
Pertemuan mereka dengan Bagaskara membawa fakta bahwa mereka merupakan satu angkatan dengan lulusan terbaik. Bahkan keduanya pun mendapatkan penghormatan di Istana Negara dari Presiden secara langsung.
"Saya benar-benar tidak menyangka!" ucap Bagaskara.
"Betul! Saya pun tidak menyangka bahwa kamu lulusan Akademi Kepolisian terbaik pula. Ipda Bagaskara!" Riki terkekeh.
"Maaf sekarang saya Iptu, Lettu Riki!" dua laki-laki itu mengobrol tiada henti. Hingga para gadis itu pun mengantuk.
Riki pun menoleh kebelakang, dia tersenyum saat melihat Nabila tertidur. Namun hatinya sedikit perih saat melihat luka didahi gadis yang ia cintai.
"Gas.. Tolong berhenti di rest area ya! Saya harus bersihkan lukanya.. Takut infeksi! Saya gak mau wajah cantiknya tergores sedikitpun!" ucap Riki pada Bagaskara.
"Oke!" Bagaskara menyetujui. "Sekalian makan siang saja bagaimana? Perut saya lapar! Dari pagi belum terisi!"
"Okelah!" Riki dan Bagaskara pun terkekeh.
Mobil pun menepi di rest area yang berada di sekitar Kota Tasikmalaya. Ketiga gadis itu masih terlelap, sedangkan Riki turun perlahan diikuti oleh Bagaskara. Kaca mobil mereka buka sedikit agar para gadis itu tak kepanasan.
Riki membuka pintu mobil belakang, itupun karena dia tau jika Nabila bersandar pada Ashila. Perlahan Riki bersiap untuk menggendong Nabila, tapi gadis itu membuka matanya.
"A-abang mau ngapain?" tanya Nabila dengan gugup, karena wajah Riki begitu dekat.
"Mau bawa kamu keluar, Abang mau obati luka kamu!" jawab Riki yang tak kalah gugup.
"A-aku bisa sendiri, Bang!" Nabila pun segera keluar dari mobil, namun kepalanya terasa nyeri. Mungkin efek luka di dahinya.
Ashila dan Aisyah pun terbangun, mereka juga bergegas keluar. Bertepatan dengan Bagaskara yang kembali dengan membawa dua botol air mineral.
"Diminum dulu, biar segar!" ucap Bagaskara sambil memberikannya pada Aisyah dan Ashila.
"Makasih!" Hanya Ashila yang menjawab, karena Aisyah tidak menerima botol air mineral itu. Dia langsung berjalan menghampiri Nabila.
"Bil! Muka lu pucet banget.. Mana yang sakit?" tanya Aisyah khawatir.
"Gue baik kok, Ais! Cuman dikit pusing doang.." jawab Nabila.
"Apa Abang bilang? Kamu tuh ngeyel, Ila! Nanti kita cari Klinik terdekat. Abang gak mau ambil resiko!" tegas Riki, namun Nabila tetap menolak.
"Ila gak apa, Bang! Nanti luka nya pake plester aja. Udah cukup kok! Kita harus cepet pulang, kasian Ashila.."
Riki menghela nafasnya kesal, sedangkan Aisyah dan Ashila menatap Nabila dengan mata berkaca-kaca.
"Jangan dibiasain! Lu itu sakit, Nabila! Gue gak apa kok, cuman acara lamaran yang entah siapa juga yang akan ngelamar gue! Kalian nanti di kosan aja, gue balik sendiri gak apa-apa!" ucap Ashila sambil merangkul Nabila.
"Apaan sih! Gue sama Ais ikut balik kerumah lu! Iya kan Ais?" Nabila menoleh pada Aisyah yang menganggukkan kepalanya.
"Yaudah kalo gitu.. Abang anterin kalian juga!"
"Gak usah Bang! Gue sama yang lain gak mau ngerepotin Abang," Ashila jelas menolak.
"Kamu nggak bisa nolak, Cil! Ingat.. Defri masih satu kesatuan sama saya!"
Hening...
__ADS_1
"Bisa kita makan dulu? Saya lapar.." Bagaskara memotong perdebatan itu.
