
Katakan kepadaku..
Haruskah jalan ini ku lalui..
Tak bisakah waktu kuputar kembali..
Saat kita masih bersama..
Jelaskan kepadaku..
Mengapa takdir ini yang terjadi..
Saat kumengerti artinya mencinta..
Secepat surga menginginkannya..
Tuhan kembalikan dia padaku..
Karna ku tak sanggup..
Berada jauh darinya..
Kirimkan malaikat cinta untuknya..
Sampaikan pesan dariku..
Yang s'lalu merindunya..
Aisyah menatap Pantai yang terbentang luas dihadapannya. Rasa kerinduan terhadap sosok Arya membuncah dalam dadanya. Aisyah merentangkan tangannya, merasakan setiap hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya.
"Mas.. Aku sangat merindukanmu. Andai saja aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan pernah ucapkan kata perpisahan itu.. Karena ternyata, lebih baik melihatmu dihadapanku walau kita tak bisa saling memiliki.."
Aisyah terisak. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, yang pasti Aisyah butuh ketenangan. Sementara itu di penginapan, Ashila dan Nabila sangat panik karena tak menemukan Aisyah dimanapun.
"Bil! Kan tadi dia bilang mau beli cumi bakar sama elu didepan sana! Kok bisa ilang sih?" omel Ashila.
"Gue tadi shalat maghrib dulu, mana gue tau kalo Ais pergi!" kesal Nabila karena disalahkan.
"Cukup! Gak usah pada ribut, sekarang kita cari Ais sampe ketemu!" tegas Bu Halimah menengahi.
Mereka pun bersiap-siap untuk mencari Aisyah, namun dokter Andra menahan Bu Halimah.
"Neng dirumah aja, kasian anak-anak dah pada ngantuk! Akang aja yang nyari sama Riki, kalian diam disini dan jangan kemana-mana!" tegas dokter Andra.
"Semua salah Bibil, jadi biar Bibil yang cari!" ucap Nabila lalu pergi begitu saja.
Keadaan sungguh sangat rumit, canggung dan mencekam. Nabila pun berjalan seorang diri, namun Riki tetap mengikutinya dari belakang. Karena dia tak ingin Nabila kenapa-kenapa.
Riki kira, Nabila akan terus mencari Aisyah. Nyatanya gadis itu pun menuju Pantai, air mata sudah tidak bisa dia tahan lagi.
__ADS_1
"Kenapa? Kenapa aku harus selalu salah, Tuhan?! Kenapa?! Aku lelahhh jadi manusia paling salah di dunia ini. Aku hanya ingin hidup damai tanpa perdebatan! Hidupku.. Hatiku.. Haruskah sehancur itu?!"
"Aku mengimpikan sebuah ikatan pernikahan yang bahagia! Tak perlu mewah, aku hanya butuh dicintai disayangi dan dijaga! Aku akan menemaninya berjuang, tapi nyatanya aku terbuang.. Aku lelaaahhhhhhhh..." teriak Nabila.
Beruntung Pantai itu sepi, Nabila bisa meluapkan semua perasaannya disana. Dia menangis tersedu-sedu, memukul dan melempar pasir begitu saja.
"Tidak bisakah berikan sebuah kebahagiaan untukku, Tuhaaaannnn?!!"
Riki tak tega, dia menghampiri Nabila dan memeluknya dengan erat. "Istighfar, Ila.. Jangan biarkan hatimu semakin terluka.. Curahkan semuanya pada Abang.. Kebahagiaanmu adalah hal paling berharga dalam hidup Abang.. Tolong jangan seperti ini.."
"Ila lelah, Abang.. Pihak perempuan selalu terlihat salah! Padahal.. Ila hanya lelah harus berjuang sendirian.."
"Abang tau.. Abang tau, Ilaa.. Sudah.. Jangan menangis.. Hati Abang perih.." Riki membawa Nabila dalam pelukannya.
Luka yang baru saja sembuh, sudah kembali tergores oleh luka baru. Nabila hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukan Riki.
Ashila dan dokter Andra terus mencari, mencari dan mencari keberadaan Aisyah. Namun hingga pukul 8 malam, Aisyah belum juga terlihat batang hidungnya.
Aisyah merebahkan tubuhnya diatas pasir, menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang. Dia terus berbicara sendiri, seolah sosok Arya ada disampingnya.
"Mas.. Bintang malam ini, indaaahhhh sekali. Aku masih selalu mengingatnya, saat kamu bilang bahwa aku adalah bintang hatimu. Tapi sekarang, kamu menjadi bintang dalam hidupku.."
"Apakah semua do'aku menerangimu disana? Apakah do'a yang ku panjatkan pada Tuhanku, sampai padamu, Mas?"
"Aku merindukanmu, Mas Arya.." lirih Aisyah, hingga akhirnya tanpa sadar ia menangis hingga terlelap.
Sementara itu, saat ini sedang ada DPO dari pihak kepolisian setempat. Seiring dengan kabar beredarnya sindikat transaksi gelap narkotika di area pantai. Seorang Polisi terus mencari keberadaan orang tersebut, namun dirinya menemukan sosok perempuan yang terbaring di Pantai.
