
Liburan yang diimpikan tak sesuai realita. Pada akhirnya Aisyah dan Nabila harus menginap semalam di Klinik karena kelelahan. Dan dengan terpaksa Bu Halimah pun bergantian dengan Ashila untuk menjaga keduanya.
"Yaa Allah.. Kalian ini ada-ada aja deh!" lirih Bu Halimah menatap keduanya dengan sedih.
"Maaf ya, Bu! Bibil gak maksud buat merusak hari bahagia Ibu.." Nabila menatap Bu Halimah dengan mata berkaca-kaca.
"Gak apa-apa, Nak.. Semua ini gak merusak apapun. Pokoknya kalian berdua harus sehat! Kita disini mau liburan, lho!" Bu Halimah mengelus kepala Nabila dan Aisyah bergantian.
Aisyah hanya tersenyum, dia merasa bersalah karena telah pergi tanpa berpamitan. Dia pun menggenggam tangan Bu Halimah.
"Maafin Ais ya, Bu.. Ais pergi gak pamit. Tadi Ais niatnya cuman mau jalan-jalan aja cari angin. Maaf ya, Bu.." lirih Aisyah.
Bu Halimah pun duduk disamping Aisyah dan mengelus kembali kepalanya dengan lembut. "Ibu tau, Nak.. Semuanya terasa berat.. Bagilah semua yang kamu rasa pada kami.. Jangan dipendam sendiri, ya!"
Aisyah pun menganggukkan kepalanya, lalu tertidur karena lelah menangis. Nabila pun perlahan memejamkan matanya. Riki dan dokter Andra datang bersamaan, setelah tadi mengantarkan Ashila pulang ke penginapan. Mereka pun membawakan semua perlengkapan yang dibutuhkan Aisyah dan juga Nabila.
"Ibu pulang aja.. Tadi kata dokternya, kalo infus mereka besok pagi sudah habis, mereka sudah bisa pulang. Kasian anak-anak kalo Ibu tinggalin!" ucap Riki pada Bu Halimah.
"Iya Neng. Akang anter pulang ke penginapan, ya! Nanti Akang balik lagi kesini buat nemenin Riki," dokter Andra pun membujuk Bu Halimah.
"Huft! Baiklah.. Kalo bapak Negara sudah berkata, Ibu ya nurut aja!"
Akhirnya Bu Halimah pun diantarkan oleh dokter Andra, sepanjang perjalanan menuju penginapan mereka terdiam. Dokter Andra masih terpikirkan pada sosok pemuda yang wajahnya sangat mirip dengan Arya.
"Astagfirullah! Akang minggir sebentar!" pekik Bu Halimah membuat dokter Andra menginjak rem mendadak.
"Yaa Allah, Neng! Ada apa sih? Akang kaget!" ucap dokter Andra sambil memegang dadanya.
Tanpa menjawab pertanyaan dokter Andra, Bu Halimah pun keluar dari mobil tergesa-gesa. Dia menghampiri gerombolan Polisi yang tengah meringkus tersangka pengedaran obat-obatan terlarang.
"Arya!" panggil Bu Halimah, namun laki-laki itu tidak menoleh sama sekali.
"Aryaaaaa!" kali ini Bu Halimah berteriak, hingga dia menoleh. Bu Halimah mendekati laki-laki yang ternyata Bagaskara.
"Astagfirullah Arya!" mata Bu Halimah mulai berkaca-kaca.
Dokter Andra pun menarik lengan Bu Halimah, "Neng! Dia bukan Arya!"
"Dia Arya, Kang! Dia Arya!" tegas Bu Halimah. Dokter Andra membawa Bu Halimah dalam pelukannya.
"Istighfar, Neng.. Arya sudah tak ada di dunia ini. Mereka kebetulan sangat mirip. Jangan sampai Aisyah bertemu lagi dengan dia," ucap dokter Andra membuat Bu Halimah tersentak kaget.
"Jadi Ais udah ketemu dia, Kang?!" tanya Bu Halimah dan dokter Andra menganggukkan kepalanya.
"Astagfirullah.. Anakku.." lirih Bu Halimah.
Bagaskara pun tak enak hati, sebab wajahnya sangat mirip dengan laki-laki itu. Jika dalam pribahasa bagaikan pinang dibelah dua.
"Saya mohon maaf atas ketidak nyamanannya, tapi saya pun tak nyaman. Nama saya Bagaskara, bukan Arya, Bu!" ucap Bagaskara yang membuat Bu Halimah terisak.
__ADS_1
"Saya yang minta maaf, Nak.. Saya yang salah.." lirih Bu Halimah.
"Tidak ada yang salah, Bu. Hanya kebetulan saja wajah saya ini mirip dengan seseorang yang bernama Arya. Tapi saya tidak memiliki kembaran, saya hanya anak tunggal. Dan insya Allah anak kandung kedua orang tua saya," Bagaskara kembali menegaskan.
"Sekali lagi saya mohon maaf, Nak Bagaskara! Kami terlalu kehilangan, hingga terlalu berlebihan seperti ini," ucap dokter Andra.
"Tak apa, Pak! Saya pun mengerti! Kalo begitu saya pamit. Assalamu'alaikum!"
