Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Quality Time


__ADS_3

Hujan sudah mengguyur Kota Bandung pagi ini, suasana Alunara kost kini lebih hangat dibanding biasanya. Pagi ini para gadis yang mendadak menjadi pengangguran, sudah bergelut dengan bahan masakan di dapur.


"Hmmmm.. Wangi banget! Tumben Kak Acil sama Kak Ais udah selesai masak jam segini. Gak pada kerja?" tanya Inara, putri sulung Bu Halimah.


"Enggak, Kak Rara! Mereka pengangguran sekarang, jadi jatah jajan kamu sama adek Ibu kurangi ya!" ucap Bu Halimah membuat ketiga gadis itu menghela nafas.


"Buu.. Kok masih bete aja sih? Kan kita gak janjian sama sekali.. Mana kita tau bakalan jadi pengangguran bersamaan," Nabila mencolek lengan Bu Halimah.


"Iyaa.. Iyaaa deh! Udah gak usah colek-colek! Dikata Ibu sabun apa di colek-colek," gemas Bu Halimah.


Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, kini suasana lebih hangat dibanding hari-hari biasa. Dimana Bu Halimah akan di pusingkan dengan tingkah ketiga gadis itu. Sekarang, mereka berkumpul bersama menikmati waktu sambil menonton televisi.


"Ibuuu.. Emak tadi telepon, Pak Rachmat gak bisa anterin Kakak sekolah.. Katanya masih nganterin Emak ke Garut," ucap Inara sambil cemberut.


"Kak Bibil anter aja ya! Lagian Kak Bibil kan gak kerja sekarang," antusias Nabila dan Inara pun mengangguk setuju.


"Dede sama siapa?" celetuk Aluna.


"Sama Kak Ais...!"


"Sama Kak Acil..!"


Aisyah dan Ashila kompak menjawab, hingga Aluna menepuk jidatnya. "Yaudah suten aja deh! Dede mah perginya sama siapa aja yang kalah."


"Kok yang kalah, Nak?" tanya Bu Halimah.


"Kata Papa dokter, kemenangan sudah biasa di rayakan. Jadi dede mau nya dianterin sama yang kalah suten aja," jawab Aluna dan hal itu membuat hati Bu Halimah kembali merasakan perih. Karena hati yang baru saja akan mulai terbuka kembali, merasa ragu untuk melangkah.


1..2..3..


"Yessss!!" pekik Aisyah karena dia kalah dalam suten.


"Hiiissssshhh..! Terus gue ngapain dong! Beteeeee..." rengek Ashila.


"Rasain! Suruh siapa di pecat!" ledek Bu Halimah. Dia pun berpamitan karena harus pergi ke toko. Sedangkan Nabila dan Inara, juga Aisyah dan Aluna sudah berangkat.


Jalanan menuju sekolah Aluna dan Inara memang searah, bahkan kedua sekolah itu cukup berdekatan. Hingga Aisyah dan Nabila pergi dan kembali pun bersama-sama. Sementara Ashila malah berguling-guling di ruang tengah, karena bosan.


"Iiisssshhhh.. Gak enak banget jadi pengangguran! Enaknya ngapain yaaa," Ashila mulai berpikir. Namun belum Ashila memutuskan akan melakukan apa, ponselnya berdering. Tertera pesan dari Defri.


'Siap-siap ya! Mas sudah turun piket, sebelum istirahat Mas mau sarapan bareng kamu..'


Bagaikan angin segar, Ashila langsung mandi dan berdandan dengan rapi. 30 menit kemudian, sudah terdengar suara klakson motor di depan gerbang Alunara Kost.


"Masya Allah... Cantik sekali calon istriku.." ucap Defri membuat pipi Ashila merah merona.


"Ishh.. Apaan sih, Mas! Mau sarapan dimana?" tanya Ashila sambil naik ke atas motor.

