Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Keputusan Nabila


__ADS_3

Aisyah menatap kedua sahabat baiknya dengan heran, begitupun dengan Bu Halimah. Biasanya di meja makan mereka selalu ramai, tapi kali ini hening.


"Kenapa sih mereka?" bisik Bu Halimah pada Aisyah.


"Ais gak tau, Bu! Dari tadi sore deh mereka kaya gitu!" jawab Aisyah berbisik pula.


Krekkk..


Bunyi kursi bergeser mengangetkan Aisyah dan Bu Halimah. "Isshhh.. Anak kucrit! Bikin kaget aja!" omel Bu Halimah.


"Acil udah kenyang, duluan ke kamar, ya!" pamit Ashila dengan lesu.


Tak lama setelah itu, Nabila pun berdiri. "Bibil  juga udah kenyang.. Istirahat duluan.. Maaf Ais yang cuci piring ya, besok pagi gue yang bikin sarapan.."


Bu Halimah dan Aisyah hanya beradu pandang karena keheranan. Tak biasanya mereka seperti itu. Mereka menyelesaikan makan dengan perasaan tak karuan.


"Bu.. Kak Acil sama Kak Bibil kenapa sih?" tanya Inara yang juga merasa heran.


"Itu mereka udah kenyang, Kak. Udah jangan dipikirin, makan lagi yang banyak!" jawab Aisyah sambil tersenyum.


Di rooftop, Nabila termenung sendiri. Dia memikirkan hubungannya dengan Farhan yang menggantung begitu saja. Sudah beberapa hari ini tak ada satu pun kabar darinya. Bahkan kedua orang tua Farhan pun keheranan, karena memang sudah waktunya mereka untuk fitting baju pengantin. Karena sekitar satu bulan lagi rencana pernikahan mereka, hanya tinggal menentukan tanggal.


"Bil.. Lu kenapa?" tanya Aisyah yang memutuskan untuk menghampiri Nabila.


Nabila menggelengkan kepalanya, namun airmata tak bisa terbendung lagi. Dia menunduk dan menangis, Aisyah pun menghampiri dan memeluk sahabat baiknya itu.


"Heii.. Kenapa? Cerita sama gue.."


Tak ada jawaban, Nabila hanya menangis terisak. "Astagfirullah.. Anak-anak Ibu kok sekarang hobi amat nangis ya! Itu si Acil juga lagi nangis.. Kalian kenapa sih?" tanya Bu Halimah yang datang membawakan segelas teh manis hangat.


"Bibil bingung, Bu.. Entah akan seperti apa hubungan Bibil sama A Farhan. Sudah beberapa hari ini dia menghilang begitu saja. Bibil hanya butuh kepastian akan hubungan ini, Bu.. Dia mau mempertahankan atau.. melepaskan.." lirih Nabila.


Bu Halimah pun mendekati Nabila dan mengusap kepalanya dengan lembut. "Nak.. Semakin kalian serius, jalan semakin gak mulus. Pahamkan sekarang, kenapa orang-orang selalu berucap 'Semoga lancar ya sampe hari-H'. Ujian menuju pernikahan itu begitu luar biasa nyata. Terbukti kan? Farhan sibuk dengan masalah keuangan, kamu pun dibuat ragu dengan kehadiran seseorang dari masalalu."


"Turunkan sedikit ego kamu, Bil.. Hubungi dia dan tanyakan soal hubungan kalian, karena kalian gak bisa kaya gini terus. Gue tau kok Bil sakitnya kaya gimana diabaikan, tapi lebih sakit kalo kita kehilangan.." ucap Aisyah.


Nabila pun menganggukkan kepalanya, dia mengirim pesan pada Farhan dan meminta waktunya untuk bertemu besok pagi. Sedangkan di Jakarta, Farhan pun mulai menyadari kembali semua kesalahannya. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Nabila besok pagi.


