
Barangkali sesuatu yang tertuna itu karena hendak disempurnakan. Dibatalkan karena hendak diganti dengan yang utama. Dan ditolak karena sedang diganti oleh orang yang jauh lebih baik.
"Jika Allah mengabulkan do'aku, maka aku berbahagia. Tapi jika Allah tidak mengabulkan do'aku, maka aku lebih bahagia. Karena yang pertama adalah pilihanku, sedangkan yang kedua adalah pilihan Allah.."
Nabila menatap Riki yang kini tengah berbicara dengan kedua orang tua Farhan. Kondisi Farhan yang memburuk membuat Ibunda Farhan murka terhadap Nabila. Dia menyalahkan Nabila sepenuhnya, karena Nabila telah meninggalkan Farhan begitu saja.
"Dia yang sudah buat anakku seperti ini! Padahal anakku bersusah payah untuk mencari uang! Agar bisa menikahi dia dengan pernikahan terbaik!"
"Cukup Tante!!" teriak Nabila menghampiri Mama Farhan dengan nafas nail turun.
Riki pun menghadang Nabila, namun perempuan itu mengganggukkan kepalanya. Seolah mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja. Tapi Riki tetap berada disisi Nabila, dia tidak ingin perempuan yang amat ia cintai ini kembali menangis.
"Gak munafik, Tan! Aku pun menganggap kalo uang itu sangatlah penting. Tapi itu bukan hal yang utama buat aku dalam hubungan itu! Ada beberapa tanggung jawab yang jauh lebih penting, Tante! Waktu! Perhatian! Kasih sayang dan kepedulian!"
"Banyak laki-laki, termasuk A Farhan! Yang menganggap bahwa perempuan akan diam kalo dikasih uang. Gak semua perempuan seperti itu, Tante! Gak semua gila harta seperti Tante!" tegas Nabila.
Plak!
"Berani-beraninya kamu bicara seperti itu!" hardik Mama Farhan. Riki pun membawa Nabila ke belakang tubuhnya, dia sudah sangat geram melihat Nabila ditampar 2 kali.
"Itu semua kenyataan! Aku lebih terpesona dengan laki-laki yang memperlakukan perempuan dengan sangat baik. Menyempatkan waktu meskipun tengah sibuk-sibuknya, yang tidak lengah dalam memberi perhatian. Dan yang paling penting, ketulusannya dalam memberikan kasih sayang!"
"Aku beruntung lepas dari A Farhan! Karena dia bukan yang terbaik untukku, buktinya tidak akan ada janin itu jika memang A Farhan mencintaiku!"
Nabila tidak ingin di anggap lemah oleh kedua orang tua Farhan. Meskipun pada kenyataannya, hatinya perih. Namun kehadiran Riki disampingnya menjadi kekuatan tersendiri.
"Pergi kamu dari sini! Saya tidak sudi melihat wajah kamu lagi!"
"Dengan senang hati, Tante!" Nabila pun menggenggam erat lengan Riki dan menuntun Bu Halimah juga.
Sekuat hati Nabila menahan tangisnya, dia tidak mau memikirkan laki-laki yang sama sekali tidak bisa menjaga hatinya. Cukup bagi Nabila saat ini, Riki ada disampingnya.
"Bil.. Ibu ke ruangan dokter Andra dulu ya!" ucap Bu Halimah.
"Suami Bu, suami.. Kaku amat!" canda Nabila mengalihkan kepedihan hatinya.
"Ishhh anak ini! Kamu hati-hati Bil di kosan, Ibu nanti pulang cepet kok. Tinggal packing baju Kekey aja!" Bu Halimah memperingatkan salah satu anak gadisnya itu.
"Izin Bu! Saya mau ajak Ila pergi, Insya Allah sebelum malam sudah pulang lagi!" ucap Riki membuat Nabila menoleh.
