Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Persiapan pernikahan Aisyah


__ADS_3

"Jadikan saya, suamimu yang kamu idam-idamkan. Dan berikan saya kesempatan, menjadikan kamu istri saya yang saya idam-idamkan. Masa lampau adalah milik kamu dan milik saya. Masa depan milik kita bersama.."


Kutipan **. Habibie itu Bagaskara kirimkan pada Aisyah, calon istrinya. Karena dia akan berusaha untuk membuat Aisyah mencintai sosoknya, bukan sosok Arya yang memiliki kesamaan wajah dengannya.


"Ais.. Malah ngelamun disini! Itu Mbak lulur udah dateng loh!" omel Ashila.


"Cil.. Apa gue akan bisa menjalani rumah tangga sama Mas Bagas?" tanya Aisyah dengan lirih.


Ashila menghampiri sahabat baiknya itu, "Ais lu pasti bisa! Lu harus berusaha mencintai dia sebagai Bagaskara Arjuna, bukan Josephine Arya Wicaksana! Mereka dua orang yang berbeda Ais. Walaupun wajah mereka sama, tapi mereka berbeda.."


"Gue takut, Cil.. Gue takut nyakitin Mas Bagas.." lirih Aisyah.


"Kalo gitu kenapa dengan mudahnya lu terima dia Ais?" tanya Nabila yang baru saja datang dan tidak sengaja mendengarkan percakapan keduanya.


"Lu harus tanggung jawab atas pilihan lu Aisyah! Kalo emang lu ragu, kenapa kalian harus melangkah sejauh ini? Sekarang bukan waktunya lu bertanya kaya gitu, sekarang waktunya lu buka hati buat Mas Bagas dan mempertanggung jawabkan pilihan lu!" tegas Nabila membuat Aisyah dan Ashila terdiam.


"Kalo emang lu ragu, akhiri sebelum Mas Bagas semakin kecewa!"


"Bil.."


"Gue pernah salah memilih, Ais.. Cil.. Kalo Aisyah sendiri ragu sama pilihannya, kenapa dia harus melangkah lebih jauh dan mengecewakan semua orang?"


Aisyah dan Ashila berhambur memeluk Nabila. Mereka mengerti apa yang Nabila katakan itu demi kebaikan Aisyah. Dia tak ingin Aisyah menyesal seumur hidupnya.


"Belajarlah mencintai Mas Bagas, Ais.. Lu bakalan nyesel kalo dia bahagia sama yang lain."


"Insya Allah, Bil. Do'ain gue ya!" lirih Aisyah menahan airmata.


"Yaa Allah.. Itu Mbak lulur udah nungguin, kalian malah pelukan kaya teletubies!" omel Bu Halimah.


Acara pengajian pernikahan Aisyah rencananya akan diselenggarakan di dua tempat, di Alunara Kost dan dikediaman Aisyah sendiri. Karena Bu Halimah ingin mengadakan syukuran bagi pernikahan anak-anak gadisnya disana.


"Cil.. Undangan aman kan?" tanya Bu Halimah.


"Aman Mak Haji!" jawab Ashila sambil mencomot kue yang baru saja dibuat oleh Bu Halimah.


"Main comot aja deh!" omel Bu Halimah.


"Mak ngapa semenjak kawin jadi lebih banyak ngomel dah!" keluh Ashila membuat mereka menahan tawa.


"Kawin kawin, nikah Ashilaaaaaaa...." Bu Halimah menjewer telinga Ashila. "Duh Ibu gak kebayang deh gimana nanti Defri ngadepin makhluk kayak kamu!"


"Makhluk ceunah! Dikata Acil ini goib apa!" kesal Ashila. "Lagian Mas Defri itu udah bisa jinakin Acil, jadi Mak Haji kagak usah khawatir!"


"Emang makhluk yang patut dilestarikan kamu, Cil!"


Kebahagiaan sangat terasa disekitar mereka, tapi berbeda dengan Nabila. Dia merasa kebahagiaannya tidak sempurna. Karena Riki sedang mempersiapkan diri untuk bertugas ke Afrika dua hari lagi. Hingga mereka tidak akan bisa bertemu, apalagi menghadiri pernikahan Aisyah dan Bagaskara bersama-sama.


Nabila memilih untuk pergi ke rooftop, seperti biasa menyendiri disana. Bahkan Nabila kembali merenungkan kisah hidupnya bersama Farhan dan juga Riki.


"Allah.. Kuatkan aku.." lirih Nabila menahan tangis.


* * *


Sejak tadi Ashila mencari keberadaan Nabila, karena mereka harus mengantar Aisyah untuk fitting baju pengantin.


"Mak Haji! Liat si Bibil gak sih? Dari tadi batang idungnya aja kaga keliatan!"

__ADS_1


"Oh iya, ya! Pantesan dari tadi rasanya ada yang kurang.. Kemana ya dia?" tanya Bu Halimah.


"Ah elah, malah balik nanya!" omel Ashila lalu mencari Nabila ke kamarnya.


Namun langkah Ashila di urungkan saat dia melihat pintu menuju rooftop terbuka. Benar saja, Nabila tengah menangis terisak disana.


"Bil.. Are you oke?" Ashila memeluk sahabatnya itu.


"Gue gak tau, Cil.. Gue gak bisa menjabarkan perasaan gue saat ini.." lirih Nabila.


"Iyaa.. Iyaa.. Gue paham banget perasaan lu!" Ashila mengelus lengan Nabila dengan lembut. "Gue bukan mau egois, Bil.. Tapi bisa kita tahan dulu? Kita mesti nemenin si Ais fitting baju penganten!"


