
Setiap orang tua pasti menginginkan segala yang terbaik untuk anaknya. Pernahkah para readers mendengar hal itu?
Begitupun juga dengan kedua orang tua Aisyah, Pak Saepudin dan Bu Fatimah selalu mengusahakan segala yang terbaik untuk Aisyah dan Aini. Karena Aisyah memang masih mengurung diri di kamar, akhirnya Bu Fatimah menceritakan segalanya pada Pak Saepudin.
"Jadi seperti itu.. Pantes aja, Papa heran kok dia pulang-pulang kaya murung. Bagaimana menurut Mama apa kita jodohkan saja dengan Bagaskara?"
"Bagaskara? Yang anak temen Papa itu?" tanya Bu Fatimah.
"Iya Bagaskara, tetangga kita dulu di rumah dinas, Ma. Sekarang dia juga sudah jadi seorang Perwira polisi. Tidak ada salahnya bukan kalo kita coba jodohkan?" Pak Saepudin begitu bersemangat.
"Tapi, Pa.. Menurut Mama belum saatnya kalo sekarang. Tunggu hati Aisyah beristirahat sejenak. Namanya juga anak lagi patah hati.." tolak Bu Fatimah.
"Justru itu, Ma! Bukankah hati yang patah harus di obati dengan hati lagi?" kekeh Pak Saepudin.
"Pa.. Jangan terlalu memaksakan kehendak kita! Bersabarlah dulu.. Nanti kalo sudah waktunya, baru kita bicarakan baik-baik sama Aisyah. Lagi pula, kita kan gak tau apa Bagaskara sudah ada calon pendamping atau belum.."
Pak Saepudin diam dan menganggukkan kepalanya, "Kalo gitu besok Papa tanyakan saja sama Amrul, apa Bagaskara anaknya itu masih single apa tidak.. Semoga saja memang jalan jodoh Aisyah.."
Aisyah yang memang akan pergi mengambil air minum ke dapur mengurungkan niatnya saat mendengar percakapan kedua orang tuanya. Bukan apa-apa, hanya saja Aisyah belum siap jika harus membuka hati lagi untuk orang baru dalam hidupnya.
Tak ingin berlama-lama, Aisyah memutuskan untuk bersiap kembali ke Kota Bandung. Sepertinya keputusannya untuk pulang dan menenangkan diri adalah sebuah kesalahan besar. Dia pikir, pikirannya akan sedikit tenang. Nyatanya sama saja.
* * *
Pagi hari, usai shalat subuh Aisyah berpamitan pada kedua orang tuanya. Hal itu tentu saja mengundang pertanyaan bagi kedua orang tua Aisyah.
"Lho, kok balik sekarang? Ada apa?" tanya Pak Saepudin dengan tegas.
"Ais harus masuk kerja, Pa. Semalam manager kantor telpon, gak ada yang bisa backup tugas Aisyah. Lagi pula, hanya selang dua hari. Aisyah pamit ya!"
"Hufftt.. Papa belum ngobrol banyak hal sama kamu, Ais.."
"Insya Allah nanti Ais pasti pulang lagi kok, Pa. Sekarang kan Ais harus melaksanakan kewajiban Ais sebagai karyawan.."
"Yasudah, Papa antar kamu ke Stasiun. Sarapan pagi dulu, biar Mama kamu buatkan roti. Setidaknya perut kamu terisi!"
Aisyah menganggukkan kepalanya, Pak Saepudin pun bersiap dan berganti pakaian. Sedangkan Bu Fatimah menatap sang anak dengan mata berkaca-kaca.
"Maafin Mama ya, Ais.. Mama meridhoi setiap langkah kamu, Nak.. Sembuhkan luka itu perlahan.. Maafin Mama dan Papa, kami hanya ingin yang terbaik.." Bu Fatimah memeluk tubuh putri pertamanya itu.
Sebagai seorang Ibu, Bu Fatimah tau dengan pasti apa alasan putrinya untuk cepat-cepat kembali. "Ais yang minta maaf ya, Ma.. Ais banyak salah.. Do'ain Ais terus.."
