
Jarak tak berarti apa-apa, saat seseorang berarti segalanya. Laut hanya memisahkan daratan, bukan jiwa. Rindu bilang, ia adalah kesabaran. Untuk memenangkannya, kita hanya butuh berteman dengan waktu, tunggu dan mampu. Karena kata hanya perantara, tak bisa seutuhnya. Biarlah rasa yang bicara dari dalam lubuk hati kita. Tak peduli seberapa menyakitkan jarak itu, tidak memilikimu dalam hidupku akan jauh lebih buruk.
Ashila menikmati kegiatannya sebagai pengangguran kali ini, dia sibuk menanti kabar dari sang kekasih yang sedang bertugas di Aceh sana. Sudah hampir dua minggu jarak memisahkan keduanya, namun Defri selalu menyempatkan diri untuk menghubungi Ashila.
Ting!
Ssebuah pesan masuk, Ashila pun membaca pesan itu dengan hati yang berbunga-bunga.
'Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, 1340 suku budaya, 718 keragaman bahasa yang terdiri dari 34 provinsi dan 1 makhluk sepertimu..'
'Kalau Belanda butuh waktu 350 tahun buat menjelajah Negri ini, kamu cuma butuh waktu 5 menit buat naklukin aku..'
'Kalau garis khatulistiwa sanggup membelah dunia, garis senyum kamu bagiku adalah karunia..'
'Kalau Bondowoso bisa bikin candi, senyuman kamu malah bikin candu..'
'Jujur.. Ketemu kamu adalah laba terbesar yang bisa aku raih.. Aku tau mungkin aku terlihat imitasi, buat kamu yang benci basa basi..'
'Aku tau, aku cuman tinggal di dataran rendah buat kamu yang terlalu indah.. Kalo perlu aku balik lagi deh ke tanggal 28 Oktober, cuman buat ngerubah Naskah Sumpah Pemuda jadi.. Sumpah Aku Sayang Kamu, Ashila..'
Aw.. Aw.. Aw.. Othor jadi baperrrr... 😍
Tak tahan lagi, Ashila pun mengetik pesan balasan untuk Defri, laki-laki yang kini tengah menghuni hatinya yang telah lama terkunci.
'Mas.. Kali ini aku dibiarkan jatuh cinta kepada laki-laki yang memiliki cinta begitu sederhana. Kamu membiarkan aku menjadi diriku sendiri, membiarkan aku marah-marah seakan itu hal yang lumrah. Bahkan kamu menyikapinya dengan begitu tenang dan memberikan aku kasih sayang yang cukup, tak berlebihan..'
'Terkadang aku berpikir, mengapa cinta ini terlalu mudah? Dulu, jatuh cinta yang aku alami teramat sulit. Tapi kali ini begitu tenang. Ternyata laki-laki yang membersamaiku saat ini, tak ingin membuatku bingung, tak ingin membuatku takut dan khawatir..'
'Aku bersyukur memiliki dan mengenalmu dalam hidupku, Mas Defri. Allah sangat baik, mengirimkan sosok bidadara sepertimu.. Love you..'
__ADS_1
Di Aceh sana, Defri pun merasakan hal yang sama. Sungguh ia bersyukur, dia memiliki Ashila yang tidak pernah menuntut. Defri merasakan jika cinta yang Ashila berikan begitu tulus.
'Tunggu Mas pulang ya, sayang.. Tolong bersabarlah, karena menjalani hubungan dengan abdi Negara seperti Mas tak akan mudah.. Setelah ini, Mas janji akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu.. Love you more..'
Ashila memeluk erat fotonya bersama Defri tempo hari, sungguh rasa rindu memang menggebu. Jujur saja, jika Ashila bisa memilih ia akan meminta Defri untuk selalu berada disisinya. Kehilangan seseorang dimasa lalu dan sebuah pengkhianatan masih membekas erat dalam ingatannya.
'Mas.. Perkara menemani dan menunggu, aku bisa menemani dan menunggumu sampai kapanpun dan dalam keadaan bagaimanapun. Sebab ketika memilihmu, aku juga sudah siap menanggung segala resikonya..'
'Tapi ingatlah, Mas.. Aku perempuan yang mudah ragu dan dikelilingi oleh trauma di masalalu.. Itu sebabnya aku berharap, kamu menjadi orang yang paling bisa meyakinkanku. Bahwa aku akan selalu menjadi tempat tujuanmu..'
Terkirim. Hanya saja Defri sudah tak aktif, karena memang dirinya sedang dalam tugas. Ashila pun bisa memaklumi semua itu. Berbeda dengan Ashila, kini Nabila pun berjarak dengan Farhan. Selain Farhan memang sedang ada pekerjaan di Jakarta, juga karena pembicaraan tempo hari yang membuat hubungan mereka semakin menjauh.
