
Selama acara lamaran Ashila berlangsung, Bagaskara dan Riki, juga Aisyah dan Nabila lebih memilih untuk duduk di Taman belakang rumah Ashila. Karena terdapat kolam ikan disana, hingga suasana pun terasa damai dan tenang.
"Saya sepertinya harus segera kembali, saya belum lapor sama atasan saya!" ucap Bagaskara.
"Kamu dinas dimana memang? Bisa sampai penggerebekan disana?" tanya Riki.
"Polda Jabar. Selebihnya itu adalah infomasi bersifat rahasia!" jawab Bagaskara membuat Riki terkekeh.
Aisyah dan Nabila hanya menyimak obrolan dua laki-laki itu. Kepala Nabila terasa sakit kembali, tapi dia tidak ingin semua orang merasa khawatir. Dan akhirnya hanya bisa dia tahan.
"Bil! Lu gak apa-apa kan? Itu idung lu mimisan!" Aisyah menutup hidung Nabila dengan selendang yang dia pakai.
"Hah? Gue gak apa-apa kok!" ucap Nabila berkilah.
Riki pun segera menghampiri Nabila dan melarangnya untuk mendongakkan kepala.
"Jangan liat keatas! Biarin aja darahnya keluar! Abang ambil kompresan air hangat sebentar!" Riki pun berlari kedalam rumah Ashila.
"Kenapa lu gak bilang aja sih sama Bang Riki, kalo tadi lu kepukul tongkat kasti pas kaca itu dipecahin!" omel Aisyah.
"Gak usah! Gue gak mau bikin orang lain khawatir!"
Bruk!
Baskom berisi air hangat yang dibawa Riki pun tumpah. Mendengar kata 'orang lain' yang diucapkan Nabila, membuatnya kembali merasakan perih. Gadis itu terluka, tapi dia tak mau bicara.
"Abang.." lirih Nabila.
"Apakah se asing itu kita sekarang? Tak apa jika Abang gak kamu anggap. Tapi tolong, jaga diri kamu sendiri. Nanti Abang minta Ashila siapkan air hangat!"
"Gas, bukannya kamu mau balik kantor? Saya ikut sampai bisa naik bis!" ucap Riki.
Nabila pun menahan kepergian Riki, "Abang.. Maaf.. Ila gak maksud buat menyakiti hati Abang. Ila cuman gak mau bikin semua orang khawatir! Ila gak apa-apa, Bang.."
"Iya Abang tau.. Teruslah bersembunyi dibalik kata gak apa-apa sampai kamu lelah. Sekarang istirahatlah, Abang pamit pulang!"
"Abang.."
"Ila! Jika kehadiran Abang saja gak kamu anggap, gimana bisa Abang kembali mengambil hatimu? Abang gak berhak apapun atas diri kamu, bahkan hanya untuk sekedar menjagamu. Cinta kamu sudah bukan untuk Abang, dan Abang maklumi itu.."
"Saya titip Ila ya, Aisyah.. Pastikan dia menjaga dirinya dengan baik!"
Riki dan Bagaskara pun akhirnya berpamitan pada kedua orang tua Ashila dengan alasan dinas. Karena sejak tadi, Pak Solihin melarang mereka pergi dan akan meminta izin pada atasan mereka.
Nabila menatap pedih kepergian Riki yang sama sekali tak menoleh lagi padanya. Aisyah hanya bisa mengelus lengan sahabatnya itu.
"Lu harus bisa bersikap. Kalo emang lu gak bisa sama Bang Riki, jangan kasih dia cela buat balik lagi ke hidup lu, Bil. Karena itu hanya akan buat kalian sama-sama terluka," Aisyah lalu meminta Ashila untuk membawakan air hangat.
"Gilak! Lu ampe mimisan gini, masih bisa bilang gak apa-apa?" kesal Ashila. "Bang Riki itu sayang sama elu! Sampe dia perhatiin sedemikian rupa. Kalo emang lu gak bisa lagi sama dia, jangan kasih harkos lah!"
__ADS_1
"Harkos apaan, Cil?" tanya Aisyah dengan polosnya.
"Harapan kosong markonah! Gitu aja gak tauu!" omel Ashila.
"Yeee, sensi amat yang abis dilamar!" ledek Aisyah.
"Buset dah, lu ngingetin lagi perkara lamaran! Gue tendang juga lu ke Pluto!"
Aisyah hanya terkekeh saat mendengarkan hal itu. Berbeda Nabila yang merasa pandangannya semakin kabur. Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Dia tak menyangka, efek pukulan tongkat kasti akan berpengaruh sebesar ini.
"Naabilaaa!!" pekik Aisyah dan Ashila saat Nabila mulai tak sadarkan diri.
"Aya naon atuh Acil?" Mama Ashila tersentak kaget saat mendengar teriakan itu.
"Bibil pingsan, Ma! Kayak nya kudu dibawa ke Rumah Sakit ini!" panik Ashila.
Pak Solihin pun segera mengeluarkan mobil, dia meminta beberapa ajudannya untuk mengawal mereka hingga Rumah Sakit. Riki yang masih dalam perjalanan dengan Bagaskara pun langsung berbelok menuju Rumah Sakit. Karena jika ada hal yang terjadi pada Nabila, maka kasus tawuran itu akan diperkarakan. Karena menimbulkan korban.
Sesampainya di IGD, Riki sudah berada disana. Mereka sampai lebih dulu.
"Biar saya yang gendong!" ucap Riki pada ajudan Pak Solihin.
Aisyah dan Ashila segera melakukan administrasi, agar Nabila segera ditangani. Karena Rumah Sakit itu, termasuk salah satu Rumah Sakit dengan pelayanan yang kurang baik. Berbeda dengan Rumah Sakit tempat Nabila bekerja dulu.
