
Kehilangan orang yang di sayang
Tyar mengerjapkan matanya, terbangun dari tidur panjangnya. Menatap sekeliling, dan tatapannya terhenti saat melihat wanita yang selama ini selalu setia mendampingi dirinya penuh dengan cinta yang kini sedang tertidur pulas. Meskipun rasa sakit di sekujur tubuhnya masih sangat terasa, namun senyumnya masih bisa terbit di wajah tampannya.
Tyar memutuskan untuk tidak membangunkan Raisya, dia mengerti jika istri pasti merasa lelah karna menemani dirinya bertahun-tahun.
" Aw...kepala ku terasa sangat sakit. "Tyar meringis kesakitan. Benturan di kepala nya memang sangat kencang, bukan hanya menyebabkan rasa sakit, namun membuat dirinya harus merasakan tidur yang sangat panjang.
Terusik tidur nya karna suara ramai dari luar ruangan membuat Raisya akhirnya membuka matanya. Untungnya sudah 1 bulan ini Tyar boleh di pindahkan ke ruang rawat inap meskipun masih menggunakan alat-alat penunjang dirinya untuk bertahan hidup. Selama ini Raisya hanya bisa tertidur di ruang istirahat yang menjaga pasien ICU yang di sediakan oleh rumah sakit. Raisya hanya bisa puas menatap dari luar dan hanya 2-3x di perbolehkan masuk, untuk bertatapan langsung menggenggam tangan dan menciumi wajah suaminya.
" Mas...mas...sudah sadar ? Aku hanya mimpi atau memang nyata ? Ya Allah terima kasih engkau telah menyadarkan suamiku. " Raisya nampak bahagia dan bersyukur karna setelah satu tahun lebih suaminya terbaring koma, kini dirinya sudah bisa melihat suaminya sadar kembali. Raisya langsung menciumi wajah suami nya bertubi-tubi sampai dirinya tak sadar jika air mata nya terus menetes membasahi wajah nya.
" Mas...jangan tinggalkan aku lagi ! " Ucap Raisya serak, karna sudah terlalu banyak menangis. Raisya terus memeluk tubuh suaminya yang masih terpasang alat. Sampai-sampai dirinya tak sadar untuk memanggil perawat atau pun dokter yang berjaga karna saking senangnya. Pelukan itu baru terlepas saat Tyar meringis dan mengucap kata sakit karna pelukan istrinya yang sangat erat.
" Aku panggil dokter dulu ya mas, biar periksa kamu ! " Ucap Raisya lembut.
Selang beberapa menit, kini Raisya kembali bersama dokter dan juga perawat ysng sedang bertugas.
" Selamat pagi pak Tyar. Bagaimana keadaannya sekarang ? Apa yang bapak rasakan ? " Tanya Dokter Anwar yang bertugas memeriksanya.
" Sa..ya..me..rasa su..dah ba..ikan dok ! Ha..nya ke..pala sa..ya ya..ng ma..sih sa..kit. " Ucap Tyar yang masih terbata-bata.
" Ya sudah sekarang bapak banyakin istirahat dulu ya ! Biar cepat pulih, makan yang banyak , dan jangan banyak gerak dulu ! " Titah Dokter Anwar dan langsung dapat anggukan lemah dari Tyar.
Setelah memastikan kondisi Tyar sudah membaik, akhirnya dokter Anwar memutuskan untuk mencopot beberapa alat yang menempel di tubuhnya termasuk selang oksigen di hidungnya dan hanya tersisa selang infus. Karna Tyar pun sudah merasa tak membutuhkannya.
" Aku senang banget mas mendengarnya...akhirnya doa aku dan anak-anak di jabah oleh Allah. " Ucap Raisya dengan wajah yang berbinar-binar.
" Oh ya mas mau makan apa ? Biar aku belikan setelah mandi. " Ucap Raisya lagi.
" Mas rindu masakan kamu. Bisa ga kamu masakin mas opor ayam sama sambel kentang pakai ati sapi sekalian sama lontongnya. Mas ingin merasakan sebelum mas pergi untuk selamanya. " Baru saja Raisya merasa senang karna suaminya sudah lancar bicara tak seperti tadi masih merasa sakit, tapi kini dirinya seperti terjatuh ke jurang kembali mendengar penuturan suaminya yang begitu menyesakkan hatinya.
