Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Inilah Takdir


__ADS_3

"Kenapa kita harus terus bertemu, Nona?"


Deg!


Aisyah menatap laki-laki itu. Wajahnya memang Arya, tapi suaranya? Aisyah sama sekali tak mengenalinya. Pandangan nya tak pernah terputus dari wajah Bagaskara Arjuna. Seorang Intelejen Kepolisian Negara Republik Indonesia.


"Maaf, Teh! Tapi saya tidak bisa ditatap terus menerus seperti ini. Nanti jadi dosa untuk saya, begitupun untuk Teteh!"


Refleks, Aisyah pun menjauhkan tubuhnya dari Bagaskara. Namun pandangannya masih tak lepas dari laki-laki itu.


"Sampai kapan Teteh akan menatap saya seperti itu? Saya risih!" ujar Bagaskara membuat Aisyah memalingkan wajahnya, namun tetap saja airmata itu lolos dari pipinya.


"Ma-maaf! Saya salah! Saya minta maaf! Saya kira.." Aisyah tak mampu melanjutkan kata-katanya.


"Tak apa! Saya sudah maafkan Teteh! Tapi.. Di dunia ini bukankah kita memiliki tujuh kembaran yang tersebar di seluruh dunia? Mungkin saya adalah salah satu yang memiliki wajah sama dengan kekasih Teteh yang telah tiada.."


"I-iya.. Sekali lagi, maaf!" ucap Aisyah lalu melanjutkan langkahnya dengan deraian airmata.


Namun selendang yang Aisyah gunakan untuk menutupi kepalanya melayang tertiup angin. Hingga Bagaskara menangkapnya dan memberikan itu pada Aisyah.


"Inilah takdir yang harus kita terima, Teh.. Jangan pernah merasa jika Allah itu tidak adil.. Karena Allah takkan mengambil sesuatu, jika tidak menggantinya dengan yang jauh lebih baik.."


Deg!


Jantung Aisyah berdegup kencang, namun dia enggan menoleh. Bagaskara memberikan selendang itu dan Aisyah pun berterimakasih.


"Maaf jika saya lancang.. Tapi.. Lebih baik memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Allah.. Agar hati dan pikiran kita tenang.. Saya permisi!"


Entah apa yang merasuki Bagaskara, tiba-tiba saja ia berucap seperti itu. Namun semenjak melihat foto Arya yang begitu mirip dengannya, ada perasaan aneh saat melihat Aisyah.


Nabila pun menghampiri Aisyah yang berdiri mematung. "Ayo, Ais.. Kita sarapan bubur dulu disana!"


Kini Nabila tak membiarkan Aisyah sendirian. Karena Nabila tau, rasanya sangat berat dan begitu menyesakkan. Riki pun hanya mengikuti mereka dari belakang. Bukan hanya Aisyah, Nabila pun tak menyangka jika Bagaskara akan semirip itu dengan Arya. Hanya suara mereka saja yang membedakan.


Bubur yang dirasa-rasa akan enak, nyatanya tak seenak itu. Sebab hati dan pikiran mereka sedang tak sejalan, hingga mereka pun tidak bisa menikmati makanan dengan baik. Banyak hal yang hinggap di kepala mereka, hingga untuk fokus menikmati makanan saja rasanya sulit.


"Boleh gak kalo gue balik duluan ke Bandung? Gue naik bis aja gak apa-apa!" ucap Aisyah membuat Nabila dan Riki menoleh bersamaan.


"Enggak! Kita balik hari ini aja, gue nanti ngomong sama dokter Andra.. Kalo..."


"Bil! Mereka baru aja bahagia.. Mereka baru aja saling mencintai dan mendekatkan diri! Haruskah gue terus-terusan ngerepotin mereka? Gue bisa pulang sendiri, Bil! Gue bukan anak kecil! Kalian nikmatilah liburan kalian.." tegas Aisyah.


"Tapi Ais.. Bu Halimah juga gak akan ngebiarin elu pulang sendirian! Kita semua lebih baik pulang.. Daripada lu harus pulang sendirian!"

__ADS_1


Riki menggenggam tangan Nabila yang mulai terbawa emosi. Entah kenapa, setelah itu Nabila mulai bisa tenang.


* * *


Sedangkan di penginapan, Ashila pun tengah shock. Karena Papa nya mengabari jika ada seseorang yang akan datang malam ini untuk melamarnya. Sedangkan yang Ashila tau, saat ini Defri tengah bertugas di Aceh. Maka bisa dipastikan laki-laki itu bukanlah Defri.


"What?! Siapa sih dek yang mau lamar Teteh! Aishh..!" kesal Ashila pada adik bungsunya.


"Mana adek tau atuh, Teh! Makanya pulang aja deh sekarang! Mama juga ngomel-ngomel nih! Gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba dilamar orang!"


"Iya! Gue balik sekarang!" ucap Ashila emosi.


Bu Halimah pun menatap Ashila yang mengomel sendiri sambil memasukkan baju-bajunya kedalam koper.


"Lho! Mau kemana kamu, Cil?" tanya Bu Halimah mengangetkan Ashila.


"Balik Bandung, Mak! Gilak aja si Papa ngabarin ada yang mau ngelamar! Gue kan ada Mas Defri Mak! Masa iya ada yang ngelamar!" jawab Ashila sambil kesal.


"Yaa Allah.. Yaudah kita semua balik aja deh! Ada-ada aja, Ya Allah.."


Ashila menghampiri Bu Halimah dan memeluknya. "Maafin kita ya, Mak! Kita malah ngerusak hari-hari bahagia Mak Haji ama dokter Andra!"