Pak Saepudin mengantarkan Aisyah hingga stasiun, "Hati-hati dijalan.. Ini ada sedikit bekal dari Papa.. Bagaimanapun, kamu adalah anak pertama Papa.. Anak yang Papa selalu nantikan dan anak yang selalu Papa ingin bahagiakan.. Kalo ada apa-apa, bilang sama Papa ya.."
Aisyah menganggukkan kepalanya, "Makasih banyak ya, Pa.. Maaf Ais belum jadi anak yang bisa membanggakan Papa.. Insya Allah.. Suatu saat nanti Ais akan bahagiakan dan banggakan kedua orang tua Ais.."
Kereta menuju Kota Bandung sudah tiba, Aisyah duduk tepat disamping jendela. Dia memasang earpods ditelinganya. Lagu yang dia putar, tanpa sengaja adalah hal yang dia alami.
Kita dipertemukan bukan tuk disatukan..
Tapi untuk belajar saling melepaskan..
Tuhan ciptakan Cinta untuk semua manusia..
Tapi mengapa kita tak bisa bersama...
Sang maha cinta mempersatukan kita tuk menghargai arti kata beda..
__ADS_1
Tapi mengapa ku tak bisa terima..
Kehadiranmu hanya untuk menghilang..
Inikah yg namanya cinta segitiga..
Antara aku, kamu dan Sang Maha Pencipta..
Tak ada yang bersalah karna kita berada..
Di iman yang berbeda namun dalam amin yang sama..
Bukan takdir yang salah hanya kita memaksa..
Berharap agar ada yang mau mengalah..
Kita berdua tau DIA bukan pilihan..
Tak ada jalan kita harus merelakan..
Tapi mengapa ku tak bisa terima..
Kehadiranmu hanya untuk menghilang..
Inikah yg namanya cinta segitiga..
Antara aku, kamu dan Sang Maha Pencipta..
Tak ada yang bersalah karna kita berada..
Di iman yang berbeda namun dalam amin yang sama..
Airmata Aisyah kembali menetes. Rasanya begitu sulit untuk melepaskan semua rasa yang menyesakkan dada. Hanya saja Aisyab kembali tersadar, bahwa cintanya pada Sang Pencipta jauh lebih besar.
Sedangkan di Alunara Kost, kegalauan pun sedang dirasakan oleh Nabila. Dia tidak bisa menghubungi Farhan, padahal sudah beberapa hari ini Nabila selalu menyempatkan diri untuk memberi kabar atau pun sekedar bertanya.
"Kenapa sih, Bil? Mukanya asem banget!" tanya Bu Halimah.
"Huffff.. Lelah Bu.. Bibil rasa sekarang A Farhan jauh lebih berbeda. Dulu dia mengejar Bibil, sekarang? Setelah Bibil terima lamaran dia, tapi dia selalu sibuk dengan dunianya. Bibil tau, Bu.. Semuanya demi masa depan kita.. Tapi.. Bibil juga butuh dia," lirih Nabila terisak.
Bu Halimah menghela nafasnya, "Sabar ya, Nak.. Coba nanti hubungi lagi.."
"Ck! Gak usah Bil!" celetuk Ashila yang baru saja selesai menjemur pakaian. "Laki-laki bisa berpura-pura mencintai wanitanya, padahal di hatinya dia tidak ada rasa bahkan mencintai wanitanya dan bertahun-tahun lamanya. Hubungan yang terjalin hanya formalitas aja!"
"Sementara kita sebagai perempuan, bisa berpura-pura gak cinta sama ni laki-laki. Padahal dalam hatinya, sangat mencintai laki-laki itu. Hanya saja mungkin caranya yang selalu salah dan tidak bisa dimengerti oleh lelaki. Kenapa? Karena laki-laki terlalu pakai logika, sementara kita sebagai perempuan terlalu memakai hati yang paling dalam.."