"Bil.. Lu oke kan?" tanya Ashila yang kini duduk disebelah sahabat baiknya itu.
"Entahlah, Cil.. Kayaknya gue udah mati rasa deh.. Kayak apa ya, gue gak tau lagi harus apa dan bagaimana. Gue lelah sama hubungan gue. A Farhan terlalu sering mengabaikan gue. Bahkan terakhir kali dia ngehubungin gue 2 hari yang lalu.." jawab Nabila dengan lirih.
"Kawin.. Kawin.. Nikah, Acil binti Solihin!" celetuk Bu Halimah yang datang membawa camilan bersama Aisyah.
Aisyah terkekeh dan hal itu membuat mereka sedikit bernafas lega. Karena memang Aisyah jadi jarang tersenyum seperti dulu.
"Ibu sih bukannya mau ngomporin apa gimana ya.. Tapi apa kalian tau? Kenapa banyak perempuan yang rela melepaskan laki-laki yang dicintainya?" tanya Bu Halimah dan ketiga gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Gini ya bocil-bocil kesayangan Ibu.. Semua itu karena banyak hal yang gak bisa di ubah. Laki-laki sering mengabaikan hal-hal kecil yang bikin sakit hati dan gak pernah peduli dengan hal kecil yang membuat perempuannya kecewa.."
"Banyak laki-laki yang mulai menunjukkan sikap gak peduli, gak lagi sama seperti dulu ketika mereka jatuh hati. Kita sebagai perempuan bukan gak mau nerima apa adanya dong.. Tapi kita harus memilih untuk tidak menyakiti diri sendiri.. Berpisahlah jika memang sudah tak sanggup.. Bukan karena kalian sudah tidak saling mencintai.. Tapi kalian harus berhenti untuk saling menyakiti.. Seperti Ibu.. Ibu melepaskan karena Ibu berpikir seperti itu.." papar Bu Halimah membuat Nabila terdiam dan menunduk.
Aisyah mengelus bahu Nabila dengan lembut, "Ikuti kata hati lu, Bil.. Karena cuman lu yang bisa menentukan kebahagiaan lu sendiri. Ikhlaskan semua yang telah terjadi pada hidup kita. Mari kita merayakan luka dengan baik, mari menjadi manusia yang bisa mengendalikan diri, menurunkan ego untuk tidak memaksakan apapun lagi.. Sekarang kita lakukan dengan baik, melepaskan dengan sempurna dan berserah aja sama Allah.."
Sungguh Nabila merasa beruntung dikelilingi oleh sahabat-sahabat baik seperti mereka. Selama dua minggu ini, dia melaksanakan shalat istikharah. Dan dalam mimpinya, ia melihat seoreang laki-laki memberikan tangannya pada seorang laki-laki lainnya yang kemudian berjabat tangan dengan Bapaknya sambil mengucapkan ijab kabul. Hanya saja wajah kedua laki-laki itu tak terlihat jelas. Entah siapa yang menerima dan siapa yang melepaskan.
__ADS_1
"Bicarakan baik-baik sama Bapak sama Ibu kamu ya, Bil.. Hubungan kalian sudah melibatkan mereka, maka saat kamu memutuskan untuk mengakhiri pun tolong dengan baik-baik ya.." ucap Bu Halimah dan Nabila menganggukkan kepalanya.
Mereka menikmati camilan sore hari itu, kini mereka memang seorang pengangguran. Namun sudah merencanakan untuk membuka usaha bersama-sama. Canda tawa, suka duka mereka lalui bersama.
"Ternyata LDR itu sangat sulit yaa.." keluh Ashila.
"Lu masih beruntung, Acil.. Lu masih bisa liat dan denger suara Mas Defri.. Hal yang paling menyakitkan dan menyulitkan itu adalah LDR dengan alam yang berbeda.. Gue bahkan gak bisa lagi liat dan denger suara Mas Arya.." ucap Aisyah, wajahnya tersenyum namun melukiskan sebuah kepedihan yang mendalam.
"Maafin gue ya, Ais.. Gue gak maksud buat ingetin Mas Arya lagi.." lirih Ashila.
"Gak apa lah, Cil! Gue juga sedang berproses untuk berdamai sama masa lalu gue.. Dah ah jangan melow!" Aisyah merangkul Ashila.
Ting tong! Assalamu'alaikum!
Suara bel mengagetkan ketiganya. "Siapa yang dateng siang bolong begini?" gumam Ashila. "Biar Acil aja yang buka pintu!"
Ashila pun membuka pintu dan terkejut dengan seseorang yang dia kenal. "A Rizaludin?" kaget Ashila.
SIAPAKAH SI UDIN INIIII? AYOOO TEBAKKK...!
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1