Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Pertahankan Rasa


__ADS_3

Dunia itu bulat dan tempat yang tampak seperti akhir, mungkin juga merupakan permulaan. Biarlah setiap fajar bagimu sebagai awal kehidupan dan setiap matahari terbenam bagimu sebagai penutupnya. Tidak peduli betapa sulitnya masalalu, kamu harus selalu bisa memulainya kembali.


"Papa akan membahagiakan kalian.. Karena aku masa depanmu, Neng.." ucap dokter Andra menatap Bu Halimah yang menahan tangisnya.


Hati Jeremy teramat sakit mendengar hal itu, walaupun kini Aluna dan Inara mau menemuinya, tapi tetap saja rasanya menyakitkan.


"Aku tetap Ayah mereka, aku Ayah biologis mereka!" ucap Jeremy spontanitas.


"Saya tau.. Maka dari itu, sadarlah! Anda Ayah biologis mereka, tapi anda tidak memperlakukan anak anda dengan baik. Jika hubungan rumah tangga anda gagal, setidaknya anda harus mencoba untuk tidak menjadi orang tua yang gagal!" tegas dokter Andra membuat Jeremy mengepalkan tangannya.


"Saya mau menggugat hak asuh mereka! Kecuali.. Kamu mau rujuk dengan saya, Halimah.."


Deg!


"Silahkan.. Gugatlah.." ucap dokter Andra dengan entengnya.


"Kang..!" cegah Bu Halimah namun dokter Andra menahannya.


"Neng.. Pertahankan segala rasa dalam hatimu untuk Akang.. Akang yang akan berjuang.. Inara dan Aluna masih dibawah usia 17 tahun, sekalipun anda menggugat hak asuh mereka tidak akan pernah jatuh pada anda.." Jeremy semakin emosi saat mendengar penuturan dokter Andra.


"Pulanglah.. Sebelum saya bawa pasukan saya kemari! Saya sudah berbaik hati membujuk anak-anak anda untuk bertemu dengan seorang Ayah yang bahkan tidak layak disebut Ayah!"


Pada akhirnya, Jeremy meninggalkan Alunara kost dengan hati yang penuh emosi. Dia menyesal telah meninggalkan keluarga kecilnya demi kepuasan semata. Dan kini dia merindukan kehangatan keluarganya.


Kini dokter Andra dan Bu Halimah berbincang di rooftop, sedangkan Ashila dan Nabila berpamitan untuk ke Rumah Sakit menjenguk Aisyah karena sudah ditunggu Pak Rachmat yang akan mengantarkan mereka. Namun baru saja mereka masuk kedalam mobil, Farhan turun dari mobilnya.


"Mau kemana sayang? Aa mau bicara.." ucap Farhan memohon.


"Aku mau gantian jaga Aisyah, soalnya dia sendirian. Mama sama Papanya lagi pulang dulu," jawab Nabila seadanya.


"Acil.. Bisa kan jaga Aisyah sebentar? Ada yang harus Aa omongin sama Bibil," pinta Farhan pada Ashila.


Sebenarnya Ashila serba salah, tapi pada akhirnya dia menganggukkan kepalanya. "Selesaikan masalah kalian baik-baik, selesaikan dengan kepala dingin.. Gue pamit ya! Inget pesen gue," ucap Ashila pada Nabila.


Akhirnya Nabila pun mengalah, dia masuk kedalam mobil Farhan. Namun sikapnya tak hangat seperti biasanya. Entah apa yang Nabila rasakan saat ini. Yang pasti rasa kecewa memenuhi rongga dadanya. Apalagi sebelum Pak Arifin pulang, beliau sempat meminta maaf walaupun Nabila tidak membuka pintu kamarnya.

__ADS_1


"Sayang.." panggil Farhan, namun Nabila tidak meresponnya.


"Nabila sayang.." panggil Farhan kembali. Dan Nabila masih tidak acuh.


"Maafin Aa sayang.. Aa tau semua ini kesalahan Aa, Aa gak pernah punya waktu buat kamu.. Aa juga sering mengabaikan kamu, Aa minta maaf sayang.."


Nabila tetap diam, namun airmata tak bisa dia tahan di pelupuk matanya. Dan Farhan bisa melihat itu semua. Dia memutuskan untuk mengajak Nabila ke Dago, supaya mereka bisa mengobrol dengan nyaman.


"Kita mau kemana? Aku gak mau jauh-jauh.. Aku harus ke Rumah Sakit!"


"Ke Dago, Aa mau kita ngobrol ditempat yang tenang.. Supaya kita nya juga enak ngobrolnya, sayang.."


Hening..


Farhan menghentikan mobilnya di cafe yang tidak begitu ramai, saat akan menggenggam tangannya, Nabila melangkah lebih dulu. Farhan pun menghela nafasnya.


Mereka duduk berhadapan, namun Nabila tidak mau menatap Farhan. Tatapannya tertuju pada pemandangan Kota Bandung yang cukup indah. Farhan pun memesankan makanan kesukaan Nabila.


"Sayang.. Kita harus bicara..!" tegas Farhan.


