
Cara orang berpikir dalam mencintai ada dua, yang pertama kamu menganggap kehadirannya adalah luka sekaligus obat. Dan yang kedua, asalkan dia bahagia tidak dengan kamu pun tak apa. Pola pikir pertama adalah hal yang selama ini melekat dalam ingatan, dan ujungnya akan selalu sama, yaitu luka. Tetapi jika beralih pada pola pikir kedua, maka mustahil bisa menerima takdir. Karena pada dasarnya, cinta memang memiliki ego untuk memiliki.
Maka menurut author rindu, berpikirlah dengan matang sebelum melabuhkan hatimu pada seseorang. Karena saat kamu melabuhkan hatimu pada orang yang salah, penyesalan itu akan selalu menghantui dan menjadi luka abadi. Ceilaaaahh.. Skip.. Skuyy simak kisahnya.. 🤭🤪
* * *
Aisyah tidak bisa membohongi hatinya, bagaimanapun cinta yang Arya berikan adalah cinta pertama dalam hidupnya. Dia dan Bu Fatimah sudah sepakat, akan menyembunyikan perihal kisah pahit itu. Meskipun Bu Fatimah pun tak tau jika kisah Aisyah dan Arya, terhalang dua keyakinan yang berbeda.
'Sekarang aku mengerti, Mas. Bahwa yang terjadi diantara kita saat ini adalah jalan yang terbaik untukmu dan juga untukku. Karena sekuat apapun hati kita saling menarik untuk kembali, pada akhirnya kita akan berakhir dengan keadaan seperti ini lagi..'
'Sedari awal, harusnya kamu menyadari bahwa perasaan ini tidak mungkin menyatukan kita. Semesta tidak akan pernah merestui kita..'
'Kini aku akan belajar mengikhlaskanmu, seperti kamu yang sedang berusaha melepaskanku.. Tidak mengapa kita terluka, ini tidak akan lama, tidak akan seumur hidup. Semua hanya tentang waktu..'
'Rindukanlah aku seperti aku merindukanmu. Ingatlah aku seratus juta kali sehari seperti aku yang mengingatmu miliaran kali. Sampai bertemu kembali di akhir bahagia dengan jalan yang semesta pilihkan untuk kita berdua..'
'Terimakasih pernah hadir, meskipun bukan sebagai takdir.. Terimakasih sudah menjadi cinta pertama dan juga luka pertamaku, Mas Arya ♡'
Kirim.. Centang dua.. Aisyah memberanikan diri untuk mengirim pesan pada Arya, meskipun mungkin untuk yang terakhir kalinya. Aisyah mengetik pesan itu dengan lelehan airmata yang tak kunjung surut. Juga foto yang mereka ambil, sebelum perpisahan itu dimulai.
Ting!
Ponsel Arya berbunyi, cukup banyak pesan yang masuk. Namun tak Arya buka, karena saat ini dia sedang bersiap untuk pulang ke kampung halaman keluarga besarnya di Sumatera Utara. Dia mengambil cuti karena akan menghadiri pernikahan Kakak laki-lakinya, yang juga merupakan seorang Perwira TNI AD.
"Jadi berapa lama kamu cuti?" tanya Riki pada juniornya itu.
__ADS_1
"Siap! Izin Bang, mungkin 3 hari. Saya sudah serah terima tugas dengan Defri, saya mohon do'a juga agar selamat di perjalanan.." ucap Arya.
"Abang akan selalu mendo'akan kamu. Hati-hati dijalan, maaf Abang dan Defri tidak bisa mengantarkan kamu ke Bandara," Riki merangkul Arya.
"Tidak apa-apa, Bang.. Saya pamit! Sampaikan salam saya pada Defri.."
Usai berpamitan, Arya pun menuju Bandara Husain Sastranegara Bandung. Sepanjang perjalanan, memori dalam ingatannya berputar. Berbagai kenangan manis bersama Aisyah yang mungkin tidak akan pernah terulang kembali.
Sesampainya di Bandara, Arya langsung menuju ke gate keberangkatan menuju Medan, Sumatera Utara. Karena pesawat sudah memasuki jadwal keberangkatan. Sekitar 3 jam perjalanan, Arya hanya tertidur. Hingga akhirnya dia sampai dan di jemput oleh adik perempuannya yang bernama Jesicca Audry Wicaksana.
"Kak Aryaaa!" panggil Audry sambil memeluk erat sang Kakak.
