Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Rindu Setengah Mateng


__ADS_3

Tidak ada yang lebih indah dari pada melihat diri sendiri bahagia dan kembali semangat pada hal-hal yang disukai. Sembuh dari hal-hal yang menyakiti dan mampu untuk bahagia, lalu tersenyum tulus lagi. Aisyah melihat dirinya dicermin, hari ini dia akan pergi bersama Bagaskara untuk menyiapkan undangan pernikahan Bu Halimah dan dokter Andra.


"Cakep bener! Mau kemana lu Ais?" tanya Ashila yang menyelonong masuk ke kamar Aisyah.


"Ishh.. Kan tugas gue belom selesai, siapin undangan pernikahan Bu Halimah! Lu lupa ya?" omel Aisyah.


"Huft! Kalian enak.. Bisa berdua-duaan! Lah gue?" lirih Ashila.


Dia duduk di ranjang Aisyah dan menangis terisak, "Jujur ya! Gak ada yang lebih menyesakkan dada selain nungguin seseorang dalam waktu yang gak menentu. Gak ada jaminan dia bakalan balik lagi sama gue. Atau dia masih punya rasa yang sama sama gue!"


"Siapa yang bisa ngejamin kalo Mas Defri gak akan jatuh hati sama perempuan lain diluar sana? Laki-laki yang gue tunggu itu punya hati dan punya mata. Dan pada dasarnya, laki-laki mudah jatuh pada perempuan yang diliatnya lebih cantik dan baik. Contohnya aja si Mas Bagas tuh!"


Aisyah mengelus punggung Ashila, dia terus menenangkan sahabat baiknya itu dan memberikan semangat yang positif.


"Cil.. Mas Defri itu tugas diperbatasan dan memang disana itu gak ada sinyal. Yakinlah kalo dia akan balik ke lu dengan utuh fisik dan hatinya. Ikhlaskan.. Mungkin saja Allah sekarang iri, karena lu lebih banyak mengharap sama manusia dibanding sama Sang Pencipta.."


"Bismillah.. Takdir Allah jauh lebih indah dari rencana-rencana kita sebagai manusia.. Gue tau gimana perasaan lu, Cil.. Rindu dan menunggu itu menyebalkan.."


Bagaskara sudah menunggu di ruang tamu, Nabila pun menyusul sahabat baiknya itu.


"Yaa Allah! Mas Bagas udah nungguin didepan, ini malah peluk-pelukan disini!" omel Nabila.


"Hah? Mas Bagas udah dateng?" kaget Aisyah. "Cil, lu nangisnya sama si Bibil dulu ya!"


Aisyah pun melepaskan pelukan Ashila lalu menyambar tas nya dan turun menemui calon suaminya.


"Dasar sahabat kurang asem lu ye, Ais! Bisa-bisanya lu pacaran pas gue lagi setengah mateng ini rindu!" omel Ashila sambil menangis.


"Cup.. Cup.. Cup.. Jangan nangis ah! Nanti jeleknya makin jelek.." goda Nabila. "Eh cantiknya makin ilang.."


"Lu pikir gue si Aluna! Lu kapan cari souvenir sama si Bang Riki?" tanyanya sambil mengelap ingus yang keluar dari hidungnya.


"Issshhh.. Jorok lu Cil! Kalo si Mas Defri liat, ilfeel dah!" kesal Nabila.


"Bodo amat! Dia aja kagak ada kabar, ini kan udah lebih dari 3 bulan woy!" Ashila merengek seperti anak kecil.


"Udah ah! Kayak bocah aja lu!" Nabila memberikan tisu pada Ashila.


"Yeee! Gini-gini juga gue bocah yang udah bisa bikin bocah!" teriak Ashila kesal.


"Aciiiiilllll... Mulutnyaaa...!" teriak Bu Halimah.


"Waduh! Gue pikir tu penganten kagak ada dirumah!" Ashila langsung kabur ke kamarnya.


Siang hari ini, Nabila akan pergi bersama Riki untuk makan siang. Sekalian mencari souvenir untuk kejutan pernikahan Bu Halimah. Dia pun mengajak Ashila, karena tak tega jika harus meninggalkan Ashila sendirian di Alunara Kost.


"Ini mah gue yang jadi kambing congek!" omel Ashila.


"Mana ada kambing congek! Gue sama Bang Riki gak pernah ngacangin elu ya Cil!" Nabila mencubit lengan Ashila karena gemas.


