Aku Dan Mantan Kekasih Suamiku

Aku Dan Mantan Kekasih Suamiku
Kanker Rahim


__ADS_3

" Aaawww...kenapa beberapa bulan ini perut ku sering sakit jika datang bulan ya ? Masa penyakit kista ku ada lagi...Aaawww. " Ucap Viona sambil memegang perutnya.


Ini adalah hari pertama Viona datang bulan. Memang dalam beberapa bulan belakangan ini dirinya sering merasakan sakit jika datang bulan , tapi terkadang rasa sakit itu hilang dengan sendirinya. Seperti orang kambuhan. Kadang tiba - tiba sakit tapi ga lama sembuh lagi. Tetapi tidak dengan saat ini , Viona sudah berusaha untuk tiduran dulu tetapi rasa sakit itu masih belum juga hilang.


Viona berpikir akan memeriksa kondisi penyakit kistanya. Dia takut jika kista nya ternyata aktif lagi. Bahkan sekarang dia merasa lebih parah. Saat berhubungan intim dia suka merasa nyeri bahkan mengeluarkan darah dan keput*** yang berlebihan hingga membuat Fikri tidak nyaman berhubungan dengan dirinya. Setelah kejadian itu Fikri tidak pernah menyentuhnya lagi , selain itu Viona pun menjadi tidak gairah lebih merasa lemas dan mual seperti orang sedang hamil.


Setelah interview selesai , besok Risna sudah mulai bekerja. Risna memilih untuk mencari tempat kos yang tidak jauh dari tempat kerjanya. Dia yakin ini lebih baik untuk dirinya dan juga kehidupan Fikri. Dia tidak mau menyusahkan Fikri dan juga dia tidak mau terjadi salah paham dengan Viona. Fikri dengan setia menunggu Risna sampai selesai interview. Padahal Fikri menawarkan Risna untuk tetap kos di tempat nya mengingat biaya kos lebih murah dari di daerah tempat kerja Risna , selain itu tempat kerja Fikri tidak terlalu jauh dengan tempat kerja Risna jadi mereka bisa berangkat bareng dan pulang juga bisa bareng jika waktunya pas. Risna tetap menolak kebaikan Fikri , karna bagaimana pun dirinya perempuan dan Fikri laki - laki jadi tidak baik kalau berdekatan terus menerus. Risna merantau ke Jakarta tujuannya untuk meniti karir jadi dia ingin fokus dengan pekerjaannya.


Setelah siap Viona langsung berangkat ke rumah sakit tempat dia biasa memeriksa kesehatannya. Di rumah sakit dekat kosan Fikri dia memiliki dokter kandungan langganan. Dan kebetulan siang ini adalah jadwal prakteknya. Rencananya dia akan Konsul dan USG untuk mengecek kondisi rahimnya.


Jarak kosan dengan rumah sakit tidak terlalu jauh hanya beberapa menit saja Viona sudah sampai di rumah sakit. Dia langsung mendaftar administrasi untuk periksa. Setelah selesai dia langsung menuju poli kandungan dan menunggu antrian dirinya akan di panggil. Viona memilih tidak memberi kabar kepada Fikri , dia tidak mau mengganggu pekerjaan Fikri.


Di tempat lain , Fikri dan Risna sedang berkeliling mencari tempat kosan untuk Risna. Karna rata - rata tarif di kosan sangat mahal untuk bagi seorang pendatang. Risna pun sudah memberi kabar kepada ibu nya mengenai tempat - tempat kos di sana. Awalnya ibu nya merasa keberatan mengingat anaknya perempuan nya baru saja menginjakkan kakinya di Jakarta , ada perasaan khawatir. Sebenarnya ibu nya ingin Risna tetap tinggal di kosan Fikri. Tapi dengan pertimbangan Risna akhirnya ibu nya menyetujui nya. Risna yakin bisa hidup mandiri , dan dia sudah siap. Merantau adalah pilihannya dan dia harus kuat melakukannya.


