Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Obrolan 2 Lelaki


__ADS_3

"Andaikan kamu tau gimana rasanya tertidur dengan airmata yang masih mengalir, dengan perasaan yang kacau dan hati yang selalu menanti sebuah kabar.. Hanya sebuah kabar, apakah hal yang sulit A?" lirih Nabila membuat Farhan merasa semuanya di ujung kehancuran.


"Disaat aku jatuh, disaat sahabatku tertimpa musibah.. Adakah kamu disampingku, A Farhan? Walau hanya untuk bertanya, 'apakah kamu baik-baik saja?'. Bahkan untuk hal itu pun kamu gak ada.."


Farhan tak kuasa lagi menahan perih dalam hatinya. Hingga airmata nya pun ikut menetes. "Maafkan Aa, sayang.. Semuanya emang kesalahan Aa.. Aa terlalu berjuang untuk masa depan kita dan mengabaikan masa yang sedang kita jalani.. Maafin Aa.." lirih Farhan penuh penyesalan.


"Aku lelah.. Mari kita terbiasa tanpa kabar, sampai menjadi biasa-biasa aja. Belajar menjadi benar-benar asing, setelah ikatan pertunangan kita aja gak bikin kita sepaham. Karena bukan jarak yang memisahkan, melainkan ego kita yang lelah tunduk oleh perasaan. Apa yang Aa mau dan apa yang aku mau udah gak sejalan. Langkah kita udah berbeda tujuan, semakin kita banyak bicara, semakin menambah rumit keadaan.. Dan semua itu gak akan pernah terselesaikan.."


Jantung Farhan berdegup kencang, sungguh dia tak ingin sebuah perpisahan. Dia hanya ingin mempertahankan dan memperbaiki semua kesalahan yang telah dia buat. Farhan kembali menggenggam tangan Nabila dengan erat.


"Sayang.. Semua pertengkaran ini gak masuk akal.. Kalo kita saling mencintai, kenapa kita harus pergi dan berakhir? Kita hanya lelah berjuang.. Kamu lelah memberi kesempatan dan Aa lelah untuk meyakinkan diri.."


"Hubungan kita ibarat rumah, sayang.. Jika ada atap yang rusak, kita perbaiki.. Bukan pindah rumah.. Oke, Aa kasih kamu waktu untuk menenangkan diri dan Aa membuktikan kembali cinta Aa yang tulus buat kamu. Aa gak mau, pernikahan kita yang sudah di depan mata lenyap begitu saja hanya karena ego kita masing-masing.."


Nabila hanya diam, dia tidak tau lagi apa yang harus dia katakan. "Biarkan aku sholat istikharah dulu, untuk mencari jawaban. Bertahan atau melepaskan.."


Hening..


Baik Nabila maupun Farhan tidak ada yang menyentuh makanan mereka. Hingga akhirnya Farhan memutuskan untuk membungkusnya. Tak ada pembicaraan selama perjalanan mereka menuju Rumah Sakit.


"Aku masuk kedalem dulu, makasih udah meluangkan waktu berharga Aa buat aku.." pamit Nabila.


Farhan hanya menghela nafasnya dengan berat, karena Nabila langsung pergi begitu saja. Entah apa yang ada di pikiran Farhan, dia melajukan mobilnya menuju Kodam. Setelah itu dia meminta izin untuk bertemu dengan Lettu Riki Ardiansyah, sesuai dengan nama yang ia dapatkan dari calon mertuanya.


Riki cukup terkejut saat melihat Farhan disana, akhirnya mereka memutuskan untuk mengobrol di salah satu cafe yang berada disamping kantor Kodam.


"Apa kabar, Riki?" tanya Farhan membuat Riki mengerenyitkan dahinya.


"Bapak sudah cerita semuanya tentang kamu.. Dan jujur, saya merasa iri dengan cinta yang kamu berikan pada calon istri saya.."


Hening..


"Pandanglah langit sebagai langit, jangan pernah kamu merasa mampu meraihnya bahkan memeluknya.. Kalau kamu rasa gak sanggup memilikinya jangan.. Jangan pernah mencoba untuk meraihnya.." ucap Riki membuat Farhan seketika menatapnya.

__ADS_1


"Itu ucapan Bapak Ila saat dulu saya melamarnya.. Usia saya waktu itu mungkin sekitar 17-18 tahun, saya berpikir keras bagaimana caranya agar saya bisa meraih cita-cita dan Ila pun bisa saya raih.. Maka saya memberanikan diri meminta Ila pada Bapak saat itu.. Tapi Bapak mengatakan hal itu, dan itu yang membuat saya harus berjuang kembali untuk bisa mendapatkan Ila.. Sayangnya saya terlambat.."


"Lalu apa yang kamu rasakan terhadap dia saat ini?" Farhan menatapnya dengan serius.


"Jujur atau?" pertanyaan Riki menggantung.


"Jujur.. Dan saya terima apapun jawaban itu.."


Riki menghela nafasnya, lalu dia mengeluarkan cincin yang selalu terselip dalam dompetnya. Dia menyimpan cincin itu di hadapan Farhan. "Sampai saat ini, perasaan saya untuk Ila tidak pernah berubah sedikitpun. Tidak pernah berkurang walau 0.01%, tidak pernah berakhir dan tidak akan pernah berakhir.."