" Mas ko ngomong gitu si ? Mas tega mau ninggalin aku ! Aku ga mau mas ngomong kaya gitu lagi ! Mas itu sudah sehat hanya pemulihan, mas dengar kan tadi kata dokter ? Dokter juga sudah menyabut alat-alat mas ! Pokoknya aku mau di sini terus dampingin mas. Biar aku hubungin si mba di rumah buatin masakan untuk mas ! " Ucap Raisya yang kini terisak tangis. Tiba-tiba saja dada nya terasa sesak, rasa nya tak sanggup bila ucapan suaminya, benar - benar menjadi kenyataan.
Tyar tersenyum gemas melihat wajah istrinya, dia sangat mengerti bahwa istri nya sangat takut kehilangan dirinya. Memang takdir begitu menyakitkan, tak pernah bisa semulus yang kita harapkan. Namun semampunya dia selalu ingin membuat istrinya bahagia.
" Ya deh mas minta maaf atas ucapan mas yang ngelantur tadi ! Tapi beneran loh mas mau nya buatan kamu. Kamu tenang aja mas akan baik-baik saja di sini, mas akan setia menunggu mu ! Udah ya jangan sedih lagi, mas ga ingin lihat kamu nangis lagi ! " Ucap Tyar lembut sambil mengelus rambut istrinya. Namun entah mengapa Tyar tak sanggup bersitatap beradu netra dengan sang istri, dirinya memilih untuk mengalihkan pandangannya ke kanan kiri atas dengan tatapan kosong.
" Ya sudah aku pulang dulu. Kalau mas ada yang di rasa, tekan tombol bel ini ya ! Bel ini terhubung dengan ruangan perawat ! " Jelas Raisya pada suaminya.
" Siap bos ! Oh ya mas boleh ga minta satu permintaan lagi ? " Tanya Tyar. Raisya menatap serius suaminya, dia sangat takut jika suaminya akan meminta hal yang aneh.
__ADS_1
" Aku ingin kamu memakai dress peach yang pertama kali kita bertemu kembali, aku juga ingin kamu berdandan cantik seperti dulu ! Aku hanya ingin mengingat saat kita bertemu kembali. " Ucap Tyar menerawang seperti orang menghayal. Raisya merasa ada yang aneh dengan suaminya, namun sebelum pikirannya berpikir jauh Raisya berusaha menepisnya.
" Mas kenapa sih ? Permintaan mas aneh banget sih ? Aku udah tua mas, malu pakai baju seperti itu. Lagian baju nya juga udah ke mana tau udah lama banget mas. " Gerutu Raisya.
" Kata siapa udah tua ? Umur memang boleh bertambah tua. Tapi istri mas ini ga kalah saing sama abg sekarang, tetap cantik awet muda. Ya sudah deh...kamu pakai baju warna hitam aja ! " Ucap Tyar membuat Raisya tersipu malu bercampur bahagia mendapat pujian dari suaminya. Namun lagi-lagi suaminya menghempaskan dirinya kembali dengan ucapan yang menakutkan dirinya.
" Udah ah aku mandi dulu terus pulang, berdebat sama mas lama-lama aku ga pulang-pulang ! Mas mau ngemil apa dulu sebelum aku pulang, biar perut mas ga kosong ! " Ujar Raisya.
" Mas...belum mau, nanti aja ! Mas mau tidur, masih lemes ! Dandan yang cantik ya, mas ingin lihat istri mas terlihat cantik meskipun wajah kamu tertutup tangisan. " Sahut Tyar.
" Cukup mas ! Aku ga mau dengar mas ngomong seperti itu lagi ! Mas tau ga sih rasanya jadi aku ? Melihat mas terbaring koma aja, aku sedihnya ga ketulungan apalagi mas pergi untuk selamanya. Mungkin aku bisa gila. " Celoteh Raisya.
" Mas mohon jika mas pergi lebih dulu, tolong tetap semangat menjaga dan membesarkan buah hati kita ! Mas rela, ikhlas kalau kamu menikah lagi ! Tapi jangan sama Raihan ya, kasihan Clarissa masa ga jadi nikah sama Daren. emak bapak nya yang clbk. " Tyar terkekeh menggoda istrinya. Ada perasaan senang yang di rasa Raisya saat melihat tawa riang suaminya, namun kata-kata suaminya juga membuat dirinya tak kuasa membendung kesedihannya. Dirinya berharap semua ucapan suaminya hanyalah guyonan belaka, pengantar kebersamaannya.
