
'Ijinkanlah aku untuk berjuang sekali lagi.. Agar tak ada airmata yang kulihat dari wajah indahnya..'
"Bang..!!!"
"Danki..!!!"
"Buka matamu..!!!"
"Saturasi menurun, hubungi pusat!!"
Teriakan-teriakan itu terdengar walaupun samar, hingga akhirnya Riki tak sadarkan diri. Seluruh anggotanya tengah berjuang untuk melumpuhkan para penyusup. Mereka tak mengira jika akan ada kejadian seperti ini di awal-awal penugasan mereka.
Riki dibawa ke salah satu posko kesehatan disana, hanya ada sedikit relawan dari berbagai Negara. Memang wilayah itu sangat rawan sebuah konflik. Peluru dalam perut juga dada sebelah kiri Riki berhasil di keluarkan, namun sayang Riki sempat mengalami henti jantung. Dokter disana berhasil mengembalikan denyut jantungnya, hanya saja Riki.. koma.
Berita itu pun sampai hingga ke Tanah Air. Defri sedikit terhenyak, dia merasa membawa beban berat dipundaknya. Bingung antara harus memberi tahu keluarga Riki juga Nabila atau.. tidak.
"Mas kok ngelamun?!" Ashila membuat Defri terperanjat. Hari ini mereka melakukan fitting pertama gaun pengantin. Karena acara pernikahan mereka akan diadakan 3 bulan lagi.
"E-enggak kok sayang! Mas gak ngelamun," Defri berkilah. Namun Ashila bisa menangkap jika ada sesuatu yang disembunyikan oleh calon suaminya itu.
"Ada apa Mas? Jangan dipendam sendiri.. Coba cerita sama aku!"
Ashila menggenggam jemari Defri dengan lembut, hingga membuat laki-laki itu menghela nafasnya panjang.
"Sebelum Mas bercerita, tolong dengarkan dengan seksama dan.. ikhlas pada keadaan yang harus kita lalui. Mungkin ini adalah ujian sebelum pernikahan kita.."
Deg!
Jantung Ashila berdegup kencang, dia yakin ada sesuatu yang akan menghadang dalam perjalanan menuju pernikahan. Dan.. Benar adanya. Ashila hanya mampu tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dia tak ingin Defri memikirkan hal-hal yang mungkin akan jauh membebaninya.
"Mas akan diberangkatkan ke Afrika selama 3 bulan.. Sebagai tugas terakhir sebelum cuti pernikahan dan.. kenaikan pangkat!"
"Apa?!" Ashila tak bisa menahan rasa terkejutnya. "Kenapa harus Mas? Kan Mas baru saja pulang satgas!"
"Mas gak akan mengulangi ucapan Mas! Tolong.. Dengarkan baik-baik sayang, Mas tidak seharusnya mengatakan ini. Tapi.. Mas gak mau kamu khawatir dan berpikir macam-macam! Jadi.. Tolong dengarkan dan jangan menyela!"
Defri menghela nafasnya, "Mas akan diberangkatkan bersama Pasukan Khusus untuk menangani kasus yang sangat berat. Karena kini sebagian prajurit sudah berhasil mereka lumpuhkan. Termasuk.. Bang Riki!"
"Apa?! Apa maksud kamu, Mas!" mata Ashila terbelalak mendengar ucapan calon suaminya itu.
"Bang Riki saat ini koma. Dia kehabisan darah saat dibawa ke Posko kesehatan. Dan Mas harus menggantikannya disana.. Sementara. Mas janji akan kembali dengan sehat wal'afiat sebelum pernikahan kita! Ridhoi Mas pergi, Ashila.."
Airmata menggenang dipelupuk mata Ashila, "Astagfirullah.. Tak bisakah mereka mengirim pasukan yang lain? Tentara itu banyak, Mas! Kenapa harus kamu?"
Defri membawa Ashila dalam pelukannya, dia tau semuanya akan berat bagi mereka. Tapi mau bagaimana lagi, itulah tugas Defri sebagai seorang Abdi Negara.
"Tentara memang banyak, sayang! Tapi Mas yang mendapatkan tugas itu. Tolong pahami ya! Tak hanya Mas yang akan berangkat, kami pergi bersama pasukan khusus dan relawan-relawan tanah air. Karena yang terlibat adalah orang-orang dari Negara kita juga. Maka dari itu.. Ridhoi setiap langkah Mas! Kamu dan Nabila harus saling menguatkan.."
