
Kaca yang telah pecah, bisa disatukan kembali. Namun, bentuknya tak akan utuh seperti sejak awal. Begitupun hati Bu Halimah. Luka di masalalu membuatnya merasa takut untuk membuka lembaran baru dalam hidupnya. Bagi Bu Halimah, kebahagiaan anak-anaknya sudahlah cukup. Namun kehadiran dokter Andra, membuat Bu Halimah kembali memikirkan masa depan.
"Kok ngelamun sih, Bu?" tanya Nabila membuat Bu Halimah terperanjat.
"Isshhh..! Siapa yang ngelamun? Orang lagi mikir, apa tadi Ibu gak ada salah-salah kata ya? Ibu juga takut, diluar sana malah banyak yang gak suka sama cara Ibu menyampaikan materi," Bu Halimah menghela nafasnya.
"Kamu tadi keren kok, Neng.." ucap dokter Andra dan mengagetkan keduanya. Hal itu membuat dokter Andra terkekeh.
"Jangan pada ngamuk dulu! Lagian dua anak gadis pada ngobrol tapi pikiran entah dimana. Kamu keren, Neng. Semua orang bahkan suka sama kue buatan kamu. Insya Allah, Aa yakin kok kedepannya bakery kamu akan semakin sukses," dokter Andra terus menyemangati Bu Halimah.
Ashila dan Aisyah hanya terkekeh melihat Bu Halimah salah tingkah. "Geli amat panggilnya Aa, Mak Haji! Kenapa kaga Akang aja sih?" ejek Ashila sambil bergidig.
"Syirik mulu, lu Cil! Lu aja tuh panggil si Mas Defri jadi Aa Defri," ledek Nabila.
"Udah.. Udah..! Kalian ini ngeledekin mulu orang tua, deh! Siap-siap tidur deh, pada kebo juga tidurnya! Besok subuh kita harus dah berangkat ya," Bu Halimah mengingatkan.
"Eh jangan langsung pulang dong, Neng. Akang mau ajak Neng sama anak-anak buat main dulu di kota ini! Menciptakan kenangan yang tak terlupakan. Gitu kan Cila?" tanya dokter Andra pada Ashila.
"Betul dok! Eh Akang dokter! Udah yuk bobok.. Besok Ibu sama Papa mau ngajakin kita jalan-jalan," ajak Ashila pada Aluna dan Keisya yang sedang asyik bermain lego.
"Asyiiikkk.. Horeee....!" keduanya sangat bahagia, bahkan mereka langsung menurut.
"Istirahatlah.. Istirahatkan hati dan pikiran Neng," ucap dokter Andra membuat Bu Halimah menganggukkan kepalanya.
"Akang juga istirahat, ya! Jangan begadang sama Pak Rachmat!" omel Bu Halimah dan dokter Andra tersenyum bahagia.
Malam itu, keduanya benar-benar berpikir tentang bagaimana keputusan yang akan mereka ambil. Langkah yang akan mereka jadikan tujuan.
* * *
Pagi hari, dokter Andra sudah mengajak mereka semua untuk pergi ke salah satu tempat yang menurutnya sangat bagus, yaitu Villa Guci Forest. Tempat itu berlokasi di obyek wisata guci Kabupaten Tegal. Dan merupakan tempat terbaik untuk kegiatan outbound. Resort dengan konsep bangunan ethnic kayu, berada didalam hutan pinus yang sejuk dengan fasilitas kolam renang, pemandian air panas alami Guci.
"Ibuuu...! Kakak sama adik mau berenang, boleh ya?" tanya Keisya pada Bu Halimah.
"Boleh sayang, tapi.. Gak boleh kelamaan ya! Nanti kalian masuk angin, senin kan udah masuk sekolah lagi," jawab Bu Halimah membuat kedua bocah itu mengangguk senang.
Sesampainya disana, Aluna dan Keisya langsung menuju kolam renang. Karena di mobil, anak-anak itu sudah mengganti pakaian renangnya. Sedangkan dokter Andra mengawasi kedua anak itu dan Bu Halimah menuju kantin untuk membeli makanan.
Sementara ketiga gadis yang ikut dengan mobil Pak Rachmat, baru saja sampai. Dan mereka terkejut, saat di parkiran bertemu kembali dengan laki-laki yang memiliki tempat masing-masing di hati mereka.