Riki hanya terkekeh melihat tingkah keduanya. Yang sangat dia syukuri adalah.. Nabila kini sudah kembali ceria, setelah melewati fase patah hatinya dari Farhan.


"Kamu nanti gak jadi kambing congek kok Cil, Abang nanti ketemu sama temen Abang ditempat makan! Mana tau cocok.." ucap Riki sambil terkekeh.


"Wah lu ngadi-ngadi ye Bang! Dihati Acil udah ada Mas Defri, walaupun ngilang kayak jin! Tapi.. Kalo cocok boleh lah!"


"Dasar Onta!" Nabila dan Riki terkekeh.


Restoran Grill menjadi pilihan mereka, karena Nabila sangat menyukai daging. Berbeda dengan Riki yang lebih banyak memakan sayuran.


"Bang, dibayarin kan? Pengangguran nih! Mana pilih restoran nya yang mahal lagi!" bisik Ashila namun masih terdengar ditelinga Nabila dan Riki.


"Aman! Pokoknya kamu makan aja yang banyak!" jawab Riki sambil tertawa. Sedangkan Nabila menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Jangan malu-maluin gue ya, Cil!"


Riki memanggang daging untuk Nabila, sedangkan Ashila masih asyik makan spagheti dan juga hidangan lainnya. Katanya sedang galau, jadi harus banyak makan. Dasar Ashila!

__ADS_1


Aku rindu.. Setengah mati kepadamu..


Sungguh ku ingin kau tau..


Aku rindu, setengah mati..


Aku rindu..


Ashila menghela nafasnya, lagu ini kembali mengingatkannya pada sang kekasih hati yang tengah bertugas jauh disana.


"Cil, jangan ngelamun napa!" Nabila mengangetkan Ashila.


"Bang! Si Defri itu beneran kagak bisa ngehubungin gue apa?! Udah 3 bulan lebih 10 hari loh ini, Bang! Ampe lumutan gue nungguin dia!" kesal Ashila sambil memasukan dua potong daging kedalam mulutnya.


"Awas aja kalo balik, gue panggang dia setengah mateng!" ucap Ashila dengan mulut penuh makanan.


"Makan dulu, baru bicara sayang..."


Deg!


Suara itu.. Ashila menoleh, matanya berkaca-kaca saat melihat Defri berdiri disana dengan gagahnya. Bahkan dia sampai menangis kencang.


"Huaaaaa... Mas Defri jahara! Keong racun, Onta Arabbbbb..!"


Defri terkekeh, dia mendekat pada kekasihnya itu dan mengecup pucuk kepala Ashila dengan lembut.


"Tuhkan, apa Abang bilang? Ini yang mau Abang kenalin ke kamu, siapa tau cocok! Cocok gak?" goda Riki membuat Nabila tertawa.


"Tuh Mas! Tadi sama Bang Riki mau dikenalin ama cowok, dianya oke oke aja!" adu Nabila.


"Heh Markonah! Kaga usah jadi kompor lu ye, bisa-bisanya kelen berdua tipu gue!" omel Ashila tanpa melepaskan pelukannya pada Defri.


"Calon istri Mas nakal nih ya!" Defri mencubit hidung Ashila.


"Mana ada nakal, mereka aja noh pasangan gilaakk!" Ashila meraba pergelangan tangan Defri, ada luka disana.


"Cuman luka kecil aja sayang! Jangan khawatir.." Defri menghapus airmata Ashila.


Uhuk.. Uhuk...


Nabila tersedak makanannya karena mendengar ucapan absurd sahabat baiknya itu. "Lu kira daging setengah mateng!"


"Bodo amat, wleee!" ejek Ashila.


Akhirnya mereka berempat makan bersama, Ashila sangat bahagia karena kini Defri sudah kembali dengan selamat. Namun kebahagiaan Ashila sedikit terusik saat melihat kehadiran Rizaludin disana.


"Apakah laki-laki ini yang membuat kamu menolak lamaran keluargaku, Ashila?"


Ashila kikuk, dia menggenggam lengan Defri dengan erat. "Iya A Rizal.. Dia calon suami aku. Alhamdulillah sudah kembali dengan sehat dan selamat!"


"Apakah gak ada sama sekali rasa buat aku?"


Defri sedikit menahan amarah, namun hatinya lega. Ternyata Ashila masih menunggunya.


"Gak ada.. Rasa sayang aku sudah habis untuk Mas Defri seorang. Maaf ya A Rizal! Semoga bertemu dengan jodoh yang jauh lebih baik!"