Perlahan dia menghampiri sosok perempuan itu yang ternyata Aisyah. Polisi itu mendekat dan mengecek nadi dalam tubuh Aisyah.
"Dia masih hidup, tubuhnya demam.. Dasar perempuan!" gumam Polisi tersebut.
Aisyah membuka matanya, ia begitu terkejut saat dihadapannya ada sosok Arya. Sontak Aisyah langsung memeluk laki-laki tersebut.
"Mas Arya.. Aku kangen kamu, Mas.. Aku rindu.. Bilang pada Tuhanmu! Jangan ambil lagi kamu dari hidupku, Mas.. Jangan pergi lagi!" isak tangis Aisyah pecah.
Polisi itu mencoba melepaskan pelukan Aisyah, karena dia memang tidak pernah berdekatan dengan wanita.
"Teh! Punten Teteh salah orang, saya bukan Arya!" bentaknya. Namun Aisyah tak berkutik, dia semakin memeluk erat laki-laki iti.
Dokter Andra dan Ashila pun terkejut, mereka menemukan Aisyah namun dengan sosok Arya. Aisyah memeluk erat tubuh laki-laki itu.
"Aisyah..!" panggil Ashila dan Aisyah menoleh dalam pelukan laki-laki itu.
"Acil! Mas Arya gue kembali, Cil..! Dia balik buat gue!" antusias Aisyah yang kemudian tak sadarkan diri.
"Aisyah!!" pekik Ashila dan dokter Andra.
Polisi itu pun terkejut, karena Aisyah pingsan di pelukannya. "Lebih baik kita bawa ke Klinik terdekat!" ucapnya pada dokter Andra.
__ADS_1
Entah karena rasa iba, dia menggendong Aisyah hingga Klinik terdekat. Begitu tercengang nya pula dokter Andra dan Ashila. Karena Riki pun berlari dari arah pantai sambil menggendong Nabila yang juga tak sadarkan diri.
"Allahhh.. Kenapa sih sahabat-sahabat gue begini?" isak Ashila.
"Cil! Jangan nangis dulu napa! Saya masih repot ngurusin dua temen kamu itu!" omel dokter Andra.
Riki dan Polisi itu pun bertatap wajah, alangkah terkejutnya Riki saat melihat sosok Arya disana.
"Arya?" kaget Riki.
"Nanti aja, Bang! Bawa dulu Bibil kedalam!" cegah Ashila.
Aisyah dan Nabila pun diperiksa oleh dokter Klinik tersebut. Rupanya mereka kelelahan dan terlalu banyak berpikir. Hingga usai pemeriksaan, tangan Aisyah tetap menggenggam erat tangan Polisi itu.
Dokter Andra dan Riki juga Ashila pun mendekatinya. "Kamu siapa?" tanya mereka serempak.
"Yang jelas saya bukan Arya seperti yang kalian kira. Nama saya Bagaskara Arjuna! Saya seorang Polisi dan sedang bertugas untuk mengintai beberapa aktifitas ilegal disekitar Pantai. Tapi saya menemukan perempuan ini tergeletak diatas pasir.. Makanya saya mendekati untuk mengecek kondisinya. Tapi tiba-tiba dia..."
"Peluk kamu?" ucap Ashila memotong pembicaraan. Bagaskara menganggukkan kepalanya.
"Wajar! Wajah kamu persis, mirip banget sama Arya! Plek ketiplek banget miripnya, hampir gak ada beda!" Ashila memperlihatkan foto Arya yang berada dalam ponsel Aisyah.
"Astagfirullah.. Siapa dia?" kaget Bagaskara. "Kenapa wajahnya begitu mirip dengan saya? Padahal saya tak punya saudara, apalagi kembar. Saya anak tunggal!"
"Dia.. Kekasih Aisyah, namun.. Berbeda keyakinan.. Mereka kecelakaan dan laki-laki itu meninggal.." ucap Ashila.
"Innalillahi wa inna illahi rojiun.."
"Kamu muslim?" tanya Ashila yang terkejut.
"Ya! Saya muslim. Sejak lahir.. Bahkan saya menempuh pendidikan di Pesantren!" jawab Bagaskara.
Riki mendekati Bagaskara dan memperkenalkan dirinya. "Saya Riki, dulu saya adalah senior Arya di kesatuan kami. Makanya saya pun terkejut."
"Jadi Abang ini TNI? Saya Bagaskara.. Maaf, apa saya bisa pergi? Saya harus kembali bertugas!"
"Silahkan.. Terimakasih atas bantuannya! Dan maaf.. Sudah merepotkan.."
Bagaskara pun melepaskan genggaman Aisyah lalu pergi berpamitan. Sedangkan Aisyah langsunh terbangun, saat mendapati sosok Arya tak ada lagi dia kembali menangis tersedu-sedu.
"Istighfar Ais.. Ikhlasin yaa..!" Ashila memeluk sahabat baiknya itu.
"Aku merindunya.. Sangat merindukannya.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