Dari pada meneruskan percakapan dengan suaminya yang begitu menyakitkan, akhirnya Raisya memilih untuk mandi meninggalkan suaminya. Cinta itu memang begitu menyakitkan. Bukan hanya melihat pasangan kita berselingkuh dengan wanita lain, tapi kehilangan orang yang kita cintai pergi untuk selamanya juga sangat menyakitkan.
Pengaruh obat membuat Tyar tertidur kembali. Dan kini Raisya baru keluar dari kamar mandi.
" Tidur ? " Gumam Raisya dalam hati. Saat melihat suaminya yang sudah tertidur pulas. Raisya menghampiri suaminya, memandang wajah yang selalu membuat dirinya merasa teduh dan di cintai. Selama dirinya menjalani pernikahan dengan suaminya, tak ada sedikit pun suaminya menyakiti dirimu. Dirinya selalu merasa di cintai dan di sayangi oleh suaminya.
" Lebih baik aku segera pulang, agar masakan ku segera matang ! " Ucap Raisya dalam hati. Raisya langsung mengirim pesan chat kepada art yang bekerja di rumah untuk membeli dan menyiapkan apa yang dia butuhkan.
" Mas...aku pulang dulu ! " Raisya pamit dengan pelan, dia tak ingin membangunkan suaminya.
Tak memakan waktu lama, mobil Raisya sudah sampai di halaman rumah. Raisya memasuki rumah, dan langsung mencari keberadaan anak-anaknya. Mereka sangat bahagia mendengar papa nya sadar kembali. Bahkan mereka ingin ikut menengok papa nya.
Dengan lihai Raisya memasak permintaan suaminya. Namun di pertengahan saat memasak, tak sengaja tiba-tiba piring yang di pegang dengannya terjatuh dan pecah.
" Astagfirullah..." Raisya beristigfar, tubuhnya terasa gemetar seperti orang ketakutan. Wajahnya pun terlihat sangat pucat.
" Ma...mama kenapa ? Bi lanjutkan masak nya ! " Ucap Clarissa. Clarissa membantu sang mama untuk duduk di sofa tak lupa dirinya mengambilkan air minum untuk sang mama.
" Minum dulu mah, biar mama tenang ! " Clarissa menyodorkan gelas berisi air putih kepada sang mama.
Raisya terlihat sudah tenang, dan masakan pun sudah hampir selesai. Akhirnya Raisya masuk ke dalam kamar untuk berhias sesuai permintaan suaminya. Entah mengapa Raisya juga menginginkan memakai pakaian yang berwarna hitam. Raisya mempercepat berhias, karna dia merasa khawatir meninggalkan suaminya jika terlalu lama.
" Biar Clarissa saja yang bawa ma, mama duduk aja ! " Untungnya Clarissa sudah biasa menyetir mobil, Clarissa juga sudah memiliki sim setelah dirinya berulang tahun ke 17 sebagai hadiah ulang tahunnya dari papa Tyar sebelum terjadi kecelakaan.
Raisya dan keempat anaknya memasuki rumah sakit langsung menuju ruang rawat suaminya.
" Papa masih tidur, biarkan dulu ! " Ucap Raisya memberi tahu anak-anaknya saat melihat suaminya masih tertidur pulas.
__ADS_1
Raisya meletakkan semua barang bawaannya. Sampai-sampai dia pun tak sempat makan. Semua anaknya hanya bisa memandangi wajah papa nya dan sesekali memegang tangan papa nya.
" Dingin ? Tak ada pergerakan, terkulai lemah ? Cairan infus pun tak menetes ? Apa papa Tyar sudah pergi untuk selamanya ? " Gumam Clarissa dalam hati, ingin rasanya dia berteriak memberi tahu pada sang mama tapi rasanya lidah itu terasa keluh tak mampu mengucap.
Tes
Tes
Tes
Air mata Clarissa tak bisa di bendung lagi, sesekali dirinya melirik ke arah sang mama yang sedang menyenderkan kepala kemudian berganti ke arah ketiga adiknya secara bergantian.
Setelah seketika sibuk dengan ponselnya, Raisya tersadar kembali dengan suaminya yang masih terus memejamkan matanya.
