Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Kedua Kalinya


__ADS_3

Hari-hari yang dinanti telah tiba. Pernikahan kejutan untuk Bu Halimah akan diadakan hari ini. Walaupun Bu Halimah hanya tau, jika hari ini hanyalah lamaran resmi pada umumnya. Tiga gadis sudah bersiap, bahkan mereka mendandani dua anak Bu Halimah.


"Ibu perasaan pesen catering gak banyak deh, kok yang dateng banyak banget! Ais.. Kamu gak salah pesen kan?" tanya Bu Halimah pada Aisyah karena dia yang mengurusi segala catering yang dibutuhkan.


"Enggaklah Bu! Bonus kali.." ucap Aisyah asal.


"Hush! Mana ada bonus banyak banget! Terus ituu kok tiba-tiba ada kang somay sama kang es krim? Perasaan Ibu minta cuman kue sama puding deh!" herannya lagi.


"Ckckck! Lagi di dandanin tuh diem napa Makkk! Ngomel bae.. Yang punya acara mah diem ajalah! Yang penting acara lancar dan rebeesss!" omel Ashila.


"Huft! Kamu tuh ya! Gak ngerasain banget sih.. Ibu tuh malu, udah tua begini masa lamarannya mewah amat! Entar saingin acara kalian yang muda-muda," Bu Halimah menghela nafasnya.


"Ah elah! Omongan orang didenger, lagian kita gak akan ngerasa tersaingi! Konsep kita berbeda wahai Mak haji!" kesal Ashila. "Dahlah.. Diem dan anteng-anteng bae dimari!'


Bu Halimah pun kembali diam, usai dirias dia diminta untuk menunggu di kamarnya. Sedangkan Ashila menguncinya dari luar, dia sama sekali tidak memberikan celah pada Bu Halimah untuk mengetahui pernikahannya.


"Cil! Gak usah iseng deh.. Ngapain Ibu kamu kurung disini!" teriak Bu Halimah.


"Duduk aja yang cantik! Tunggu pangeran berkuda Alphard menjemput!" jawab Ashila sambil menahan tawanya.


Pukul 9 pagi, dokter Andra sudah tiba di Alunara kost. Dia mencium kedua tangan Mak Anih selaku satu-satunya orangtua Bu Halimah. Tak lama sang penghulu pun tiba didampingi oleh Riki dan Defri, sedangkan Bagaskara sejak tadi membantu Aisyah menyambut para tamu.


"Dimana calon istri saya, Cil?" tanya dokter Andra pada Ashila.


"Aman dok! Tinggal giring aja kemari," jawab Ashila sambil tertawa.


Satu persatu sambutan dari kedua keluarga sudah diucapkan, kini tiba saatnya dokter Andra mengucap ijab kabul yang bertepatan dengan Bu Halimah dibawa keluar oleh Ashila dan Nabila.


"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhiitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.."


"SAH!!"


Mata Bu Halimah berembun, dia tidak menyangka jika hari yang ia pikir hanyalah lamaran menjadi acara pernikahannya. Ini kedua kalinya Bu Halimah merasakan debaran dalam dadanya, bedanya kali ini dia melihat binar ketulusan dari laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya itu.


"Mak.. Diem bae! Sono cium dulu tangan suaminya, biar barokah!" bisik Ashila sambil menuntun Bu Halimah.


"Jangan grogi gitu dong, Bu! Kalo kita bertiga keserimpet kan malu!" bisik Nabila.


"Diam ya kalian! Harus kasih penjelasan sama Ibu!" bisik Bu Halimah membuat keduanya menelan ludah.


Dua manusia yang memiliki sebelah sayap itu kini telah bersatu. Dokter Andra mencium kening Bu Halimah dengan lembut, usai istrinya itu mencium punggung tangannya.


"Alhamdulillah.. Akang sudah milik Neng sepenuhnya, dan Neng adalah belahan jiwa akang yang akan melengkapi kehidupan Akang.. Insya Allah kita sehidup sesurga ya!"


"Cieeee.. Cieeee... Cieeeee..." sorak para tamu undangan yang hadir.


Kelima anak mereka kini berpelukan dengan erat, akhirnya mereka bahagia karena memiliki keluarga yang utuh. Walaupun ini kedua kalinya bagi mereka, tapi rasanya Bu Halimah dan dokter Andra sangat bahagia.

__ADS_1


"Terimakasih ya! Akang sudah melengkapi lembaran hidup kami yang kosong, terimakasih sudah memberikan warna dalam kanvas kosong ini.. Insya Allah.. Neng akan berusaha menjadi istri dan Ibu terbaik bagi anak-anak kita.."


Bu Halimah pun refleks memeluk dokter Andra dan kelima anaknya. Sungguh pemandangan yang mengharukan bagi semua mata disana. Bahkan para orang tua ketiga gadis itu pun turut larut dalam kebahagiaan itu.


"Hayohh! Setelah ini siapa nih yang naik pelaminan? Masa kalah sama dudes dan jendes!" canda Pak Solihin membuat mereka semua tertawa.


"Paling Bibil dulu nih..! Soalnya tuh udah lengket begitu," ucap Pak Saepudin sambil menoel lengan Pak Arifin.


"Insya Allah.. Tapi sepertinya harus di tunda, calon mantu saya harus berangkat satgas dulu ke Afrika 13 bulan.." jawab Pak Arifin sambil terkekeh.


"Hah? Serius lu Bil?" tanya Ashila yang terkejut saat Nabila menganggukkan kepalanya.


"Gak ada yang lebih deket? Jauh amat ke Afrika Bang!" lirih Aisyah menatap Nabila yang menahan airmata.


