Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Usai


__ADS_3

Semua orang mengkhawatirkan kondisi Nabila. Saat ini, Nabila masih berada di Ruang ICU. Bahkan Riki tidak meninggalkan pintu ruangan itu barang sedetikpun. Hanya untuk shalat dia pergi meninggalkan pintu ruangan itu.


"Nak. Tidurlah! Nabila akan baik-baik aja kok," Bu Halimah meminta Riki untuk tertidur walaupun sebentar. Karena sejak semalaman dia tidak tidur.


"Saya gak apa-apa, Bu! Ibu yang harus istirahat, kasian anak-anak."


Bu Halimah menghela nafas, dia paham apa yang Riki rasakan. Bahkan jika masa cutinya hanya dihabiskan untuk sekedar menunggui Nabila. Semua itu karena sebuah cinta yang tulus.


"Permisi, Bu! Pasien sudah sadar. Silahkan jika ingin melihat, tapi giliran ya!" ucap Suster.


Pak Arifin pun bangkit dari duduknya, ia bersama sang istri masuk pertama kali untuk melihat putri kesayangannya itu. Riki pun menatap Nabila dari balik kaca jendela itu. Dia bersyukur jika Nabila baik-baik saja.


"Sudah lega kan? Bibil Insya Allah anaknya kuat!" ucap Bu Halimah. "Ngomong-ngomong, tadi si Bagaskara itu bilang katanya ada yang rekam kejadian waktu anak-anak itu mukul kaca mobil. Makanya dia, Ais sama Acil sekarang lagi ke Polda! Soalnya bukti itu ada di temennya Bagaskara."


Sedangkan didalam, dua pasangan paruh baya itu memeluk putri mereka satu-satunya. Pak Arifin menciumi kepala Nabila yang tertutup perban.


"Anak Bapak kuat!" ucap Pak Arifin. "Insya Allah akan ada pelangi setelah badai ini. Usai sudah semua kesedihan yang kamu rasakan. Bapak janji, akan membahagiakan putri Bapak satu-satunya!"


"Ma-maafin Ila ya, Pak.. Bu.." lirih Nabila.


"Nggak ada yang harus dimaafin sayang. Ini semua sudah jalan yang Allah berikan, Insya Allah anak Ibu kuat! Ibu akan selalu mendo'akan yang terbaik buat anak Ibu.." perempuan paruh baya itu mengecup kedua pipi putrinya.


Pak Arifin memberikan kode pada Riki dan Bu Halimah. Riki hanya menganggukkan kepalanya, kini gilirannya untuk masuk bersama Bu Halimah. Namun, Bu Halimah membiarkan Riki untuk masuk sendirian. Dia memberikan ruang bagi Riki dan Nabila.


"Ila.." panggil Riki. Nabila mengerjapkan matanya, lalu tersenyum.


"Abang Iki.. Kesayangan Ila.." ucap Nabila dengan lirih.


Airmata tak dapat lagi Riki bendung, dia menggenggam erat tangan Nabila dan mencium punggung tangannya.


"Maaf.. Maaf karena Abang gak bisa jaga kamu dengan baik. Abang sudah gagal buat melindungi kamu," isak tangis Riki pecah.


Nabila menghapus airmata itu dengan ibu jari yang masih lemah, "Abang gak pernah gagal. Maaf karena Ila selalu merepotkan bahkan menyakiti hati Abang. Terimakasih atas semua cinta yang udah Abang kasih buat Ila.."


Sejenak dua insan manusia itu meluapkan perasaannya bersama. Bu Halimah masuk dan Riki melepaskan genggamannya lalu bergeser.


"Anak nakal! Kenapa sih selalu mendem rasa sakit Nak? Ibu gak suka! Bukan sekali dua kali lho kamu bikin Ibu jantungan Bil.." lirih Bu Halimah.


"Maafin Bibil ya, Bu.." lirih Nabila.

__ADS_1


"Kali ini Ibu maafin! Tapi lain kali enggak!" omel Bu Halimah namun dengan nada lembut. "Bibil harus belajar terbuka, jangan selalu pendam semuanya sendiri ya sayang! Ibu begini karena Ibu sayang sama Bibil.."


Nabila pun menganggukkan kepalanya. "Bibil janji gak akan bandel lagi, gak akan sedih lagi. Kata Bapak, semua kesedihan Bibil sudah usai. Bibil harus bangkit lagi."


"Siiipp..! Baru anak Ibu.." Bu Halimah mengecup kepala Nabila. "Kamu jangan dulu ya Nak Riki! Harus halalan thoyyiban dulu!" goda Bu Halimah.


Setelah melalui masa observasi, akhirnya Nabila pun dipindahkan ke ruang rawat inap biasa. Hingga kondisinya benar-benar pulih.


* * *


Hubungan Bu Halimah dan dokter Andra semakin membaik, minggu depan keduanya akan melaksanakan lamaran resmi. Karena dokter Andra ingin saat Ramadhan nanti, Bu Halimah sudah bisa mendampinginya.


"Mak haji! Ini apa kaga salah? Acil beneran harus bikin kue bolu sendiri? Apa tamu-tamu kaga akan keracunan?" tanya Ashila sambil merengek.