"Yaa Allah, Bibilll.." Ashila pun bingung. "Aku harus apa, Mas? Aku bingung.. Aku gak mungkin kasih tau kabar ini.."
"Sama. Mas pun bingung! Tapi.. Nabila tetap harus tau, perlahan saja. Mas berangkat besok subuh, karena ini bersifat rahasia maka tak ada acara pelepasan seperti biasa. Mas sudah izin pada Papa, Insya Allah.. Papa pun meridhoi.."
Mendengar hal itu Ashila mengeratkan pelukannya. "Tolong kembalilah dengan sehat dan selamat tanpa kekurangan sesuatu apapun. Ingatlah hari pernikahan kita, Mas!"
* * *
Bukan hanya Ashila yang bersedih akan kepergian tugas calon suaminya yang mendadak. Hal yang sama pun dirasakan oleh Bu Halimah.
"Apa?! Dokter relawan?! Akang kan udah tua! Tak bisakah mereka mengirim dokter-dokter muda saja?"
Bu Halimah sudah sekuat hati menahan emosinya, namun akhirnya tak mampu. Dokter Andra hanya bisa mengelus punggung suaminya dengan lembut.
__ADS_1
"Demi kemanusiaan, sayang! Tolong mengerti profesi Akang.. Saat ini Akang sedang di uji oleh keahlian Akang dalam operasi jantung. Akang sudah disumpah untuk menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan. Dan saat ini, ada banyak orang-orang yang membutuhkan Akang disana.."
"Memang kemana Akang akan dikirim untuk menjadi dokter relawan?" tanya Bu Halimah dengan isak tangis.
"Afrika.."
"Hah?! Gak kurang jauh.. Akangggggggg..!!!" Bu Halimah kembali menangis.
"Neng.. Dengarkan Akang, sayang! Saat ini orang-orang Negara kita tengah dalam bahaya disana. Ini bukan perkara yang mudah, Akang dikirim kesana bukan tanpa alasan. Tapi.. Tentara-tentara disana hanya tersisa setengahnya. Karena sebagian banyak yang terluka dan gugur akibat penyerangan itu."
"Apa?! Kenapa harus Akang?! Kan banyak tuh dokter Tentara!!"
'Ya salam.. Apa aku harus katakan yang sebenarnya?' batin dokter Andra.
Sebagai seorang dokter ahli jantung, dokter Andra memang memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Saat rapat konferensi bersama Rumah Sakit Pusat, dokter Andra melihat nama Riki dalam daftar Tentara yang tengah dalam kondisi koma. Bukan tanpa alasan, dokter Andra tak ingin kehilangan sosok Riki yang telah berjasa dalam hidupnya. Sedikit banyak Riki adalah orang yang cukup berjasa dalam kehidupan rumah tangganya.
"Jawab Akangggggg...!!!"
Dokter Andra menghela nafasnya, "Sebenarnya Akang yang mengajukan diri untuk menjadi dokter relawan, Neng.. Karena.."
"Karena apa?! Apa alasan Akang sampe mau pergi ninggalin Neng dan anak-anak untuk mendelati area bahaya begitu!!" Bu Halimah menarik kerah kemeja suaminya.
"Karena Riki koma dan dia sangat membutuhkan kehadiran Akang disana.."
Hening..
Tarikan dikerah kemeja dokter Andra perlahan melemah, "A-apa maksud Akang? Riki? A-apa Riki yang kita kenal?" tanya Bu Halimah terbata.
"Iya Neng.. Riki yang kita kenal.. Riki calon suami Nabila.. Anak kita.."
Jantung Bu Halimah rasanya ingin melompat saking terkejutnya, bahkan dia lupa bagaimana caranya bernafas. Hingga dokter Andra memberikan segelas air putih pada sang istri.
"Tenanglah.. Tarik nafas perlahan.."
"Akang tau.. Ini berat! Tapi.. Kita harus bisa melewati semuanya Neng.. Ikhlas.."
"Gimana nasib Bibil kalo tau, Kang?" isak Bu Halimah.
"Itulah.. Akang juga bingung.. Apa sebaiknya kita sembunyikan dulu semuanya dari dia?" tanya dokter Andra.
"Neng gak bisa, Kang.. Neng bukan ahli menyembunyikan masalah.." lirih Bu Halimah. "Kapan Akang akan diberangkatkan?"
"Dua hari lagi.. Karena pasukan Tentara harus mensterilkan dulu dan menjamin jika tindakan pengobatan terhadap tentara yang terluka tak akan terganggu oleh para penyusup lagi. Tapi.. Itu pun tetap tak bisa di prediksi. Bisa saja para penyusup itu memang selalu mengintai.."