Risna memutuskan untuk memilih kos yang tarifnya tidak terlalu jauh. Risna tidak masalah tidak ada fasilitas lengkap. Kosan ini hanya ada kasur lantai , lemari pakaian kecil dan juga kipas angin. Dan letaknya lumayan ke dalam dan untuk berjalan jaraknya lumayan jika ke kantor. Tapi baginya tak masalah. Karna Risna termasuk perempuan yang sederhana tidak banyak macam meskipun orang tua nya cukup mampu. Dia tidak mau menyusahkan orang tua nya terus menerus , dia ingin bersikap mandiri jika ingin fasilitas enak dia akan membayarnya nanti dari uang gaji nya.


Fikri merasa salut dengan sifat Risna. Tak ada rasa malu sedikit pun yang di rasa dirinya dengan kos di tempat yang sederhana , padahal orang tua nya mampu untuk membayar yang fasilitas mewah. Meskipun terlahir dari keluarga yang cukup mampu, Risna selalu giat belajar dengan sungguh-sungguh , Alhasil dia selalu mendapat beasiswa pendidikan. Dan pekerjaan ini pun berasal dari prestasi nya. Perusahaan ini milik alumni di sekolah SMU nya. Di sekolah SMU nya yang apabila menjadi orang sukses selalu mengajak adik - adiknya yang sudah lulus untuk bekerja di perusahaan - perusahaan mereka sesuai bidang masing - masing. Risna mendapat informasi dari sekolah nya setelah lulus dari bangku kuliah dan kebetulan perusahaan alumni nya membutuhkan seorang asisten HRD mengingat Risna adalah lulusan psikologi.


Setelah menunggu antrian cukup panjang , akhirnya waktunya Viona untuk periksa. Dokter kandungan langganan Viona termasuk dokter favorit sehingga untuk periksa membutuhkan waktu untuk mengantri. Oleh karena itu , kebetulan Viona masih di kosan dia memilih untuk periksa karna sudah lama juga dia tidak pernah periksa dan inilah waktu yang pas.

__ADS_1


Setelah selesai mendapatkan kosan , Risna dan Fikri memilih untuk mengambil tas pakaian Risna dan mengantarkan Risna kembali ke kosan tadi yang dia sudah pilih. Karna Risna ingin besok bekerja sudah dari kosan sana. Fikri menyetujui saja , dia berjanji akan mengurus semuanya sampai selesai.


Viona menangis histeris melihat hasil pemeriksaan nya. Berbagai tes sudah dia lakukan. Tes lab , USG , dan juga Konsul. Dokter mengutarakan bahwa Viona mengidap kanker rahim , dan mungkin inilah salah satu alasan dirinya belum juga di berikan keturunan. Setelah operasi kista dulu padahal dirinya berharap bisa memiliki anak. Meskipun dirinya masih suka bermain dengan Nando dulu. Setelah operasi dulu , Viona tidak pernah memeriksakan lagi penyakit nya , karna dia yakin mungkin efek operasi masih tahap penyembuhan. Hal yang sering dia rasakan selalu dia abaikan , karna baginya tidak mungkin penyakit itu belum juga sembuh dan hidup kembali. Dia tidak pernah sadar , bahwa Allah itu ada. Jika Allah berkehendak , semua mungkin saja terjadi.


Seperti pada hari ini , dirinya seperti di hantam bogem besar tubuhnya terasa lemas tak ada kekuatan. Dia tidak menyangka penyakit nya sekarang lebih menakutkan lagi. Hatinya terasa sesak saat itu , mendapat tekanan yang luar biasa. Semua seperti mimpi. Tangis darah pun tak akan merubah takdirnya. Dirinya di Vonis penyakit kanker stadium 3. Pikiran nya terasa sempit saat itu , seperti tak ada ruang lagi untuk berpikir. Ketakutan yang dia rasakan. Memikirkan nasib yang akan dia terima selanjutnya. Perasaan cemas menghantuinya , merasa takut jika suami nya Fikri akan meninggalkannya. Apa mungkin suaminya mau mempertahankan dirinya mengingat dirinya yang memiliki penyakit yang umur nya tidak bisa bertahan lama dan dia juga sudah tidak punya harapan lagi memberikan seorang anak. Terlebih mertuanya yang menginginkan kehadiran seorang cucu , mengingat ibu mertua nya yang seperti itu pasti akan langsung menendang nya jika mengetahuinya.