__ADS_1


"Ke Tahura aja, ya! Kayaknya enak deh adem," jawab Defri sambil melajukan motornya perlahan. Ashila berbincang ringan layaknya sepasang kekasih, hatinya kembali menghangat. Dia berharap jika Defri memanglah laki-laki yang tidak akan pernah menyakitinya.


Taman Hutan Raya Ir. H. Juanda, menjadi tempat yang akan sering mereka kunjungi. Karena disinilah keduanya untuk pertama kali saling bertemu bagai tom & jerry. Cukup ramai, karena memang banyak yang berolahraga ataupun sekedar menikmati indah dan sejuknya alam.


"Mas.. Aku kok berasa salah kostum ya!" bisik Ashila.


"Kenapa sayang? Baju kamu bagus-bagus aja kok!" jawab Defri membuat Ashila mengerucutkan bibirnya.


"Kamu tuh ya, Mas! Lagian setelah piket tuh minimal ganti baju dulu sih, ini malah pake baju loreng begini. Kan jadi banyak yang perhatiin," kesal Ashila namun Defri malah terkekeh.


"Mas gak peduli dengan apa yang Mas pakai, ataupun yang kamu pakai. Mas gak akan perdulikan omongan orang. Yang penting kamu nyaman, Mas nyaman. Satu lagi.. Asalkan sama kamu, Mas gak akan pedulikan apapun.." bisik Defri. Wajah Ashila sudah memerah bagai tomat rebus.


Mereka jalan berdua sambil bergandengan tangan, walaupun Ashila sedikit risih karena banyaknya tatapan dari gadis-gadis remaja yang mengagumi kegagahan kekasihnya.


"Besok-besok, gak usah pake baju ginian lagi!" omel Ashila tanpa sadar.


"Lah.. Kan Mas emang tentara sayang, kalo gak pake baju loreng, terus pake baju apa?" tanya Defri sambil tertawa bahagia, karena melihat sang kekasih yang dilanda cemburu.


"Pake jas hujan! Udah ah, cari tempat sarapan yang sepi! Jangan rame sama cabe-cabean kaya tadi!" Ashila menarik lengan Defri.


Akhirnya mereka menemukan satu saung yang tak begitu ramai. Ashila memesan beberapa jenis gorengan dan juga kopi untuk kekasih hatinya itu. Mereka menikmati sarapan yang sederhana, namun membuat keduanya bahagia.


"Jadi beneran kamu di pecat?" tanya Defri sambil memasukan gorengan kedalam mulutnya.


Ashila menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya, "Kayaknya bukan karena absen atau kinerjaku yang menurun, Mas. Karena pasti HRD di kantor pun akan mengevaluasi kinerjaku. Cuman yang aku tau, ada seseorang yang fitnah aku. Sampe akhirnya aku di pecat. Tapi aku malah bersyukur, karena emang udah gak betah aja sih!"


Uhuk.. Uhuk... Uhuk...


Ashila tersedak saat mendengar ucapan Defri, dengan sigap dia memberikan segelas air putih pada sang kekasih hati. "Astagfirulloh.. Hati-hati dong kalo makan, sayang!" omel Defri.


"Uhuk.. Isshhh..! Mas tuh yang salah! Kalo ngomong tuh bismillah dulu! Pacaran aja baru, udah ngomongin soal anak aja!" kesal Ashila yang salah tingkah.


Defri tersenyum, dia mengeluarkan kotak cincin dari sakunya. "Mas serius, Ashila.. Menikahlah denganku, jadilah istri dan ibu dari anak-anak kita nantinya.."


Hening.. Speechless.. Ashila terdiam seribu bahasa.. Rasanya seperti DeJavu..


"Ashila.. Minggu depan, Mas akan bertugas ke Aceh selama 3 bulan. Sepulangnya dari Aceh, Mas akan melamar kamu pada kedua orang tuamu. Jika keluargamu sudah menerima, Mas akan datangkan keluarga Mas dari Jakarta, Surabaya dan Sumatera untuk menentukan tanggal pernikahan kita.."