"Pleasee.. Izinin Acil balik sendiri.. Jangan sampe anak-anak kecewa! Mak udah janji lho mau ajak mereka main arum jeram di Citumang. Acil bisa kok pulang sendiri.."


Dokter Andra pun melarang. Tapi mereka kekeh untuk kembali ke Bandung. Sedangkan Riki dan Nabila yang tak enak pun akhirnya mengusulkan untuk pulang lebih dulu. Bu Halimah dan dokter Andra tak ada pilihan laim, selain melepaskan mereka untuk kembali ke Bandung.


"Hati-hati dijalan! Jaga diri kalian baik-baik!" lirih Bu Halimah. "Nak Riki.. Ibu titip anak-anak Ibu yang bandel ini ya! Kalo mereka ngeyel.. Tinggal aja dijalan!"


"Siap, Bu! Saya akan jaga mereka dengan baik.." jawab Riki.


Pukul 10 pagi, mereka berangkat. Hanya ada keheningan disepanjang jalan. Mereka hanyut dalam pikirannya masing-masing. Hingga tiba-tiba ada segerombolan anak-anak yang menghentikan mobil mereka secara brutal. Sepertinya mereka tengah tawuran antar sekolah.


"Sial! Bukannya sekolah yang betul malah tawuran!" geram Riki.


Mobil mereka dikerubungi oleh anak-anak yang saling pukul, bahkan saling bacok. Ketiga gadis itu hanya berteriak histeris saat darah melumuri kaca mobil mereka. Jalanan pun mulai ramai oleh para pengendara yang tersendat oleh mobil Riki. Karena tadi jalanan itu lengang.


Melihat Nabila terisak, hati Riki terasa sakit. Dia pun membuka pintu mobil hingga tiga orang anak itu terjungkal. Lalu ia memukuli anak-anak itu satu-satu. Walaupun banyak yang menyerang nya, namun karena memang dia biasa berlatih Riki mampu mengatasinya.


Sirine mobil Polisi terdengar, sebagian anak-anak itu melarikan diri dengan sepeda motornya. Sedangkan sebagian lagi ada yang diam ditempat karena terluka, bahkan ada yang tak sadarkan diri. Riki pun mengumpulkan anak-anam yang masih dalam keadaan sadar sambil memegangi senjata.


"Kalian berlagak jadi jagoan, hah! Kalian pikir keren? Orang tua kalian menyekolahkan kalian susah payah! Tapi mental kalian malah ingin jadi pembunuh! Sudah punya apa kalian, hingga merasa keren dengan seperti ini! Kalo sudah begini, siapa yang menangis?! Ibu kalian dirumah!" bentak Riki menasehati.


Polisi pun tiba, mereka meringkus semua anak-anak itu. Dan inilah takdir yang diciptakan oleh Rindu, Polisi yang datang itu adalah tim Bagaskara yang akan kembali ke Bandung.

__ADS_1


"Apa ada yang terluka, Bang?" tanya Bagaskara dan Riki menggelengkan kepalanya.


"Cuma lecet! Bukan hal yang besar. Cuman tiga gadis itu ketakutan! Apalagi mobil penuh darah dan beberapa kaca dipecahkan mereka!" geram Riki.


"Mohon izin! Biar kami antarkan kalian ke tempat tujuan. Kalian akan kemana?" Bagaskara menatap miris pada mobil yang memang cukup banyak kerusakan.


"Kami akan pulang ke Bandung.." jawab Riki sambil menatap Nabila yang menangis terisak.


Riki bergegas menghampiri Nabila yang ketakutan, kepalanya sedikit terluka oleh pecahan kaca. Sedangkan Aisyah dan Ashila menangis sambil berpelukan. Mobil pun dikepinggirkan oleh Riki. Dia membantu Nabila juga Ashila dan Aisyah keluar dari mobil.


"Kalian baik-baik aja kan?" tanya Riki dan ketiganya menganggukkan kepala.


"Kamu enggak, Ila.. Jangan katakan kamu baik-baik saja! Sekarang kalian tenang ya.. Insya Allah kita tetap pulang ke Bandung. Tapi.. Pakai mobil Polisi. Gak apa ya? Yang penting kita sampai.."


Mereka hanya menganggukkan kepalanya, "Abang gak mau bikin Bu Halimah sama Dokter Andra khawatir. Biar mobil ini nanti di urus sama temen letting Abang.. Bismillah kita pulang ya!"


Mobil patroli polisi pun sudah disiapkan oleh Bagaskara, ketiga perempuan itu duduk dikursi belakang. Karena mobil patroli itu kecil. Sedangkan Riki duduk disamping kemudi, menemani Bagaskara yang menyetir.


Aisyah tak mampu menatap spion, dia mengalihkan pandangannya agar tak melihat wajah Bagaskara. Sedangkan Ashila tertidur karena lelah menangis. Nabila sendiri pun hanya menatap jendela sampingnya.


"Ila.. Mau ke Klinik dulu? Kita obati lukanya ya.." Riki menatap ke belakangnya.


"Nggak usah, Bang! Ila baik-baik aja kok!" tolak Nabila.


"Mampir rest area saja ya Bang? Bersihkan dulu lukanya pakai betadine. Baru lanjutkan perjalanan," ucap Bagaskara dan diangguki oleh Riki.


"Terimakasih! Saya beruntung bertemu dengan kamu. Tapi jangan panggil Abang terus! Berapa usiamu?" tanya Riki.


"Saya 30 tahun.."


"Kita seumuran! Panggil nama saja.." pinta Riki dan Bagaskara pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Inilah takdir, Riki! Tak ada sebuah kebetulan didunia ini.. Karena semuanya sudah Allah atur sedemikian rupa.."


"Benar, Gas! Inilah takdir.. Tanpa kita tau apa yang akan terjadi didepan sana.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2