Viona pulang dengan langkah yang gontai , pulang dengan perasaan bingung apa yang harus dia lakukan selanjutnya. Mungkin inilah karma yang akan dia tanggung karna telah mempermainkan sebuah rahim yang seharusnya dia jaga sebagai wanita. Gimana dulu nya dia pernah melakukan aborsi , tidak menghargai sebuah rahim demi kepuasan nafsu semata. Sekarang mau tidak mau dia harus menanggung akibat dari perbuatannya.


Bagaimana dulu dirinya begitu jahat pada Raisya dan juga sudah mengkhianati suaminya. Penyesalan sekarang sudah tidak ada lagi gunanya. Dia harus menanggung dari hasil perbuatan nya selama ini.


Viona memilih untuk menutupi dulu dari suaminya , dia tidak mau suaminya langsung menceraikannya. Dia masih butuh suaminya. Terlebih Nando kini juga mencampakkan nya. Hatinya terasa sakit seolah pengorbanan dirinya dulu kepada Nando semua tidak ada artinya. Meskipun Nando sudah bercerai dengan Raisya tapi dia tidak tulus untuk memiliki dirinya seutuhnya. Memang kesalahan dia juga dulu yang hanya ingin hubungan tanpa status. Dia ingin tetap mempertahankan suaminya demi harta dan dia juga ingin tetap mempertahankan hubungan percintaannya dengan Nando. Gila memang gila seorang wanita yang tidak memiliki harga diri. Mungkin jika dirinya sungguh - sungguh bercerai dengan suami , Nando pasti langsung menikahi nya tapi semua itu tidak dia lakukan karna Nando tidak memiliki kehidupan yang mapan.


Tubuh Viona merasa lelah , dirinya memilih untuk beristirahat. Tak banyak kata yang dia ucapkan pada Fikri. Dan akhirnya mereka memilih untuk sama - sama tidur.


Tok...Tok...Tok


Pintu kamar di ketok , Fikri mendengar itu langsung bangkit dan dia langsung melihat jam di handphone dan langsung membuka pintu kamarnya. Dan ternyata Risna yang mengetuk pintu kamarnya mengingatkan Fikri untuk mengantarnya ke tempat kosan baru. Risna juga meminta maaf jika dirinya langsung mengetuk pintu kamar karna tak ada respon jawaban dari pesan chat dari Fikri. Dan ternyata Fikri ketiduran menunggu waktunya sore.


Risna kembali ke kamar kosan nya dan Fikri langsung mandi dan bersiap - siap. Viona yang mendengar suara orang mandi akhirnya ikut terbangun. Dan dia langsung melihat jam di handphone dan ternyata jam sudah menunjukkan pukul 16.30 sore. Fikri keluar dari kamar mandi dan langsung bersiap - siap dan langsung berpamitan kepada Viona karna ini sudah terlalu sore jadi dia harus segera pergi mengantarkan kepindahan Risna. Tak ada basa basi dari mulut Fikri untuk mengajak Viona ikut dengannya. Tapi saat ini Viona sedang tidak mau bertengkar , dia memilih untuk diam.

__ADS_1


Akhirnya Fikri dan Risna pergi dengan membawa kendaraan mobil. Viona hanya diam terpaku saat melihat kepergian Risna dan suaminya. Sekarang dirinya adalah perempuan yang tak ada harganya. Dirinya hanyalah perempuan penyakitan dan tidak bisa memberikan keturunan. Dirinya harus siap jika suatu saat suaminya akan meninggalkan dirinya. Karna cepat atau lambat semua itu akan terjadi , dirinya hanya bisa menunggu kapan waktu itu akan terjadi.


