
Raisya, Nando, dan Viona kini sedang dalam keadaan bingung tentang pemikiran kehidupan mereka masing-masing. Ada keinginan Viona untuk meninggalkan Nando dari hidupnya selamanya, karna dia harus merasakan sakit tidak pernah ada kejelasan dari hubungannya dengan Nando, ya bisa di bilang hanya di bilang sebagai kekasih gelap atau partner sex dari suami yang telah memiliki istri dan anak.
Dia juga manusia yang mempunyai perasaan, yang menginginkan pasangan yang selalu mendampingi dirinya. Sedangkan Nando seperti nya dia tidak pernah bisa mengharap lebih dari hubungan dengan dirinya. Nando selalu menegaskan kalau sebaiknya mereka hanya seperti ini selamanya. Dia tidak akan pernah meninggalkan dirinya, tetapi Nando juga tidak akan melepas istrinya.
Sedangkan yang ada di pikiran Nando saat ini. Dia merasakan bingung harus berbuat seperti apa. Di satu sisi dia tidak pernah mau lagi kehilangan Viona meskipun hanya sebuah hubungan tanpa status, tetapi dia juga tidak mau bercerai dari istri dan anaknya. Di tidak akan setega itu meninggalkan istri nya dan ibu yang telah berjuang untuk melahirkan anaknya.
Dia hanya bisa memandangi langit yang semakin malam. Memang dirinya terlalu egois selalu ingin memiliki keduanya. Seharusnya dia bersyukur karna telah memiliki istri dan anak. Semua sudah lengkap dan sempurna dia miliki.
Dia hanya memjadikan hidup dengan penuh tekanan. Tekanan dari Viona yang sangat menguras pikirannya. Karna Viona telah mengancam dirinya untuk meninggalkannya.
" Selamat atas kelahiran anak kamu. Sekarang kamu sudah menjadi seorang ayah. Pastinya kalian sangat berbahagia. Aku hanya ingin berpesan, tidak bisa kamu terus - terusan seperti ini. Kamu harus memilih aku atau dirinya. Jika kamu memilih untuk tidak menceraikannya dan tetap bertahan dengannya, biar aku yang pergi dari hidup kamu. Karna kesabaran aku ada batasnya. Aku wanita yang memiliki perasaan. Aku juga ingin seperti kamu, hidup bahagia mempunyai pasangan dan anak. Aku tunggu keputusan kamu besok. Aku akan pergi meninggalkanmu. " tulis Viona di pesan chatnya.
__ADS_1
Hati Nando sangat gelisah. Merasa bingung harus seperti apa. Karna dia belum siap untuk kehilangan salah satu di antara mereka.
Dan di dalam kamar bersalin ada seorang wanita yang menangis sambil menatap anak yang baru saja siang tadi lahir ke dunia. Dia bingung harus seperti apa. Karna firasat hatinya tak pernah bisa di bohongi. Dia sangat yakin kalo Nando masih berhubungan dengan Viona dan mungkin saja menurut pemikirannya, Nando sedang berkomunikasi bersama Viona di luar sana.
Sedih dan kecewa itu pasti dia rasakan. Rasanya dia ingin meminta cerai dari Nando, tapi bagaiman dengan nasib bayi yang tidak bersalah yang baru saja di lahirkan. Luka perih akibat persalinan pun belum juga sembuh, sekarang bertambah dengan luka yg di gores di hatinya.
Merasa sudah sangat larut malam, dan mata nya sudah mulai mengantuk. Nando akhirnya masuk ke dalam kamar Raisya. Raisya yang memgetahui Nando ingin masuk ke dalam kamarnya, dia memutuskan berpura - pura untuk tidur. Dia tidak mau Nando melihat sedang bersedih. Dia langsung menghapus air mata yang menetes di pipinya.
