
Kedatangan Jeremy sampai pada telinga dokter Andra. Laki-laki itu merasa sangat marah, saat mengetahui jika Jeremy hampir sempat melukai pujaan hatinya. Dia bergegas menuju Alunara Kost.
"Mana laki-laki itu!" geram dokter Andra, dia langsung bertanya pada Riki dan Bagaskara yang tengah merapikan area taman depan.
"Apa sih! Telat deh Dok!" omel Ashila yang datang membawakan dua gelas minuman. "Untung ada Acil, kalo enggak ada dijamin kacau!"
"Hufthh.." dokter Andra menghela nafasnya. "Kayaknya harus langsung dihalalin deh! Daripada terus-terusan begini. Malah enggak tenang!" gumam dokter Andra.
"Dok! Jangan bengong disitu dong! Bantuin napa!" Ashila mulai mengomel kembali.
Dokter Andra menghela nafasnya, dia langsung membantu Riki dan Bagaskara untuk merapikan taman. Karena rencananya dokter Andra akan melangsungkan lamaran secara resmi sebelum anak-anaknya kembali ke Pesantren.
"Lho, Akang dah nyampe? Kok gak ketauan datengnya!" Bu Halimah keluar bersama Keisya dan Aluna.
"Iya tadi Akang disuruh beberes sama anak gadis Neng yang onoh!" tunjuk dokter Andra pada Ashila dengan ujung matanya.
"Dih! Dah tua aduan juga!" cibir Ashila.
"Udah.. Udah..! Neng mau anter anak-anak dulu ke minimarket, daritadi ngerengek pada pengen beli kinder joy!"
Bu Halimah menuntun dua putrinya itu, dokter Andra bergegas mengikuti mereka. Dia tak mau kecolongan lagi, apalagi jika calon istrinya itu sampai bertemu dengan mantan suaminya.
"Akang ngapain ngikutin Neng?" tanya Bu Halimah, dia bisa menyadari kehadiran calon Ayah sambung Aluna itu.
"Hehehe.. Padahal Akang dah jaga jarak!" ucap dokter Andra sambil cengengesan. "Akang takut lah kecolongan lagi! Yaudah ayok kita ke minimarket!" ajaknya.
Sedangkan di Alunara kost, Aisyah kini dibantu Nabila tengah merapikan ruang tengah. Dekorasi bernuansa putih sederhana berhasil Aisyah buat. Sedangkan Nabila membantu untuk membuat bunga-bunga dari kertas.
"Bil! Maaf dong, gue mau nyuruh boleh? Minta paku 1 ya! Ini kurang nempel," pinta Aisyah, dia sendiri tengah menaiki tangga.
"Tunggu bentar! Jangan goyang-goyang begitu Ais, ntar lu jatoh!" peringat Nabila.
Benar saja saat Nabila mencari paku, tangga yang Aisyah gunakan goyah. Hingga akhirnya Aisyah menjerit, karena bisa dipastikan dia akan terjatuh.
"Aaaaaaaaaaaaa.....!" teriak Aisyah.
Hap!
Aisyah memejamkan matanya, dia merasa jika dia terjatuh. Namun tubuhnya tidak merasakan sakit apapun. Perlahan Aisyah membuka matanya dan....
"Ais! Lu gak apa-apa kan? Udah gue bilang jangan goyang-goyang!" omel Nabila.
Namun sepertinya Aisyah tidak mendengar, matanya fokus menatap laki-laki yang berhasil menyelamatkan dirinya agar tidak mencium lantai. Bagaskara, dia hendak mengambil ember didalam. Dia melihat tangga yang digunakan Aisyah mulai goyah dan berhasil menangkap perempuan itu.
"Lain kali hati-hati ya! Jika hatimu tengah terluka, minimal fisikmu harus kuat.."
Deg!
Aisyah menatap dalam manik mata itu. Wajahnya yang begitu mirip dengan Arya, namun tidak dengan binar matanya. Namun sampai saat ini, Aisyah belum bisa melupakan Arya. Hingga ia harus kembali menahan airmatanya.