"Kita mau kemana Bang?" tanya Nabila namun Riki hanya tersenyum tipis.
"Yaudah hati-hati, kabarin kalo ada apa-apa!"
Riki dan Nabila berjalan beriringan, sepanjang jalan Nabila hanya melihat keluar jendela. Entah mengapa hatinya terasa perih. Semuanya seperti benang kusut, hingga Nabila pun bingung untuk menguraikannya.
"Bang? Kita mau kemana? Ini arah luar Kota loh, Bang!" tanya Nabila dengan panik.
"Tenang, Ila.. Abang udah izin sama Bapak, Mama juga Bu Halimah kan tadi!" jawab Riki sambil terkekeh.
"Iya tapi mau kemana Abang?" rengek Nabila membuat Riki gemas sendiri.
__ADS_1
"Ke hatimu.."
"Ishhh.. Gombalnya kanebo kering, garing!" Nabila mengerucutkan bibirnya.
Puncak Bogor menjadi tujuan Riki, beruntung jalanan tidak begitu ramai karena bukan weekend. Jendela kaca sengaja Riki turunkan sedikit, agar Nabila bisa menghirup udara segar.
"Masya Allah.. Nyamannya.."
"Sebentar lagi kita sampe, makan dulu ya! Abang laper.."
Satu rumah makan khas sunda menjadi pilihan Riki dan Nabila. Laki-laki itu makan dengan lahap, hingga Nabila terkekeh.
"Abang.. Pelan-pelan makannya, nanti keselek!" tegur Nabila.
"Cemburu itu ngabisin energi, makanya Abang harus makan yang banyak, Ila.."
"Maafin Ila ya, Abang.."
"Sssttt.. Abang makan dulu dengan tenang, kamu pun makan dengan tenang.. Setelah ini kita harus jalan kaki!"
"Kemana lagi, Bang?" tanya Nabila yang cukup kaget.
"Rahasia.."
Usai menikmati makanan, mereka melaksanakan shalat ashar lebih dulu. Lalu Riki mengganti sendal jepit Nabila dengan sepatu olah raga yang sudah sengaja ia siapkan.
"Kalo capek bilang, ya.. Nanti Abang gendong!" ucap Riki membuat Nabila tersipu malu.
Mereka menikmati waktu sambil berjalan-jalan menuju bukit. Sudah lama Riki ingin menikmati senja bersama calon istrinya itu. Walaupun banyak ketakutan dalam dirinya, karena 13 bulan bukanlah waktu yanh singkat.
"Masya Allah.. Indah banget Abang!" Nabila merentangkan tangannya, menikmati angin yang berhembus menerpa tubuhnya.
"Kamu jauh lebih indah, Ila.."
Nabila menoleh ke arah Riki yang kini sudah berlutut dihadapannya mengeluarkan kotak berwarna silver. Didalamnya terdapat kalung dengan liontin RN.
"Abang.." Nabila menutup mulutnya tak percaya.
"Abang gak pernah jatuh cinta pada siapapun selain kamu. Mungkin ini memanglah bukan waktu yang tepat, Ila. Tapi Abang tidak punya banyak waktu, Abang gak mau kehilangan kamu untuk yang kesekian kalinya.."
"Nabila Shafiya Putri.. Maukah kamu menunggu Abang kembali? Menerima Abang kembali.. Seperti senja yang tidak pernah menolak langit saat sore telah tiba, meskipun ia akan berubah menjadi kelabu.. Maukah kamu menanti Abang kembali, walaupun nantinya hanya nama dan seragam yang Abang pakai yang kembali.."
Nabila terisak, begitupun dengan Riki yang tidak sanggup menahan rasa perih dalam hatinya. Dengan tangan bergetar, Nabila menggenggam tangan Riki dan memintanya berdiri.
Tanpa banyak bicara, Nabila memeluk Riki dengan erat. Keduanya berpelukan ditemani oleh Senja yang begitu indah.