Setelah masuk pelan - pelan dia langsung menghampiri bayi mungil yang baru saja istri nya lahirkan. Ada perasaan yang membuat dirinya terhenyu mengingat bagaimana tadi dirinya menyaksikan perjuangan istrinya melahirkan. Kemudian dia beralih ke ranjang tempat istrinya tidur. Dia kecup kening istrinya, kemudian memegang wajah istrinya yang penuh dengan kesedihan atas perbuatan yang dia lakukan. Raisya adalah Istri yang telah sabar mendampingi hidupnya selama ini, istri yang selalu memaafkannya, dan istri yang selalu berusaha menyayangi suaminya. Padahal dia sangat tahu dulu, di awal mereka bertemu Raisya belum mencintainya, dan dirinya lah yang membuat istrinya untuk membuka hatinya dan menerima dirinya. Tetapi kini dirinya lah yang mengkhianati cinta mereka dengan membagi hati nya untuk wanita lain.
Akhirnya mereka tertidur dalam lamunan dan mimpi masing - masing .
__ADS_1
Bayi mungil itu bangun meminta susu, dan akhirnya dia terbangun. Dia melihat Nando yang sudah tertidur pulas. Dia berusaha bangkit menahan rasa sakitnya untuk meraih anaknya. Kemudian dia menyusui anaknya, dan setelah anaknya sudah merasa kenyang dia menaruh kembali di dalam box nya.
Raisya melirik ke arah handphone Nando yang ada di sebelah kepalanya. Seperti Nando ketiduran saat dia bermain handphone. Kemudian Raisya mencoba meraih handphone itu pelan - pelan biar Nando tidak terbangun. Kemudian dia mulai membuka handphone itu. Matanya langsung tertuju ke arah pesan. Dengan perasaan gemetar dia mencoba membukanya. Dan ternyata apa yang dia pikirkan terbukti.
Nando masih berhubungan baik dengan Viona di belakangnya, dan apa yang ucapkan Nando selama ini kepadanya yaitu bohong dan hanya untuk meredam amarah dirinya. Raisya merasa tidak terima dengan apa yang Nando lakukan kepadanya. Besok dia akan bicara dengan Nando, kalau perlu dia akan meminta cerai kepada Nando. Karna telah membohongi dirinya berkali-kali.
Di sana jelas tertulis bahwa Viona menyuruh dirinya datang, dan jika Nando datang menemui Viona itu sudah sangat jelas kalau Nando tidak pernah bisa kehilangan Nando. Raisya saat itu tidak dapat menahan tangisnya. Perasaan bencinya semakin dalam. Luka yang kemarin saja belum sembuh, dan sekarang di buat luka yang baru.
" Ya allah apa salah aku, sampai aku merasakan hal yang sangat sakit yang luar biasa seperti ini. Padahal aku selalu berusaha untuk terus menerima dan maafkan dirinya. Aku juga selalu berusaha untuk membuka hati aku untuk mencintainya. Tetapi mengapa dia terus mengkhianati kepercayaan aku terhadapnya. Jahat banget kamu sama aku. " ucap Raisya lirih dalam hati sambil memandang wajah Nando yang tertidur sangat pulang seperti tidak memiliki dosa.
Nando memang merasa sangat kantuk. Kemarin di kurang tidur. Kemarin dia hanya tidur beberapa jam saja. Karna telah menghabiskan malam bersama Viona dan saat dia mau tertidur pulas, Raisya memberi kabar bahwa dirinya sudah merasakan mules dan paginya dia langsung pulang menemani persalinan Raisya.
__ADS_1
Sebenarnya rasanya dia ingin langsung bangun menampar wajah Nando berkali - kali dan juga memukulnya, kalau bisa mengurangi sakit hatinya terhadap perbuatan Nando. Tetapi di mencoba meredam perasaan itu, karna dia tidak mau membuat keributan di klinik bidan itu.
Dia terus menangis memandangi wajah bayinya, apa yang harus dia lakukan. Rasanya dia tidak berdaya, tidak mempunyai kekuatan untuk berbuat lebih.