Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Masih Harus Berjuang


__ADS_3

Menjadi seorang pendamping abdi negara bukanlah sesuatu hal yang mudah. Butuh cinta yang kuat, kasih yang erat dan perjuangan yang tidaklah mudah. Terlihat sangat menggiurkan, apalagi melihat banyaknya postingan di sosial media. Dibalik itu semua, ada perjuangan yang berat. Rasa lelah yang mendera, perbedaan pendapat, begitupun dengan jalan yang berliku. Cukup untuk dikenang, tapi tidak untuk di ulang.


* * *


Nabila sudah bersiap-siap, hari ini keduanya akan menghadap Komandan Kodam 3 Siliwangi untuk melaksanakan pengajuan pra nikah. Kondisi Riki sudah jauh lebih baik, dia sudah mampu berjalan dengan tegap dan jahitan di dada nya pun berangsur pulih.


"Sudah siap, hm?"


Riki menggenggam tangan Nabila yang terasa sangat dingin, dia tau jika calon istrinya ini sedang gugup.


"Insya Allah siap!"


Nabila memberikan senyuman terbaiknya untuk Riki, sejujurnya dia sangat gugup. Apalagi hari ini dia pun akan menghadap langsung pada Ketua Persit Kartika Chandra Kirana.


"Rileks ya, sayang! Insya Allah.. Abang yakin kamu mampu melewati semuanya. Calon istri Abang adalah perempuan hebat!"


Usai menjemput Nabila di Alunara Kost, Riki pun melajukan mobilnya menuju Kodam 3 Siliwangi Bandung, tempat dimana ia bertugas. Wajah Nabila terlihat lebih pucat dari biasanya, namun Riki masih berpikir jika calon istrinya itu gugup.


"Sayang, kamu gak apa-apa? Kamu sakit?"


Riki memegangi dahi calon istrinya itu, namun suhu tubuh Nabila normal. Nabila menggenggam lengan Riki dan menaruhnya dipipinya.


"Ila baik, Abang sayang! Cuman sedikit gugup, wajar dong!"


"Bismillah ya sayang.. Kita pasti bisa!"


Tidak dipungkiri, Nabila sangat lelah karena mengurus pengajuan pernikaham ternyata tidak semudah itu. Ada banyak berkas yang harus ia isi dan ia kumpulkan. Sangat menyita waktu dan pikirannya. Apalagi banyak hal yang harus dia hafalkan. Beruntung Ashila sangat membantu banyak, hingga Nabila cukup percaya diri akan bisa menjawab semua dengan baik.


Satu per satu step sudah mereka lewati dengan baik, Nabila pun tak salah menjawab dan menjadi pujian bagi Ibu-Ibu Persit lainnya. Dia menjawab dengan baik dan lugas. Namun, satu hal yang sangat disayangkan. Nabila ambruk begitu selesai menjawab semua pertanyaan itu, darah mengucur dari hidungnya dan wajahnya pucat pasi.


"Bang Riki! Calon istrimu jatuh pingsan!"


Salah satu junior yang diperintahkan Ketua Persit itu menghampiri Riki dengan nafas terengah-engah.


"Apa? Calon istriku?!" mata Riki membulat tak percaya.


"Iya Bang! Mimisan juga, darahnya sangat banyak!"


Tanpa berkata apapun, Riki berlari secepat yang ia bisa. Dia melihat beberapa juniornya mengangkat tubuh calon istrinya.


"Mohon ijin, biar saya saja!"


Meskipun begitu, Riki tidak mengizinkan siapapun untuk menyentuh calon istrinya. Dia berlari menuju Klinik yang berada dalam lingkungan Kodam 3 Siliwangi. Dia khawatir, sangat khawatir. Dia takut sesuatu terjadi pada calon istrinya itu, apalagi darah terus mengucur dari hidungnya.


Dokter yang berjaga pun memeriksa kondisi Nabila, tapi sayangnya..


"Lebih baik dibawa ke Rumah Sakit! Harus ada pemeriksaan menyeluruh."

__ADS_1


Lemas, tubuh Riki rasanya lemas mendengar hal itu. Tandanya, ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dengan tubuh calon istrinya itu. Dengan ambulance, Nabila dibawa ke Rumah Sakit Sariningsih.


"Tolong calon istriku, pot!" pinta Riki pada dokter yang berjaga, beruntungnya itu adalah teman Riki saat satgas bersama dulu.


"Tenanglah.. Dia akan baik-baik saja!"


Riki menghubungi kedua orang tua Nabila, namun dia ingat jika kedua orang tua Nabila tengah berada di Aceh untuk menghadiri acara pernikahan saudara jauhnya. Dia memutuskan untuk menghubungi Bu Halimah dan Dokter Andra.


Tiga puluh menit kemudian, Bu Halimah datang bersama dokter Andra yang rupanya masih berdinas. Hanya saja mendengar Nabila dibawa ke Rumah Sakit, dia memutuskan untuk pergi bersama istrinya.


"Gimana kondisi Bibil, Bang? Kok bisa mimisan gitu sih?!"


Bu Halimah sangat khawatir, dokter Andra pun meminta istrinya itu untuk tenang.


"Tenang dulu, Neng! Insya Allah Bibil gak apa-apa. Kamu juga harus jaga dong jagoan kita! Ingat kamu sekarang bawa anak kita kemana-mana!"


