Akhir Sebuah Kisah

Akhir Sebuah Kisah
S1 | Kebahagiaan kecil


__ADS_3

"Takdir itu lucu ya, Mas. Ada aja cara Tuhan mempertemukan dua orang yang gak punya urusan dengan cara yang seolah kebetulan.."


Deg!


Kata-kata Aisyah begitu menghujam hati Arya. "Mas.. Aku sedang mencoba menerima dan menjalani takdir Tuhan.. Aku mohon, Mas.. Biarkan aku pergi tuk bahagia.."


Aisyah bangkit dan meninggalkan Arya begitu saja. Rasanya begitu sakit, bahkan teramat sakit. Namun Arya tidak bisa membiarkan Aisyah pergi sendirian, dia mengikuti gadis itu dari belakang. Arya bisa melihat bagaimana Aisyah mati-matian menahan tangisnya. Hingga akhirnya, tangis Aisyah pecah. Dia memilih duduk di kursi taman yang berada didalam rest area itu.


"Yaa Allah.. Terimakasih sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada hatiku, untuk Mas Arya. Dia laki-laki yang mengajarkanku titik tertinggi dalam mencintai, yaitu mengikhlaskan. Dia laki-laki yang aku cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa.."


"Saat ini aku sedang berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya diri ini hampir gila menahan kerinduan. Jika takdir kami saat ini memang tidak akan pernah bisa bersatu, tolong bantu hamba dengan rasa ikhlas. Karena melepaskannya adalah keterpaksaan yang benar-benar nyaris membuat hamba membenci takdir hamba sendiri..."


Arya tak kuasa lagi menahan tangisnya, dua anak manusia menangis bersama, berharap semesta akan membuat mereka bahagia walaupun hanya sekejap saja.


Ashila menyusul Aisyah, karena sudah cukup lama Ashila menghubungi Aisyah namun tak ada jawaban. Hingga akhirnya dia melihat pemandangan yang sangat amat menyayat hati. Aisyah dan Arya memang saling mencintai dan itu bukanlah salah keduanya.


"Aiss.. Are you okay?" Ashila mendekat dan menghampiri Aisyah yang langsung memeluknya.


"Gue lagi bingung sama diri gue sendiri, Cil. Bingung harus ngelakuin apa, bingung gue mau nya kayak gimana. Bingung dengan keputusan yang gue ambil, Cila. Semua itu bener apa salah.. Rasa ini terlalu menyiksa," ucap Aisyah terisak.


"Ais.. Dengerin gue! Payung itu cuman bisa dipakai dua orang, kalo ada yang ketiga maka salah satu dari kalian harus berkorban, harus siap di guyur hujan beserta badainya. Sedangkan yang ketiga diantara kalian itu, Allah.. Dan menurut gue, semua keputusan yang lu ambil itu udah bener. Cukup, jangan nangis lagi, oke?" Ashila terus memeluk dan menenangkan Aisyah.


Defri yang akan berpamitan pun mengurungkan niatnya, hingga akhirnya dia mengirim pesan pada Ashila karena melanjutkan perjalanan lebih dulu.


"Arya! Udah.. Ayo kita jalan lagi! Jangan dipikirin, nikmati dan jalani aja semua rasa sakit itu.. Karena sejak awal pun aku udah ngingetin kamu," Defri mengajak Arya pergi dari sana.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju Kota Tegal, Aisyah dan Ashila tak mengeluarkan sepatah kata pun. Mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Untung saja mereka sempat membeli makanan ringan dan kopi untuk di mobil.


Sedangkan di Kota Tegal, Bu Halimah dan dokter Andra baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Hanya berdua, karena Nabila, Aluna dan Keisya sudah terlelap karena kelelahan. Kini Bu Halimah dan dokter Andra sedang menikmati secangkir kopi disalah satu cafe yang tak jauh dari Hotel mereka menginap.


"Neng gak capek abis perjalanan jauh begini?" tanya dokter Andra.