"Eh! Maaf dan makasih ya!" ucap Aisyah sambil melepaskan rangkulan Bagaskara. Dia berlari menuju kamarnya, karena airmatanya yang tak lagi tertahan.
"Maafin Aisyah ya, Mas Bagas!" ujar Nabila tak enak hati saat melihat sahabatnya itu.
"Gak apa-apa Bila! Oh iya, gimana udah sehat kan sekarang?" tanya Bagaskara basa-basi.
__ADS_1
Belum Nabila menjawab, suara deheman laki-laki dibelakang Bagaskara membuat Nabila mengurungkan niatnya untuk menjawab.
"Ehem!" Bagaskara terkejut lalu menoleh. "Embernya mana? Cepat ambil!"
"Ckck dasar bucin lu!" omel Bagaskara lalu menuju kamar mandi.
Kebetulan, kamar mandi belakang Alunara kost itu memang sudah lama tidak digunakan. Karena pintunya tidak bisa terbuka dari dalam. Bagaskara tidak kuat lagi, dia ingin buang air kecil sedari tadi. Laki-laki itu menutup pintunya begitu saja.
Ceklek.. Ceklek..
Pintu itu benar-benar tidak bisa dibuka! Bagaskara pun panik. Dia mencoba berteriak, tapi tidak akan terdengar karena cukup jauh dari ruang tengah. Ponselnya pun ia simpan di saku jaketnya, hingga akhirnya dia harus menunggu orang-orang itu sadar jika ia belum kembali.
"Aisyaaahhh... Oh Aisyaaaahhhhh... Tolongin gue dong!" teriak Ashila.
"Isshhh! Gak usah teriak-teriak Acil! Kasian Ila pusing nanti kepalanya dengerin suara cempreng kamu itu!" omel Riki yang tengah membantu Nabila merapikan pekerjaan Aisyah yang terbengkalai.
"Dih! Manusia bucin emang!" gerutunya Ashila.
Aisyah yang mendengar teriakan Ashila, langsung menghapus airmatanya itu. Dia pun keluar kamar sambil mencoba terus menarik nafas.
"Ah elah! Jangan nangis mulu napa Ais.. Kagak sayang apa ntu aermata jadi berlian semua!" omel Ashila. "Bantuin gue! Ambilin ember-ember yang ada di kamar mandi belakang! Orang yang bantuin gue ngilang semua. Biar rapi itu taman, jadi gue bisa lanjut beresin yang lain!"
"Okelah!" jawab Aisyah, dia pun berjalan gontai menuju kamar mandi belakang.
Ceklek!
Aisyah terkejut mendapati Bagaskara duduk dilantai kamar mandi. "Alhamdulillah! Akhirnya ada yang bukain pintu!" ucapnya dengan bernafas lega.
"Lho, ke kunci disini Mas daritadi?" tanya Aisyah yang terkejut.
"Lumayan udah sekitar 15 menit hehehe!" jawabnya sambil terkekeh.
"Jangaaaannn!!" pekik Bagaskara dan Aisyah bersamaan.
Telat. Kini pintu itu sudah tertutup rapat. Aisyah sendiri tidak membawa ponselnya. Dia menatap Bagaskara yang terlihat frustasi.
"Apa mereka budeg ya! Masa kita teriak gak kedengeran!" omel Bagaskara.
"Kamar mandi ini kedap suara, Mas! Coba aja teriak, mereka gak akan dateng!" ucap Aisyah sambil menghela nafasnya.
Akhirnya dua manusia itu duduk dilantai kamar mandi bersisian. Mereka benar-benar merasa kikuk. Bahkan jantung keduanya sama-sama berdegup kencang.
"Maaf ya!" lirih Aisyah membuat Bagaskara menoleh.
"Maaf untuk?"
"Untuk semua kesalahan yang aku buat. Aku masih gak nyangka aja kalo wajah Mas bener-bener mirip sama Mas Arya," lirih Aisyah.
"Tak apa, Aisyah! Mungkin sudah jalannya wajahku itu mirip sama dia yang telah tiada. Sudah kubilang, kita memiliki 7 kembaran didunia ini. Mungkin aku dan dia salah satunya!" Bagaskara terkekeh.