"Gue aja 3 bulan 10 hari udah kek ikan kurang aer, apalagi 13 bulan.." lirih Ashila sambil menoleh pada calon suaminya. "Kamu gak ikutan kan?"


Defri menggelengkan kepalanya sambil mengelus lengan Ashila dengan lembut, "Enggak! Mas nanti kebagiannya. Makanya Mas mau kita menikah dulu, menghabiskan banyak waktu bersama. Apa kamu siap mendampingi Mas?"


Perlahan Ashila menganggukkan kepalanya, "Insya Allah Mas.."


"Halah! Depan calon suami aja sok melow begitu, Cil! Giliran dibelakang, pecicilan kagak ada habisnya!" ledek Pak Solihin membuat Ashila mencebik sebal.


"Ckck! Dasar Papa durhaka, anak sendiri malah dijelek-jelekin!" omel Ashila.


Mereka pun tertawa bersama, cukup banyak undangan yang hadir ternyata. Karena dari Rumah Sakit sendiri, banyak karyawan yang dokter Andra undang. Walaupun ini pernikahannya yang kedua kali, tapi dia ingin ini menjadi yang terakhir baginya.


"Semoga menjadi keluarga sakinah, mawadah, warahmah!"


"Tambah dua lagi masih aman kok dok!"


Berbagai ucapan dan do'a terbaik mengalir bagi Bu Halimah dan juga dokter Andra. Kebahagiaan yang tidak pernah Bu Halimah sangka-sangka. Melihat anak-anaknya tertawa lepas dan merasa senang memiliki keluarga yang utuh.


"Kok nangis Neng?" tanya dokter Andra panik.


"Ish Akang! Neng terharu, bukan nangis!" Bu Halimah mencebik kesal.


"Maaf dong, Bu.. Papa kan gak tau kalo Ibu terharu.. Alhamdulillah, Papa seneng kalo Ibu seneng.."


Malam hari, semua tamu undangan pun sudah pulang, hanya tersisa keluarga-keluarga inti saja. Untuk yang kedua kalinya pun, Defri melamar Ashila. Mata gadis itu berkaca-kaca menatap sang calon suami.


"Abang memang tidak bisa berjanji selalu ada untukmu, karena Abang milik Negara ini.. Tapi Abang akan berjanji untuk selalu menjaga dan melindungi kamu, Ashila Cecilia Damayanti.. Maukah kamu menjadi istriku dan menjadi Ibu dari anak-anak kita nanti?"


Sebuah cincin berhias satu permata diberikan oleh Defri. Dengan tangan gemetar, dia memasangkan cincin itu dijari manis Ashila.


"Mau, Mas! Aku mau jadi istri kamu dan jadi Ibu dari sepuluh anak kita!"


Pletak!

__ADS_1


Pak Solihin menjitak jidat Ashila yang langsung meringis. "Papa ih! Ngerusak moment aja!"


"Bukan Papa yang ngerusak moment, kamu tuh! Emangnya kamu kucing langsung beranak sepuluh! Ketauan kan nantinya yang doyan itu kamu!" omel Pak Solihin membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Jangan ngelangkahin kami ya, Cil.. Kami baru mau proses nambah satu!" celetuk dokter Andra membuat pipi Bu Halimah merona.


"Siap Pak Haji! Acil mah entaran lagi kok nikahnya, kan Ais dulu!"


Semua menoleh pada Ashila dan Bagaskara yang duduk cukup berjarak. Keduanya sama-sama tersenyum kikuk.


"Sumpah ya! Kalian bikin Ibu jantungan!" ucap Bu Halimah dengan wajah terkejut. "Ini aja pesta belum kelar kagetnya, kok tiba-tiba Ais mau nikah sama Bagas.."


"Itulah rahasia jodoh, Bu Halimah!" ucap Pak Saepudin. "Bagaskara ini laki-laki yang akan saya jodohkan dengan Ais.. Sejak awal, Ais menolak. Siapa sangka dia bertemu dengan Bagaskara lewat kehilangan Arya.."


Deg!


Aisyah kembali berkaca-kaca saat mendengar nama Arya disebut. "Tidak perlu ditangisi lagi, Ais. Papa yakin ini juga yang Arya inginkan. Kamu menikah dan hidup bahagia. Terutama dengan laki-laki yang seiman dengan kamu, Nak.."


Bagaskara sedikit kecewa saat melihat Aisyah kembali meneteskan airmata, tapi sekuat hati dia mengerti. Kehilangan seseorang yang sangat dicintai itu tidak mudah.


"Udah ah! Kok melow gini sih! Ini kan hari bahagia Ibu.." Bu Halimah mengalihkan pembahasan.


"Insya Allah.. Semoga pernikahan Bagaskara dan Aisyah akan dilancarkan oleh Allah. Gantian dong, nanti saya yang akan bantu persiapan pernikahan kalian!" ucap dokter Andra sambil merangkul sang istri.


"Au ah!" ucap Bu Halimah sambil melepaskan rangkulannya.


"Ibuu.. Kekey sama Una mau bobok sama Ibu.." rengek dua bocah menggemaskan itu.


"Yaudah ayok..!" ucap Bu Halimah. "Semuanya.. Saya pamit dulu ya, kasian anak-anak ngantuk!"


"Neng.. Ini kan malam pertama kita, kedua kalinya.." rengek dokter Andra membuat mereka tertawa terbahak-bahak.


"Gak ada malam pertama!" ucap Bu Halimah sambil menuntun kedua anaknya itu.


Jeddar.


Selamat ngenes ya dokter Andra! 🫣😬


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2