Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Bukan Operasi Biasa


__ADS_3

Operation Room On!


"Baiklah.. Kita belum berkenalan bukan? Saya dokter Andra, saya jauh-jauh kesini demi menyelamatkan nyawa para prajurit yang terluka. Demi keluarganya.. Demi orang-orang tersayang yang menantinya. Termasuk Lettu Riki ini.. Dia.. Calon menantu saya! Maka dari itu.. Saya mohon kerjasamanya.."


"Siap dok!" jawab mereka serempak.


"Bismillah.. Kita akan melaksanakan operasi paru-paru pada tubuh Lettu Riki.."


"Scalpel!" dokter Andra mulai membedah luka calon suami Nabila itu.


"Gunting!"


"Retractor!"


Cairan berwarna merah itu mulai menyembur, dokter Andra dengan cekatan memasukan beberapa kain kasa. Keringat mulai bercucuran didahinya.


"Tolong tambah kain kasa!"


"Suction!" Alat itu mulai menghisap cairan berwarna merah itu.


"Kondisi pasien mulai menurun dok, saya akan segera siapkan transfusi!" ucap sang dokter Anestesi.


Luka dalam paru-paru Riki mulai terlihat, dokter Andra mengecek semua perlahan. Sungguh hatinya sangat teriris, apalagi terbayang wajah Nabila dan juga istrinya.


"Klem!"


"Terlalu banyak pendarahan, dok! Apa kita perlu melakukan operasi lobektomi?" tanya sang dokter pembantu.


Lobektomi adalah prosedur pembedahan yang umum dilakukan untuk mengatasi paru-paru. Operasi ini tergolong dalam operasi besar, sehingga memerlukan persiapan yang matang. (KOREKSI OTHOR BILA SALAH YA!)


"Kita coba ligasi jahitan di lokasi pendarahan, tapi jika tidak berhasil mari kita lakukan operasi lobektomi!" jawab dokter Andra dengan lugas.


"Siap dok!" jawab mereka serempak.


"Vicryl 3-0, jahit!" titah dokter Andra.


"Siap.. Ikat.." jawab sang dokter pembantu.


"Potong!" dokter Andra pun sudah menjahit luka yang berada di paru-paru Riki.


"Siap potong!"


"Mari kita periksa kebocoran udara! Irigation.." dokter Andra pun memasukan cairan itu kedalam paru-paru Riki.


"Anetesiolog, siapkan kantong ambu tekanan 25!" pinta dokter Andra sambil terus memanjatkan do'a dalam hatinya.


"Hampir tidak ada kebocoran udara.. Alhamdulillah.. Berhasil!"

__ADS_1


"Alhamdulillah...."


Sungguh menegangkan, dokter Andra berhasil menyelamatkan sang calon menantu. Air matanya tak terasa menetes bersama cucuran keringat didahinya.


"Tetaplah hidup anakku!"


* * *


Suasana duka pun terasa di Indonesia, tepatnya di Rumah Sakit tempat dokter Andra berdinas. Nabila mendapatkan panggilan dari rekan kerjanya, karena kondisi Farhan yang semakin memburuk.


"Tapi aku bukan calon istrinya lagi! Kenapa harus hubungi aku?" tanya Nabila dengan sedikit kesal dihatinya.


"Pasien terus-terusan nyebutin nama kamu, Bil! Temuilah.. Mungkin.. Ini kali terakhir kamu bisa melihatnya!"


Karena ucapan itu, akhirnya Nabila pun datang. Tentunya ditemani oleh Bu Halimah juga Aisyah dan Ashila yang juga ikut khawatir. Terlihat kedua orang tua Farhan menangis di depan ruang ICU.


"Nabila.." lirih Mama Farhan. "Kenapa kamu menghancurkan hidup anak saya, Bila? Kenapa kamu harus memutuskan ikatan itu?" isak tangis Mama Farhan terasa pilu.


"Sudahlah, Ma!" tegur Papa Farhan. "Itu bukan kesalahan Nabila! Bahkan.. Putramu sendiri sudah mengakui jika itu kesalahan dam kebodohannya. Ikhlaskan..! Agar jalannya semakin mudah!"


"Tapi Pa!" ucapan Mama Farhan terpotong.


"Ma! Siapa tau dengan Bila yang bicara.. Farhan mau melakukan operasi! Karena... Itu bukan operasi biasa!"


"Maaf Tante, Om. Bila kesini bukan atas keinginan Bila! Dan maaf.. Atas segala luka yang memang sudah Bila torehkan dihati Om dan Tante. Tapi.. Sedikitpun Bila gak ada maksud untuk melakukan itu. Perihal hubungan Bila dan A Farhan.. Mungkin memang kami belum berjodoh! Bila permisi.. Izinkan Bila untuk menjenguk A Farhan.."


"Assalamu'alaikum A Farhan!" lirih Nabila mendekati ranjang Farhan.