"Ila akan menanti Abang sampai Abang kembali.. Jangan harap Ila akan memaafkan Abang, jika sampai Abang kembali hanya nama. Abang harus kuat dan bertahan, Abang harus memenuhi janji Abang buat menikahi Ila.. Ila akan menunggu Abang pulang.. Gak peduli berapa banyak waktu yang harus Ila habiskan untuk menunggu Abang.."
Riki bersyukur akan hal itu, namun entah mengapa terasa ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Dia merasa telah egois menahan Nabila dan memintanya untuk menunggu.
"Kalau kamu lelah menanti Abang.. Kamu.." ucapan Riki terpotong.
__ADS_1
"Bertahun-tahun Ila menanti Abang.. Sampai akhirnya Ila bertemu A Farhan, yang Ila anggap terbaik.. Tapi nyatanya?"
"Ila menganggap Abang adalah pilihan Allah untuk Ila, Abang yang terbaik yang Allah berikan untuk Ila.. Dan Ila akan menunggu sampai Abang kembali.."
"Alhamdulillah Yaa Allah.."
Riki memakaikan kalung itu di leher Nabila, mereka mengambil banyak foto bersama. Setidaknya foto-foto itu akan menjadi pengobat rindu dikala mereka berjauhan.
"Abang akan berusaha menghubungi kamu jika ada waktu, Negara memang prioritas utama Abang.. Tapi Abang tidak akan mengabaikan semua rasa rindu ini.."
"Senja mengajarkan arti sebuah perjuangan, Abang.. Walaupun awan gelap menghadang, senja tidak pernah rapuh meski berdiri sendirian. Ila pun gak akan rapuh, Abang.."
"Terimakasih sayang.." Riki kembali memeluk Nabila dengan erat.
"Ingat ya, Bang! Setia itu memanglah sulit, tapi lihatlah jingga. Selalu menggenapkan warnanya, demi senja setiap harinya.."
"Kita memang ditakdirkan untuk jauh raga oleh jarak. Tapi kita juga ditakdirkan untuk melihat senja yang sama tanpa jarak. Kalau kamu rindu, sampaikan pada senja. Maka dia akan menyampaikan rindu itu pada Abang. Jika senja mengalah pada malam, maka Abang akan mengalah pada rindu.. Abang akan kembali dan akan menemanimu diatas pelaminan.."
"Insya Allah, Abang.."
Walaupun ada rasa takut dalam hatinya, tapi Nabila tidak memperlihatkan hal itu. Hal pertama yang harus ia pelajari adalah.. Kekuatan hatinya yang akan mendampingi Riki sebagai seorang abdi Negara.
Hal yang sama juga dilakukan oleh Defri dan Ashila. Usai mengurus surat-surat, mereka menikmati senja bersama disalah satu cafe di daerah Lembang.
"Bismillah ya sayang.. Perjalanan kita masih jauh, Insya Allah semuanya dimudahkan Allah.."
"Iya Mas.. Insya Allah perlahan tapi pasti.. Kita harus bisa melewati semuamya dengan baik.. Tanpa emosi ya Mas!" ucap Ashila mengingatkan.
"Mas beruntung mendapatkan kamu, Ashila.. Kamu perempuan yang Allah pilihkan untuk Mas.." Defri menggenggam lengan Ashila.
"Mas hanyalah kunang-kunang dan kamu hanyalah senja. Saat gelap kita berbagi, saat gelap kita abadi.."
Duh! Lagi pada bucin nih.. Author pening mikirin biaya nikahan Aisyah sama Bagaskara nih! Jadi maafin kalo jarang update 🤭😆 (alasan!)
* * * * *
Maafkan Rindu yang jarang update..
Dikarenakan jadwal Rindu yang padat, sepadat jalanan akhir-akhir ini!
Bagi yang mudik, hati-hati dijalan ya!
Minal adizin walfaidzin..
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1