"Harus segera dilaksanakan CT-scan pada kepala, sepertinya ada luka memar di area tengkorak kepalanya. Semoga tidak ada hal yang serius!" ucap dokter yang menangani Nabila.
"Lakukan yang terbaik, dok!" pinta Riki dengan wajah khawatir.
Serapat-rapatnya menyembunyikan bangkai, maka akan tercium juga. Bu Halimah baru saja selesai menidurkan anak-anaknya. Karena sejak tadi, mereka kelelahan setelah melakukan kegiatan arum jeram.
"Apa?! Jadi sekarang Bibil dimana Pak Ihin?" tanya Bu Halimah yang khawatir.
"Di Rumah Sakit Permata! Tapi Ibu gak usah panik, Bibil sudah ditangani dokter. Sedang pindai CT-scan ditemani oleh Riki sama Acil.." jawab Pak Solihin.
"Titip anak-anak ya, Pak! Besok saya sama dokter Andra langsung meluncur kesana!" ucap Bu Halimah sebelum panggilan itu di tutup.
Bu Halimah pun menelepon Ashila dan Aisyah, namun tak ada yang mengangkatnya. Dokter Andra yang baru saja selesai makan merasa heran melihat Bu Halimah.
"Neng kenapa? Kok mukanya kusut amat!" tanya dokter Andra.
"Si Bibil tuh di Rumah Sakit! Tadi pas mau pulang mereka dihadang anak-anak tawuran, kepala si Bibil kena tongkat kasti! Sekarang lagi pindai CT-scan!"
Uhukk.. Uhukk..
"Apa?! Kenapa gak ada yang laporan sama Akang?!"
"Mana Neng tau atuh, Akang! Pokoknya besok kita pulang ya, Kang! Neng gak tenang kalo begini," lirih Bu Halimah.
"Iya-iya! Besok kita pulang ya!" ucap dokter Andra yang ikut tak tenang.
__ADS_1
Usai pindai CT-scan selesai, ternyata ditemukan pendarahan pada kepala Nabila. Untung saja itu berada diluar area otak. Tapi tetap saja, Nabila harus menjalani operasi darurat malam itu juga.
"Allah.. Anak Ibu.." lirih Ibu Nabila yang baru saja tiba bersama Pak Arifin.
"Pak.. Bu.. Yang kuat, ya!" Ashila memeluk Ibu Nabila.
Riki pun menahan tubuh Pak Arifin, "Maafkan saya, Pak.. Saya lalai menjaga Ila. Saya yang salah!" lirih Riki.
"Kuatlah.. Demi Nabila.." ucap Pak Arifin yang terus mencoba menguatkan diri.
Nabila membutuhkan beberapa labu darah dengan golongan B, yang kebetulan tengah kosong di Bank Darah Rumah Sakit Permata. Hingga akhirnya Aisyah dan Ashila juga Bagaskara bekerja keras untuk mencari golongan darah itu. Sedangkan Riki sudah mendonorkan darahnya, karena golongan darah keduanya sama.
'Walaupun aku tidak bisa memilikimu, setidaknya ada darahku yang mengalir dalam darahmu, Ila..' batin Riki.
Operasi Nabila baru dilaksanakan sekitar pukul 2 pagi, kemungkinan akan selesai sekitar pukul 6 hingga 7 pagi. Semua orang khawatir menunggu hingga operasi itu selesai. Sedangkan Bagaskara kini tengah bersama Aisyah untuk mengambil darah.
"Jangan khawatir. Sahabat kamu itu, akan baik-baik saja!" ucap Bagaskara memecahkan keheningan.
"Insya Allah.. Apakah para pelaku yang notabene remaja itu bisa diperkarakan?" tanya Aisyah.
"Jika masih dibawah usia 17 tahun, mereka hanya akan dibina, tapi tidak ditahan. Saya akan melakukan yang terbaik, semoga tidak ada lagi kejadian seperti ini!" ucap Bagaskara.
Sekitar pukul 7 pagi, operasi baru selesai. Nabila pun dibawa ke Ruang ICU. Siapa sangka, rupanya semalam Bu Halimah dan dokter Andra langsung berangkat ke Bandung karena khawatir terhadap Nabila.
"Buset! Alamat Mak Haji ngamuk ini mah!" lirih Ashila berbisik pada Aisyah.
"Kalian bertiga Ibu kutuk jadi candi! Bisa-bisanya ya, kalian gak bilang kalo kenapa-kenapa dijalan! Kalian ini anggap Ibu apa, hah?!"
"Kalian itu tanggung jawab Ibu! Kenapa kalian gak bilang?! Kalian bikin Ibu jantungan terus! Kalian emang gak ada yang sayang sama Ibu!" Bu Halimah mulai terisak.
"Maafin kita ya, Mak Haji.." lirih Ashila.
"Maaf! Maaf! Gak ada kata maaf! Pokoknya terserah kalian deh! Ibu gak akan rewelin dan omelin kalian lagi!"
Ashila dan Aisyah langsung memeluk Bu Halimah, sedangkan para orangtua merasa terharu bercampur iri. Karena anak-anak mereka jauh lebih dekat dengan Bu Halimah dibandingkan dengan orangtua mereka sendiri.
"Sudah Neng.. Insya Allah Bila baik-baik saja!" dokter Andra menenangkan Bu Halimah.
"Akang juga! Kenapa sih ngizinin mereka buat pulang duluan?! Kalian ini sama aja"
'Kena amuk juga akhirnya.. ' batin Dokter Andra.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