pun berpamitan pergi karena melihat Nabila berjalan sambil menahan rasa sakit. Sedangkan Riki hanya berdiri mematung dan menatapnya dari jauh.


'Aku menitipkanmu dalam penjagaan Allah.. Tidak akan ada yang hilang dalam perawatan-Nya.. Allah Maha Kuasa atas segalanya, dan akan mengatur waktu terbaik untuk kita bertemu.. Untuk meluruskan segala yang terjadi selama ini.. Bagiku itu sudah cukup..' batin Riki.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2