"Walaikumsalam!" ucap dokter Andra dan Bu Halimah bersamaan.
Mereka pun kembali ke penginapan, karena Ashila mengabarkan jika Keisya dan Luna menangis mencari keberadaan Bu Halimah.
* * *
Adzan subuh sudah berkumandang, semalaman Riki menjaga Nabila dan Aisyah sendirian. Karena Keisya dan Luna tidak mau ditinggalkan oleh dokter Andra.
"Ila.. Abang sholat dulu, ya! Kalo mau sholat, nanti tunggu Abang balik dari mushala," ucap Riki pada Nabila yang sudah terbangun.
"Iya Bang.. Ila tunggu.."
Aisyah pun mulai terbangun, dia merasa sedikit jauh lebih baik. Dia pun menoleh pada Nabila yang tersenyum.
"Konyol ya, Bil! Kita malah tidur di Klinik begini," Aisyah terkekeh.
"Iya, Ais.. Kocak banget ya, kita!" Nabila pun terkekeh.
"Malem rasanya nyataaaa banget. Gue meluk Mas Arya dengan erat banget! Dan itu sedikit banyak ngobatin rindu gue sama Mas Arya," Aisyah pun mulai bercerita.
Aisyah menganggukkan kepalanya, "Gue sampe halusinasi kaya gitu semalem! Menurut lu, apa gue harus konsul sama psikologi?"
"Menurut gue, lu butuh itu, Ais.. Bukan apa-apa, demi kesehatan lu juga! Nanti gue temenin deh," ucap Nabila yang memang tak mengetahui perihal Bagaskara yang memiliki wajah mirip Arya.
Mereka diam dengan pemikirannya masing-masing, sampai Riki pun datang dan membantu Nabila berwudhu. Sedangkan Aisyah memang tidak sedang melaksanakan shalat.
"Pelan-pelan, Ila! Lantainya agak licin, Abang kan gak bisa temenin kamu ke dalem!" ucap Riki mengingatkan.
"Iya Bang, Ila tau!"
"Andai kamu mau menikah dengan Abang, baru Abang bisa menemani kamu kemanapun.."
Deg!
Nabila tertegun, namun kemudian melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi. Dia termenung mendengarkan ucapan Riki. Bisakah? Karena saat ini pun dia masih bimbang perihal hubungannya dengan Farhan yang entah berakhir atau tidak. Karena memang Nabila belum tau jika sang Ayah sudah bertemu dengan keluarga Farhan atau belum.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ila! Kamu gak apa-apa kan?" teriak Riki khawatir.
"Enggak, Bang! Sebentar.." jawab Nabila.
__ADS_1
Dia pun menyelesaikan wudhunya, lalu diantar oleh Riki ke mushala. Karena infusannya sudah dilepas sebelum dia shalat subuh. Usai Nabila shalat, Riki pun menyelesaikan administrasi pembayaran Nabila dan juga Aisyah.
"Biar Ila yang bayar, Bang! Ila bawa ATM kok!" ucap Nabila, namun Riki menggelengkan kepalanya.
"Ini tanggung jawab Abang, jadi Abang yang bayar.."
"Tapi Bang..."
"Ilaa.. Tolong.. Berapa banyak kamu akan menolak Abang?"
Hening
Aisyah menatap keduanya dengan perasaan pilu. Hubungan Nabila dan Riki terkesan rumit, namun saat ini Aisyah memang berada di pihak Riki. Dia bisa melihat binar ketulusan dimata laki-laki itu.
"Bang! Ais bayar sendiri aja!" ucap Aisyah.
"Sudah Abang bayarkan, Ais. Kalian tenanglah! Cukup diam dan duduk manis!" omel Riki.
Akhirnya dua gadis itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Istrinya cantik-cantik ya, Pak!" goda sang kasir membuat Riki mendengkus kesal.
"Calon istri saya yang pakai jaket kulit! Yang sebelahnya, itu adik saya!" ucap Riki dengan nada suara yang mampu Nabila dan Aisyah dengar.
Memang saat ini Nabila mengenakan jaket kulit miliknya, karena semalam dia tak mengenakan jaket. Ada perasaan tak menentu dalam hati Nabila. Namun dia tak ingin berlarut.
"Bang, boleh gak sarapan dulu? Aku mau makan bubur seafood disana!" tunjuk Nabila pada kedai pinggir pantai yang tak jauh dari Klinik.
"Yasudah.. Sambil nunggu dokter Andra jemput!" Riki menggenggam tangan Nabila dan meuntunnya.
Aisyah hanya tersenyum dan mengikuti keduanya dari belakang. Ponselnya bergetar, Aisyah membuka ponselnya dan membalas pesan yang dikirimkan oleh Ashila. Hingga tak sadar didepannya ada seseorang yang tengah berdiri sambil mengawasi buruannya.
Bruk!
Hampir saja Aisyah terjatuh, namun seseorang itu berhasil menangkapnya.
Deg!
"Mas Arya.." lirih Aisyah dengan mata berembun. Dia mengelus pipi laki-laki itu, Bagaskara.
"Ini bukan halusinasi.."
"Kenapa kita harus terus bertemu, Nona?"
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