
Saat kita memutuskan untuk mencintai seseorang, memberi ruang khusus di satu sudut hatimu untuknya. Maka kamu juga harus menyiapkan ruang kecewa juga disana. Karena cinta kepada manusia, memiliki dua kemungkinan. Bahagia jika cinta itu berbalas dan bersedih jika cinta itu kandas.
'Pergilah, tak apa A Farhan.. Aku mengerti, saat ini aku bukanlah prioritasmu dan aku mengerti jika A Farhan sedang memperjuangkan masa depan kita nantinya.. Aku sudah terbiasa tanpa kabar darimu A.. Jadi jangan khawatirkan aku..'
Farhan menatap jalanan dengan tatapan kosong, dia bukan manusia yang tak peka pada perasaan Nabila sebagai calon istrinya. Hanya saja dia pun harus menjalankan tugasnya sebagai seorang pengusaha yang menentukan nasib ribuan karyawannya.
"Den Farhan, kita langsung ke Jakarta atau ke kantor dulu?" tanya Pak Komar membuyarkan lamunan Farhan.
"Ke kantor dulu ya, Pak. Nanti setelah dzuhur kita berangkat ke Jakarta," jawab Farhan sambil menghela nafas berat.
"Yang sabar dan ikhlas ya, Den. Bapak mengerti bagaimana perasaan Den Farhan. Sebagai seorang lelaki, Den Farhan pasti ingin berada disamping Neng Bila. Tapi Den Farhan juga harus ingat, jika nasib semua karyawan ada di tangan Den Farhan," ucap Pak Komar.
"Iya Pak.. Insya Allah, Nabila akan mengerti keadaan saya.. Hanya saja, saya takut cintanya untuk saya memudar.. Sampai akhirnya dia menyerah untuk menjadi pendamping hidup saya.." lirih Farhan.
Hening.. Pak Komar terdiam sesaat, membiarkan Farhan larut dalam pikirannya.
"Den.. Allah telah menyiapkan takdir terbaik yang akan menjadi milik Den Farhan nantinya. Apa yang ditakdirkan untuk Aden akan tetap menjadi milik Den Farhan. Tidak akan terlambat ataupun terlalu cepat, dan semua akan tepat sasaran.."
"Sedangkan yang bukan milik Den Farhan, pasti akan ada jalan untuk kehilangannya Den. Sekalipun Den Farhan mendekapnya dengan erat sekalipun, misalkan. Gak usah resah atas semua yang sedang Den Farhan jalani. Bukankah Allah adalah sebaik-baik pengatur skenario?"
"Tidak ada yang tau, Den. Barangkali keinginan Den Farhan ditunda atau bahkan tidak terjadi karena Allah telah menyiapkan sesuatu yang sempurna. Tugas Den Farhan hanya berjuang, lalu menerima apa yang Allah takdirkan. Karena semua pilihan Allah adalah yang terbaik, Den.."
Nasihat Pak Komar membuat Farhan terdiam, sejak kecil Pak Komar memang yang selalu menemani Farhan. Hingga mereka tak sungkan lagi berbincang.
"Insya Allah ya, Pak.. Semoga ini jalan terbaik yang Allah berikan untuk saya.. Tapi sungguh, hanya Nabila yang saya inginkan menjadi pendamping hidup saya.. Karena dia adalah perempuan yang unik.. Perempuan yang mampu menggetarkan hati saya.. "
"Berdo'alah, Den.. Tak ada kekuatan yang lebih besar daripada do'a. Satu hal lagi, mungkin ini juga ujian Den Farhan dan Neng Nabila menuju jalan pernikahan.. Karena setiap perjalanan menuju ibadah panjang akan selalu ada ujian dan cobaan. Maka kuatkanlah hati kalian berdua ya, Den.." ujar Pak Komar membuat hati Farhan sedikit lega.
"Jangan pernah mengambil keputusan untuk berpisah jika sudah ada niat serius, apalagi sudah melibatkan orang tua, Den. Bukan soal hubungan sudah lama atau baru, karena terkadang mungkin perasaan Den Farhan dan Neng Nabila sekarang hanya sedang di uji. Seberapa kuat rasa serius Den Farhan dan seberapa besar rasa sayang dan tulusnya Neng Nabila.."
__ADS_1
"Tidak ada kebersamaan yang jalannya selalu mulus, tidak ada hubungan yang prosesnya lancar dan mudah terus. Den Farhan dan Neng Nabila pasti diberi cobaan, seberapa sungguh-sungguh dan seberapa sabar kalian akan menghadapi jalan hidup berdua nantinya. Perlahan tapi pasti, Den.. Langkah kaki Aden akan jauh lebih mudah.."
Farhan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Apapun itu, kita semua kuat dan kita semua sanggup. Hanya saja sering kali kita lemah karena terbawa perasaan dalam hati. Hanya saja sering kali kita rapuh karena pikiran kita sendiri.
* * *
Berjuang itu tidak selalu mengejar apa yang kita mau, mendapatkan apa yang kita inginkan, ataupun mencapai yang kita cita-citakan. Tapi berjuang itu juga tentang berhenti, melepaskan dan menerima. Berhenti dari yang salah, melepas yang tak bisa dipaksa dan menerima apa yang telah terjadi.
"Bahkan dalam mimpi pun kamu masih menghantuiku, Mas Arya. Lantas kemana lagi hatiku harus bersembunyi? Aku lelah.. Aku hanya ingin istirahat.. Bisakah kamu pergi dengan paripurna? Bisakah kamu pergi dengan mengemas segala kenangan dan harapan sekalian? Semua yang tertinggal ini racun, Mas.. Aku tak lain hanyalah besi yang terjebak dalam kenangan yang menjelma air laut.."
