Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Aku masa depanmu..


__ADS_3

Hubungan yang telah hancur, memanglah sudah tidak mungkin di perbaiki lagi. Tapi setelah menjalani kegagalan dalam berumah tangga, Bu Halimah tidak ingin gagal menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Bagaimanapun, masalalunya adalah Ayah dari anak-anaknya.


"Masuk.. Anak-anak lagi main didalem, biar aku panggil dulu.."


Walaupun hatinya masih sedikit tak terima, tapi Bu Halimah memberitahukan keberadaan sang Ayah pada kedua anaknya.


"De.. Kak.. Itu ada Ayah di depan, katanya kangen sama kalian.. Temui yu nak.." ajak Bu Halimah.


Inara berdiri dari duduknya, "Mau apa sih dia kesini? Kakak gak mau ketemu dia!"


"Kakak..." tegur Bu Halimah.


"Bu! Waktu Kakak sakit, waktu Kakak butuh Ayah, dia kemana? Enggak ada! Dia malah ninggalin kita semua. Pokoknya Kakak gak mau ketemu sama dia! Terserah Ibu mau ajak Dede, yang pasti Kakak ogah!" gadis belia itu meninggalkan area bermain dengan amarah yang memuncak.


"Kakak! Dengerin Ibu dulu, Kak!" Bu Halimah mengejar putrinya, hanya saja Inara mengunci diri di rooftop.


"Ibu pergi aja, Kakak mau sendiri!" ucapnya dengan isakan yang terdengar memilukan.


Untuk anak seusianya, Inara harus dihadapkan dengan perceraian kedua orang tuanya. Dimana dia sudah mulai mengerti, jika Ibunya telah di khianati. Dan hal itu teramat menyakitkan bagi Inara, karena cinta pertamanya lah yang menghancurkan keluarganya.


"Dede.. Temui Ayah yu, Nak.. Katanya Dede mau ketemu Ayah, itu sekarang Ayahnya udah ada.. Masa Dede enggak mau temuin.." bujuk Bu Halimah pada anak bungsunya itu. Namun Aluna pun menggelengkan kepalanya.


Jeremy, mantan suami Bu Halimah itu menunggu di ruang tamu dengan gelisah. Beribu penyesalan ia rasakan, karena telah mengabaikan kedua anaknya yang mungkin akan menjadi ladang pahalanya kelak. Karena do'a anak yang soleh tak akan pernah terputus.


Dokter Andra yang baru saja menyelesaikan dinasnya bergegas menuju Alunara kost. Tidak lupa dia menjemput Keisya, karena gadis kecil itu sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aluna.


"Papaaa..!! Jadi kita kerumah Ibu kan? Kekey udah gak sabar!" antusias Keisya.


"Jadi dong! Kita beli jajanan dulu ya, buat Kakak Inara sama De Luna.." ajak dokter Andra dan Keisya mengangguk.


Usai membeli buah tangan, dokter Andra pun melanjutkan perjalannya. Namun dokter Andra tidak bisa memarkirkan mobilnya di halaman Alunara kost. Karena ada mobil lain yang terparkir disana. Hingga akhirnya dia meminta izin untuk memarkirkan mobilnya didepan gerbang rumah tetangga Alunara kost.


"Banyak orang ya, Pa? Kok mobilnya banyak banget?" tanya Keisya yang ikut keheranan.


Suasana di ruang tamu sangat canggung, Bu Halimah ditemani oleh Ibunya untuk berbicara pada Jeremy. Untuk mengatakan bahwa kedua anaknya tak ingin menemuinya.


"Assalamu'alaikum..!" ucap dokter Andra dan Keisya bersamaan.


Deg!


"Waa.. Walaikumsalam.. Kekey!" Bu Halimah sedikit tersentak kaget saat melihat dokter Andra dan Keisya yang dateng.


"Lagi ada tamu ya? Maaf kalo Akang kurang tepat, ini Kekey mau ketemu sama Luna.." dokter Andra sedikit tak enak hati.


"Eh.. Gak apa atuh, kasep.. Sini masuk!" ajak Mak Anih yang mulai menyukai karakter dokter Andra.

__ADS_1


"Iya, Mak.. Gimana kabarnya? Sehat kan, Mak?" tanya dokter Andra tak canggung lagi, namun hal itu membuat pertanyaan besar dibenak Jeremy.


"Alhamdulillah atuh kasep, hatur nuhun kemarin titipan obatnya. Kaki emak teh udah gak sakit lagi, jadi bisa ajak incu jalan-jalan ke Gasibu kalo hari minggu," jawab Mak Anih dengan sumringah, karena memang dokter Andra mengirimkan beberapa obat-obatan untuk kesehatannya.


Hening..


"Neng cantik tunggu dulu, yah! Biar Mak panggilin dulu Luna nya, atau Neng cantik mau ikut Mak ke atas?" ajak Mak Anih dan Keisya menggelengkan kepalanya.


"Kekey nunggu disini aja sama Ibu," ucapnya sambil duduk dipangkuan Bu Halimah.


"Oh iya.. Ini Jeremy, Kang.. Ayahnya anak-anak.."


Dokter Andra menganggukkan kepalanya dan menjabat tangan laki-laki itu. "Andra.."


"Jeremy.."


"Anak-anak kemana emangnya? Kok gak pada turun?" tanya dokter Andra membuat Bu Halimah menghela nafasnya.


"Gitulah.. Anak-anak gak mau turun, bingung bujuknya.."


Keheningan kembali menyapa, hingga suara Aluna membuat suasana semakin meneganh.