Mereka pun akhirnya masuk kedalam salah satu restoran khas Sunda. Bagaskara makan dengan lahap. Sedangkan sakit dikepala Nabila semakin terasa. Sepertinya kaca itu menggores dahi Nabila cukup dalam. Padahal Riki sudah menutup luka itu dengan plester.
"Gue ke toilet bentar, ya! Kebelet.." pamit Nabila.
Riki tak bisa membiarkan Nabila sendirian, namun Aisyah mencegahnya. "Biar Ais aja yang temenin, Bang!"
Saat diperjalanan menuju toilet, Aisyah dan Nabila bisa melihat dengan jelas sosok Farhan yang tengah digandeng seorang perempuan yang berpakaian cukup terbuka. Mereka tertawa dan bercanda, hal itu membuat hati Nabila terasa perih.
"A Farhan.." lirih Nabila.
Siapa sangka, Farhan pun menoleh saat mendengar suara Nabila. Dia melepaskan gandengan perempuan itu, lalu menghampiri Nabila.
"Bila.. Ini gak seperti yang kamu pikirkan!" ucapnya sambil mencoba meraih tangan Nabila.
"Alhamdulillah jika sudah ada penggantiku.. Aku kira gak secepat itu.. Berbahagialah dengan pilihanmu.."
Nabila pergi begitu saja, dia masuk kedalam toilet. Sedangkan Farhan masih berusaha menjelaskan. Dia menunggu Nabila didepan toilet, walaupun perempuan itu sudah merengek agar segera pergi darisana.
"Bil! Aa bisa jelaskan! Apa kamu gak bisa dengerin Aa sedikit aja!" bentak Farhan, hingga Nabila dan Aisyah tersentak kaget.
"Sejak kemarin, kamu memutuskan begitu saja! Tanpa kamu mendengar semua penjelasan Aa! Saat ini Aa butuh bicara berdua sama kamu, Bila! Ini gak sesimple yang kamu pikir. Kamu bahkan gak tau kan kalo Mama sampe sakit mikirin hubungan kita!"
Riki yang menyusul Nabila sedikit terpancing emosi saat mendengar Farhan membentak Nabila. Dia mencengkram baju Farhan dan memberikan tinju di pipinya. Akhirnya perkelahian pun tak terelakkan.
"Berhenti! Ini tempat umum, bukan ring tinju!" Bagaskara datang memisahkan.
Nabila pun mengobati luka dipipi Riki yang memar, air mata tak berhenti menetes dari pipinya. Riki pun menghapus airmata itu dengan ibu jarinya.
"Berhentilah menangis, Ila.. Abang bisa hancurkan semua hal didunia ini yang membuat kamu menangis.. Sekalipun itu diri Abang sendiri.."
"Makasih ya, Bang.."
Perjalanan pun dilanjutkan, akhirnya Bagaskara memutuskan akan mengantarkan mereka ke rumah Ashila langsung. Sekitar pukul 6 sore, mereka sampai di kediaman Ashila. Keluarga Ashila pun sedikit terkejut, saat mendapati putri mereka pulang diantarkan mobil patroli Polisi.
"Astagfirullah, Acil.. Ada apa ini?" tanya Pak Solihin.
"Tadi kita diserang anak-anak yang tawuran, jadi mobil Bu Halimah ancur lebur. Akhirnya dianterin sama Polisi yang lagi patroli disana. Kebetulan kenal sama Bang Riki.." jawab Ashila menjelaskan.
"Allahuakbar! Meni aya-aya wae atuh Aciilll.." Mama Ashila memeluk anak perempuan pertamanya itu.
"Cepet kedalem! Biar Mama siapin kalian makanan.. Itu juga Bibil.. Aduh! Pak Arifin sama Pak Saepudin bisa nyusul kesini kalo tau anak-anaknya begini!" omel Pak Solihin.
"Enggak akan atuh, Pa! Kecuali kalo Papa laporan!" omel Ashila pada sang Papa.
Mereka pun beristirahat sejenak, Riki dan Bagaskara pun ikut membersihkan diri karena mendekati waktu Maghrib.
"Ma.. Siapa sih yang nelpon Papa dan bilang mau ngelamar Acil?" tanya Ashila penasaran.
"Mama juga gak tau atuh! Kalo enggak salah namanya teh Pak Anton..!"
Deg!
__ADS_1
'Apa mungkin A Rizaludin?' batin Ashila.