"Astagfirullah.. Lupaa.." lirih Nabila.


"Yaudah sekarang cuci muka, make up tipis-tipis! Gue tunggu dibawah ya!" pinta Ashila dan Nabila menganggukkan kepalanya.


Ketiga gadis itu sudah bersiap, kini mereka dalam perjalanan menuju butik. Akhirnya mereka diantar oleh Pak Rahmat, karena omelan Bu Halimah.


"Segeran amat ni penganten yang abis luluran!" goda Nabila membuat Aisyah tersipu malu.


"Gue deg-degan!" celetuk Ashila.


"Gue yang mo fitting napa elu yang deg-degan, Aciiiiilll.." Aisyah mencubit gemas pipi sahabatnya itu.


"Gatau dah, aneh banget ya gue!"


Mereka pun sampai di butik, siapa sangka Bagaskara pun baru saja sampai. Karena dia pun harus melakukan fitting.


"Eiittsss.. Calon manten harus dipingit! Kagak boleh lirik-lirik!" omel Ashila.


"Sabar dong ughtea! Semingguan lagi juga..!" goda Ashila membuat keduanya salah tingkah.


"Udah.. Udah..! Ayok masuk! Cobain dulu gaunnya, takut gak muat karena kepenuhan rindu!" goda Nabila.


Aisyah dan Bagaskara pun mencoba kebaya putih dan pakaian adat khas Sunda. Sedangkan Nabila sibuk menjadi seksi dokumentasi. Ashila sendiri malah memilih model-model gaun untuk pernikahannya nanti.


"Masya Allah.. Cantiknya.." lirih Bagaskara.


"Mas Bagas! Tutup dong matanya, entar gak surprise lagi dong!" omel Ashila.


"I-iya!" dengan polosnya Bagaskara menurut.


"Mas! Jangan diikutin, Ashila mah sesat!" Aisyah melepaskan lengan calon suaminya itu.


Ada debaran dalam dada yang tidak dia rasakan saat bersama Arya dulu. Bagaskara sungguh terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Aisyah.


"Buat resepsi nanti, kalian mau pake gaun warna apa?" tanya Nabila pada keduanya.


"Saya terserah Aisyah aja.." jawab Bagaskara.


"Gimana kalo pink aja? Kan Ibu Bhayangkari nehh.." Ashila memberikan usul.


"Boleh.. Ini ganti bajunya berapa kali ya?" tanya Bagaskara.


"Terserah Mas Bagas! Mau Aisyah gak pake baju pun nanti bisa kok!" goda Ashila membuat pipi keduanya bersemu merah.


"Astagfirullah si Acil! Entaran dulu napa, kasian ini penganten mesti milih gaun! Mumpung Kak Rindu mau bayarin.. Kalo enggak, nanti tagihan masuk lu mau?" omel Nabila.

__ADS_1


"Ogah ah! Yaudah suruh milih deh, entar Kak Rindu bete.. Cerita gue malah dibikin ngenes lagi!"


Aisyah dan Bagaskara terkekeh mendengar ucapan keduanya, "Alhamdulillah.. Kak Rindu bilang boleh ganti 3x bajunya.."


"Warna putih untuk akad, warna pink untuk resepsi siang hari dan warna gold untuk resepsi malam hari ya.." ucap Bagaskara dan Aisyah menganggukkan kepalanya.


"Keren! Udah cucok lah!" Ashila dan Nabila bersorak.


Selesai fitting baju, Nabila dan Ashila meneruskan perjalanan untuk mengambil cendera mata. Sedangkan Aisyah diantarkan oleh Bagaskara.


"Aisyah.."


"Iya Mas?" Aisyah menoleh pada calon suaminya itu.


"Maaf sebelumnya, apa Mas boleh tanya?" Aisyah menganggukkan kepalanya.


"Apa pemberian dari Arya sudah kamu gunakan?"


Aisyah tersentak, "Pemberian apa, Mas? Mas Arya gak pernah kasih apapun ke aku.."


"Jadi kamu belum tau?" tanya Bagaskara yang cukup tersentak juga.


"Apa yang kamu tau Mas?" Aisyah balik bertanya.


"Emm.. Yang Mas tau, Arya memberikan kamu satu unit ruko di daerah Lembang.."


Deg!


Mata Aisyah berkaca-kaca, "Maafkan saya Aisyah.. Saya hanya tidak ingin ada masalah dalam rumah tangga kita nantinya.."


"Mas Bagas tau darimana?" tanya Aisyah yang mulai terisak.


"Dari.. Papa.. Bu Halimah dan.. Bang Riki.."


"Yaa Allah.. Mas Aryaaa.." lirih Aisyah yang menangis sesegukan.


"Apa kamu masih mencintainya, Aisyah? Atau.."


"Mas.. Aku sudah pilih kamu sebagai calon imam dalam hidupku.. Mas Arya adalah bagian masalaluku.. Dan kamu masa depanku, Mas.. Mungkin ini ujian menuju pernikahan kita.."


"Kuatlah Aisyah.. Masalah ruko itu, kita tanyakan pada mereka.." Bagaskara mengelus kepala Aisyah dengan lembut.


"Jangan menangis lagi.. Masih banyak persiapan pernikahan kita yang harus kita siapkan.."


* * * * *


Bagi yang mudik, hati-hati dijalan ya!


Minal adizin walfaidzin..


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2