Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Hilang Tanpa Bilang


__ADS_3

'Aku suka hujan, karena.. Hujan mengenalkan aku dan kamu.. Hujan pernah menahanmu tuk tinggal bersamaku.. Hujan juga menemaniku saat aku menangis karenamu.. Dan berharap, hujan pula yang akan membawa pergi luka dalam hati ini..'


Aisyah menatap hujan yang turun dari jendela kamarnya, ini adalah malam terakhirnya di Alunara kost. Sebelum dia kembali ke kampung halaman orang tuanya. Aisyah hanya butuh sedikit waktu untuk menenangkan dirinya. Dan dia telah mengambil cuti selama seminggu, dan jika memungkinkan, dia akan mengundurkan diri dari pekerjaannya.


Sepulang dari Kota Tegal, Aisyah memang selalu resah dan gelisah. Berbagai kenangan yang telah ia lalui bersama Arya, seolah selalu berputar dalam ingatannya.


"Besok berangkat jam berapa?" tanya Ashila sambil membantu Aisyah mengemas pakaiannya.


"Kereta nya jam 8 pagi, paling jam 7 gue minta anter Pak Rachmat ke stasiun," jawab Aisyah.


"Ais.. Pikirin baik-baik ya! Jangan mengambil keputusan saat kita lagi emosi. Gue sama Acil belum siap kalo harus jauhan sama lu," Nabila merangkul Aisyah dari belakang. Ashila pun ikut memeluk keduanya.


"Insya Allah.. Do'ain aja yang terbaik buat gue ya!"


Ketiga gadis itu menatap hujan dan hanyut dalam perasaan masing-masing.


'Banyak sekali pesan yang tak tersampaikan, janji yang terhiraukan, kenangan yang terlupakan dan rindu yang terhapuskam oleh guyuran hujan.. '


* * *


Pukul 7 pagi, Nabila dan Ashila mengantarkan Aisyah ke Stasiun Bandung. Mereka sengaja mengambil cuti, karena akan membantu Bu Halimah memenuhi pesanan yang cukup banyak. Karena setelah Acara di TV itu ditayangkan, berbagai perusahaan banyak memesan kue ke Alunara Bakery.


"Makasih, ya! Kalian semua udah anter gue ke Stasiun.. Bilangin sama Ibu, maaf kalo gue gak pamit! Soalnya Ibu pasti paling melow dan gue paling males kalo Ibu udah drama gitu," ucap Aisyah sambil terkekeh.


"Aman lah! Mak haji jadi urusan gue," Ashila merangkul bahu sahabatnya itu.


"Hati-hati dijalan, ya! Kalo udah sampe sana, jangan lupa kabarin. Terus jangan kelamaan, nanti kita semua rindu!" Nabila menatap Aisyah yang terlihat menahan airmata.


"Pasti! Semangat bestie, semoga hari ini dilancarkan semuanya!" untuk terakhir kalinya, Aisyah memeluk Nabila dan Ashila bergantian.


Usai mengantar Aisyah ke Stasiun, Ashila dan Nabila mampir ke supermarket untuk membeli kekurangan bahan untuk membuat kue. Sedangkan di Alunara Bakery, Bu Halimah masih sangat sibuk mempersiapkan segalanya. Hingga dia tidak menyadari jika dokter Andra dan Keisya sudah ada disana.


"Ibu sibuk ya, Pa?" tanya Keisya sambil berbisik pada dokter Andra.


"Iya sayang.. Ibu lagi sibuk, sekarang Kekey tunggu disini ya! Papa mau bantu Ibu dulu, kayaknya ibu kerepotan," jawab dokter Andra sambil mengelus rambut sang anak.


Keisya hanya menganggukkan kepalanya. Sejak semalam dia demam, Keisya hanya meminta untuk dipertemukan dengan Bu Halimah dan hal itu tidak bisa dokter Andra tolak.


"Ekhmm.. Sibuk ya?" bisik dokter Andra membuat Bu Halimah terperanjat kaget. Tanpa sengaja dia melemparkan tepung terigu tepat di wajah dokter Andra.


"Astagfirulloh! Kenapa ngangetin sih, Akang?!" Bu Halimah membersihkan tepung yang ada di wajah dokter Andra. "Kalo dateng tuh, assalamu'alaikum dulu gitu Kang! Kalo Neng jantungan, akang mau tanggung jawab?" omel Bu Halimah.


"Hehehe.. Akang udah mau 15 menit disini, tuh sama bocil!" tunjuk dokter Andra pada Keisya yang melambaikan tangan. "Sejak semalem dia demam, dia cuman mau ketemu sama Neng. Mau di peluk katanya."