"Bagi saya, tidak peduli Ila merasakan hal yang sama atau tidak. Tapi bagi saya, senyuman dan kebahagiaan dia adalah hal yang paling utama. Tidak peduli saya bisa memilikinya atau tidak, rasa ini akan selalu tersimpan rapi.."


"Kalo kamu menikah dengan perempuan lain? Apakah kamu tidak berpikir itu akan melukai hatinya?" tanya Farhan lagi.


"Sudah saya bilang.. Rasa untuk Ila, sudah tersimpan rapi.. Sekalipun nanti saya bertemu dengan orang baru dan memulai hubungan baru, saya pun akan menciptakan rasa yang baru.. Perasaan saya untuk Ila sudah tersimpan rapi dan tidak ada satu orang pun yang bisa merubahnya.." jawab Riki dengan penuh ketegasan.


Farhan merasa jika dirinya telah kalah dan hal itu disadari oleh Riki. "Kamu beruntung menjadi laki-laki pilihannya.. Karena Ila bukanlah tipikal wanita yang mudah untuk jatuh hati.. Jika saya berniat, sudah sejak awal saya akan merebut Ila dari kamu.. Tapi itu bukan perkara mudah, karena Ila sudah memilih kamu menjadi pelabuhan terakhir hatinya.."


"Saya pernah membaca sebuah syair, yang sampai sekarang saya masih ingat. Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk pria, bukan dari kepala untuk dijadikan atasannya. Bukan dari kaki untuk dijadikan alasnya. Tapi dari sisinya, untuk dijadikan teman hidup. Dekat dengan lengan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk dicintai.."


"Ila bukan perempuan yang gila harta, dia hanya perempuan yang selalu menginginkan kasih sayang tulus. Sebuah perhatian kecil yang bahkan hal itu tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.."


Riki jauh lebih mengerti karakter Nabila dibanding Farhan, karena memang kedekatan mereka bukanlah dalam waktu yang sebentar.


"Ya, dan sekarang dia meminta waktu untuk sendiri. Dia bahkan berniat mengakhiri hubungan ini. Bahkan saya pun berpikir kamu menjadi salah satu penyebabnya.." ucap Farhan dengan jujur membuat Riki terkekeh.


"Sepertinya dugaan saya benar, kamu belum mengenal Ila sejauh itu.."


"Lalu saya harus bagaimana?" tanya Farhan menatap Riki penuh harap.


"Kamu mempertanyakan hal itu pada saya? Apa tak salah?" Riki tersenyum miris, sedangkan Farhan hanya bisa menunduk dengan tangan yang mengepal.


"Kalo kamu memutuskan untuk menikah, maka kamu harus punya dasar pernikahan yaitu tujuan yang sama dengan dia. Bukan hanya sekedar cinta, karena cinta akan pudar seiring berjalannya waktu. Kamu cinta sama Ila karena apa? Karena wajahnya? Semuanya akan memudar, apa cinta kamu sama dia pun akan menghilang?" tanya Riki dan kembali membuat Farhan terdiam.

__ADS_1


"Menikah itu ibaratkan kamu naik bis dari Jakarta, Ila naik bis dari Bogor dan tujuan kalian sama-sama mau ke Bandung. Yang penting tujuannya sama, bukan berarti gak ada masalah. Bisa aja masalahnya habis bensin, ban bocor. Tapi kalian bisa saling menyelesaikan masalah, dengan bertanya sama-sama masih mau ke Bandung kan? Selagi kalian sepakat masih dengan tujuan yang sama maka hubungan kalian akan semakin erat terjaga.."


"Cinta itu bonus, dulu saya sering bersama Ila maka cinta itu hadir. Apalagi kalian yang nantinya akan tidur seranjang setiap hari?"


Farhan sungguh malu dengan dirinya sendiri, usianya 2 tahun lebih tua dari Riki. Tapi sikap Riki jauh lebih dewasa dibanding dirinya. Farhan merasa jika Riki lah yang mampu memberikan kebahagiaan untuk Nabila, bukan dirinya.


"Saya paham sekarang, kenapa Nabila sangat mencintai kamu. Saya mengerti, kenapa dia sulit melupakan kamu. Sepertinya saya yang akan mundur, tolong jaga Nabila baik-baik.." lirih Farhan namun Riki langsung memukul wajah laki-laki itu.


Bugh!


"Mana yang kamu sukai, kopi atau teh?!" tanya Riki membuat Farhan mengerenyitkan dahinya sambil menahan sakit.


"Jawab!" bentak Riki.


"Kopi.." jawab Farhan walaupun dirinya tak mengerti.


"Saat ini dihadapan kamu hanya ada teh! Apa kamu akan meminumnya?!" Riki menatap Farhan dengan tatapan tajamnya.


"Kalo tidak ada, apa boleh buat? Saya menerima apapun yang disediakan untuk saya.."


Riki mengangguk dan menepuk pundak Farhan, "Ibaratkan cinta kamu terhadap Ila.. Hanya dia wanita yang kamu lihat, maka hanya dia yang kamu pilih.. Karena kamu tidak memiliki pilihan lain.. Belajarlah memperjuangkan apa yang telah susah payah kamu dapatkan, karena dibanding kopi, teh akan jauh lebih bisa memuaskan dahagamu.."


Farhan diam, mencoba mengerti apa yang Riki ucapkan. Sedangkan Riki pergi begitu saja dengan perasaan yang tak menentu.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2