"Astagfirullah.. Neng gak tau harus berkata apa.."
"Ridhoi langkah suamimu ini dalam kebaikan.. Akang janji akan kembali dengan selamat dan Akang akan menyelamatkan banyak nyawa. Akang akan berjuang untuk banyak keluarga prajurit yang menanti kepulangan suami dan anak-anaknya.."
Sungguh Bu Halimah bimbang. Banyak hal yang ia pikirkan, termasuk anak-anak mereka yang kini ada.. enam. Karena satu lagi otewe! Tapi dokter Andra dan Bu Halimah belum tahu.. Karena masih othor rahasiakan! Pembaca.. Jangan bilang-bilang ya! 🤣🤪
"Ini hanya perpisahan sementara, Neng! Akang berjanji akan kembali dengan selamat. Akang percaya bahwa Negara akan melindungi kami, bukan hanya melindungi para koruptor. Tolong.. Ridhoi Akang, ya!" bujuk dokter Andra.
"Jika ini memang sudah keputusan Akang.. Dan ini semua menyangkut banyak orang.. Insya Allah Neng ikhlas dan ridho Akang pergi.. Semoga Akang selalu dalam lindungan Allah.." ucap Bu Halimah. "Tapi.. Berapa lama?"
"Tak lama, Neng.. Hanya satu bulan! Waktu maksimal Akang mengabdikan diri disana. Karena disini pun banyak yang menanti Akang, pasien-pasien Akang kan gak sedikit.."
"Shombong amat!" cibir Bu Halimah. "Tak bisa dipotong kah waktunya?"
"Tak bisa Neng! Ini bukan dana bansos yang bisa dipotong-potong!" Dokter Andra mencium gemas pipi istrinya. "Insya Allah.. Akang akan pulang bersama kabar baik. Akang akan mengupayakan pengobatan terbaik untuk calon suami anak kita.."
"Bismillah ya Akang.."
__ADS_1
* * *
Alunara Kost..
"Acil sama Ibu kok ngelamun terus sih!" omel Nabila. "Dokter Andra kemana Bu?"
"Ah itu.. Si Akang ada penelitian ke Rumah Sakit di luar Negri, kamu tau kan acara yang begitu buat dokter?" tanya Bu Halimah sedikit gugup.
"Oh.. Konferensi kali ya!" jawab Nabila. "Lah elu.. Manten ngapa ada disini? Kagak di apelin si Mas Defri?"
"Mas Defri lagi ada tugas luar, tadi udah telponan sih! Maklum lah.. Hubungan sama Abdi Negara kan berat bestie!" Ashila terkekeh dengan terpaksa.
"Iya juga sih.. Tapi gue happy! Kemaren Bang Riki udah ada ngabarin.."
"Apa?!" kaget Ashila dan Bu Halimah hingga mereka berdiri dari duduknya.
"Lah.. Kenapa pada kaget gitu? Bukannya pada seneng!" omel Nabila.
"Ishhh.. Seneng lah! Alhamdulillah.." Ashila kembali mendudukan dirinya.
"Kalian pada aneh deh! Dah ah.. Bibil mo ke atas dulu! Mo nyuci baju!" Nabila pergi meninggalkan Bu Halimah dan Ashila yang masih termenung.
Bu Halimah dan Ashila saling menatap penuh tanya.
"Mak haji.. Tau sesuatu?" tanya Ashila dan Bu Halimah menganggukkan kepalanya dengan ragu.
"Kamu juga tau kan, Cil?" Bu Halimah balik bertanya dan Ashila menganggukkan kepalanya.
"Allah.." lirih keduanya.
"Semoga ada keajaiban untuk Nak Riki.."
"Iya Bu.. Semoga Bang Riki cepet sadar dari koma nya.."
Bruk!
"A-apa?!" sepasang suami istri itu terkejut.
"Ais.." lirih Ashila.
"Nak Bagas.."
Ashila dan Bu Halimah pun menceritakan perlahan, hingga akhirnya Aisyah tak kuasa menahan tangisnya. Begitu pun Bagaskara yang shock mendengar kabar itu.
"Semoga ini hanya perpisahan sementara.. Bukan selamanya.." lirih Aisyah.
"Siapa yang pisah?" tanya Nabila yang tiba-tiba saja mengejutkan mereka.
* * * * *
Ini semata hanya halu nya othor..
Mohon maaf apabila ada kesalahan..
Don't judge okay! 😊😊😊
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