Bu Halimah pun menghampiri Keisya, "Anak Ibu kenapa? Apa yang sakit, Nak?"

__ADS_1


Mata Keisya berkaca-kaca, "Kepala Kekey sakit, Bu. Kekey mau dipeluk Ibu, soalnya temen-temen Kekey kalo sakit suka dipeluk sama Mamanya. Kalo Kekey kan gak punya Mama," lirih Keisya dan hal itu menyayat hati keduanya.


"Sini, Ibu peluk Nak. Kekey boleh minta peluk Ibu, kapan pun Kekey mau. Bukan cuman lagi sakit aja ya, Nak! Sekarang makan dulu, ya. Terus minum obat. Ibu beliin dulu bubur ya, soalnya kalo bikin lama.." Keisya menggelengkan kepalanya.


"Kekey udah makan tadi sama Papa, sekarang mau peluk Ibu aja.." Gadis kecil itu memeluk Bu Halimah dengan erat, hingga hampir tertidur.


"Kang.. Ini Kekey tidurin di sofa ujung sana aja, ya! Kasian, kalo sambil di gendong gini nanti lehernya sakit," ujar Bu Halimah dan dokter Andra menganggukkan kepalanya.


Usai menidurkan Keisya, Bu Halimah kembali berkutat dengan adonan kue nya. Dua pegawai lainnya pun sibuk dengan pesanan masing-masing. Melihat Bu Halimah kesulitan, dokter Andra pun membantunya.


"Ajarin Akang cetak kue nya, biar Akang bisa bantuin Neng.."


Bu Halimah menoleh dan mengangguk, dia mengajarkan dokter Andra dengan telaten. Sesekali mereka sambil bercanda dan tertawa. Hal itu disaksikan oleh seseorang diluar pintu masuk. Tangannya terlihat mengepal erat melihat kedekatan Bu Halimah dan dokter Andra. Perempuan itu memutuskan untuk masuk kedalam.


"Permisi! Saya mau ambil pesanan kue," ucap seorang perempuan, dia merupakan pelanggan setia di Alunara Bakery. Mendengar suara sang pelanggan, Bu Halimah bergegas keluar. Sedangkan dokter Andra mempacking kue pesanan di belakang.


"Eh Bu Mita! Tunggu sebentar ya, Bu! Lagi di packing di belakang," ujar Bu Halimah. Tak lama dokter Andra keluar.


Deg!


Nafas dokter Andra naik turun tak beraturan, ternyata Bu Mita yang selama ini menjadi pelanggan setia Bu Halimah adalah mantan istri dokter Andra alis Ibu kandung Keisya.


"Papa? Sejak kapan dokter kerjanya di dapur?" ejeknya dengan nada sinis. "Apa gak ada pengganti yang lebih baik dari aku, Pa? Sampe kamu jadiin tukang kue ini, calon Ibunya anak-anak kita?"


Hati dokter Andra terasa mendidih, sedangkan hati Bu Halimah terpotek saat mendengar dirinya di rendahkan seperti itu.


"Jaga bicara kamu, Mita! Mulai sekarang berhenti bicara omong kosong! Sejak dulu, saya udah melupakan sampah seperti kamu! Hanya kamu yang gak tau diri, tiap aku dekat dengan perempuan mana pun, kamu selalu mengganggu kami! Mulai sekarang, aku gak akan mundur! Halimah adalah perempuan pilihanku dan dia akan jadi Ibu yang baik buat anak-anakku!" tegas dokter Andra dengan nada tinggi.


Hal itu mengusik tidur Keisya, gadis kecil itu terbangun dan terlihat ketakutan. Bu Halimah menghampirinya dan memeluk gadis kecil itu.


"Enak aja! Dia itu anakku juga, anak kita! Aku yang ngelahirin mereka! Seenaknya aja kamu mau gantiin dia sebagai Ibu anak-anak kita," balas Bu Mita dengan sengit.


"Ibu? Ibu macam apa kamu?! Kamu tinggalin mereka gitu aja, sekarang kamu mengakui mereka anak-anak kamu? Miris sekali.." ejek dokter Andra membuat Bu Mita semakin naik darah.


Karena tak ingin Keisya melihat pertengkaran kedua orangtuanya, Bu Halimah meminta salah satu pegawainya untuk membawa Keisya keluar toko. "Cukup! Bisa gak kalian gak beradu mulut didepan anak-anak?! Selesaikan masalah kalian, jangan disini!"


"Ck.. Wanita ******! Gak usah cari muka kamu, mau bagaimana pun aku Ibu Keisya dan aku yang berhak atas anakku!"