Rizaludin pergi dengan perasaan kecewa, sedangkan Defri langsung melepaskan genggaman tangan Ashila. Dia berakting seolah dia menahan amarah.


"Mas.. Sumpah aku nolak dia!"


"Hem.."


"Jangan marah Mas.." lirih Ashila.


"Hem.."


"Jangan ham hem ham hem doang dong, Mas!"

__ADS_1


"Terus harus apa?"


Ashila malah menangis kembali, "Jahara kamu ya, Mas! Aku udah RINDU SETENGAH MATENG, kamu malah cuekin aku! Cowok mah gitu, semuanya sama!!"


"Eitttss.. Jangan-jangan samakan, aku dengan si Defri!" ucap Riki dengan nada lagu dangdut.


Nabila, Riki dan Defri akhirnya tertawa lepas, mereka sukses membuat Ashila kesal. Sedangkan Ashila langsung menatap tajam ketiga manusia dihadapannya itu.


"Masa didepan calon suami dan calon mertua begitu!"


"Mama.. Papa.. Kok.. Ada.. Disini?" tanya Ashila terbata.


"Mau dating sama calon menantu dan calon besan lah! Emangnya kamu doang yang mau makan enak," omel Pak Solihin.


"Pa-papa udah.."


"Udahlah! Kan kemaren Mas Defri kamu itu langsung jemput kami, supaya langsung melamar kamu sama kedua orangtuamu.." ucap Mama Defri.


Ashila pun menyalami kedua orang tua suaminya itu dengan takzim. Begitupun Nabila dan juga Riki yang terkejut dengan kedatangan kedua keluarga sahabat mereka itu.


"Mas! Kamu.. Kok gak bilang aku sih? Tau gitu kan aku dandan yang bener!" bisik Ashila.


"Kamu cantik kok, Nak! Papa aja kalo masih muda, sabi lah naksir kamu!" celetuk Papa Defri.


"Papa!" omel Defri. "Jangan tua-tua keladi ya!"


Canda tawa kedua keluarga besar itu sangat membuat Ashila bahagia. Namun Riki dan Nabila terpaksa harus berpamitan, karena mendapatkan tugas untuk membeli cenderamata.


"Aku seneng liat dua sahabat aku bakalan segera menikah.." ucap Nabila membuat Riki menoleh.


"Abang juga seneng.. Semoga kamu segera menyusul, ya!"


Entah kenapa hati Nabila terasa perih mendengar ucapan Riki. Dia menatap laki-laki yang membuatnya jatuh cinta untuk yang pertama kali, bahkan berkali-kali.


"Apa rasa itu sudah hilang?" Riki menoleh saat mendengar pertanyaan Nabila.


"Rasa itu kekal abadi dalam hati Abang! Hanya Abang dan Allah yang tau.."


"Apa Abang bakalan pergi tinggalin aku lagi?"


"Abang seorang abdi negara, Ila.. Hidup Abang untuk Negara.. Abang memang mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu.. Tapi tetap saja, Negara yang Abang utamakan.."


"Abang harus kembali.. Harus! Hanya 13 bulan, kan?" tanya Nabila dan Riki menganggukkan kepalanya.


"Ashila aja 3 bulan rindu setengah mateng! Mungkin Ila 13 bulan rindunya beranak pinak." lirih Nabila. "Kembalilah dengan selamat! Saat Abang pergi, Ila akan memantaskan diri. Dan saat Abang kembali nanti, Ila siap Abang persunting!"


Riki terkejut dan refleks menginjak rem, beruntung jalanan sepi.


"Astagfirullah Abang!" omel Nabila.


"Ucapkan sekali lagi, Ila.."


"Gak ada pengulangan, Abang!"


Riki meraih tangan kanan Nabila, ia mengeluarkan cincin dari dompetnya. Cincin yang sejak lama ia simpan untuk kekasih hatinya, Nabila Shafiya Putri.


"Cincin ini Abang simpan sejak Abang masuk Akademi Militer. Akhirnya cincin ini bisa Abang sematkan dijari manismu. Tunggu Abang kembali pulang.."


"Jika Abang tidak kembali, lepaskanlah cincin ini seperti Abang melepaskan cintamu.."


Nabila menggelengkan kepalanya, "Aku akan tunggu Abang kembali.. Sampai rindu setengah mateng, berubah jadi gosong!"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2