"Isshhh.. Adik siapa sih udah gede aja nih!" Arya mengacak rambut sang adik.
"Mana pacar Kak Arya? Kok gak diajak? Katanya kalo ada acara keluarga mau diajak," tanya Audry sambil meledek Arya.
Mereka pun berbincang dalam mobil, kening Arya berkerut saat memasuki area pelabuhan. Bahkan seluruh keluarga besarnya pun ada disana. Hanya keluarga Arya yang tak ada karena sudah berangkat lebih dulu.
"Dek? Kita mau kemana ini?" tanya Arya yang memang tidak mengetahui tujuan mereka.
"Kita kan mau ke Pulau Berhala, Kak! Disana acara pemberkatan Kak Yosep, soalnya kan keinginan calon istrinya.. Sudahlah jangan banyak tanya dulu Kak! Sekarang kita harus naik perahu, soalnya perjalanan nya lumayan, 4 jam!"
Arya hanya menghela nafas beratnya. Dia menyapa satu persatu keluarganya, mereka pun banyak bertanya mengenai kehidupan Arya sebagai seorang abdi Negara dan juga mengenai kehidupan pribadi tentunya. (Pada kepo ya!)
Karena Arya sudah cukup lelah berbincang, dia keluar menuju dek kapal dan menatap indah hamparan lautan luas dihadapannya. Dia membuka ponselnya dan tersentak saat melihat cukup banyak pesan masuk dari Aisyah. Pesan yang membuat hatinya kembali hancur. Arya menghapus airmata yang begitu saja mengalir di pipinya, dia pun mulai membalas pesan dari Aisyah.
__ADS_1
'Aisyah Kareinina Nurkahla, gadis manis yang selalu membuatku jatuh cinta setiap waktu. Ais.. Mas tidak akan meminta kamu untuk kembali lagi, Mas tidak akan membuat semuanya seperti dulu lagi. Karena memang semuanya tidak akan pernah bisa, kali ini cukup sampai disini. Bukan berarti Mas tidak lagi mencintaimu..'
'Jika suatu hari nanti, Mas atau kamu yang berbahagia lebih dulu.. Tolong pertahankanlah perasaan itu, tetaplah pada pilihanmu.. Berbahagialah dengan kehidupan barumu, Ais.. Berbahagialah dengan dia yang akan menjadi jodoh yang seiman denganmu..'
'Terimakasih sudah menjadikan Mas manusia paling bahagia walaupun tidak sepenuhnya sampai akhir.. Jaga diri kamu baik-baik ya, sayang.. Kamu adalah perempuan yang tidak akan pernah Mas lupakan.. Sungguh Mas pernah mencintai dan menyayangi kamu denhan sebegitu hebatnya.. Mas pernah memperjuangkan apa yang semestinya tidak harus diperjuangkan..'
'Seperti laut yang tak tau dimana ujungnya, seperti langit yang tak tau seberapa luasnya.. Seperti itulah Mas ikhlaskan dirimu untuk berbahagia dengan laki-laki yang seiman denganmu dan mampu membahagiakanmu.. Ingatlah selalu, Mas akan terus mendo'akanmu walaupun mungkin do'a Mas tak akan pernah sampai.. Aku mencintaimu, Aisyah.. Sampai bertemu di kehidupan yang lebih baik..'
Arya menangis dalam diam, dia membuka dompetnya lalu mengeluarkan foto-foto dirinya bersama Aisyah. Perlahan dia robek foto itu, hatinya pun robek dan bahkan mungkin luka itu akam sulit tuk mengering. Arya hanyutkan semua foto itu bersama semua kenangan indah yang telah mereka lalu bersama.
Ting!
Aisyah bergegas membuka ponselnya. Jantungnya berdegup kencang saat membaca balasan pesan dari Arya. Kedua insan manusia itu saling menangisi perpisahan itu, perpisahan yang terhalang oleh benteng tertinggi di dunia ini. Tuhan mereka jelas berbeda.
'Mengapa cinta? Mengapa engkau harus hadir dalam hatiku, hanya untuk sebuah perpisahan yang menyakitkan.. Jika tidak untuk seterusnya, kenapa harus aku dan dia? ' batin Aisyah dan juga Arya.
Jangan pernah menyalahkan perpisahan, karena kita akan banyak belajar dalam perpisahan itu. Bukankah setiap pertemuan akan ada perpisahan? Dan akan ada pertemuan kembali dari setiap perpisahan.
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
__ADS_1
Salam Rindu, Author ❤