Deg!


"Mas.." mata Ashila berkaca-kaca. Defri bergegas menghapus airmata itu.


"Jangan menangis.. Cukup tunggu Mas dan Mas akan buktikan semua cinta Mas buat kamu, Ashila Cecilia Damayanti.." Defri memasangkan cincin yang ia bawa di jari manis Ashila.


Perasaan Ashila campur aduk, dia bahagia. Hanya saja.. Kenangan masa lalu yang pahit itu seolah berputar dalam ingatannya.


"Hari ini Mas mau quality time sama kamu, sayang.. Mas mau foto studio ya! Mumpung baju kita lagi senada. Mas mau buat kenangan yang indah sebanyak apapun, untuk menghapus semua kenangan pahit dimasa lalu kamu.." Ashila hanya menganggukkan kepalanya tanpa bersuara.

__ADS_1


Jonas foto studio, disanalah mereka saat ini. Ashila dan Defri sedang bersiap untuk melakukan foto studio. Kebahagiaan terpancar dari raut wajah keduanya. Apalagi saat sang fotografer mengatakan jika mereka adalah pasangan yang serasi.


"Mas.. Terimakasih banyak.."


Defri menoleh dan mengerenyitkan dahinya, "Untuk?"


"Untuk semuanya.. Aku bahagia, Mas.. Tolong jangan hancurkan hatiku lagi, ya.." Ashila memeluk Defri saat pose terakhir.


"Love you, Ashila.."


"Love you too, Mas Defri.."


Seharian itu Ashila menghabiskan waktu bersama Defri, walaupun rasa kantuk mendera tapi Defri terus menahannya. Ashila menyadari itu saat Defri mengantarkannya pulang, dan dia meminta Defri untum beristirahat saja di Alunara kost.


"Istirahat dulu, merem dulu minimal 30 menit.. Baru Mas boleh pulang.." pinta Ashila.


"Yasudah, Mas nurut aja.."


Ashila pun meminta Defri berbaring di ruang tengah, sedangkan dia kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Ashila mencari keberadaan kedua sahabatnya yang tak terlihat disana. Hingga terdengar suara tangis dari rooftop, dia pun segera menuju kesana.


"Gilak! Gue kira lu berdua kenapa-napa! Ternyata nonton drakoran begini!" kesal Ashila.


"Hiks.. Kok Kapten Yoo Sijin matii.. Kan kasian Kang Mo Yeon nya.." lirih Nabila.


"Iyaaa.. Padahal si Kapten punya janji buat balik di musim dingin.. Hikkksss.." lirih Aisyah.


Ashila diam. Dia pun ikut hanyut dalam perasaan ketakutannya, dia takut Defri tak kembali lagi. Namun Ashila menepis perasaan itu. Dia mematikan laptop milik Nabila itu.


"Issss..! Gue lagi me time! Lu ngapain ganggu sih?" kesal Nabila.


"Kalian harus bantuin gue di dapur! Mas Defri lagi merem sebentar di ruang tengah, sebelum dia balik gue mau bekelin dia masakan gue!" rengek Ashila dan membuat Aisyah juga Nabila akhirnya membantunya.


Ketiganya menuju dapur, mereka tertawa bersama-sama dan tanpa sadar membuat hidangan yang berbeda-beda. Kesukaan Arya dan juga Riki. Terdiam, Aisyah dan Nabila saling menatap.


"Udahlah bestie! Ini hasil quality time kita juga, tar gue bekelin aja ke Mas Defri!" Ashila merangkul kedua sahabatnya yang masih terdiam.


'Ternyata aku masih mengingat semua tentangmu, Mas Arya...'


'Bang.. Masakan kesukaanmu masih selalu aku ingat.. Begitupun semua kenangan itu.. Karena rasa ini, tak pernah berubah...'


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2