"B-bila.. Nabila.." Farhan membuka mata dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya A.. Ini Bila.." Sekuat hati Nabila menahan airmatanya. "Cepet sehat ya, A! Kasian Mama dan Papa Aa.."


Farhan menggelengkan kepalanya. "Aa gak kuat.. Lebih baik Aa.."


"Tolong A! Kasihanilah orang tua Aa juga perempuan yang saat ini mengandung anakmu. Setidaknya lihatlah mereka! Mereka masih butuh kamu, A Farhan. Kisah kita telah usai, tapi ikatan persaudaraan kita tak pernah usai. Jangan egois A! Pikirkan semua orang yang mungkin bergantung padamu.."


"Tapi tingkat keberhasilan operasi ini sedikit.. Bisa saja Aa.." lagi-lagi ucapan Farhan terpotong.


"Setidaknya kamu sudah berikhtiar A Farhan! Setelah melakukan operasi cangkok sumsum tulang belakang, insya Allah.. Kamu akan segera pulih A!" bujuk Nabila namun Farhan diam tak bergeming.


"Huft.. Terserah Aa saja.. Yang penting Bila sudah kasih tau! Hidupmu milikmu.. Aku gak berhak sedikitpun mengatur hidupmu A. Karena aku bukan siapa-siapa!"


"Bila pamit.. Cepet sehat dan cepet pulih!"


Nabila pun pergi begitu saja meninggalkan Farhan yang mulai menangis terisak. Nabila pun sama, dia tak bisa menahan tangis saat melihat mantan calon suaminya itu.


"Gimana kondisi Nak Farhan, Bil?" tanya Bu Halimah yang menyambut kedatangan Nabila dari ruang ICU.

__ADS_1


"Mengkhawatirkan, Bu.. Bibil sudah membujuk.. Selebihnya.. Terserah A Farhan saja! Semoga Allah melembutkan hatinya, karena semua itu bukan hanya untuk diri dia sendiri!" jawab Nabila penuh dengan penekanan.


Dia pergi tanpa pamit pada kedua orang tua Farhan, Nabila bergegas menuju toilet. Karena dia harus membasuh wajahnya yang sembab. Belum dia masuk kedalam toilet, Nabila cukup terkejut saat mendengar percakapan dua orang perawat disana.


"Semoga saja dokter Andra bisa kembali dengan selamat. Karena yang aku dengar, Afrika itu sangat rawan dengan konflik! Apalagi sekarang hampir setengahnya para Tentara gugur."


DEG!


Jantung Nabila terasa anjlok.


"Ya kamu benar! Jadi dokter relawan tak semudah itu. Denger-denger, dokter Andra pergi karena salah satu anak asuhnya terluka parah sampai koma. Siapa ya namanya, lupa! Itu dibahas kok waktu morning report!"


"Oh iya! Tentara yang ganteng itu ya? Bukannya calon suami Bila? Admision yang dulu kerja disini!"


Tubuh Nabila benar-benar lemas tak berdaya, dia memaksakan diri untuk berjalan menghampiri Bu Halimah dan juga kedua sahabatnya.


"Kenapa kalian bohongin gue?!" bentak Nabila membuat Ashila dan Aisyah tersentak kaget. Begitu pun Bu Halimah yang langsung menenangkan putri asuhnya itu.


"Istighfar Nak.. Kenapa? Bilang sama Ibu!"


"Ibu juga jahat!" teriak Nabila dengan isakan. "Ibu bilang dokter Andra Konferensi? Tapi nyatanya?!"


"Bil!" Ashila membentak Nabila. "Ini semua buat kebaikan lo! Kita juga gak bisa terus sembunyiin dari lo, tapi kita butuh waktu untuk mencerna ini semua!"


"Iya Bil.. Gue sama yang lain gak maksud buat nutupin ini dari lu, kita semua kalut, Bil! Tapi kita update terus kok kondisi Bang Riki disana!" Aisyah menghampiri Nabila hendak memeluknya. Namun Nabila malah menjauh dari mereka.


"Setidaknya kalian kasih tau gue kondisi Bang Riki yang sebenernya! Kenapa gue harus tau dari orang lain? Sampe kapan kalian sembunyiin ini semua?? Sampe Bang Riki..."


Bruk!


Nabila pingsan. Tubuhnya lemah tak berdaya. Banyak hal yang ada dalam pikirannya. Rasa takut kehilangan, kerinduan yang mendalam dan semua impian yang ia rajut bersama Riki.


"Astagfirullah Bibil!" Bu Halimah langsung membawa Nabila dalam pangkuannya.


Tak lama datanglah security yang membawa blankar, Nabila pun dilarikan ke IGD untuk mendapatkan perawatan.


Ponsel Bu Halimah bergetar, satu pesan masuk dalam ponselnya. Dokter Andra mengabarkan jika kondisi Riki pasca operasi cukup membaik. Walaupun Riki belum sadarkan diri. Tapi hal itu belum membuat mereka lega.


"Allah.. Berikanlah kekuatan pada mereka.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2