Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Cinta Berkedok Loker


__ADS_3

"A RIZALUDIN?"


Ashila terkejut menatap laki-laki dihadapannya itu. Dia adalah Muhammad Rizaludin, rekan kerja Ashila dulu. Saat Ashila dipecat, dia tengah berada di luar Kota untuk melaksanakan kegiatan kantor.


"Acil, apa kabar?" tanya Rizaludin.


"Alhamdulillah, baik A! Masuk.. Masuk A.." ajak Ashila, namun Rizaludin menolak.


"Maaf Acil, boleh nggak kalo kita ngobrol diluar? Ada beberapa hal yang harus kita bicarakan," ucap Rizaludin membuat Ashila mengerenyitkan dahinya.


"Mmm.. Sebentar, Acil siap-siap dulu sama izin dulu sama Ibu kost.. Aa tunggu disini sebentar!"


Usai berpamitan pada Bu Halimah juga kedua sahabatnya, Ashila pun pergi bersama Rizaludin menuju salah satu cafe yang berada di pusat Kota.


"Mau pesen apa, Acil?" tanya Rizaludin.


"Minum aja deh, A.. Soalnya tadi udah makan!" jawab Ashila.


Rizaludin pun memesankan beberapa camilan dan minuman kesukaan Ashila. Sejak dulu, dia sudah menaruh hati pada Ashila. Niat hati ingin mengungkapkan, tapi dia terlanjur mendapatkan tugas dinas luar Kota selama 1 bulan.


"Jadi ada apa A? Apa yang mau A Rizal tanyain?" tanya Ashila, karena ia agak kurang nyaman bepergian berdua dengan laki-laki saat ia sudah berhubungan dengan Defri.


"Itu.. Kenapa kamu dipecat, Acil? Aa kaget loh, tau-tau pas Aa pulang kok kamu udah gak ngantor," Rizaludin menatap Ashila dengan tatapan kecewa.


"Hmm.. Aa tau sendiri kaya gimana disiplinnya kantor kita, apalagi kantor kita merupakan salah satu Bank Negeri terbaik. Waktu itu emang aku lagi banyak urusan dan sering izin, mereka bilang kinerja aku buruk. Jadi mereka tidak memberikan surat peringatan lagi, melainkan surat pemecatan," jawab Ashila dengan entengnya.


"Kamu gak coba buat jelasin alasan kamu?" tanya Rizaludin dengan keheranan.


"Buat apa, A? Aa tau sendiri, namanya circle kerja pasti ada aja yang gak suka sama kita. Kalo aku sih yaudah aja, mungkin emang aku udah gak cocok aja sama kantor," jawab Ashila terkekeh.


Hening..


"Kalo Aa tawarin kerjaan kamu mau nggak?"


Ashila terkejut, namun dia tak menunjukannya. Memang dia tengah berpikir, dia harus bekerja kembali. Tapi rencana untuk membuka usaha bersama kedua sahabatnya pun menjadi bahan pertimbangan.


"Hhuff.. Aku bingung sih sebenernya, lagi pengen menikmati masa jadi pengangguran!" Ashila tertawa kecil.


"Kalo kamu mau.. Aa bisa masukin kamu kerja ke kantor punya Papa Aa. Kebetulan Papa emang lagi butuh staff untuk bagian keuangan. Kalo kamu mau, nanti siapkan semua berkas-berkas kamu, ya!"


"Oke A.. Insya Allah, ya! Kasih waktu Acil buat mikir, hehehe..."

__ADS_1


"Gimana kalo sekarang kita ke kantor Papa Aa? Kamu liat aja dulu lingkungan kerjanya. Kalo kamu nyaman, besok bisa langsung kamu siapkan berkas-berkasnya!" ajak Rizaludin.


"Yaudah deh, boleh.." Akhirnya Ashila menerima ajakan Rizaludin, karena dia merasa tak enak hati.


30 menit perjalanan menuju kantor yang dimiliki keluarga Rizaludin, Ashila menatap kagum bangunan yang megah itu. Mereka disambut dengan baik oleh para staff. Ponsel Ashila sejak tadi berdering, hanya saja dia tidak menyadarinya. Karena Ashila mengaktifkan mode silent.


"Permisi, Mbak.. Papa ada?" tanya Rizaludin pada sekertaris sang Ayah.


"Boleh tunggu sebentar ya, Mas Rizal. Bapak masih ada rapat, mungkin 10 menit lagi selesai.."


Rizaludin menganggukkan kepalanya, dia mengajak Ashila untuk duduk di ruang tunggu.


"Gimana? Kamu suka sama suasana kantornya?" tanya Rizaludin.


"Suka sih, A! Mana mungkin gak suka, kantornya gede banget plus nyaman gini," jawab Ashila terkekeh.


Mereka pun berbincang sambil sesekali menertawakan hal konyol, hal itu tak luput dari pandangan Pak Anton, Ayah dari Rizaludin.


"Siapa perempuan itu? Baru kali ini aku lihat anakku dekat bahkan membawa perempuan ke kantor ini," gumam Pak Anton dengan perasaan yang bahagia.


