
Kita dipertemukan bukan tuk disatukan..
Tapi untuk belajar saling melepaskan..
Tuhan ciptakan Cinta untuk semua manusia..
Tapi mengapa kita tak bisa bersama..
Sang maha cinta mempersatukan kita tuk menghargai arti kata beda..
Tapi mengapa ku tak bisa terima..
Kehadiranmu hanya untuk menghilang..
Inikah yg namanya cinta segitiga..
Antara aku kamu dan sang maha pencipta..
Tak ada yang bersalah karna kita berada..
Di iman yang berbeda namun dalam amin yang sama..
Bukan takdir yang salah hanya kita memaksa..
Berharap agar ada yang mau mengalah..
Kita berdua tau DIA bukan pilihan..
Tak ada jalan kita harus merelakan..
Tapi mengapa ku tak bisa terima..
Kehadiranmu hanya untuk menghilang..
Inikah yg namanya cinta segitiga..
Antara aku kamu dan sang maha pencipta..
Tak ada yang bersalah karna kita berada..
Di iman yang berbeda namun dalam amin yang sama..
Setiap hari, Aisyah akan mendengarkan lagu itu. Lagu yang sangat pas dengan kisah yang dia jalani. Tak terasa sudah sebulan berlalu, sejak kejadian itu Aisyah tak pernah mau bertemu dengan Arya. Meskipun hampir setiap hari Arya selalu menyempatkan diri untuk menemuinya dan meminta maaf.
"Ais..! Lu gue panggil-panggil kaga nyahut ih!" kesal Ashila.
"Eh.. Ada apa? Gue gak denger, Acil.." jawab Aisyah sambil membereskan baju-bajunya.
"Lu beneran mau balik? Berapa lama? Jangan bilang lu gak akan balik lagi ya!" Ashila mendekati Aisyah dan duduk disampingnya.
Aisyah hanya diam, pikirannya entah berada dimana. Yang pasti, hatinya sangat terluka. Dia belum bisa menerima kenyataan jika kisah cintanya kandas karena benteng tertinggi yang tak akan mungkin bisa mereka lewati.
__ADS_1
"Sampai kapan, Ais?" tanya Nabila yang kini berdiri didepan pintu kamar Aisyah.
"Belum tau, Bil, Cil..! Lagian gue kan besok baliknya, kalian takut kesepian banget sih gak ada gue," goda Aisyah sambil tertawa. Namun tak selepas dulu.
"Itu pertanyaan Acil yang lu jawab, bukan pertanyaan gue!" ucap Nabila, membuat Aisyah dan Ashila menoleh.
Nabila mendekat dan duduk disamping kanan Aisyah, "Sampai kapan lu akan ngehindarin masalah? Masalah itu di selesaikan, bukan ditinggalkan. Buat apa sekarang lu pergi? Buat sembunyi dari Mas Arya?"
Aisyah menghentikan aktifitasnya, dia menoleh pada Nabila dengan senyuman. "Gue butuh waktu, Bil. Sama kaya lu menyelesaikan semua masalah lu sama Bang Riki. Semuanya gak sesimple itu."
Nabila dan Ashila terdiam saat mendengar ucapan Aisyah. "Kita saling nyaman, kita saling menyayangi dan kita saling mencintai. Tapi kalian tau? Kita sadar, kita berbeda. Rumah kita memang sama, tapi tempat ibadah kita yang berbeda. Begitu kokoh dinding yang menghalangi kita, begitu sulit dinding itu kita robohkan."
"Kadang gue suka bertanya-tanya, kenapa Allah hadirkan rasa ini? Kalo kenyataannya, sampai kapanpun gue sama Mas Arya gak akan bisa bersatu," lirih Aisyah.
Melihat airmata Aisyah mulai turun dipipinya, Nabila dan Ashila memeluk erat Aisyah hingga ketiganya ikut terlarut dan menangis bersama.
"Eh.. Eh.. Eh.. Ini anak gadis malah pada pelukan sambil nangis! Udahan ih, kasian tamu Acil sejak tadi nungguin," ucap Bu Halimah membuat Ashila mengerenyitkan dahinya.
"Tamu? Siapa Mak haji? Perasaan Acil kaga ada janjian sama orang dah!" Ashila bangkit dan mencoba melihat siapa yang datang dari atas. Karena ruang tamu bisa terlihat dari dekat kamar Aisyah.