* * *


Caffe 105 Garden, sudah hampir satu jam Nabila menunggu. Belum ada tanda-tanda jika Farhan akan datang. Padahal laki-laki itu sudah mengatakan jika dia akan datang pukul 9, jam kini sudah menunjukkan pukul 9.45.

__ADS_1


"Lu bodoh, Bil! Udah jelas lu bukan prioritas!" gumam Nabila yang mulai kesal.


Farhan datang sambil berlari, sangat jelas terlihat raut wajah lelahnya. "Maafin Aa, sayang! Tadi jalanan macet banget.." ucap Farhan dengan nafas yang memburu.


"Sejak kapan jalanan kesini macet? Lain kali kalo cari alasan pakai logika!"


Farhan menatap Nabila dengan tatapan sendu, "Oke.. Aa minta maaf, tadi ada rapat dadakan.. Aa gak enak kalo harus batalin, karena ini klien Aa yang dari luar Jawa. Maafin Aa ya, Bil.."


"Ternyata jadi perempuan yang tulus dan baik tidak cukup ya, A? Aku gak pernah menuntut hal yang berlebihan, selain meminta waktu dan perhatianmu. Aku hanya meminta kabar saat kita bejauhan! Aku meminta waktu sendiri, supaya aku liat perjuangan kamu untuk mendapatkan hatiku kembali!"


"Aku dengan ikhlas menerimamu, berharap kita akan berjuang besama-sama. Tapi ternyata tetap saja tak pernah cukup untuk dicintai dengan layak dan hanya ditinggalkan tanpa di perjuangkan.."


Hening..


"Maaf.."


"Cukup A Farhan! Aku udah muak denger kata-kata maaf dari kamu! Ibu kamu kemaren ngehubungin aku dan tanya soal fitting baju pengantin! Dan aku rasa.. Semua itu tidak perlu lagi.."


"Nabila! Kasih Aa satu kesempatan untuk bicara!" bentak Farhan dengan keras, hingga beberapa pengunjung menoleh kearah mereka.


"Astagfirulloh.. Bil.. Maafin Aa," sesal Farhan.


"FARHAN!" panggil Pak Arifin.


"Bapak.." lirih Farhan, sedangkan Nabila tak bisa lagi menahan air matanya.


"Sudah saya bilang! Saya membesarkan putri saya dengan baik, saya tidak pernah sekali pun membentaknya! Jaga nada bicaramu, jika memang ingin mendapatkan hatinya kembali!"


Farhan menunduk frustasi, "Saya lelah, Pak! Saya memperjuangkan segalanya untuk Nabila. Saya ingin kehidupan kami cukup dan hidup bahagia bersama.."


"Tapi caramu salah, A! Aku tak butuh banyak harta, cukup perhatikan aku dan berikan kasih sayang yang cukup untukku. Jangan takut perihal kehidupan, karena aku pun bersedia menemanimu menapaki kehidupan rumah tangga dari nol..!" isak Nabila.


"Maafin Aa, Bil.. Tapi Aa juga cukup kecewa, saat tau kamu masih memendam rasa pada laki-laki lain! Aa hanya ingin menjadi satu-satunya dalam hidup kamu.. Sekarang Aa merasa rendah diri, ada berada ditengah-tengah cinta kamu sama dia!" Farhan mengungkapkan kembali isi hatinya.


"Ternyata saya memang salah memilih kamu, Farhan! Kamu bahkan tidak bisa melihat cinta yang tulus pada putri saya. Jika dia mau, bahkan sejak awal Riki hadir. Dia akan meninggalkan kamu begitu saja! Begitu rendahkah putriku dimatamu?" tanya Pak Arifin dengan tatapan kecewa.


"Maksud Farhan gak gitu, Pak.. Farhan..."


"Cukup! Keputusan Bibil udah bulat, Pak.. Tidak akan pernah ada pernikahan.. Bibil gak bisa hidup dengan orang yang memikirkan harta. Bibil hanya akan menikah dengan niat untuk beribadah dan mencari ridho Allah bersama-sama.."


Deg!