Shalat Maghrib berjama'ah pun dilakukan, Bagaskara menjadi imam saat itu. Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan mampu menyentuh hati Aisyah. Mimpinya seolah terwujud, Arya menjadi imam dalam sholatnya. Namun lelaki itu adalah Bagaskara, bukan Arya.
Tepat pukul 8 malam, rombongan laki-laki yang melamar Ashila pun datang. Tak ada penyambutan special, Ashila pun hanya menggunakan pakaian seadanya. Benar saja, keluarga Rizaludin tiba disana. Tak ada sambutan hangat dari Ashila. Yang ada hanyalah tatapan penuh tanya dan kecewa. Usai berbasa basi singkat, Pak Anton pun menyampaikan niat baiknya untuk sang anak.
"Sebelumnya kami mohon maaf pada keluarga Pak Solihin dan juga Nak Ashila. Karena mungkin kedatangan kami mengejutkan semuanya. Niat kami kesini melamar Nak Ashila, untuk putra kami satu-satunya Rizaludin. Apakah Nak Ashila dan keluarga berkenan menerimanya?" tanya Pak Anton.
"Betul sekali, Pak Anton. Kami semua terkejut.. Apalagi putri kami ini tadi posisinya sedang berada di Pangandaran untuk berlibur. Ditambah kepulangannya mendadak, juga halangan karena ada sedikit kecelakaan.."
Rizaludin tersentak. Dia tak menyangka jika Ashila mengalami kecelakaan, karena dia tak tau jika Ashila tengah berlibur.
"Mengenai lamaran itu.. Semua keputusan ada pada putri kami. Karena nantinya dia yang akan menjalani biduk rumah tangga. Kami sebagai orang tua hanya bisa mendukung saja apa yang terbaik bagi putri kami.. Gimana jawaban kamu, Nak?" tanya Pak Solihin.
Ashila pun menoleh pada Rizaludin, "Mohon maaf sebelumnya. Sebetulnya saya kaget sekali dengan lamaran mendadak seperti ini. Bahkan saya dan A Rizaludin pun dekat hanya sebatas rekan kerja saja.."
"Saya minta maaf kepada A Rizaludin dan keluarga yang sudah jauh-jauh datang kemari. Tapi saya tidak bisa menerima lamaran dari A Rizaludin..!" tegas Ashila.
Deg!
Hati Rizaludin terasa nyeri, "Kenapa Cila? Apakah Aa gak pantas untuk mendampingimu?"
"Bukan perihal pantas apa tidaknya, A. Tapi alhamdulillah Acil sudah ada calon. Sekarang dia sedang menjalankan tugas di Aceh selama 6 bulan. Jadi Acil akan menunggunya kembali.."
"Tapi dia bisa saja gak kembali, Nak Ashila!" ucap Pak Anton yang kecewa karena anaknya di tolak.
"Astagfirullah.. Insya Allah calon suami saya akan kembali, Pak! Saya selalu mendo'akan yang terbaik untuk keselamatannya. Sekalipun dia tidak kembali, bukan berarti saya akan menerima lamaran A Rizaludin! Dan lamaran mendadak seperti ini pun, tidak saya harapkan.." tegas Ashila.
Akhirnya Rizaludin dan keluarga pun meminta maaf, lalu berpamitan. Tanpa menyentuh sedikitpun jamuan makan yang disediakan.
"Buang-buang duit orang tua gue aja!" gerutu Ashila.
"Hei bocah! Siapa calon suamimu itu? Dinas dimana? Pangkatnya apa?" tanya Pak Solihin sambil menjewer telinga putrinya itu.
"Ih Papa! Perasaan Papa tau deh!" jawab Ashila.
"Tau dari Hongkong! Dasar anak onta!" kesal Pak Solihin.
"Yeee.. Kalo gitu, Papa itu Papa onta dong!" ucap Ashila sambil berlari kedalam rumah.
Sedangkan didalam mobil, Rizaludin masih merasakan kekecewaan dihatinya.
'Aku akan tetap memperjuangkan kamu, Ashila.. Akulah yang layak untukmu.."
* * * * *
Semoga suka dengan ceritanya...
Jangan lupa loh buat Like, Komen, Vote dan Favorite 🥰🙏🥰
Dukung Author terus ya!
Salam Rindu, Author ❤
__ADS_1