Akhirnya dia memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya. Untuk menenangkan diri dulu. Lagu pula dia merasa jenuh jika harus di kamar kos saja sendiri saat Fikri kerja. Sedangkan di sana dia bisa main bersama keponakan nya anak dari kakak nya yang tinggal juga di rumah ibu nya.


Viona memberi kabar kepada Fikri bahwa dirinya ingin pulang. Tapi lagi - lagi dirinya mendapatkan jawaban yang menyakitkan kembali. Ternyata suaminya tidak membela dirinya dan lebih senang sibuk dengan perempuan lain. Fikri hanya bilang dirinya tidak bisa mengantar karna harus membantu Risna sampai benar - benar selesai. Dan Fikri tidak merasa keberatan jika Viona pulang. Viona hanya bisa menelan pil pahit , dan akhirnya dirinya memutuskan untuk pulang sekarang juga dengan naik taksi online.


Setelah sampai di kosan Risna yang baru. Mereka langsung sholat magrib secara bergantian. Ada perasaan canggung yang di rasakan mereka berdua. Mengingat Fikri masuk ke dalam kamar nya untuk sholat dan sekedar mengobrol. Bahkan penjaga kos berpikir mereka adalah pasangan kekasih dan dirinya mengingatkan agar jika mengobrol di ruangan yang sudah di sediakan oleh pemilik kos untuk tamu yang datang.


Risna kos di sebuah rumah yang sangat luas yang memiliki banyak kamar. Rumah ini terlihat sangat asri meskipun berada di daerah Jakarta yang terkenal panas. Aturan di sini cukup ketat tidak boleh membawa laki - laki ke dalam kamar dan tidak boleh berkunjung atau pulang lewat dari jam 23.00.


Tapi bagi Risna yang memang anak baik , aturan itu tidak masalah. Dia juga akan selalu berusaha untuk menjaga kehormatan nya dengan baik. Setelah sholat Fikri dan Risna memilih untuk makan di laut dan mengobrol untuk persiapan besok. Mereka mengobrol cukup seru hingga Fikri melupakan Viona.


Setelah urusan Risna selesai membeli semua kebutuhan di kosan , akhirnya Fikri berpamitan pulang dan dia berpesan pada Risna jika membutuhkan dirinya jangan merasa sungkan dan meskipun sudah pindah kos jangan memutuskan hubungan silahturahmi.


Viona kini sudah sampai di rumah orang tua nya , dia juga berusaha menutupi penyakit nya dari keluarganya. Dia hanya beralasan kondisinya lagi memang kurang fit. Ada perasaan sedih saat dirinya menggendong keponakannya yang baru berusia 6 bulan yang terlihat sangat menggemaskan. Dia benar - benar sangat menyesal dengan perbuatan nya dulu. Andai saja dia sudah fokus pada suaminya dan berusaha memiliki anak dari suaminya , pasti dia sudah bahagia dan merasa yakin jika dia bisa memiliki anak dari Fikri pasti dirinya ga akan di perlakukan seperti itu sama mertuanya dan Fikri pasti tidak akan pernah meninggalkannya meskipun dirinya sakit kanker rahim. Justru Fikri pasti akan tambah menyayanginya dan akan mengurusnya seperti dirinya dulu di rawat dua tahun dulu. Meskipun dirinya memiliki kista dan punya masalah di paru - paru dan jantung , suaminya tetap setia mengurusnya dan bahkan fokus mengurusnya dengan izin dari tempat bekerja. Tapi semua ini sudah menjadi bubur yang mau tidak mau harus dia terima. Semua tidak akan kembali lagi seperti awal.


Sabar ya Viona... penderitaan kamu belum berakhir...Di tunggu episode selanjutnya kehidupan kamu 😄


Jangan lupa beri dukungan terus karyaku...Tinggalkan jejak kalian ya...

__ADS_1


Terima kasih yang sudah memberika like ,comment, vote dan juga hadiah untuk author 🙏🙏😘😍


__ADS_2