Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Nasehat Ibu


__ADS_3

Allah tidak akan pernah gagal dalam menciptakan takdir. Dan Allah tidak akan pernah salah memilih pundak siapa yang akan diberikan ujian. Allah faham betul kapasitas kemampuan umatnya. Hanya saja kita terkadang salah mengartikan kasih sayang Allah terhadap kita. Karena pada akhirnya takdir Allah akan selalu indah, walau terkadang perlu air mata untuk menerimanya. -Umar bin Khattab-


Bu Fatimah dan Bu Halimah menatap sendu Aisyah yang masih betah di rooftop, memandang indahnya Kota Bandung. Mereka mengerti, rasa trauma yang dialami Aisyah takkan mudah dilupakan begitu saja.


"Saya harus bagaimana, Halimah? Rasanya pedih sekali, melihat putri kesayangan kami murung dan bersedih setiap hari. Andai bisa saya tukar, maka biarkanlah saya merasakan semua kepedihannya," lirih Bu Fatimah.


"Teh.. Aisyah terlahir dari Ibu yang kuat seperti Teteh.. Insya Allah dia akan baik-baik saja, peluklah dia.. Berikanlah dekapan erat supaya dia gak ngerasa sendiri," ucap Bu Halimah sambil merangkul Bu Fatimah.


Perlahan Bu Fatimah mendekati Aisyah, "Bukankah begitu indah pemandangan yang kita lihat ini, Nak?" tanya Bu Fatimah membuat Aisyah menoleh dan tersenyum.


"Sangat indah, Ma.. Ini salah satu hal yang bikin Ais nyaman tinggal disini, selain itu.. Banyak kenangan indah yang bisa Ais ingat disini," jawab Aisyah, Bu Fatimah menarik putrinya itu untuk duduk dan berbaring di pangkuannya.


"Mama masih ingat, Aisyah Kareinina Nurkahla.. Nama itu pemberian dari almarhum Kakek kamu, yang artinya perempuan cantik yang pemalu namun cahayanya tak pernah redup.." Bu Fatimah mengelus kepala Aisyah dengan lembut.


"Bagi kami, kamu adalah cahaya kehidupan. Disaat kamu sedih seperti sekarang, cahaya kehidupan Mama dan Papa pun menghilang, Nak.." lirih Bu Fatimah.


"Maafin Aisyah ya, Ma.. Maaf..." Aisyah mulai menangis terisak.


Bu Fatimah mengusap air mata putrinya dengan lembut, "Nak.. Yang menjadi takdirmu telah Allah tentukan. Dia yang sudah Allah siapkan, mungkin masih rahasia. Yang kamu tidak tau dia siapa, dia dimana dan bagaimana dia sekarang. Tapi semoga.. Dia telah terbentuk menjadi seseorang yang selalu kamu do'akan. Setiap rincinya yang selalu kamu semogakan.."


"Arya bukanlah yang Allah takdirkan buat Ais.. Tapi Arya adalah pelajaran hidup terbesar bagi Ais. Allah mungkin iri dengan cinta Ais terhadap Arya, Allah ingin Ais jauh lebih mencintai-Nya.. Jadi Mama mohon, Nak.. Ikhlaskan.. Kehidupan kalian sudah berbeda.."


"Mulai sekarang, rawatlah ikhlasmu.. Karena dengan begitu, kamu mengizinkan takdir untuk memainkan perannya. Tanpa perlu kamu khawatir perihal keadaan dan perasaan kamu. Allah tau lelahmu, Allah tau niatmu.. Perluas lagi sabarnya, tingkatkan lagi ibadahnya.. Allah akan menuntunmu sesuai jalan yang telah Allah tentukan.."


Aisyah menganggukkan kepalanya, dia bangkit dan memeluk Bu Fatimah dengan erat. "Terimakasih banyak, Mama selalu bisa bikin Ais tenang. Maaf kalo Ais melukai hati Mama dan Papa dengan sikap Ais. Sekarang, Ais hanya butuh waktu untuk menata hati dan menata kehidupan Ais lagi. Semoga Papa sama Mama meridhoi keputusan yang Ais pilih untuk memulihkan diri disini.. Ais janji, Ais gak akan terus berlarut.."


"Mama percaya, Ais akan kembali menjadi anak Mama yang ceria dan cerewet!" Bu Fatimah mengecup pipi sang putri lalu kembali memeluk dengan erat.


"Bagi Mama, kamu tetaplah gadis kecil Mama.. Jika ada laki-laki yang meminangmu nantinya, Mama berharap dia adalah orang yang akan selalu membahagiakanmu, Nak.."


Bu Halimah beserta dua gadis asuhnya menitikkan airmata saat melihat Aisyah berpelukan dengan sang Ibu. "Jadi kangen Mama," lirih Ashila dan Nabila.


"Isss..! Durhaka ya kalian, kemaren reject-reject telepon Mama! Padahal pan kalian juga rindu," ledek Bu Halimah.


"Aisssss! Mak haji gak tau aja kalo emak gue udah ngomel, bisa-bisa dua jam tancap gas poll gak ada rem!" ucap Ashila membuat mereka terkekeh.


"Kalo Ibu pasti langsung termehek-mehek, makanya Bapak kemaren gak aja Ibu kesini!" ucap Nabila sambil memeluk Bu Halimah.

__ADS_1


"Cil, kamu gak jadi dateng ke acara Mas Defri? Bukannya dia berangkat tugas hari ini?" tanya Bu Halimah membuat Ashila terkesiap.


"Astagfirulloh ughtea! Lupaaaaaa....!!! Bil, temenin gue sekarang!" heboh Ashila menarik lengan Nabila.