Ya, benar. Bu Halimah positif mengandung buah cintanya dengan dokter Andra. Walaupun sekarang dia sudah memasuki usia rentan hamil. Namun dokter Andra berjanji akan merawat keduanya dengan baik.


"Tapi Kang!"


Ucapan Bu Halimah terjeda, karena dokter yang merawat Nabila menghampiri mereka. Dokter Harun, terlihat dari papan nama yang terpasang di seragamnya.


"Gimana pot? Dia baik-baik saja kan?"


Dokter Harun menatap Riki dengan tatapan tak terbaca, dia mengajak semuanya untuk menuju ruangannya. Dokter Harun harus menjelaskan dengan baik, bagaimana kondisi Nabila saat ini.


"Apa?! Coba jelaskan secaea rinci dok!" Bu Halimah tak sabar.


"Meningioma adalah tumor yang terbentuk di meningen, tiga lapisan jaringan yang melindungi otak dan sumsum tulang belakang.. Bisa di simpulkan, calon istri Abang terkena tumor otak!"


DEG!


"A-apa? Tumor o-otak?"


Bu Halimah menahan sesak dalam dadanya, begitu pun juga Riki yang menunduk lesu dan tak kuat menahan airmatanya.


"Apa penyebabnya pot?" Riki kini berani menatap dokter Harun.


"Penyebab pasti dari meningioma sampe saat ini belum diketahui Bang. Tapi tumor ini diduga terjadi karena perubahan pada beberapa sel di meningen. Hal itu yang membuatnya berkembang biak diluar kendali dan membentuk tumor. Kondisi ini juga diduga berkaitan dengan gen dan hormon lainnya Bang. Apa akhir-akhir ini calon istri Abang sering mengeluh sakit kepala?"


"Iya dok! Anak saya sering ngeluh sakit kepala akhir-akhir ini. Apalagi pagi-pagi, dia sering bilang kalo dia sakit kepala terus muntah-muntah. Saya pikir ya biasa aja, mungkin dia kecapean ngurusin pengajuan pernikahannya. Terakhir tadi pagi dia bilang kalo dia gak bisa nyium bau parfumnya sendiri!"


Riki sedikit terhenyak mendengar ucapan Bu Halimah. Dia sangat merasa bersalah, karena memang akhir-akhir ini Nabila sangat disibukkan dengan pengajuan pernikahan mereka.


"Itu bisa jadi gejala yang dirasakan oleh Nabila. Sudah sejak kapan dia sering mengeluh sakit kepala?"


"Kayaknya setahun yang lalu deh, dia pernah dibawa ke IGD juga karena pingsan. Kami kira gerd nya kumat. Karena memang dia punya riwayat gerd." kali ini dokter Andra yang menjawab.

__ADS_1


"Kenapa Akang gak lakukan pemeriksaan kalo gitu?! Akang kan dokter!" Bu Halimah mulai menangis terisak.


"Neng.. Akang dokter jantung dan Akang hanya tau jika Bibil itu punya riwayat gerd dan alergi dingin! Itu aja.. Sudah jangan menangis.. Insya Allah dia akan baik-baik saja.."


"Sudah sebesar apa? Dan kami harus bagaimana?" Setelah sekian lama terdiam, akhirnya Riki berani bertanya.


"Cukup besar, sudah stadium dua dilihat dari hasil CT scan.."


"Allah.." Kali ini Riki benar-benar menangis tersedu-sedu.


"Tenang, Bang! Kita lakukan pengobatan terbaik. Saya akan kasih rujukan untuk ke Rumah Sakit Santosa. Insya Allah disana bisa dilakukan operasi untuk tumor otak. Kita masih bisa berikhtiar untuk kesehatan calon istri Abang.."


Ketiganya sangat berat melangkahkan kaki menuju ranjang Nabila, wajahnya sangat pucat. Namun perlahan mata Nabila terbuka, Riki pun menghampirinya dan mencium pucuk kepalanya. Sedangkan Bu Halimah dan dokter Andra masih belum sanggup untuk menghampiri dan memutuskan untuk menunggu diluar.


"Abang.."


"Iya sayang.. Masih pusing, hm?"


"Ini dimana? Kita kan harus selesaikan proses pengajuan pernikahan.."


Nabila hendak bangkit, namun Riki mencegahnya. Dia tidak mau Nabila memikirkan hal itu dulu.


"Semuanya sudah selesai sayang. Kamu hebat! Ila nya Abang Iki hebat! Jangan dipikirin ya sayang.. Kita akan segera menikah.."


"Alhamdulillah.."


"Maaf ya, Bang.. Ila buat Abang khawatir.."


Riki mengecup pucuk kepala calon istrinya itu, "Abang sayang kamu. Kita masih harus berjuang sayang, jadi Abang mohon.. Kalo sakit apapun bilang sama Abang. Laporkan apapun sama Abang. Termasuk.. Semut yang gigit kamu sekalipun."


"Isshh Abang lebay amat sih!" Nabila terkekeh sambil mengelus pipi calon suaminya itu.


"Ila sakit ya, Bang? Soalnya kepala Ila berat.."


"Istirahat ya! Jangan banyak pikiran.. Abang akan selalu ada disamping kamu.."


Nabila hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena memang kepalanya terasa sangat berat dan sakit. Namun sekuat mungkin dia menahannya. Entah efek obat, entah memang lelah akhirnya Nabila terlelap. Riki menatap wajah calon istrinya itu dengan menahan airmata.


'Kita masih harus berjuang sayang.. Abang mohon, kuat dan bertahanlah..'


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2