"Memang siapa yang mengklaim jika Keisya anak saya? Gak ada, Bu Mita! Saya sadar diri, apalah saya ini hanya seorang janda yang berusaha menghidupi anak-anak saya sendiri! Tapi ingat, Bu Mita! Saya sama sekali tidak pernah mengklaim jika saya adalah pengganti anda!" tegas Bu Halimah.


"Bagus lah kalo kamu sadar diri, ****** kaya kamu memang sepantasnya sadar diri. Karena sampai kapanpun gak akan ada yang sebanding dengan saya!"


"Pantaskah jika ****** berteriak ****** pada perempuan baik-baik?" tanya dokter Andra dengan suara mengejek. "Sebaiknya berkaca diri, Mita.. Kamu yang ******! Berapa banyak laki-laki yang kamu tiduri sekarang? Puaskah?"


Tangan Bu Mita mengepal keras, "Semua salahmu! Karena kamu gak pernah punya waktu untukku dan anak-anak!"

__ADS_1


"Aku? Salahku? Aku bekerja untuk kalian semua! Sudahlah.. Gak usah berbelit.. Sekali ******, tetap ******! Pergilah..! Dan satu hal lagi, jangan pernah kamu hina Halimah sedikitpun! Karena dia 1000x lebih baik dari kamu, bahkan secuil kuku pun kamu gak akan bisa menandingi kebaikan hatinya!"


Sakit. Bagaimanapun sebagai seorang perempuan, Bu Mita masih menyimpan perasaan pada dokter Andra.


"Ini pesanan Bu Mita, silahkan dibawa dan pergi.." ucap Bu Halimah sambil memberikan paper bag berisi kue.


Bukan menerimanya, Bu Mita malah melayangkan tamparan ke pipi Bu Halimah. Namum belum juga sampai, tangan Bu Mita dipelintir kebelakang hingga kesakitan.


"Arrghhhhh.. Siapa kamu?! Lepassss..!" bentak Bu Mita.


"Lu yang siapa? Seenaknya panggil Mak haji dengan sebutan begitu! Lu yang ******, tangan lu haram buat menyentuh seujung kuku Mak gue! Haram kaya air liur doggy!" geram Ashila sambil memelintir tangan Bu Mita.


"Anak kurang ajar! Lepas! Gak pernah makan bangku sekolah ya kamu!" Bu Mita terus memberontak hingga akhirnya tangannya terlepas.


"Bodoh! Disekolah ya gue belajar, ngapain makan bangku sekolahan! Emang gue rayap! Bego emang ya ni orang!" Ashila menjambak rambut Bu Mita dengan kencang.


"Lepas..! Saya bisa laporin kamu ke Polisi!" bentak Bu Mita. Mendengar nama Polisi, Bu Halimah dan dokter Andra pun berusaha untuk melepaskan tangan Ashila dari rambut Bu Mita.


"Silahkan! Laporiiinnn...! Bapak gue kacang ijo, mau apa lu?! Gue bisa aja datengin orang se-Batalyon buat nyingkirin cecunguk kaya lu!" Ashila masih tidak terima jika Bu Halimah di hina seperti itu. Baginya, Bu Halimah sangat berharga seperti kedua orang tuanya.


"Acil.. Please, Nak.. Lepasin ya!" bujuk Bu Halimah. Akhirnya Ashila pun melepaskannya.


"Kalian semua gilaaaaa!" teriak Bu Mita frustasi. "Aku bakalan bawa anak-anak! Liat aja nanti," ucapnya lalu keluar dari Alunara Bakery.


"SANA PERGI YANG JAUH! JANGAN PERNAH BALIK LAGI YA KUNTILANAK BERBAJU BLUEBERRY!" teriak Ashila.


"Burberry, Acil..!" ralat Nabila


"Ah bodo amat dah! Gue kesel sekesel keselnya! Lagian ngapa sih dok dulu bisa nemu manusia kek gitu! Hih.. Mana dijadiin istri pula! Buta kali ya dok," omel Ashila.


"Acilll... Gak boleh ngomong gitu!" tegur Bu Halimah dan Ashila hanya menghela nafas lalu pergi ke dapur diikuti oleh Nabila.


Bu Halimah dan dokter Andra terdiam. "Maafin saya, Neng.. Saya.."


"Kang.. Sekarang mending Akang bawa pulang Keisya, kasian dia harus istirahat.." ucap Bu Halimah.


"Tapi, Neng.."


"Pergilah, Kang.. Biarin saya berpikir.. Jangan sampai saya hilang tanpa bilang.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2