" Cla...papa belum ada pergerakan juga ? " Tanya sang mama membuyarkan lamunannya. Clarissa menggelengkan kepalanya dengan lemah seiring air mata yang terus mengalir.
Dan akhirnya Raisya menghampiri sang anak. Raisya ikut merasakan apa yang di rasakan putri sulungnya saat ini, meskipun Clarissa bukan anak kandung Tyar tapi Tyar selalu menyayangi Clarissa bahkan kasih sayang Tyar selama ini melebihi kasih sayang Nando sang ayah.
" Sedih ya ? Mama juga Cla...Alhamdulilah papa sekarang sudah sadar, kita doakan terus semoga papa cepat pulih dan bisa berkumpul kembali dengan kita ! " Ucap Raisya menenangkan sang anak, Raisya belum tersadar jika suaminya telah pergi meninggalkan dunia untuk selamanya dan tak akan kembali ke rumah sesuai impiannya.
Clarissa tak sanggup menahan bebannya, dirinya langsung memeluk sang mama dengan erat. Mencoba saling menguatkan...
" Ma, kitab harus ikhlaskan papa ! Papa sudah tiada ! " Bisik Clarissa di telinga sang mama, dengan isak tangis yang masih menyelimutinya.
" Tidak, papa kamu masih hidup ! Dia sudah terbangun dari tidur panjangnya ! Kenapa kamu bicara seperti itu ! Mas...bangun, buktikan pada Clarissa bahwa kamu sudah sadar dan hanya tinggal pemulihan saja ! " Raisya mengguncangkan tubuh suaminya, berharap apa yang di katakan anaknya hanya isapan jempol belaka.
" Mas bangun ! Buka matamu ! Jangan tidur terus ! Aku bawa keempat buah hati kita ! " Raisya terus mengguncang tubuh suaminya agar terbangun.
Sedangkan Clarissa memilih keluar memanggil perawat dan juga dokter untuk memeriksa kondisi papa nya, dirinya masih berharap jika penafsirannya salah.
Tim medis masuk ke ruangan rawat inap Tyar dan meminta izin pada Raisya untuk memeriksa suaminya, karna saat ini Raisya menyenderkan kepala nya di dada milik suaminya.
Air mata terus mengalir deras di wajah Raisya, Clarissa, dan ketiga anaknya. Mereka sangat takut jika suami tercintanya, papa tercintanya akan pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.
" Innailaihi wainailaihi rojiun. " Ucap Dokter Anwar, saat memeriksakan keadaan Tyar,
" Tidak , tidak mungkin ! Aku yakin dokter salah ! Suami ku itu sudah sadar, hanya tinggal pemulihan saja ! Dokter pun tadi bicara seperti itu, sampai-sampai dokter juga mencabut semua alat bantu di tubuh suamiku ! " Raisya berteriak histeris merasa tak terima dengan penuturan dokter.
" Tolong jangan di cabut Dok, aku yakin suamiku masih hidup ! Dia hanya tertidur pulas ! Mas...bangun mas ! Aku sudah memasak makanan yang kamu minta, aku juga sudah berdandan cantik sesuai keinginan mu ! Bangun mas, jangan tidur terus ! Ayo buka mata mu ! " Ucap Raisya yang masih belum terima jika suaminya telah tiada.
Keempat anak nya langsung memeluk sang mama, mencoba menguatkan sang mama untuk mengikhlaskan sang papa. Berharap sang mama bisa menerima jika orang yang mereka sayang telah pergi untuk selamanya. Tim medis melakukan apa yang seharusnya dia lakukan, untungnya ada Clarissa yang bisa mengurus semua administrasi papa nya. Dia juga harus mengurus semua yang di butuhkan untuk kepulangan jenazah ke rumah. Meskipun dirinya merasa rapuh, namun dirinya selalu berusaha menguatkan diri untuk tegar. Karna jika bukan dia, siapa lagi yang mengurus semuanya. Karna jangankan untuk mengurus, tersadar pun Raisya tak mampu. Raisya pingsan tak sadarkan diri. Rasanya dia tak sanggup untuk menopang beban yang baginya sangat berat.
__ADS_1
Masih terus semangat membacanya ? Nantikan episode berikutnya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya ! Terima kasih yang sudah mendukung karyaku, dukungan kalian sangat berarti.....