"Itulah alasan kenapa laki-laki hanya berjuang di awal! Setelah merasa si perempuan sudah takluk dan udah mulai tergantung sama dia, laki-laki mulai acuh, gak menganggap, gak mengakui, bahkan dia gak akan takut kehilangan. Pada akhirnya ya kita sebagai wanita yang tetap bertahan dan berjuang sendiri.."
Hening.. Bu Halimah dan Nabila terdiam, mereka membenarkan semua ucapan Ashila. Keduanya menatap Ashila dengan tatapan sendu.
"Jangan natap Acil kaya gitu, deh! Gini-gini, luka mana sih yang gak pernah Acil alami? Di khianati.. Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya, di PHP.. Semuanya Acil alami..!"
"Bukan itu! Kok lu jam segini masih dirumah? Gak ngantor?" tanya Nabila.
"Hehehehe.. Acil.. Dipecat.."
"Ohhh..." Nabila dan Bu Halimah mengucapkannya bersamaan.
__ADS_1
'1... 2... 3..." batin Ashila.
"APAAAAA??!! DIPECAT?!!" kaget keduanya.
"Haisshhh.. Iya dipecat! Gara-gara Acil kebanyakan cuti! Terus gara-gara kinerja Acil menurun! Hufffttt..."
"Yaaahh.. Kita pengangguran dong.." lirih Nabila.
"HAAAAAHHHH!!!!! JANGAN BILANG KAMU DI PECAT JUGA!" Bu Halimah memijat pelipisnya yang terasa pusing.
Nabila menggelengkan kepalanya, "Bibil resign, Bu.."
"Astagfirullah ya salammm...!"
Ceklek
"Assalamualaikum...." Aisyah masuk kedalam rumah dengan lesu.
"Walaikumsalam.." jawab ketiga perempuan itu dan mengagetkan Aisyah.
"Astaghfirulloh! Kirain gak ada orang dirumah! Orang pintu depan di kunci! Tetumbenan amat pada dirumah begini. Ada apa?" tanya Aisyah keheranan.
Bu Halimah menghela nafasnya dengan berat, "Mereka sekarang pengangguran.. Yang satu dipecat, yang satu resign.. Jangan bilang kamu juga mau berhenti kerja ya, Ais.. "
"Hehehehe..." Aisyah tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya yang memegang surat. Tadi sesampainya di Stasiun, Aisyah segera menuju kantornya. Sepanjang jalan dia berpikir dan akhirnya memutuskan untuk resign dari pekerjaannya.
"YAA ALLAHHH... ANAK-ANAK INI...! MAMAK PENING...! KOMPAK AMAT JADI PENGANGGURAN...!"
Kini mereka duduk membentuk lingkaran di ruang tengah. Bu Halimah menatap keduanya satu per satu. "Jelasin.. Kalian janjiankah?"
Ketiganya menggelengkan kepalanya. "Ini udah takdir, Mak..!" celetuk Ashila.
"Bukan masalah takdir, tapi Ibu bingung.. Kalo kedua orang tua kalian nanyain gimana? Kalian itu kalo ngambil keputusan suka main cabut aja dah.. Mbok yo di omongken dulu gitu, di diskusikan dulu.."
Hening..
"Kalo Bibil udah bilang ke Mama.."
"Acil juga udah bilang ke Papa.."
"Ais belum, karena mereka masih sibuk mau jodohin Ais.."
"Hah? Lu di jodohin, Ais?" tanya Ashila dan Aisyah mengangguk.
"Mereka gak mau gue larut dalam kekecewaan, makanya mereka mau jodohin gue sama anak temennya Papa."
"Ini nih yang selalu Ibu takutkan.. Usia kalian ini sudah matang menikah, tapi pemikiran kalian masih kaya gini.." lirih Bu Halimah. "Sekarang gimana? Kalian mau cari kerjaan baru apa gimana?"
Ketiganya serempak menatap Bu Halimah dengan wajah yang berbinar. Sedangkan Bu Halimah menepuk jidatnya. "MAMAK GAK TERIMA LOWONGAN KERJAAN!! MAMAK KUTUK AJA KALIAN DI JODOHIN AMA SULTAN!!"
"AAAMIIINNN..!!!"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