"Astagfirullah.. Sayang, maafin Aa.. Aa gak ada maksud buat ngebentak kamu. Aa cuman mau kita bicara baik-baik. Jadi Aa mohon, tolong kasih Aa kesempatan buat bicara." Farhan menggenggam tangan Nabila dengan erat.


Nabila hanya bisa meneteskan airmatanya. "Sejak awal.. Aku jatuh cinta sama Aa, itu semua karena sikap santun, perjuangan dan perhatian Aa yang tiada habisnya.. Tapi setelah hubungan kita melangkah lebih jauh, Aa seolah melupakan perjuangan Aa dulu buat dapetin cinta aku.. Aa jadi lebih sering mengabaikan aku.." lirih Nabila.


"Maafin Aa, sayang.."


"Aku gak pernah menuntut apapun dari Aa, aku gak pernah minta sebuah pernikahan yang mewah. Aku gak pernah minta itu semua! Aku menerima Aa apa adanya diri Aa, aku gak pernah menuntut apapun!" ucap Nabila diiringi dengan isak tangis.


"Aa tau, maafin Aa ya.. Aa janji, Aa gak akan pernah abaikan kamu lagi.. Aa janji.." Farhan mengusap airmata yang menetes di pipi Nabila.


Nabila menggelengkan kepalanya, "Aku mundur, Aa.. Bukan rasa ini hilang, tapi aku menghargai semua perubahan sikap Aa ke aku.. Aku gak akan pernah maksa Aa buat kasih feed back yang baik sama aku.."


"Intinya terimakasih udah mau singgah dalam kehidupanku, terimakasih sudah memberi warna dalam hidupku.. Dan maaf.. Aku udah berusaha jadi yang terbaik, tapi aku gagal.. Dan hari ini, hari terakhir aku mempertahankan hubungan ini.."


Deg!

__ADS_1


Farhan menggelengkan kepalanya, "Aa gak bisa, sayang! Aa gak mau kehilangan kamu.. Tolong.. Pertahankan rasa itu.. Aa janji, Aa akan berubah demi hubungan kita yang jauh lebih baik.."


"Sudah berapa banyak janji yang Aa ingkari?" tanya Nabila dengan isakan tangis yang sulit berhenti.


"Maaf sayang.. Maaf.. Tolong bertahanlah sedikit lagi.." lirih Farhan yang ikut meneteskan airmata.


"Dari Aa aku belajar, bahwa setiap janji yang diucapkan gak bisa kita pegang untuk menjadi tolak ukur sumpahnya laki-laki.."


Hati Farhan terasa perih, tangisan perempuan yang sangat amat ia cintai dan permintaan perpisahan yang terucap begitu saja.


"Apa semua ini karena kehadiran laki-laki itu?" tanya Farhan menatap mata Nabila dengan dalam.


Nabila balik menatap Farhan dengan tatapan kekecewaan, "Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita! Yang membuat hubungan gak nyaman adalah karena kita gak sama-sama! Aku ingin berkomunikasi, tapi Aa sering menghilang tanpa kabar! Aku ingin dipedulikan dan diperhatikan, tapi Aa selalu sibuk, sibuk dan sibuk! Aku selalu menunggu, tapi Aa tidak tampak membutuhkanku! Karena hal itu hubungan kita menjadi jauh! Aku tanya sekali lagi.. Kapan terakhir kali Aa menanyakan kabarku? Kapan?!"


Farhan hanya bisa menunduk, dia tidak tau jika Nabila akan sekecewa itu. Bahkan Farhan merasa jika perjuangannya tidak dihargai.


"Terlepas dari salahku, aku minta maaf A.. Dan terlepas dari salahmu, aku juga sudah memaafkan kamu, A Farhan.. Kita sama-sama terlalu sibuk mengungkit kesalahan masing-masing. Kehadiran masalalu dan kesibukanmu menjadi masalah dalam hubumgan kita. Aku lelah, Aa.."


"Aa minta maaf sayang.. Aa mohon, tetaplah pertahankan rasa itu.. Hubungan kita.. Tinggal dua bulan lagi, sayang.. Pernikahan kita sudah didepan mata.. Tolong sayang.."


Hening.. Farhan hanya memeluk Nabila dengan erat, dia tak peduli walaupun beberapa pengunjung menatap aneh pada mereka.


"Aa tau, kenapa banyak perempuan yang rela melepaskan laki-laki yanh dicintainya?" tanya Nabila dan Farhan hanya diam membisu.


"Karena banyak hal yang gak bisa diubah. Laki-laki sering mengabaikan hal-hal kecil dan membuat perempuannya sakit hati. Mulai menunjukkan sikap gak peduli, gak lagi sama kaya dulu waktu mereka pertama kali jatuh hati. Bukan perempuan gak mau menerima apa adanya, Aa. Tapi perempuan memilih untuk gak menyakiti dirinya sendiri.."


"Aa ngerti sayang.. Sekarang Aa paham.. Tolong kasih kesempatan ke Aa sekali lagi.. Tolong pertahankan rasa itu sekali lagi.. Tolong izinkan Aa buat meyakinkan kembali, bahwa cinta Aa tulus.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2