Aisyah terisak, dia terlelap saat telah melaksanakan shalat istikharah dan adzan subuh juga mimpi itu membangunkannya. Hanya saja mimpi itu kembali membuat hatinya perih. Karena dalam mimpinya, Aisyah dan Arya saling menggenggam erat tanpa ada penghalang diantara keduanya.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ais.. Kamu sudah bangun, Nak?" tanya Bu Fatimah, Ibunda Aisyah.
"Iya Ma, habis sholat malam ketiduran.. Alhamdulillah adzan subuh masih kedengeran, Ma.." Aisyah memeluk sang Ibu.
Aisyah hanya menganggukkan kepalanya. Usai shalat subuh, dia membantu Bu Fatimah di dapur untuk membuat sarapan. Sang Ayah yang berprofesi sebagai Polisi, sudah dipastikan harus pergi lebih cepat di hari Senin ini.
"Ais.. Kamu baik-baik aja, Nak? Papa liat, mata kamu sembab.." tanya Pak Saepudin, Ayah dari Aisyah.
"Insya Allah, Ais baik Papa.. Cuman kangen aja, heran deh pada nyangka Ais kenapa-kenapa," jawab Aisyah sambil terkekeh.
"Terus kapan dong kenalin Mas Arya ke Mama sama Papa?" celetuk Aina, adik dari Aisyah.
"Mas Arya? Siapa itu, Ais? Anak Papa udah gede, udah tau pacaran yaaa.." ucap Pak Saepudin menggoda sang anak.
"Mas Arya itu tentara, Pa! Ganteng lagi," Aina sangat berantusias menceritakan tentang Arya pada kedua orang tuanya. Namun hanya perih yang Aisyah rasakan.
__ADS_1
"Wah.. Kalo gitu sih Papa kasih lampu hijau! Kalian sarapan deh ya, Papa harus berangkat sekarang! Nanti malam kita bahas si Mas Arya ini," ucap Pak Saepudin sambil berpamitan.
Aisyah hanya bisa menghela nafas berat, dia menyesal sudah menceritakan sosok Arya pada adik semata wayangnya. Aisyah dan Aina juga Bu Fatimah menikmati sarapan pagi mereka. Aina lalu berpamitan karena gadis yang kini berseragam putih biru itu harus bersekolah.
"Ada apa, Ais? Ada yang ganjel hati kamu yaa?" tanya Bu Fatimah dan Aisyah langsung memeluk erat tubuh sang Ibu sambil menangis terisak.
"Sakit Ma.. Rasanya menyakitkan, saat kita mencintai namun kita tak bisa menggapainya. Saat rasa ini melambung, tapi seketika terhempaskan begitu saja. Ais berusaha kuat menerima semua kenyataan ini, Ma. Tapi nyatanya, airmata ini gak bisa berhenti mengalir saat mengingat semua tentang dia. Dan hati ini tidak henti-hentinya memanjatkan do'a yang terbaik untuknya.." lirih Aisyah.
Bu Fatimah mengelus punggung sang anak dengan lembut, "Jangan memaksa apapun yang memang tidak bisa, Nak. Jangan melukai dirimu dengan sengaja. Lepaskan apa yang tidak bisa lagi kamu genggam. Biarkan waktu menjadi jalan untuk hal baik yang akan datang. Perlahan saja.. Maka luka itu akan kering seiring berjalannya waktu.."
"Iya Ma.. Pada akhirnya Ais enggak bisa dipersatukan sama dia, Ma.. Selama ini Ais mendo'akan dia, Ais gak sadar kalo itu Ais lagi menumpuk harapan. Yang lama-lama gak Ais sadari, harapan itu menumpuk jadi menggunung. Dan saat semua yang Ais harapkan gak terjadi dan gak sesuai dengan yang Ais do'akan, semua itu nimpa Ais. Dan Ais gak tau gimana cara bangkit dan berdiri lagi, Ma.." Aisyah menatap sang Ibu dengan airmata yang tak henti mengalir dari pelupuk matanya.
Sebagai seorang Ibu, Bu Fatimah mengerti perasaan sang anak. "Nak.. Allah akan mempertemukan kamu dengan seseorang, jika memang kamu sudah pantas dan sudah siap, Nak. Allah jauh lebih tau, apa yang terbaik buat kamu. Mulai sekarang, tidak perlu banyak menuntut ke Allah. Lapangkan dada dan terima dengan ikhlas segala ketetapan dan takdir-Nya."
"Tetaplah berikhtiar sepenuh raga, tapi jangan lupa berpasrah sepenuh jiwa. Karena Allah tau kapan waktu yang terbaik untuk bertemu jodohmu nanti. Apapun alasan kamu dan Nak Arya tak bisa bersatu, Mama hanya akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu.."
Bagaimana Aisyah tidak beruntung, Bu Fatimah bahkan tidak menanyakan alasan dirinya tak bisa bersatu dengan Arya. Biarlah itu menjadi rahasia dalam hidup Aisyah.
"Insya Allah.. Do'akan Ais ya, Ma.. Do'akan Ais semoga bisa kembali menata hati dan tak menumpuk harapan pada manusia.."
"Selalu, Nak.. Do'a selalu Mama panjatkan dalam setiap helaan nafas.. Ikhlaslah.. Perlahan tapi pasti, Allah akan mendekatkan kamu dengan jodohmu.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