
"Bibiiilll...!"
"Nabilaaaa..!"
"Sayang, kamu dimana?"
Semua orang panik. Saat mereka membuka mata, Nabila tak ada diranjangnya. Padahal baru saja adzan subuh berkumandang. Sudah keseluruh penjuru Rumah Sakit mereka mencari, tapi Nabila belum juga ditemukan.
"Gimana Bang? Ketemu?" tanya Bu Halimah saat ia berpapasan dengan Riki.
"Gak ada, Bu! Security juga udah cari kesana kemari, tapi gak ada!" Riki menjambak rambutnya frustasi.
"Sabar ya, Nak.. Sekarang kita shalat subuh dulu! Insya Allah.. Bibil bakalan baik-baik aja.."
Mereka pun memutuskan untuk shalat di ruangan Nabila, sedangkan Riki memilih untuk melaksanakan shalat di Mesjid Rumah Sakit. Dia berdo'a dengan khusyuk, agar Nabila baik-baik saja. Dia tidak mau kehilangan Nabila untuk yang kedua kalinya.
'Yaa Allah.. Aku ingin sembuh.. Aku ingin menikah dengan dia yang aku cintai.. Aku ingin memiliki kehidupan yang bahagia seperti kedua sahabatku.. Kenapa harus aku? Pernikahan yang aku impikan ada didepan mata. Tapi sekarang? Bisakah aku bertahan? Sampai kapan? Aku hanya ingin membahagiakan dia yang sangat aku cintai.. Dia yang selalu kusebut dalam setiap do'a-do'aku..'
Suara itu.. Riki hampir saja membuka sekat antara jama'ah perempuan dan laki-laki. Beruntung Bagaskara segera datang dan mencegahnya. Dia membawa Riki keluar darisana.
"Tenang! Biarkan dia mencurahkan segala isi hatinya dulu. Biarkan dia menerima kondisinya. Perlahan, bro! Dia butuh waktu untuk sendiri."
Bagaskara benar, Riki pun duduk diteras Mesjid ditemani oleh Bagaskara. Sesekali dia menoleh kebelakang, melihat bagaimana calon istrinya itu tengah melaksanakan shalat sunnah. Walaupun dengan tangan yang masih di infus.
"Kamu masih mau disini? Aku mau belikan dulu istriku dan yang lainnya sarapan. Mau sekalian aku belikan?"
"Tak usah, kalian saja.. Aku masih menunggu dia disini.."
Bagaskara pun mengangguk, dia meninggalkan Riki disana. Beruntung jamaah sudah mulai selesai melaksanakan shalatnya. Jadi dia leluasa menatap calon istrinya itu dari balik jendela Mesjid. Walaupun tak sepenuhnya terlihat.
"Abang.."
Riki menoleh saat Nabila memanggilnya, dia terkejut mendapati calon suaminya berada disana.
"Kenapa gak bilang Abang, hm?" Riki menghampiri Nabila dan menggendongnya. "Kami khawatir sayang.. Lain kali, bilang sama Abang ya?"
"Turunin, Bang! Maluu.." lirih Nabila. "Aku masih bisa jalan sendiri.."
"Gak akan! Pasiennya bandel.. Jadi.. Abang gak akan turunin kamu disini!"
Sepanjang jalan mereka menjadi pusat perhatian, namun Riki tidak memperdulikan itu. Kini sangat terasa, bobot tubuh calon istrinya ini semakin terasa ringan.
"Bang.."
"Hmm.. Kenapa sayang?"
"Pernikahan kita sebaiknya.." ucapan Nabila terpotong oleh Riki.
"Iya sayang, Abang tau.. Abang sudah bicara dengan komandan, dua hari lagi kita akad nikah. Sekarang semua surat-surat sedang diurus sama dokter Andra juga Defri.."
__ADS_1
"Abang! Bukan itu yang aku maksud!" Nabila menatap mata Riki, karena laki-laki itu tiba-tiba saja menghentikan langkahnya.
"Lalu.. Apa maksudnya?" Riki menaikan sebelah alisnya.
"Lebih baik.. Pernikahan kita dibatalkan.."
Jedaaarrrrr...
Riki menatap Nabila tak percaya, namun dia tidak memperdulikan segala ucapan yang keluar dari mulut calon istrinya itu.
"Lihat kan.. Anak Bapak yang satu ini ngeyelnya naudzubillah! Udah kabur.. Sekarang malah ngomongin hal yang nyakitin.. Huft.."
Nabila menoleh kearah pandangan mata Riki. Disana Pak Arifin dan Ibunya Nabila menatap pilu. Mereka tidak menyangka, jika anak mereka akan diuji oleh sebuah penyakit yang sangat menakutkan.
"Anak Bapak sama Ibu kuat.. Insya Allah.. Yang nurut ya, Nak.."
Pak Arifins mengatakan hal itu dengan suara bergetar menahan tangis. Begitupun sang istri yang enggan menatap wajah putrinya yang memucat.
"Ibuu.. Ila kangen.."
"Ibu juga sayang, kita ke ruangan kamu ya. Ibu bawa makanan kesukaan Ila.."
Sekuat hati menahan diri untuk tidak menangis memang bukan hal yang mudah. Tapi sebagai kedua orangtua, mereka pun tidak ingin Nabila ikut hanyut dalam kepedihan yang mereka rasakan.
"Astagfirulloh, Bil!"
"Abang harus balik ke kantor sebentar ya, sayang. Sekarang ada Bapak sama Ibu disini. Nanti mungkin Ibu Abang juga kesini. Sayang harus nurut, istirahat yang cukup! Abang sayang kamu.."
Nabila tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya perlahan. Usai kepergian Riki, Nabila menatap sang Ayah penuh rindu.
