
Masalalu harus diselesaikan hingga ke akar-akarnya, agar tidak terjadi kesalahpahaman dimasa depan nantinya. Itulah yang menjadi prinsip Bagaskara. Dia tidak ingin masalalu Aisyah menghantui rumah tangganya nanti. Apalagi yang diberikan oleh Arya bukanlah hal yang sederhana. Tapi sebuah Ruko impian Aisyah sejak dulu.
Kini di Alunara Kost sudah berkumpul semua orang yang tau mengenai Ruko yang diberikan oleh Arya atas nama Aisyah. Sedangkan Riki harus absen karena tengah mempersiapkan kepergiannya ke Afrika, hingga akhirnya Defri yang mewakilinya.
"Tolong jelasin semuanya sama aku!" pinta Aisyah dengan airmata di pelupuk.
Defri menghela nafasnya, "Saat kami masih di Surabaya, Arya mencari-cari Ruko yang pas dengan impian kamu, Aisyah. Dia berharap akan bisa menikahi kamu, walaupun perbedaan agama ditengah-tengah kalian. Saya sendiri yang mendampingi Arya untuk membeli semua itu secara tunai, karena Arya tau kamu tidak suka dengan riba."
Air mata yang sejak tadi dia tahan, akhirnya jatuh juga. Bagaskara merasakan pedih kembali dalam hatinya. Setidaknya dia merasa cemburu dengan cinta yang Arya miliki.
"Lalu kenapa kalian sembunyiin semuanya dari aku?" tanya Aisyah terbata.
"Karena kondisi kamu saat itu gak baik-baik aja, Nak. Kamu masih menangis histeris, kamu masih ngelamun terus. Kami gak mau membebani kamu dengan memberitahukan semua itu. Memang rencananya kami akan jelaskan setelah kondisi kamu jauh lebih baik," Bu Halimah mengelus lembut bahu Aisyah.
"Ais harus gimana, Bu? Ais mau memulai hidup baru sama Mas Bagas. Ais gak mau terus dihantui rasa bersalah ini," isak tangis Aisyah semakin menjadi.
"Aisyah.." panggil Bagaskara. Dia menengadahkan wajahnya, dia menatap Bagaskara yang tersenyum dengan penuh ketulusan.
"Itu adalah rezeki kamu, jika Arya memang ikhlas memberikannya maka terimalah. Saya gak apa-apa! Ruko itu bisa dijadikan amal jariyah bagi Arya nantinya. Kamu bisa jadikam Ruko itu menjadi lahan pekerjaan baru bagi orang-orang yang membutuhkan. Bukannya kamu pernah bilang sama Mas, kalo kamu mau buka cafe?"
Mereka menatap Bagaskara penuh haru, akhirnya Aisyah menemukan laki-laki yang tepat dalam hidupnya. Sosok Arya dan Bagaskara memang serupa, tapi dari sikap keduanya sangat jauh berbeda.
"Makasih ya, Mas.. Terimakasih sudah menerima Ais dengan segala kekurangan ini.."
"Insya Allah.. Kita bicarakan lagi nanti ya, untuk saat ini kita fokus saja pada pernikahan kita."
* * *
Jika Aisyah dan Ashila tengah sibuk mempersiapkan pernikahannya, Nabila kini tengah sibuk menata hati dan jiwanya. Karena hari ini, dia harus melepaskan Riki untuk mengabdi pada Negri di Negara Afrika sana.
"Kenapa ngelamun, hm?" tanya Riki sambil mengelus pipi Nabila dengan lembut.
"Gak apa-apa, Bang! Abang sudah sarapan kan? Semua persiapan Abang sudah lengkap kan? Abang.." ucapan Nabila terpotong karena Riki memeluknya dengan erat.
"Insya Allah.. Abang akan baik-baik aja! Ada Allah yang akan melindungi Abang, ada do'a-do'a kamu yang menggantung dilangit karena menunggu Abang.. Pulang satgas nanti, Insya Allah kita bertemu lagi.. Di Pelaminan.."
"Aaminn.. Semua do'a-do'a baik akan aku panjatkan buat keselamatan dan kesehatan Abang.. Jaga diri Abang baik-baik, jaga mata dan jaga hati!" Nabila semakin mengeratkan pelukannya.
"Abang yang harus bicara seperti itu! Karena selama ini, Abang yang setia sama kamu. Gak ada satupun perempuan yang bisa menggenggam hati Abang, karena sepenuhnya hati Abang sudah dalam genggamanmu."
"Tapi jika Allah tidak berkehendak menyatukan kita dan Abang pulang tinggal nama.. Maka carilah laki-laki yang mampu membimbingmu dalam agama dan rumah tangga nantinya," Riki mengelus kepala Nabila dengan lembut.
__ADS_1
"Sekali lagi Abang ngomong begitu, ini bogem melayang di muka ganteng Abang!" rengek Nabila membuat Riki terkekeh.
Ibu Riki dan kedua orang tua Nabila terkekeh melihat tingkah keduanya. Namun ada rasa lega, karena kini Riki dan Nabila sudah terikat pertunangan.
"Hati-hati disana, kalo Abang sudah sampai jangan lupa kabari kami disini. Kami selalu menanti dan mendo'akan keselamatan Abang disana.."
Riki pun memeluk erat sang Ibu, "Ibu juga jaga kesehatan. Jangan bandel! Sekarang ada calon mantu Ibu yang bawel itu.."
Mereka tertawa saat melihat Nabila mencubit pinggang Riki yang tengah memeluk sang Ibu. "Tuhkannn.. Galak lagi, Bu! Untung sayang.."