"Buset! Ngapain sih kemariiii.. Gue pan belum mandiiii..!" omel Ashila kebingungan.
"Siapa sih, Cil? Heboh amat si!" ejek Nabila lalu bangkit dan melihat siapa yang datang.
Nabila sedikit terkejut, dia menatap Ashila dengan tatapan penuh pertanyaan. Namun belum Nabila bertanya, Bu Halimah sudah menggiring Aisyah ke kamarnya untuk membersihkan diri.
"Eksekusi pertanyaannya entar malem aja! Sekarang mandi, kasian itu tamu nunggu dari tadi!" omel Bu Halimah. Lalu dia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya.
"Oh iya Bu, tak apa-apa. Ngomong-ngomong kok sepi ya, Bu?" tanya Defri penasaran.
"Biasalah, namanya juga anak-anak gadis. Jam segini pada rebahan aja di kamar, mungkin pada kelelahan," jawab Bu Halimah.
"Emm, gini Bu. Sebenernya saya kesini mau izin untuk ajak Ashila pergi nonton. Mungkin pulangnya akan kemalaman, apa Ibu mengizinkan?" gugup Defri saat bertanya.
"Ibu sih gak apa-apa, tapi tolong jangan terlalu larut. Karena sekarang, Ashila menjadi tanggung jawab Ibu disini." Defri mengangguk, hatinya begitu lega mendengar jawaban Bu Halimah.
Tok.. Tok.. Tok..
Mendengar suara ketukan pintu, Bu Halimah dan Defri menoleh dan mereka sedikit terkejut saat melihat Arya datang dalam keadaan kacau.
"Astagfirullah, Nak Arya! Kok bisa begini?" tanya Bu Halimah dengan panik.
"Astaga Arya! Sudah ku bilang jangan memaksakan diri!" bentak Defri lalu membopong tubuh Arya ke kursi tamu.
Nabila dan Aisyah yang mendengar keributan dibawah, langsung turun. Tubuh Aisyah terasa lemah tak bertulang. Apalagi saat melihat kondisi Arya yang kacau balau. Tubuhnya pucat dan terlihat darah mengucur dari dahi dan hidungnya.
"Mas Arya," lirih Aisyah menghampiri Arya.
"Ais.." Arya tersadar saat mendengar suara Aisyah. Walaupun dia dalam keadaan setengah sadar. "Maafin Mas, Aisyah.. Mas sayang kamu.."
"Cukup, Mas! Diem disitu, aku obati luka kamu dulu," lirih Aisyah. Nabila datang membawa air hangat dan kotak P3K untuk mengobati luka Arya.
__ADS_1
Ashila baru saja selesai bersiap, namun dia terkejut saat melihat Arya. "Astagfirulloh, itu kenapa bisa begitu?!"
Mereka hanya diam, tidak ada yang bicara. "Astaga, Arya!" Riki datang tanpa mengucapkan salam, nafasnya tersenggal-senggal. Sepertinya dia memang berlari untuk mencari Arya.
Nabila akan memberikan segelas air putih, namun di dahului Bu Halimah. "Minum dulu! Ceritain sama Ibu ada apa ini? Bisa geger ni warga sini kalo liat kondisi begini!" ucap Bu Halimah dengan sedikit kesal.
Segelas air putih itu sudah tandas, namun nafas Riki belum stabil. "Arya demam sudah 3 hari ini, dia terus memaksakan diri untuk bertemu Aisyah. Tadi Riki tinggal sebentar buat beli obat, tapi dia pergi pakai motor si Burhan! Waktu Riki susul, motornya dah penyok! Kata yang punya kios, Arya nabrak pohon dan langsung lari sempoyongan kesini," ucap Riki menjelaskan.
"Astagfirulloh," lirih mereka semua.
Arya hanya diam dan menatap Aisyah dengan tatapan kerinduan. Sedangkan Aisyah membersihkan luka Arya dengan airmata yang tidak bisa berhenti mengalir.
"Jangan menangis, Ais. Mas baik-baik saja," lirih Arya.
"Baik-baik saja apanya?! Kamu kacau, Mas! Kamu gak baik-baik aja, luka kamu ini membuktikan kalau kamu sakit!" bentak Aisyah dengan airmata dipipinya.
"Hati Mas jauh lebih sakit, Aisyah. Apalagi melihatmu menangis seperti ini," Arya mengusap airmata dipipi Aisyah.
