Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Menerima Kenyataan


__ADS_3

Terkadang kisah cinta yang kita jalani, tak seperti yang kita harapkan. Akan selalu ada hitam diatas putih dan akan ada selalu awan mendung walaupun langit sedang cerah. Bu Halimah mencoba berpikir dengan benar, apakah dia bisa menerima segala konsekuensi yang harus dia terima saat menjalin hubungan dengan dokter Andra.


"Bu, jangan ngelamun dong! Oh iya, tadi Ais udah kita anterin ke Stasiun. Maaf kita gak bilang Ibu, katanya Ais takut gak Ibu izinkan pulang," Nabila merangkul pundak Bu Halimah yang masih termenung.


"Isss.. Anak itu! Huffttt.. Yaudahlah, anaknya udah pergi juga! Sekarang kamu pulang gih, Bil. Bawa Acil sekalian, dia kayaknya masih ngedumel penuh kekesalan," pinta Bu Halimah.


"Iya Bu, Acil emosi nya bener-bener memuncak. Apa karena dia lagi palang merah juga ya? Auuu ah! Bibil pening..! Ibu gak apa-apa kalo kita tinggal?" tanya Nabila.


"Gak apa-apalah! Lagian masih ada Teh Iwin sama Mak Iting yang bantuin Ibu disini. Kalian istirahatlah.. Makasih banyak ya, udah mau bantuin Ibu bikin pesanan yang mendadak membludak," ucap Bu Halimah sambil membungkus kue untuk mereka makan dirumah.


Nabila menghampiri Ashila yang sedang mempacking kue sambil mengomel-ngomel. "Udah, jangan ngomel mulu! Kita pulang aja, yuk! Gue capek pengen rebahan," ajak Nabila namun Ashila menggelengkan kepalanya.


"Ogah! Entar gue kecolongan lagi! Tau-tau itu nenek lampir dateng kesini bawa pasukan! Lagian gue heran amat sih, udah cere aja masih suka kepoin mantan! Nyesel bilang bosss..! Makanya jangan jadi cewek maruk! Ni mau onoh mau!" omel Ashila.


"Aiiiiihhhh..! Diem deh, kok makin kesini makin kesana! Jadi mau ikut gue balik gak? Kalo enggak, gue mau balik sendiri!" kesal Nabila dan pada akhirnya Ashila mengalah.


"Hufffttt.. Yaudah ayok balik dah!"


Usai berpamitan pada Bu Halimah, keduanya kembali ke Alunara kost. Sepanjang jalan, pikiran keduanya melayang entah kemana. Baik Ashila maupun Nabila, seolah kembali pada ingatan masalalu mereka.


'Aku dan kamu tidak hilang, Bang.. Aku dan kamu masih ada, hanya saja kita tidak bisa lagi bersama.. Aku dan kamu masih ada, hanya saja sabarku berubah menjadi sadar.. Sadar bahwa aku telah menentukan jalan hidupku untuk bersama A Farhan..' batin Nabila.


'Mas Defri.. Apa kamu yakin akan memilihku sebagai pasanganmu? Apa kamu yakin bisa menerima aku, dengan semua masalalu ku? Apa kamu yakin bisa menjaga dan mengambilku dari kedua orangtua ku?' batin Ashila.


Tin... Tin.. Tiiinnnn...


Bunyi klakson mobil yang berlawanan arah dengan mereka mengagetkan keduanya, hingga hampir saja tertabrak. Beruntung Ashila bisa membawa motor dengan baik. Hingga mereka hanya menyerempet pohon yang berada disamping jalan.


"Astagfirullah.." ucap keduanya serempak.


Dari belakang mobil yang hampir menabrak motor mereka, terlihat sebuah mobil dengan plat khusus militer. Ternyata Riki dan Arya keluar dari sana dengan tergesa. Namun belum juga keduanya sampai, dari belakang motor Nabila juga Ashila, datanglah seorang laki-laki yang Riki tau betul siapa dia.


"Sayang?! Astagfirullah.. Kamu gak apa-apa kan?" tanya Farhan yang khawatir.


Dia akan menuju Alunara Kost dan dijalan dia melihat Nabila juga Ashila akan menuju kesana juga. Hingga dia berinisiatif mengikuti dengan mobilnya dari belakang. Siapa sangka jika tunangannya hampir saja celaka di hadapannya?


"A Farhan? A-aku gak apa-apa kok!" jawab Nabila dengan terbata-bata. Sebab pandangannya beralih pada Riki yang langsung terdiam ditempatnya.


"Acil juga gak apa-apa kan?" tanya Farhan pada Ashila.


"Aman kok, A Farhan! Cuman agak kaget aja," jawabnya sambil merasakan sakit di siku-siku tangannya.


"Yaudah motor biar dibawa sama sopir Aa aja, kalian ikut masuk ke mobil sekarang ya! Aa selesaikan sama mobil depan dulu," ucap Farhan sambil meminta dua gadis itu masuk.

__ADS_1


Namun belum juga Farhan menghampiri, sang pemilik mobil sudah pergi. Rupanya Riki yang menjamin dan berbicara dengan mereka. Karena mobil itu pun terpaksa banting stir hingga body depan mobilnya rusak.


"Lho, kok?" Farhan termenung.


"Kayaknya mereka udah ikhlas deh, A! Bisa jalan sekarang gak? Tangan gue sakit," pinta Ashila. Dia mencoba mengalihkan pemikiran Farhan yang tengah bertanya-tanya.


"Sudah, Den.. Kasian itu non nya, mungkin sudah diselesaikan sama Bapak Tentara itu! Jadi mereka pergi begitu aja," ucap Pak Komar, sopir pribadi Farhan.