"Enggak kok.. Perjalanan hidup aku jauh lebih melelahkan," jawab Bu Halimah sambil terkekeh.


Dokter Andra duduk tegak dan menatap Bu Halimah, "Neng.. Nanti kamu akan bertemu seseorang yang memang takdirmu. Dimana kamu gak perlu memaksa hati kamu untuk mencintainya. Karena tanpa diminta, kamu akan rela jatuh dalam peluknya.."


"Dan nanti, atas apa yang pernah membuatmu menutup segala rasa, kamu akan memahaminya. Bahwa pintu hatimu, sengaja Allah kunci agar dibuka oleh dia yang tidak memgerti caranya pergi. Berdo'alah, agar Aa adalah orang itu.."


Mata Bu Halimah berkaca-kaca, "Jujur ya, Aa.. Sulit rasanya.. Aku takut menyakiti Aa, begitupun sebaliknya. Tapi cara Aa menyampaikan niat baik Aa, itu seolah menjadi kebahagiaan tersendiri buat aku.."


"Perlahan saja, Neng.. Aa pun tidak akan memaksa, Insya Allah jika sudah takdirnya kita akan dipersatukan Allah.. Terimakasih, kehadiran Neng di perjalanan hidup Aa merupakan hal yang paling membahagiakan.. Terlebih, buat Kekey.. Tadi dia bilang, kalo dia mau Mama kaya Neng dan adik kaya Aluna.."


"Insya Allah ya, A dokter.. Yang terpenting adalah kebahagiaan anak-anak," ucap Bu Halimah sambil tersenyum.


"A dokter? Dokter cinta Neng Halimah yaa.."

__ADS_1


Mereka kembali ke Hotel dengan perasaan bahagia, sebuah kebahagiaan kecil yang teramat bermakna bagi keduanya. Pukul 2 pagi, Ashila dan Aisyah sudah sampai di Hotel. Dokter Andra menunggu mereka di lobby Hotel.


"Gimana perjalanannya?" tanya dokter Andra pada Ashila dan Aisyah.


"Melelahkan, dok!" jawab Ashila dengan wajah mengantuk.


"Ishh.. Yaudah kalian ke kamar kalian, ini kuncinya! Pak Rachmat sekamar sama saya, gak apa-apa ya, Pak?" dokter Andra merangkul Pak Rachmat.


"Masya Allah, Den dokter! Gak apa-apa Bapak mah di mobil aja," tolak Pak Rachmat.


"Enggaklah! Pokoknya Bapak sekamar sama saya," paksa dokter Andra dan akhirnya membuat Pak Rachmat mengangguk.


Di dalam lift, mata Pak Rachmat terlihat berkaca-kaca. "Pak Rachmat kenapa?" tanya Aisyah.


"Bapak gak apa-apa, Neng. Terharu aja.. Dulu jaman sama Pak Jodi, mantan suami Ibu. Bapak gak pernah diajak tidur di Hotel begini, pasti selalu di mobil," jawab Pak Rachmat.


"Tenang aja, Pak! Pilihan Mak haji kali ini anti gagal-gagal club! Do'ain aja bisa ampe pelaminan!" celetuk Ashila membuat pipi dokter Andra merona.


Setelah sampai, mereka pun beristirahat karena harus menghadiri seminar esok hari.


* * *


Pukul 7 pagi, mereka sudah sarapan bersama di Restoran. Tak lupa Pak Rachmat pun berada ditengah-tengah mereka. Beliau sampai menyampaikan kebahagiaannya ini pada keluarganya dan juga pada kedua orang tua Bu Halimah.


"Uhukk.. Uhukk..."


Bu Halimah mengerenyitkan dahinya, "Kalian kenapa sih?"


"Ampun dah Mak haji! Udah panggilan sayang aja nih," ucap Ashila meledek.


Deg!


Pipi Bu Halimah merona saat kedua matanya bertatapan dengan dokter Andra. "Anak-anak ikut Papa aja, sama Kak Bila. Nanti selesai Papa seminar, baru kita ke Acara Ibu.. Gimana?"