"Sampai kapan, Mas? Sampai kapan kita akan seperti ini," lirih Aisyah.
"Tuhan menciptakan kita berbeda, karena ia mau kita sama-sama berpikir dewasa dan tumbuh sesuai jalan yang kita ambil masing-masing, Mas. Saat ini, ketika kita sama-sama tau, bahwa kebahagiaan tidak sekedar bersama dan berjalan beriringan. Aku harap, aku bukanlah salah satu penghalangmu atau alasanmu untuk tetap diam-diam mencintai. Aku akan tetap mendo'akan dan mencintaimu dengan caraku," Aisyah mengusap luka itu dengan perlahan.
Arya menurunkan tangan Aisyah didahinya, "Aku mencintai Tuhanku, begitu juga aku mencintaimu. Tapi begitu menyiksa untukku dalam memilih, karena semua ini tentang kenyataan, Aisyah. Kenyataan tentang kita yang berbeda, Ais. Kita berbeda karena kita tak sama, kita berbeda jauh. Karena Tuhan kita tak sama. Apakah cinta kita terlarang, Aisyah? Hanya karena iman kita yang tak sama, hingga kita tak bisa bersama."
"Kitabku berbeda dengan kitabmu, Aisyah. Tuhanku berbeda dengan Tuhanmu, Aisyah. Sampai sejauh itukah kita berbeda? Bukankah harusnya perbedaan bisa disatukan oleh cinta? Karena cintalah yang menyatukan semua perbedaan, Aisyah. Tak bisakah kita tetap bersamal? Tak bisakah kekuatan cinta yang kita miliki, menyatukan perbedaan ini?"
Semua orang terdiam, sungguh rasanya sakit menyaksikan dua anak manusia yang saling mencintai namun terhalang oleh kenyataan bahwa iman mereka berbeda. Ini bukan hanya sebatas hubungan antar manusia, tapi juga Tuhan.
"Mas Arya.. Jika saja Istiqlal dan Katedral diberi nyawa, siapa yang bisa menjamin jika mereka tidak akan jatuh cinta? Ini lebih sulit dari sekedar cinta beda rasa atau cinta beda negara, Mas. Cinta beda agama, hanya memiliki dua pilihan, Mas. Memilih pasanganmu atau memilih Tuhanmu."
"Dengerin aku, Mas Arya! Tetaplah bertepuk erat pada agamamu, tetaplah baca kitab sucimu. Dan salah satu cara aku mencintaimu adalah dengan tetap membiarkanmu mencintai agamamu, Mas. Karena butiran rosario milikmu, tidak akan pernah bisa bersatu dengan butiran tasbihku, Mas."
"Siapa yang gak terpukul, Mas? Disaat aku membaca Al-qur'an, kamu membaca alkitabmu. Saat aku menggenggam erat tasbihku, kamu menggenggam erat rosarios mu, Mas. Cukup ya, Mas. Mari kita berpisah dengan cara yang baik, seperti saat awal kita bertemu dengan baik-baik juga," lirih Aisyah.
Arya menangis tersedu, begitu juga Aisyah yang langsung pergi begitu saja. Mereka tak bisa melakukan apapun, selain menguatkan keduanya. Nabila segera menyusul Aisyah, sedangkan Ashila bingung harus melakukan apa.
"Tak apa, Acil.. Pergilah.. Kasian Defri udah nunggu kamu dari tadi.. Aisyah ada Nabila, Arya ada Riki.. Kalian pergilah.." ucap Bu Halimah, namun Defri dan Ashila terdiam.
"Pergilah Def! Biar Arya jadi urusan Abang, tetaplah teguh pada tujuan utamamu. Bukan berarti kamu tak bersimpati terhadap sahabatmu, tapi kamu juga harus mementingkan dirimu," Riki mencoba meyakinkan keduanya.
"Baiklah, Bang! Saya titip Arya, saya jalan dulu," Defri mengajak Ashila pergi. Dengan berat hati, Ashila pun mengikuti Defri.
Terkadang sebagai manusia, kita selalu bertanya pada Tuhan. Sampai kapan ia akan menguji kita dengan berbagai ujian hidup. Tapi bagaimana jika Tuhan membalikkan pertanyaan itu? Sampai kapan, kalian tidak mensyukuri nikmat dariku? Maka dari itu syukuri dan jalani semua alur kehidupan yang Tuhan berikan.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