"Mau Bapak peluk?"
Dia mengangguk, Pak Arifin lantas memeluk putrinya dengan erat. Putri satu-satunya yang ia miliki, putri kesayangannya. Sedangkan sang istri hanya menatap dan menahan tangis.
"Peluklah dia, Teh.. Dia butuh Teteh juga.." bisik Bu Halimah.
Perlahan tapi pasti, Ibu Nabila menghampiri keduanya dan memeluknya erat. Airmata sungguh tak bisa lagi mereka bendung. Apalagi genggaman ditangannya terasa mengerat.
"Anak Ibu kuat dan hebat.. Pasti kamu bisa melewati semuanya, sayang. Ibu akan selalu ada dampingi kamu disini. Ibu gak akan kemana-mana. Sekarang sampai kedepannya, Ibu akan selalu disamping kamu.."
Nabila terisak, dia menatap sang Ibu dan mencium pipinya. "Ila bahagia punya Ibu, Ila bahagia bisa didampingi Ibu. Maafin Ila ya, Bu. Kalo selama ini Ila suka cemburu sama tugas Ibu sebagai pendamping Bapak. Maafin Ila.. Ila takut, Bu.. Ila takut.."
"Jangan pernah takut, sayang! Jangan pernah takut! Kita hadapi ini sama-sama, Bapak percaya kalo anak Bapak kuat!"
Nabila tertidur dalam pelukan kedua orang tuanya, Pak Arifin melepaskan pelukan itu saat dokter datang untuk visite. Sedangkan sang istri sama sekali tidak mau beranjak, ia tidur diatas ranjang sambil memeluk putri mereka satu-satunya.
"Saya melihat pernah ada bekas operasi dikepala Nabila, jadi sepertinya operasi akan beresiko. Dari hasil CT scan kemarin, kami menyimpulkan jika tumor yang tumbuh adalah bagian dari sisa rangkaian pendaraham di otak yang pernah dialami oleh Nabila dulu. Jadi kami akan memulai perawatan Nabila dengan kemoterapi. Karena saat ini, tumor itu masih termasuk dalam kategori tumor jinak. Insya Allah.. Kami akan melakukan yang terbaik.."
Pak Arifin hanya bisa menganggukkan kepalanya, ia tak bisa bicara apapun. Lidahnya terasa kelu, dadanya terasa sesak. Namun sebisa mungkin ia tahan, karena ia harus kuat dihadapan putrinya.
__ADS_1
"Minum dulu, Pak.."
Aisyah memberikan Pak Arifin segelas air putih hangat. Pak Arifin merasa beruntung, karena putrinya dikelilingi oleh orang-orang baik yang menyayanginya dengan tulus.
"Makasih, Nak. Duduklah.. Istirahat, kasian kandungan kamu.." Pak Arifin mengelus lembut kepala Aisyah.
Sore hari, Pak Solihin dan Pak Saepudin datang untuk menjenguk Nabila dan memberikan support pada Pak Arifin. Mereka didekatkan oleh anak-anak, sehingga bisa merasakan rasa sakit yang sama saat mengetahui kondisi Nabila.
"Sing kuat ya, A! Insya Allah Bibil pasti sehat lagi. Ini ujian untuk kita semua.."
Tak lama kemudian Riki pun datang, dia membawa semua camilan kesukaan calon istrinya itu. Para tetua pun mengerti, mereka meninggalkan Nabila dan Riki berdua. Riki butuh waktu untuk meyakinkan Nabila bahwa dia tidak akan pernah meninggalkannya sedikitpun.
"Mau yang mana sayang? Mau kue coklat atau es krim strawberry?"
Nabila menggelengkan kepalanya, "Aku mau ngomong serius sama Abang.."
"Apa hm?" Riki menggenggam tangan Nabila dan mengecupnya. "Kalo kamu minta Abang mundur, Abang gak akan pernah dengerin itu. Abang anggap kamu lagi eror dan butuh maintenance."
"Emangnya aku komputer!" omel Nabila membuat Riki terkekeh.
"Denger sayang.. Abang akan selalu mendampingi kamu, Abang akan selalu ada disamping kamu sampai kapanpun!" tekan Riki dengan suara yang tegas. "Sekuat apapun kamu mendorong Abang untuk pergi, Abang akan tetap bertahan. Dianggap ataupun enggak!"
"Tapi ya kalo gak dianggap mah keterlaluan banget sih. Masa punya calon suami tampan begini dianggurin.."
Nabila terkekeh, dia mengelus pipi Riki dengan lembut. "Untukmu, aku bertahan Bang.."
"Untuk Abang, untuk Ibu, untuk Bapak dan untuk semuanya.. Aku akan bertahan.. Aku gak akan pernah menyerah. Ini hidup aku, Bang. Banyak impian aku yang belum tercapai, termasuk dinikahi sama Abang.."
Cup!
Riki mengecup bibir calon istrinya itu, hingga membuat Nabila refleks memukul pundak calon suaminya itu.
"Nyicip dikit, ya! Insya Allah lusa kita akad nikah. Disini, ditempat ini. Abang sudah dapat izin, nanti setelah kamu sehat baru kita laksanakan resepsi. Yang penting untuk Abang sekarang, kamu resmi menjadi istri Abang. Supaya Abang bisa terus menjaga dan menyentuhmu dengan halal."
Nabila pada akhirnya memeluk Riki dengan erat, dia menangis terisak.
"Terimakasih Bang.. Terimakasih banyak atas segala cinta yang Abang berikan buat Ila.."
"Abang yang terimakasih.. Terimakasih untuk tetap hidup dan bernafas, karena kamu adalah oksigen yang Abang butuhkan.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1