"Lho, Cilaaa..! Masya Allah, apa Mas bilang? Kalo jodoh gak akan kemana," ucap Defri membuat Ashila salah tingkah. Nabila dan Aisyah hanya terdiam dan berusaha untuk tidak menghiraukan kondisi hati mereka.
"Mas mau berenang juga?" tanya Ashila basa basi.
"Mas sama temen-temen kebetulan mau camp disini, karena Mas kan sama mereka punya waktu sampai lusa. Baru kita balik ke Bandung," jawab Defri membuat Ashila mengangguk.
__ADS_1
"Ohh gitu! Yaudah aku sama mereka mau ke dalam dulu ya, Mas. Mau cari dokter Andra sama Bu Halimah soalnya."
"Dokter Andra ikut?" tanya Riki, Nabila menoleh saat mendengar suara Riki. Pandangan keduanya bertemu dan hal itu membuat hati keduanya berdenyut nyeri.
"Ikutlah! Kan dia sama Bibil abis ada acara seminar," jawab Ashila dengan sewot.
Tak ingin berlama-lama, Aisyah berjalan lebih dulu, disusul oleh Nabila. Sedangkan Ashila merasa tak nyaman dengan keadaan itu. Dia pun pamit undur diri.
Bu Halimah melambaikan tangannya saat melihat kehadiran anak-anak kostnya. Namun dia pun terkejut saat melihat segerombolan pemuda dibelakang mereka. Tatapannya pada Nabila seolah bertanya "Kok bisa?" dan Nabila hanya menggedikkan bahunya tanda tak mengerti.
"Aciiilll...! Jagain anak-anak dong! Saya mules," teriak dokter Andra.
"Ishhh..! Bentar napa pan Acil mesti ganti baju dulu, mesti pemanasan dulu! Kaga sabaran amat sih dok!" omel Ashila membuat Bu Halimah terkekeh.
Ketiga gadis itu pun langsung mengganti baju mereka. Setelah pemanasan, mereka berenang bersama Aluna dan Keisya. Mereka tertawa bahagia dan hal itu disaksikan oleh Defri, Riki dan juga Arya.
"Alhamdulillah.. Saya senang bisa melihat Ila tertawa bahagia seperti itu. Mungkin memang bukan saya sumber kebahagiaannya," ucap Riki membuat Arya menoleh.
"Saya pun begitu, Bang. Saya yang sudah menghancurkan hatinya, saya hanya berharap akan selalu bisa melihat senyum dan tawa di wajah cantiknya." Arya benar-benar tulus saat mengatakan hal itu. Karena pada kenyataannya, mereka memang tak akan bisa bersatu.
"Udah no galau galau club! Biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka nantinya. Saya yakin kalian adalah orang-orang yang bijak." Defri merangkul senior serta sahabatnya itu.
Obrolan mereka terhenti saat mendengar teriakkan Bu Halimah.
Aisyah tidak melakukan pemanasan, saat berenang kaki dan perutnya tiba-tiba saja keram. Melihat hal itu, Arya langsung berlari dan berenang untuk menolong Aisyah. Kolam renang itu memang sengaja dokter Andra booking hanya untuk mereka saja.
"Ais.. Buka mata kamu, Aisyah!" Arya terus mencoba membangunkan Aisyah saat mereka menepi.
Karena Aisyah tak kunjung bangun, Arya refleks memberikan nafas buatan pada Aisyah. Hal itu membuat mereka semua menutup mulut dan matanya karena tak percaya bahwa Arya akan melakukan hal itu. Nabila dan Ashila pun refleks menutup mata Aluna dan Keisya.
"Uhukk.. Uhukkk..." Aisyah terbatuk, perlahan dia membuka matanya. Dan orang pertama yang dia lihat adalah Arya. Aisyah berhambur memeluk Arya dan menangis tersedu-sedu.
"Apa yang sakit, hm? Bilang sama Mas.." ucap Arya dengan nada bergetar menahan tangis.
"Hati aku sakit, Mas. Kenapa semua ini harus terjadi sama kita, Mas? Aku sayang kamu, tapi aku pun gak bisa khianati Tuhanku. Aku harus gimana, Mas Arya?" tanya Aisyah sambil terisak.