"Papa dokter!!" panggil Aluna dengan riang. Bahkan dia mengabaikan Ayah kandungnya.


Hap! Dokter Andra menggendong gadis kecil itu, lalu mengecup pipinya. "Dede lagi apa? Ada Ayahnya disini kok malah didalam?" tanya dokter Andra membuat gadis kecil itu menyembunyikan wajahnya diceruk leher dokter Andra.


Akhirnya Aluna menganggukkan kepalanya dan hal itu membuat hati Jeremy terasa pedih. Buah hatinya sendiri tak mau memeluknya, tapi karena laki-laki dihadapannya ini, gadis kecil itu mau mendekatinya dan memeluknya walaupun sekejap.


"Ayah kangen Luna.. Maafin Ayah ya.." lirih Jeremy, Aluna hanya mengangguk lalu mengajak Keisya ke ruang bermain.


"Maafin Luna, ya.. Terkadang anak-anak memang sangat peka terhadap perasaan Ibunya, sehingga mungkin rasa kecewa mereka ikut membesar dihati.." ucap dokter Andra.


"Sepertinya anda tau banyak mengenai anak-anak saya.." Jeremy menatap dokter Andra dengan senyuman sinis.


Dokter Andra pun terkekeh, "Tentu saja.. Karena saya calon Papa sambung mereka, maka saya harus bisa memahami mereka. Karena bagi saya, psikis dan kebahagiaan anak-anak yang utama.."


"Luna bisa saja terbujuk, tapi Inara? Anak seusia dia sudah mengerti.. Maka dari itu dia gak mau menemui saya.. Padahal saya sudah mencoba membujuknya, sepertinya sekalipun anda yang membujuknya, dia tidak akan mau menemui saya.."


Lagi-lagi dokter Andra terkekeh, "Siapa bilang? Tunggu disini.. Atau mau menyaksikan sendiri?"


Akhirnya dokter Andra, Jeremy dan Bu Halimah pun menuju rooftop, dimana Inara mengunci diri. Ashila dan Nabila yang hendak kerumah sakit, tersentak kaget saat melihat hal itu.


"Dia masa lalumu.. Aku masa depanmu.." celetuk Ashila bernyanyi.


"Haisshhh.. Malah nyanyi! Ada apaan lagi ya? Gak henti-henti, Ya Allah.." lirih Nabila.

__ADS_1


Dokter Andra mengetuk pintu perlahan. "Kakak.. Assalamu'alaikum.. Om dokter boleh ikut disitu gak? Sekalian ngobrol kita Gerah nih dibawah.."


"Kan ada kipas dibawah, Om!" jawab Inara ketus, hingga membuat Jeremy menepuk pundak laki-laki itu.


"Dia tidak akan membukanya.." bisik Jeremy meremehkan.


Ceklek


"Cepet, Om!! Nanti orang itu masuk!!" teriak Inara membuat dokter Andra tersenyum penuh kemenangan. Gadis belia itu mengunci kembali pintunya, Bu Halimah dan Jeremy juga Ashila dan Nabila berada dibalik pintu. Karena ingin mendengarkan percakapan dua orang itu.


"Huaaaahhhh..! Enaknyaa.. Ademmm..." ucap dokter Andra.


Tiba-tiba saja Inara kembali menangis, dokter Andra mendekati gadis belia itu dan mengelus kepalanya dengan lembut.


"Kenapa, Kak? Coba cerita sama Om.." ucap dokter Andra dan Inara langsung memeluknya dengan erat.


"Kakak gak mau ketemu orang itu, Papa.."


Deg!


Jantung dokter Andra berdegup kencang, sedangkan jantung Jeremy mencelos.


"Kakak gak mau ketemu dia, Kakak benci orang itu! Waktu Kakak sakit, waktu Kakak ulang tahun.. Dia kemana? Dia malah pergi sama Ibunya temen Kakak.. Mereka pacaran kayak kucing Kakak, Pa.." isak Inara membuat dokter Andra iba sekaligus menahan tawanya.


Begitupun dengan Bu Halimah juga Ashila dan Nabila, kecuali Jeremy yang merasakan hatinya remuk redam.


"Nak.. Papa tau dan Papa merasakan semua kekecewaan Kakak.. Tapi Kakak harus ingat satu hal sayang.. Kalo gak ada Ayah, maka Kakak gak akan pernah ada di dunia ini.. Kakak boleh kecewa, tapi gak boleh membenci sayang.. Kelak.. Ayah yang akan menikahkan Kakak.. Itu sudah suratan takdir dan tidak bisa di ganggu gugat.. Kakak akan membutuhkan Ayah.. Maka dari itu, Papa minta.. Belajarlah memaafkannya.. Jangan membencinya.. Kecewa boleh, tapi Kakak harus ingat.. Bahwa Kakak harus jadi anak yang berbakti.."


Nasehat dokter Andra membuat Bu Halimah tersentuh. Akhirnya Inara pun mau menemui Ayahnya dan hanya mengecup punggung tangan saja. Tidak mau memeluknya, malah kembali memeluk dokter Andra.


"Maafin Ayah, ya Kak.." lirih Jeremy.


"Udah di maafin, tapi gak usah kesini lagi.." ucap Inara membuat Jeremy menangis tersedu.


"Mulai sekarang Papa aku cuman satu, Papa dokter.. Iya kan, Pa?" tanya Inara dan dokter Andra mengangguk.


"Papa akan membahagiakan kalian.. Karena aku masa depanmu, Neng.." ucap dokter Andra menatap Bu Halimah yang menahan tangisnya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2