Kini Ayah dan Ibu Nabila yang memberikan nasehat-nasehat untuk Riki, serta do'a-do'a yang akan selalu dia aaminkan.
"Satu hal yang paling penting.. Kembalilah dengan selamat, karena ada pelabuhan yang menunggu kapalnya berlabuh.."
Upacara sudah dilaksanakan, waktunya berpamitan pada seluruh keluarga para prajurit dan perwira yang akan melaksanakan satuan tugas di wilayah Afrika. Wilayah yang disinyalir sangat rawan dengan konflik.
Defri dan Bagaskara melepaskan kepergian Riki dengan penuh haru. Bahkan Bagaskara menyempatkan diri ditengah kesibukannya.
"Saya titipkan permaisuri saya pada kalian di tanah air. Tolong jaga dia seperti adik kaliam sendiri selama saya tidak ada. Dan.. Maaf tidak bisa menghadiri pernikahan kalian. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinnah, mawadah, warahmah!"
"Aamiinnn.." ucap Defri dan Bagaskara bersamaan.
"Jaga diri Abang baik-baik ya! Saya juga akan jaga Ibu Negara Abang dengan baik. Kembalilah ke tanah air dengan selamat. Abang harus berjanji!" Defri memeluk senior nya itu.
"Semua sudah yang lain ucapkan, saya cuman mau bilang.. Seragam pernikahan kami sudah kamu bawa kan, Rik? Yaa.. Meskipun gak bisa hadir, minimal seragamnya yang dipake!" ucap Bagaskara membuat Riki memukul lengan calon suami Aisyah itu.
"Aman.. Aman.. Saya gak mungkin tidak menerima pemberian kalian itu.." Riki terkekeh. "Ais.. Acil.. Kalian terbaik! Sudah pasti kalian tau kan apa yang akan saya bilang?"
Mereka menganggukkan kepalanya, "Aman Bang! Asal jangan lupa transferan!!"
Nabila mencubit lengan kedua sahabatnya itu. Lalu Riki lanjut berdiri dihadapan calon istrinya itu. Mata Nabila sudah tidak bisa lagi menahan tangis.
"Jangan lepas kepergian Abang dengan tangisan. Selama Abang pergi, jangan teteskan air mata untuk hal-hal yang tak penting. Kecuali.. Merindukan Abang..."
"Hadeuuhhh.. Hadeuhhh.. Gerahhhh!!" ledek Ashila.
Untuk yang terakhir kali, Nabila memeluk Riki dengan erat. Nabila tidak mau ditinggalkan, tapi dia harus mengerti konsekuensi saat menjalani hubungan dengan seorang Abdi Negara.
"Ila pasti akan sangat merindukan Abang.. Kalo sempat, jangan lupa hubungi Ila ya Bang! Jangan bohong gak ada sinyal, karena Ila suka liat live-live instagramm loreng-loreng yang lagi satgas di Luar Negri!" ucap Nabila dengan polosnya.
"Haaah?" Riki melongo tak percaya. "Jangan diliat lagi ya! Abang gak mau kamu liat-liat live mereka begitu!"
__ADS_1
Ceilah.. Cemburuan amat.. Si amat aja kagak tuh!
"Kan cuci mata tau!" celetuk Ashila membuat Defri melotot tak percaya. "Kan aku liat dari Bibil, Mas Defri ku sayang.."
"Halah.. Halah.. Kalian sama aja!" ejek Aisyah membuat mereka tertawa.
Sudah waktunya Riki pergi, Nabila terus menatap laki-laki yang dia cintai itu. Kecupan terakhir dikeningnya sebelum Riki bergabung bersama pasukan lainnya.
'Aku titipkan penjagaanmu pada Allah, Ila.. Aku mencintaimu..'
Kata-kata itu terngiang ditelinga Nabila, hingga dia tidak bisa menghentikan tangisnya. Nabila saling berpelukan dengan Ibunda Riki. Mereka saling menguatkan.
"Do'akan selalu Abang ya, Nak.. Tunggu dia kembali.."
"Pasti, Bu! Ila akan nunggu Abang kembali, sampai kapanpun.."
"Yahh.. Nabila ditinggalkan! Tapi cintanya direkatkan!" Ashila memeluk sahabatnya.
"Jangan ngeledekin gue muluk napa, Cil! Kualat entar!" omel Nabila.
Bu Halimah dan dokter Andra baru saja tiba, namun sayang rombongan Riki sudah pergi.
"Ibu telat nih?" tanya Bu Halimah.
"Ya udah pasti telat atuh, Neng! Itu Reo nya udah pada keluar dari gerbang. Neng sih dandan nya lama!" omel dokter Andra.
"Eh.. Eh.. Nyalahin Neng lagi.. Akang atuh yang salah! Siapa coba yang bikin Neng telat? Kan Akang yang minta jatah!" omel Bu Halimah.
Ekhem.. Mereka serempak berdehem, membuat keduanya menjadi salah tingkah.
"Kasian.. Nabila ditinggalin!" ejek dokter Andra mengalihkan pembicaraan.
"Dokterrrrrrrr!!" Nabila merengek dan mencubit lengan dokter Andra membuat mereka semakin tertawa.
Setidaknya Riki lega, karena saat itu dia melakukan panggilan video dengan Defri. Setidaknya Nabila tidak merasa sedih dan ditinggalkan. Itulah ujian bagi pasangan Abdi Negara. Jadi.. Coba komen, siapa nih yang lagi menjalin hubungan sama Abdi Negara!
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
__ADS_1
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