Hening.. Arya tak mengatakan apapun, karena memang mereka berada dalam kondisi yang tak bisa berbuat apapun. Nabila dan Ashila mengajak anak-anak beranjak dan membersihkan diri.
"Udahan yuk renangnya, kan udah lama juga. Tangan Kak Bibil sampe keriput gini nih," Nabila memperlihatkan jari-jarinya.
"Ayok, Dik!" ajak Keisya, dia tau jika Aluna masih ingin berenang.
"Udah mandi, kita makan pop mie sama Kak Acil," bisik Ashila membuat mereka mengangguk dengan antusias. Karena baik Bu Halimah mau pun dokter Andra tidak membiasakan mereka untuk makan mie instant.
Di pinggir kolam, Aisyah dan Arya masih saling memeluk dan melepaskan kerinduan. Namun Bu Halimah tidak bisa membiarkan hal itu.
__ADS_1
"Neng.. Biarkan dulu sebentar," dokter Andra menahan lengan Bu Halimah.
"Gak bisa, Kang! Ini gak dibenarkan, luka mereka hanya akan semakin menganga. Dan Neng gak bisa membiarkan hal itu terjadi," sanggah Bu Halimah.
"Akang paham, Neng. Biarkan mereka melepas rindu.. Setelah itu, biarkan mereka mengobati luka itu. Lagi pula, mungkin saat ini adalah waktu yang tak terlupakan bagi mereka.."
Pada akhirnya Bu Halimah diam dan menuruti perkataan dokter Andra. Benar saja, setelah itu Aisyah melepaskan pelukannya.
"Terimakasih sudah menyelamatkan aku, Mas. Hari ini adalah hari yang gak akan pernah aku lupakan seumur hidupku. Aku lanjutkan perjalananku untuk melupakan kamu ya, Mas.. Aku berharap kamu pun akan melanjutkan perjalananmu. Selamat bertemu lagi di takdir yang lain ya, Mas Arya..."
Arya hanya bisa terdiam saat Aisyah melangkah pergi. Walaupun tubuhnya limbung, Aisyah terus mencoba menguatkan dirinya. Dia dibantu Bu Halimah dan Ashila untuk membersihkan diri.
Sore hari, mereka memutuskan untuk pulang ke Kota Bandung. Ketiga gadis itu sudah lebih dulu pergi, sedangkan dokter Andra dan Bu Halimah memutuskan untuk singgah di The Geong Puncak Guci, karena anak-anak ingin berjalan di jembatan kaca.
The Geong Guci merupakan destinasi wisata yang menyediakan spot foto yang instagrammable dan penuh warna.
"Papa, Dede mau foto disana!" tunjuk Aluna pada balon udara bertuliskan The Geong Puncak Guci.
"Ayok, kita foto sama-sama disana ya!" dokter Andra menggendong Aluna dan Bu Halimah menuntun Keisya.
"Bu.. Makasih ya, Kekey bahagia. Soalnya Mama gak pernah ajakin Kekey atau tuntun Kekey kaya gini," Keisya berjalan sambil memeluk Bu Halimah.
Mata Bu Halimah berkaca-kaca, "Alhamdulillah kalo Kekey bahagia, Nak."
"Ibu mau kan jadi Ibunya Kekey?" tanya Keisya membuat jantung Bu Halimah berdegup kencang.
Namun belum Bu Halimah menjawab, dokter Andra sudah memanggilnya. Mereka pun berfoto layaknya keluarga bahagia. Keisya mencium pipi Bu Halimah sedangkan Aluna mencium pipi dokter Andra. Foto itu sengaja dokter Andra posting di akun instagram miliknya. Dan hal itu membuat seseorang tersulut amarah.
"Itu anakku! Dia milikku..!"
(HAYOLOH SIAPAAAAA...)
Sepanjang perjalanan menuju Bandung, Aisyah terus melamun. Dia sengaja memilih duduk disamping Pak Rachmat yang sedang mengemudi. Hari ini adalah hari tak terlupakan dalam hidupnya. Selama ini Aisyah selalu menjaga dirinya, hingga hari ini dia bisa merasakan hangatnya bibir Arya, walaupun tujuan Arya untuk menyelamatkannya.
'Mas Arya.. Ini adalah hal yang tak terlupakan dalam hidupku.. Setelah ini, mungkin kita gak akan pernah bertemu lagi.. Karena aku akan pergi.. ' batin Aisyah.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1