Mau tak mau dia harus mengikuti sahabat baiknya itu, walaupun dalam hatinya tak karuan. Karena bisa dipastikan dia akan bertemu dengan Riki. Mereka menuju Kodam memakai motor, karena jalanan hari ini cukup sangat padat.


Sesampainya disana, Ashila memarkirkan motornya dan meninggalkan Nabila begitu saja. Dia langsung menghampiri Defri yang tengah bersama dengan Riki dan keluarganya.


"Mas..! Maaf aku telat," ucap Ashila dengan nafas yang memburu.


"Astagfirullah sayang, kamu lari? Minum dulu! Mas beliin dulu," ucap Defri namun tangannya di tahan oleh Ashila.


"Aku mau sama kamu aja, Mas. Aku gak butuh minum," Ashila mengajak Defri duduk di sisi taman.


Sedangkan Nabila menggerutu kesal, karena mulai banyak para istri-istri juga keluarga yang datang untuk mengantarkan perwira mereka dalam bertugas. Saat Nabila mencari keberadaan Ashila, seseorang memanggilnya. Dan hal itu membuat jantung Nabila berdegup kencang.


"Neng Ila.." sapa seorang wanita paruh baya, Nabila pun menoleh dan terkejut.


"Ibu.." lirih Nabila, dia lalu mencium punggung tangannya. Sedangkan perempuan paruh baya itu memeluk Nabila dengan erat.


"Masya Allah.. Meuni geulis pisan Neng Ila sekarang.. Ibu pangling," lirih Bu Maryam, yang merupakan Ibunda Riki.


"Alhamdulillah Ibu sehat! Ibu kangeenn pisan sama Neng Ila.. Calon mantu kesayangan Ibu.."


Deg!


Nabila mematung, dia tidak mengerti dengan keadaan yang menurutnya sulit. Dia tidak ingin mengecewakan Bu Maryam dengan mengatakan jika dia telah menjadi tunangan Farhan.


"Ibuuu!" panggil Riki sambil terengah-engah. Dia berlari saat melihat Ibunya menghampiri Nabila.


"Kamu teh Abang! Kenapa gak bilang kalo udah ketemu Neng Ila?! Durhaka ya kamu Bang sama Ibu!" omel Bu Maryam.


"Ibuu.. Denger dulu! Abang gak maksud buat..."


"Abang gak salah kok, Bu.. Maaf ya, Ila belum sempet main ke rumah Ibu," ucap Nabila membuat Riki menoleh dan terkejut.


"Gak apa-apa geulis! Dasar we si Abang, dia mah enggak mau kalo kasih sayang Ibu teh ke bagi sama kamu. Da atuh kalo udah nikah ma ya, kasih sayang Ibu bagi rata!" ucap Bu Maryam dengan sumringah.

__ADS_1


"Bu.. Tapi.." ucapan Riki terpotong karena kini sudah waktunya untuk melepas para perwira muda untuk melaksanakan Satuan Tugas di Aceh.


"Udah! Itu kamu mau upacara dulu, kan? Ibu mau ngobrol banyak sama Neng Ila.. Lagian kamu teh cuman melepas kan? Enggak ikut satgas! Udah sana sana!" usir Bu Maryam membuat Riki menghela nafasnya.


Ashila sendiri masih menatap Defri yang berada di barisan para perwira muda yang akan diberangkatkan. Sedangkan Riki tidak berangkat, karena memang dia sudah melewati masa itu dulu. Nabila melambaikan tangannya untuk memanggil Ashila agar mendekat.


"Siapa itu, Neng?" tanya Bu Maryam.


"Oh pacarnya Mas Defri, Bu.. Sahabat baik Ila.." jawab Nabila.


"Ibu teh kan kesini diminta Abang buat bikinin pecel lele buat bekel Nak Defri, kasian kan orang tua nya mah di Jakarta enggak bisa datang," ucap Bu Maryam.


Nabila hanya menganggukkan kepalanya canggung. Ashila pun mendekat, dia mencium punggung tangan Bu Maryam dan memperkenalkan diri.


"Alhamdulillah.. Ibu teh bersyukur, berarti nantinya Ila akan ada teman di Batalyon. Karena kehidupan disana sangatlah menakjubkan," ucap Bu Maryam terkekeh, sedangkan Ashila mengerenyitkan dahinya.


"Tapi Bibil kan.." ucapan Ashila terpotong oleh Nabila.


"Ibu.. Maaf jika Ila nantinya akan mengecewakan Ibu.. Tapi, Ila gak bisa mendampingi Abang seperti harapan Ibu dulu.. Jangan sampai, kehadiran Ila akan menjadi sesuatu hal yang menjelekkan Ibu dimata orang lain.. Karena Ila.." kini ucapan Nabila terpotong oleh Bu Maryam.


"Neng.. Kenapa harus mikirin perasaan dan pemikiran orang lain? Bagi Ibu, Neng Ila adalah pilihan terbaik, sejak dulu.. Atau mungkin, sekarang Abang bukan lagi pilihan?" tanya Bu Maryam.


"Maaf Bu.. Maafin Ila.." lirih Nabila memeluk Bu Maryam dengan erat.


Usai upacara selesai, Riki pun menghampiri mereka. Sedangkan Ashila kembali menemui Defri. Riki terkejut saat melihat Bu Maryam dan Nabila menangis sambil saling memeluk.


"Ibuu.. Ilaa.." panggil Riki dengan lembut. "Kenapa? Ada apa?"


"Lamar Ila untuk Ibu sekarang.. Ibu gak ridho, kalo Ila bersanding dengan laki-laki lain! Ibu mau Ila jadi menantu Ibu..!"


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2