__ADS_1


Farhan menatap Nabila, "Apa kamu akan..."


"Bahkan kamu masih suudzon terhadapku, A!" tebak Nabila. "Aku gak akan pernah kembali pada Bang Riki, kecuali dia yang akan memperjuangkan aku kembali. Aku hanya butuh diperjuangkan dan di yakinkan, bahwa kita memiliki tujuan yang sama!"


"Bil.. Maafin Aa.." lirih Farhan penuh sesal. "Astagfirulloh.. Demi Allah jangan akhiri hubungan kita, Bil.. Aa janji.." ucapan Farhan terpotong oleh Nabila.


"Berapa banyak janji kemarin yang belum Aa tepati? Sudahlah A.. Jika memang kita berjodoh, kelak Allah akan mempersatukan kita dengan cara-Nya. Terimakasih atas segalanya.." Nabila melepaskan cincin pertunangan mereka dan pergi begitu saja.


Pak Arifin menatap putrinya dengan menahan airmata, "Dia anak perempuanku yang tidak pernah berkeluh kesah padaku. Jika sejak awal akan begini, tidak akan pernah aku berikan putriku padamu.."


Farhan pun tertunduk frustasi, entah apa yang dia rasakan saat ini. Semuanya terasa begitu sulit dan semuanya begitu kusut. Sedangkan Pak Arifin menyusul putri kesayangannya yang kini duduk di mobil Jeep miliknya.


"Bapak.." lirih Nabila memeluk sang Ayah.


"Allah yang Maha membolak-balikan hati manusia, Nak.. Jika saat ini tulusmu dipermainkan, percayalah suatu saat nanti akan ada yang memperlakukanmu layaknya berlian. Entah itu dia yang saat ini menyakiti dan disadarkan, atau dia yang lebih baik, yang akan Allah kirimkan.."


"Setiap sakit akan ada obatnya, yang hilang akan diganti, yang pergi akan kembali. Setiap keadaan akan ada masanya sendiri-sendiri. Satu hal yang harus kamu sadari, bahwa sebuah kesakitan bisa jadi adalah sebuah cobaan kesabaran yang akan kamu temukan obatnya dalam perjalanan. Namun itu juga bisa berarti sebuah awal menuju gerbang pergantian hidup yang lain.."


Nabila menangis dalam pelukan Pak Arifin, dia hanya bisa mendengarkan tanpa menjawan semua ucapan sang Ayah. Farhan pun menatap pilu, dia kembali mengetuk pintu Jeep milik Pak Arifin.


"Nabila.. Izinkan Aa untuk bicara dari hati ke hati denganmu sekali lagi.. Izinkan Aa meyakinkan diri Aa, bahwa cinta kamu hanya buat Aa.." pinta Farhan.


"Tak perlu A, diantara diri kamu dan dirinya memiliki tempat dihatiku masing-masing. Sekalipun aku masih mencintainya, biarlah itu menjadi urusanku dan menjadi bagianku. Yang terpenting yang harus kamu tau, aku mencintaimu dengan tulus. Sayangnya cintaku tidak kamu percaya.. Jadi semuanya sudah jelas.."


"Tapi, Bil.. Bagaimana dengan orangtuaku? Mereka sudah menyayangi kamu.."


"Tapi kamu tidak, A Farhan! Urusan orang tua mu biarlah menjadi bagianku, aku yang akan menjelaskan pada mereka!" tegas Nabila. "Bapak.. Bibil mau pulang.."


Akhirnya mobil Jeep milik Pak Arifin pergi meninggalkan Farhan yang dipenuhi rasa penyesalan. Saat Farhan lengah, tiba-tiba sebuah tinju mendarat di pipinya.


Bugh!


"Aku berjuang mati-matian mengesampingkan rasa sakit dihatiku hanya untuk melihat senyuman yang selalu terukir di wajahnya. Tapi kamu menghancurkan semua pengorbananku, jangan salahkan aku jika aku akan memperjuangkannya kembali!"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2