"Okee, Papa!" jawab Aluna dan Keisya serempak.


Akhirnya dokter Andra membawa anak-anak ke Dinas Kesehatan Kota Tegal. Dimana acaranya kini sedang berlangsung. Semua orang terpana dengan kecerdasan dan cara dokter Andra dalam menyampaikan materi.


"Papa ganteng kan, Dik?" tanya Keisya.


"Iya Kak, Om dokter ganteng banget! Dede mau deh punya Papa kaya Om dokter," jawab Aluna dengan lirih.


"Dik.. Kamu kan adiknya Kakak, jadi udah pasti Papa itu ya Papa kamu juga! Jadi kita berdo' ya, semoga Papa jadi Papa adik dan Ibu jadi Mama Kakak!" ucap Keisya dan Aluna menganggukkan kepalanya.


Nabila tersenyum mendengarkan ucapan dua anak kecil itu. Hati keduanya dipaksa dewasa sebelum waktunya, untuk memahami perpisahan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ashila dan Aisyah kini tengah bersiap, karena ternyata Acara ini cukup besar. Brand Boga Rasa bekerja sama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Kota Tegal ini, tak lupa juga Acara ini ditampilkan di TV Nasional.


"Aiisss..! Gue gak nyangka kita masuk TV! Mak haji keren kaya apotek kosong!" antusias Ashila.


"Hah? Apotek kosong?" Aisyah mengerenyitkan dahinya.


"Mak haji kaya apotek kosong, gak ada obat! Keren amat, itu toko unyil bisa masuk TV begini pemiliknya," Ashila sangat amat bersemangat.


"Biarpun toko bakery Bu Halimah kecil, tapi rasanya jangan diragukan! Yang pesen juga kalangan atas semua, karena rasa gak pernah bohong," Aisyah dan Ashila terkekeh.


Walaupun grogi karena diliput oleh TV Nasional, Bu Halimah menyampaikam materi dengan baik dan dimengerti. Tak banyak juga yang memuji hasil karya Bu Halimah dalam membuat kue.


Dengan cekatan, Aisyah dan Ashila menjadi asisten Bu Halimah. Sesekali kamera menyoroti keduanya. Ashila tak malu untuk bergaya dan menunjukkan dirinya, sedangkan Aisyah hanya bisa menunduk dan geleng-geleng kepala karena malu.


"Baik Ibu-ibu semuanya, ini adalah cake yang saya padu padankan dengan kue tradisional putu Ayu. Apakah ada yang berkenan untuk mencobanya?" tanya Bu Halimah.


"Apa saya boleh mencobanya?"


Deg!


Dokter Andra tiba-tiba ada di depan panggung tanpa Bu Halimah sadari. Dengan kikuk, Bu Halimah pun menganggukkan kepalanya.


"Disini bukan hanya saya saja yang harus mencoba, tapi semuanya yang hadir disini," ucap dokter Andra sambil berkeliling dan memberikan kue-kue buatan Bu Halimah itu pada audience.


"Walaupun sedikit, tapi rasanya berkesan sekali. Hebat ya, Alunara Bakery.."


"Gak nyangka, rasanya diluar ekspektasi saya! Enak sekali... "


"Rasanya bikin candu.. "


"Rasanya bikin rindu.. "


"Rasanya, saya tidak bisa berhenti untuk mengunyah. Semoga saja, suatu saat nanti saya bisa merasakan rasa ini setiap hari," komentar dokter Andra.


Kebahagiaan kecil yang tak terduga, sikap manis dokter Andra mampu meluluh lantahkan hatinya. Terlebih, melihat kebahagiaan Aluna dan Keisya yang bertepuk tangan riang melihat kedua orang tuanya.


* * * * *


Semoga suka dengan ceritanya...


Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰


Dukung Author terus ya!


Salam Rindu, Author ❤

__ADS_1


__ADS_2