Hening..
"Sudah lama kalian menjalin hubungan?" tanya Bagaskara memecahkan keheningan.
Aisyah menghela nafasnya, "Satu tahun kami menjalani hubungan via online. Lalu bertemu di Bandung, karena kebetulan dia pindah satuan ke Bandung. Bersama Bang Riki dan Mas Defri, pacar Ashila juga. Itu pun sangat kebetulan.."
__ADS_1
"Aku sama sekali gak tau kalo dia non muslim, yang aku tau namanya Arya Wicaksana. Dan aku pun gak ada pikiran jika dia berbeda. Namun waktu membuka semuanya, tanpa sengaja. Akhirnya aku tau, bahwa nama aslinya Josephine Arya Wicaksana. Dia beragama Katolik. Setelah itu, aku memutuskan hubungan. Dan..."
Aisyah tidak bisa melanjutkan ceritanya. Hingga Bagaskara mengubah posisi duduk untuk berhadapan dengan Aisyah. "Tak apa.. Tak usah diteruskan!"
Setiap kali mengenang Arya, Aisyah tidak mampu untuk menahan air matanya. Apalagi saat ini dihadapannya adalah Bagaskara. Tanpa Aisyah sadari, dia memeluk Bagaskara begitu erat.
"Maafin aku, Mas! Tapi sekali ini aja.. Biarin aku ngerasa bahwa aku lagi peluk dia.."
Bagaskara pun menganggukkan kepalanya, dia membiarkan perempuan itu menangis dalam pelukannya. Hingga tanpa terasa Aisyah terlelap karena lelah menangis. Begitupun Bagaskara.
Ashila mulai kesal, karena sudah hampir 30 menit dia berjibaku dengan tanaman-tanaman. Tapi baik Aisyah maupun Bagaskara belum juga ada yang datang.
"Ini manusia-manusia ditelen ember apa ya!" omel Ashila.
"Heeiiii! Kok ngomel sendiri? Kenapa Nak?" tanya Bu Halimah yang baru datang bersama dokter Andra dan dua anaknya.
"Ini si Ais sama si Mas Bagas disuruh ngambil ember entah pada nyasar kemana! Ditelen ember kali!" kesal Ashila.
"Lah kamu nyuruh ambil embernya dimana?" dokter Andra bertanya sambil membantu Ashila yang mengomel.
"Dikamar mandi belakang lah! Kan ember-ember buat tanah, Mak Haji taro disono!"
"APAAAA?!" pekik Bu Halimah. "Jangan-jangaaannnn..."
Bu Halimah dan Ashila langsung berlari kedalam rumah, bahkan mereka hampir menabrak Nabila yang tengah mendekorasi.
"Astaghfirullah! Ibu sama Acil ngapain lari-lari sih?!" omel Riki.
"Maaf maaf! Kayaknya Ais sama Bagas kekunci dikamar mandi belakang!" teriak Ashila.
"Hah?" ucap Riki dan Nabila serempak.
Mereka semua akhirnya menuju kamar mandi belakang, tepat di dekat penyimpanan toren air. Benar saja, pintu kamar mandi itu tertutup rapat.
Ceklek!
Saat pintu itu terbuka, mereka mendapati Aisyah dan Bagaskara yang tertidur sambil saling memeluk. Semuanya tercengang, tidak bisa berkata-kata.
"Astagfirullah!" pekik Nabila, saat dia menyusul bersama Riki.
Aisyah dan Bagaskara pun terkejut, sontak mereka membuka mata dan mengucap.. "Alhamdulillah.. Akhirnya terbuka!"
"Fix! Harus dihalalkan ini mah!" celetuk Ashila membuat Aisyah dan Bagaskara mengerenyitkan dahinya.
Hingga akhirnya mereka sadar dan langsung memisahkan diri. Bu Halimah dan dokter Andra sama-sama memijat pelipisnya.
"Kalian ini ada-ada aja deh ah! Bikin pusing pala Ibu mulu!" omel Bu Halimah.
"Udah Mak haji, fix kudu wajib harus dihalalkan!"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