Dia pun berjalan menuju ruang tunggu untuk menemui putra kesayangannya itu. "Ekhemm.."


"Papa! Gimana kabar Papa?" Rizaludin memeluk sang Ayah penuh rindu.


"Hehehe.. Maaf Pa! Oh ya, kenalin ini Ashila, Pa.. Temen kerja Izal," ucap Rizaludin memperkenalkan Ashila.


"Halo Om, saya Ashila.." Perempuan itu berjabat tangan dengan sopan.


"Cantik sekali sesuai namanya! Harusnya kamu bawa dia ke rumah, Mama kamu pasti bahagia! Ini malah ngajakin ke kantor," Pak Anton menepuk pundak sang anak. Hal itu membuat Ashila sedikit tidak nyaman.


"Papa ini! Bercanda terus.. Izal bawa Acil kesini, karena mau nawarin kerjaan buat dia, Pa. Bukannya disini masih ada posisi kosong di staff keuangan?"


"Oh begitu! Boleh lah! Memang ada posisi staff keuangan yang kosong, tapi kalo kamu mau itu juga. Kalo Izal bisa kerja di kantor Papa juga, mungkin kamu bisa jadi sekertaris Izal sekaligus teman hidupnya!" canda Pak Anton.


Ashila hanya tersenyum paksa, "Insya Allah, Om.. Soalnya saya juga ada planning untuk buka usaha sama temen." Ashila mengucapkan hal itu dengan tak enak hati.


Ponsel Rizaludin berdering, dia harus pergi ke kantornya untuk menyelesaikan laporan. Dengan berat hati, dia memesankan taksi untuk Ashila pulang.


"Maaf ya, Acil.. Aa harus ke kantor, soalnya tadi Aa langsung izin buat ketemu kamu! Maaf Aa gak bisa anter kamu sampe kosan!"


"Gak apa-apa, A! Yaudah Acil balik ya! Nanti Acil kabarin gimana keputusan Acil," usai mengatakan hal itu Ashila pun berpamitan.

__ADS_1


Pak Anton menghampiri Rizaludin yang tersenyum senang, sambil menatap taksi Ashila pergi. "Ternyata cinta berkedok lowongan kerja.." goda Pak Anton.


"Papa! Apa sih?!" Rizaludin tersenyum malu.


"Kalo kamu emang suka sama dia, gercep lah! Papa suka! Anaknya sopan, lucu.. Kalo perlu, kita lamar langsung aja ke orang tuanya!" ucap Pak Anton dengan semangat.


"Insya Allah ya, Pa.. Do'ain aja! Yaudah Izal balik ke kantor, baru nanti sore kerumah.." pamit Rizaludin.


Sementara itu, dalam taksi Ashila panik. Karena dia lupa menyalakan mode dering. Cukup banyak panggilan tak terjawab dari Defri. 15 panggilan tak terjawab dan 20 pesan masuk.


"Astagfirullah.. Mas.. Maafin aku, aku lupa nyalain mode dering," lirih Ashila.


Matanya terasa memanas saat membaca pesan Defri yang berisi. 'Apakah ada laki-laki yang mendekatimu saat ini? Jika ada.. Maka ingatlah ucapan Mas..'


Tak terasa airmata meluncur begitu saja. Ashila pun menghubungi Defri dengan segera, namun ponsel kekasihnya itu tak aktif. Dalam pesan sebelumnya, Defri mengatakan ingin menelepon sebelum berpatroli kedalam hutan.


"Maafin aku, Mas.. Maafin aku.." lirih Ashila.


Sesampainya di Alunara kost, sudah ada Riki disana. Rupanya Defri meminta Riki untuk mencari tahu keberadaan kekasihnya itu, karena dia sangat khawatir. Sebab Ashila tidak pernah mengabaikan pesan darinya sekalipun.


"Cil! Lu dari mana aja sih? Pake gak bisa di hubungi segala! Gue nelponin elu sampe berapa kali coba?!" omel Nabila.


"Ila.. Tenang!" Riki mengelus pundak Nabila dengan lembut.


"Maaf Bang.. Tadi Acil pergi sama A Rizal, rekan kerja waktu di Bank.. Dia nawarin Acil kerjaan, ini Acil baru balik dari kantor Papa nya," lirih Ashila.


"Kenapa minta maaf sama saya, Ashila? Saya hanya diminta Defri untuk melihat kondisi kekasihnya, karena dia khawatir.. Saat ini dia sedang berpatroli di hutan, kita gak pernah tau apa yang akan terjadi disana.. Dia hanya ingin berpamitan.." ucap Riki membuat Ashila kembali menangis terisak.


"Syukurlah jika kamu baik-baik saja. Yaudah saya harus balik, karena sedang tugas!" pamit Riki. "Jaga diri kalian baik-baik.. Itu sudah cukup bagi kami.."


Nabila menatap sendu kepergian Riki, lalu dia menatap Ashila dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Gue cuman mau bilang hati-hati dengan hati, Acil.. Bisa jadi itu, cinta berkedok lowongan kerja.."


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!

__ADS_1


Salam Rindu, Author ❤


__ADS_2