Bu Halimah menjadikan Ashila seksi konsumsi cemilan manis. Sedangkan Aisyah ia minta untuk menjadi tim dekorasi bersama Nabila nantinya.


"Konsekuensi dong, Acil! Suruh siapa kamu pilihnya itu!" ledek Bu Halimah.


"Curang nih Mak haji! Mana si Ais ditemenin si Bibil!" protes Ashila sambil mengerucutkan mulutnya.


"Heiii.. Bibil aja baru boleh pulang besok! Masa iya Ibu langsung kasih kerjaan ke dia, mana Ibu tega!" omel Bu Halimah. "Kalo kamu nggak mau bantu Ibu yasudah!"


"Ishh.. Ishhh.. Yang mo kawin kok pundungan begitu? Iye dah Acil bikin kue bolu! Asal arahkan loh.. Acil emang jago, tapi kalo bikin buat banyak manusia kan inspekyur!" Ashila menghela nafasnya.


Ditengah-tengah percakapan keduanya, dari jauh Jeremy memperhatikan Alunara kost yang saat ini cukup ramai. Karena kebetulan anak-anak dokter Andra tengah berkunjung kesana sebelum anak sulung dan anak tengah kembali ke Pesantren.


"Halimah.. Aku gak akan biarkan kamu jadi milik orang lain!" ucapnya penuh dengan amarah.


Jeremy pun bertekad agar Bu Halimah kembali padanya, apapun caranya. Rasa sesal didalam hatinya semakin mendalam dan dia berharap bisa memperbaiki semua yang telah ia rusak.


"Halimah!" panggil Jeremy.


"Eh buset dah! Ni makhluk kagak ada kapok-kapoknya dah Mak haji! Mo ngapaen lagi sih ni makhluk kemari?" Ashila sangat emosi saat melihat Jeremy.


"Saya tidak ada urusan dengan kamu!" hardiknya, lalu menarik lengan Bu Halimah dengan keras.


"Aww..! Lepas Jeremy!" pinta Bu Halimah.


Ashila yang melihat Bu Halimah kesakitan langsung melayangkan tndangan tepat diwajah Jeremy, hingga laki-laki itu terjungkal. Namun Ashila berhasil menahan tubuh Bu Halimah.

__ADS_1


"Mau apalagi sih kamu kemari?" tanya Bu Halimah dengan nada tinggi.


Jeremy menghapus luka diujung bibirnya, "Aku hanya ingin kembali dengan kamu, Halimah! Apakah salah? Aku ingin kita membesarkan anak kita bersama-sama!"


"Kenapa? Kenapa baru kali ini kamu sadar?! Aku gak akan pernah kembali lagi sama kamu apapun yang terjadi!" tegas Bu Halimah.


"Semua diantara kita sudah USAI!! Semenjak kamu memasukkan perempuan itu kedalam kamar dimana tempat kita memadu kasih!! Dan sampai mti pun aku tidak akan pernah melupakan itu!!" airmata Bu Halimah menetes begitu saja.


"Bukankah kamu sudah memaafkan aku?? Kenapa kamu mengungkitnya lagi, Halimah?" tanya Jeremy dengan tatapan sendu.


"Aku memang sudah memaafkan kamu! Tapi sampai kapanpun aku tidak akan pernah melupakan semua kesalahan kamu! Sekarang pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!!"


"Enggak Halimah! Aku gak akan pergi sebelum kamu menerimaku kembali!!" Jeremy hendak meraih tangan Bu Halimah lagi, namun Bagaskara datang bersama Riki.


Hap!


Dengan mudah Bagaskara membrgol lengan Jeremy. Sedangkan Riki berdiri dihadapan Bu Halimah, menjadi tameng bagi para perempuan itu.


"Lepas! Apa-apaan ini?" teriak Jeremy membuat anak-anaknya keluar dari rumah.


"Aluna.. Inara.. Tolong Ayah Nak.." lirih Jeremy saat melihat kedua putrinya.


"Om bawa aja ke kantor Polisi! Kakak gak mau liat orang itu disini!" teriak Inara dengan lantang. Sedangkan Bu Halimah langsung memeluk kedua putrinya.


"Sudah ku bilang, Jeremy! Semuanya sudah USAI!! Jangan salahkan aku, jika kebencian anak-anak kembali padamu!!"


Bagaskara terpaksa mengamankan laki-laki itu. Tadinya dia menemani Riki kesana karena ingin bertemu dengan Aisyah. Sosok perempuan yang membuatnya penasaran.


"Saya akan lepaskan brgol ini! Tapi segera pergi dari sini!" tegas Bagaskara dan Jeremy pun terpaksa menganggukkan kepalanya.


Usai urusan Jeremy selesai, Bagaskara akan membantu Riki merapikan rooftop. Namun rupanya, ia bertemu Aisyah yang tengah menatap sebuah foto.


'Maafkan aku Mas.. Tapi semuanya telah usai.. Aku janji akan berkunjung ke tempat peristirahatan terakhirmu.. Maafkan aku.. Aku harus bangkit kembali menata hidupku..'


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰

__ADS_1


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2