"Bener tuh! Ayok jalan ah! Sumpah, tangan gue sakit!" rintih Ashila membuat Farhan iba.


"Mau ke dokter dulu gak?" tanya Farhan, namun Ashila menggelengkan kepalanya. Sedangkan Nabila hanyut dalam tatapannya pada Riki.


"Sayang? Ada yang sakit? Kita ke dokter ya?" bujuk Farhan, Nabila akhirnya tersadar dan menggelengkan kepalanya.


"Pulang aja ya, A! Aku capek," lirih Nabila.


Akhirnya, Farhan membawa mobilnya sendiri. Sedangkan Pak Komar, membawa motor milik Ashila. Saat melewati mobil Riki, dia menatap laki-laki itu sekilas.


'Rasanya begitu sakit, saat kamu memalingkan wajahmu dariku, Bang.. Meskipun aku menyakitimu, tapi kamu masih sangat memperdulikanmu.. Bisakah aku tetap teguh pada pilihan hatiku?' batin Nabila.


'Aku harus menerima semua kenyataan.. Bahwa pada akhirnya, bukan aku yang memilikimu.. Walau dalam kenyataannya, hatiku milikmu seutuhnya.. Berbahagialah, Ila.. Cintaku akan tetap selalu terjaga, walau bahagiamu bukan aku..' batin Riki.


Sesampainya di Alunara Kost, Nabila mempersilahkan Farhan untuk masuk. Dia lalu pergi ke dapur untuk membuatkan minum untuk sang tunangan. Sedangkan Ashila mengobati lukanya sendiri di ruang tengah.


"Di minum dulu, A.. Aku antar kopi dulu buat Pak Komar," ucap Nabila dan Farhan pun menganggukkan kepalanya.


"Kamu gak kangen Aa ya, sayang?" tanya Farhan membuat Nabila terkesiap.


"Kangen lah, Aa.. Mana mungkin gak kangen," jawab Nabila dengan kikuk.


"Kenapa sayang sekarang beda? Tadi Aa ke Rumah Sakit loh.. Kok sayang gak bilang kalo ambil cuti? Sayang juga gak bilang kalo tadi dari toko Bu Halimah.."


Deg!


Nabila menundukkan kepalanya, lalu dia perlahan menatap wajah Farhan dengan mata yang berkaca-kaca. "Aa atau aku yang berubah? Aku pikir Aa sibuk.. Makanya akhir-akhir ini pun Aa jarang bahkan gak sama sekali kasih kabar.. Aku cuman gak mau ganggu kesibukan Aa aja.. Karena aku sadar, saat ini aku bukan prioritas.."


"Sayang.."


"Aku tau Aa, pasti Aa ngelakuin itu semua ya buat aku juga. Buat masa depan kita yang Aa janjikan akan selalu indah. Tapi pada kenyataannya, aku gak sekedar butuh materi. Aku juga butuh kasih sayang dan perhatian dari Aa, sebagai calon suami aku.." lirih Nabila.


Farhan menggenggam tangan sang kekasih hati, "Maafin Aa ya, sayang.. Aa janji, mulai saat ini Aa akan mencoba buat meluangkan waktu buat kita.. Kita jalan-jalan ya, nanti.."


Nabila hanya menganggukkan kepalanya, "Terimakasih ya Aa.. Maaf kalo Aa ngerasa terganggu dengan sikap aku.."

__ADS_1


"Enggak sayang.. Aa seneng, kamu harus mulai terbuka lagi sama Aa.. Kabarin terus dimana pun kamu berada.. Biar Aa gak khawatir, ya sayang?"


Tok.. Tok.. Tok..


"Maaf, Cila ada? Tadi saya dengar dia jatoh dari motor!" Defri bertanya dengan nafas yang memburu. Tanpa mengucapkan salam, dia mengetuk pintu yang jelas-jelas terbuka.


"Masuk, Mas! Cila kayaknya barusan ke kamar. Biar aku panggil dulu, Mas Defri tunggu disini ya!" pinta Nabila, dia pun beranjak untuk memanggil Ashila.


Kini di ruang tamu ada Defri dan juga Farhan, keduanya hanya diam dan saling melempar senyuman.


"Diminum dulu, bro! Kayaknya capek ya?" Farhan memberikan segelas air putih dihadapannya pada Defri.


"Terimakasih! Iya saya lari tadi dari jalan depan, panik karena dengar Cila kecelakaan," jawab Defri.


"Oh.. Mas nya ini pacarnya Ashila ya? Kenalin.. Saya Farhan, calon suami Nabila.."


Uhukk.. Uhuk..


Defri tersedak minumannya, "Maaf! Saya Defri.."


"Santai aja Mas bro! Oh ya tentara nih?" Farhan memperhatikan wajah Defri dengan seksama.


"Gak mungkin saya bilang, saya polisi dengan seragam ini kan?" jawab Defri dengan menunjuk seragam loreng yang dia kenakan.


"Hahaha! Santai bro, gue becanda doang kok!"


Tak ada percakapan lagi diantara keduanya, hingga Ashila bergabung dengan mereka.


"Lho, Mas? Kok udah disini aja," Ashila sangat terkejut.


"Tadi Bang Riki ngabarin Abang, katanya kamu kecelakaan. Tapi alhamdulillah kamu gak apa-apa.. Mas lari dari jalan depan tadi, rasanya jantung Mas mau copot!"


Ashila terkekeh, "Untung gak copot kan, Mas? Bilangin sama Bang Riki, makasih banyak udah nolongin.. Meskipun aku gak lihat, tapi aku tau dia pasti sang malaikat penolong kita.."


"Semuanya kan demi cinta.."


Deg!


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2